
Sejak tadi Manda terus bolak balik antara kamar mandi yang ada di kamarnya dan ranjang empuknya. Tangannya juga terus menggenggam ponsel. Manda juga terus menggigit bibir bawahnya. Manda begitu takut setelah mendapat pesan dari Salsa.
Setelah Hazlan mengantarnya pulang. Manda berpapasan dengan mobil Theo tapi sahabatnya itu pergi begitu saja meski melihat dirinya. Keberanian Manda saat kabur dari Theo pulang sekolah tadi hilang begitu saja.
tok tok tok
Manda melirik pintu kamarnya menunggu suara dari balik pintu itu tapi nihil.
"Siapa?" Manda ragu untuk langsung membuka pintu tapi tak ada pilihan lain karena orang itu kembali mengetuk tanpa menjawab.
Deg
Jantung Manda berdebar karena takut. Theo berada di depan kamarnya sambil menatapnya datar.
"Eh Theo. Kenapa ?" Tanya Manda yang berusaha bersikap biasa saja meski sedikit takut.
"Nih boneka Ace keluaran terbaru dari Hazlan." Theo memberikan boneka itu dan di sambut baik oleh Manda meski muka Theo terlihat tak enak di pandang.
"Bohong. Ini pasti dari yo kan?"
"Gue bukan pembohong kayak lo!"
"Kok ngomongnya gitu?"
"Maunya gimana? tadi siapa yang bilang kalau mau ngerjain tugas bareng temen taunya jalan-jalan. Udah di kerjain sama mereka masih aja mau di ajak jalan."
Manda mencebikan bibirnya. Sudut mata Manda sudah menggenang butiran air yang akan jatuh begitu saja jika ia berkedip.
"Maaf. Manda salah karena gak jujur. Theo maafin Manda." Manda menarik ujung baju Theo.
"Tau salah kan? Sekarang maunya gimana? Kalau ada apa-apa urus masing-masing gitu?"
Manda menggeleng keras. Air matanya sudah jatuh saat Theo berkata begitu. "Enggak. Gak mau urus masing-masing. Manda minta maaf. Manda gak bakal bohong lagi." ucap Manda dengan isakannya yang terdengar menyesal.
"lap air matanya. Udah jelek makin jelek." mendengar itu Manda cemberut tapi tangisnya belum berhenti.
__ADS_1
"Hazlan itu gak ikut-ikutan mereka. Dia baik walaupun nyebelin." Theo hanya mengedikan kedua bahunya. Mengejek.
"Hazlan ajak jalan-jalan Manda karena minta maaf. Jadi Theo juga jangan marah sama Hazlan." Lanjut Manda.
"Hmm"
"Theo jangan marah lagi ya?"
"Iya, gue gak marah. Cuma itu boneka beneran dari dia. Dia udah jelasin." Jelas Theo.
"Theo jahat banget tadi." protes Manda saat melihat Theo sudah tidak marah padanya.
"Kapan?"
"Tadi pas Manda pulang di anter Hazlan."
"Gak liat."
"Iiih Theo bohong. Gak mungkin gak liat."
"Bohong. Manda tau Theo liat Manda tapi gak berhenti."
Theo memasang wajah yang tengah berpikir lalu mengangguk-angguk sendiri. "Oh itu Manda yang di anter tukang gojek pake motor beat?"
"kan kan kan!!!! Itu Hazlan tau!" Kesal Manda.
"Mirip tukang ojek." ucap Theo sambil membuka pintu kamar Manda lebih lebar.
Theo duduk di pinggir kasur Manda sambil fokus pada ponsel di tangannya. Sedangkan Manda menghapus jejak air mata di pipinya sebelum duduk di samping Theo sambil kepoin ponsel Theo.
"Siapa? Kok sayang panggilannya? Theo itu siapa?"
Manda melirik Theo yang menutupi layar ponselnya. Manda memasang wajah kesal karena biasanya Theo tidak pernah menyimpan rahasia.
"Pacar." Sahut Theo lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Gak mau kenalin ke Manda?" Manda mengerjapkan matanya dengan sedikit jejak air mata di pipinya.
"Udah kenal juga jadi ngapain di kenalin."
"Hah?"
"Ntar aja gue kasih tau. Gue balik deh. Oh iya tadi Bunda nyuruh lo turun" Theo menaikan satu alisnya karena Manda menatapnya tajam.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Itu siapa? Kenapa gak mau bilang?" Manda melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah serius.
"Lo udah kenal, cuma dia belum siap bilang. Nanti gue kasih tau kalau dia udah siap. Paham?"
Manda hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka berdua turun ke lantai bawah karena suara ibu Manda yang memanggil mereka.
Theo menatap Manda yang sudah jalan lebih dulu di depannya. Ia menghela nafas lelah. Wajahnya terlihat sedikit frustasi tapi ia mencoba terlihat biasa saja.
"Gue bakal jadi sahabat lo. Iya cuma Sahabat yang bakal lindungin lo dari apapun. Silahkan terbang bebas sebebas yang lo mau. Ada gue yang jagain lo dari bawah." Gumam Theo yang juga mengeraskan rahangnya saat melirik boneka yang di bawa Manda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cowok itu terus memasukan coin kedalam mesin game pancing itu. Dimana saat ia mendapat pancingan yang besar, ia akan mendapatkan coin dalam jumlah lebih besar. Tentu saingan pancingan di game coin itu sangat banyak. Namun karena kesehariannya bermain game coin, tentu saja ia mudah mendapatkan pancingan yang bukan hanya keberuntungan tapi trik.
"Udah gue titipin ke temennya." Hazlan duduk tak jauh dari cowok yang sedang bermain game coin itu.
"Masih mau lanjut?" Ledek nya sambil melirik Hazlan yang menghela nafas lelah.
"Monyet sialan! Gue udah ketakutan duluan waktu dia nanya tentang pembahasan di telfon. Kan gue gak tau anjir." Terang Hazlan yang melemaskan tubuhnua di sofa itu.
"Ya terus mau gimana? Mau lanjut atau udahan?"
Hazlan tersenyum tipis. "Gue suka sama dia. So, lanjut lah. Jangan keluar sebelum gue kalah telak. Pokoknya lo boleh terus terang kalau gue beneran udah kalah."
Sahabatnya itu hanya mengangguk. Dia mengalah bukan untuk kalah. Kalau memang dia miliknya, tentu saja tidak mudah berpaling kepada seorang yang mengaku dirinya. Tapi memang jika Dia berpaling. Tentu saja ia akan pergi. Bukan karena kalah tapi malas menjadi pilihan.
__ADS_1