
Dengan blazer coklat dan rambut yang di kuncir kuda, Manda menunggu Hazlan di kursi tunggu yang di sediakan bioskop. Manda menyetujui ajakan Hazlan dan belum membeli tiket.
Sudah hampir satu jam Manda menunggu tapi cowok bernama Hazlan itu tak kunjung menampakan batang hidungnya. Sambil menunggu Manda membuka aplikasi ig dan melihat story-story teman-temannya.
"Kalau gak jadi bilang kek." Gerutu Manda. Dia orang yang paling benci menunggu. Menurutnya membuang waktu dengan sia-sia.
Manda tersenyum tipis saat melihat notif yang masuk. Di sana ia melihat story Rade bersama teman-teman nya. Ada nama Hazlan juga yang di tandai Rade di sana. Lalu kata-kata yang membuat Manda ingin tertawa terbahak-bahak.
'Kasian yang nungguin. Jadi orang gak usah sok jual mahal. Jadi lumut kan di situ.'
Kata-kata itu beserta nama akun Manda yang di tag. Sedikit membuat risih. Manda segera menelfon Theo. Dia hanya malas menunggu. Situasi seperti ini sudah jelas di ketahui Manda. Cuma ingin sedikit berbelas kasih pada orang-orang tidak tahu diri seperti siswa-siswa STM yang dekat sekolahnya.
"Gak usah nelfon. Kami udah di sini dari tadi." Ucap Salsa yang datang dengan satu popcorn dan dua sistagor di tangannya. Sementara Theo yang berada di sampingnya memegang tiga minuman.
"Bantuin ini, studio kita pintunya udah di buka." Theo menyerahkan dua minuman ke Manda.
"Tunggu! Jangan masuk dulu!" Salsa menahan Manda dan Theo yang ingin berjalan menuju studio mereka.
"Kenapa?" tanya Manda. Theo juga menaikan sebelah alisnya saat menatap Salsa.
"Boomerang dulu gak sih baru masuk." Manda tersenyum miring, mengerti maksud Salsa.
"Oh iya. Theo keluarin HP buruan. Jangan lupa tag terus bilang gini, Cie gagal balas dendam. Gitu ya ya ya? ?" Manda mengerjapkan Mata.
Manda itu tipe cewek imut tanpa harus memaksa imut. Cara bicara nya yang pelan dan seperti orang merengek meski menurutnya biasa saja tapi di dengar orang lain berbeda. Dia menggemaskan dengan menjadi dirinya sendiri.
"Kenapa? Harus ya?" Theo menaikan alis matanya sebelah dengan pandangan lurus pada Manda.
"Iiih buat aja kek. Emang kalian belum liat story Rade yang baru. Di ngetag Manda, dia ngetawain Manda...." Theo bergegas membuka aplikasi Ig nya untuk melihat kebenaran yang di katakan Manda.
__ADS_1
"Sialan! Berani amat tuh anak-anak curut. Ngerjain cewek beraninya ramean!" Kesal Theo.
"Udah lah! Itu bahas nanti aja. Boomerang dulu buruan. Nanti filmnya udah mulai weh!" Kata Salsa mengingatkan.
Theo kembali membuka kamera sesuai dengan keinginan dua kelinci rewel di sampingnya.
Theo memposting di story dengan akunnya, tidak lupa menandai Manda dan Salsa.
"Dah di post, sekarang masuk. Filmnya udah mau mulai." kata Theo. Membuat dua cewek itu masuk ke studio lebih dulu.
......................
Tepukan di bahu yang lumayan bikin nyeri, membuatnya menoleh dengan wajah kesal.
"Apaan sih?" Kesalnya.
"Liat story Theo buruan! Gue udah bilang kan kalau males ikut-ikutan kalian. Sekarang Manda pasti liat gue sama aja kayak kalian!"
"Woi! Woles dong! Kan gue gak maksa lo ke sini." Rade membela dirinya.
Sebenarnya Hazlan sudah siap dengan pakaian rapih dan juga rambut yang ia tata serapi mungkin untuk bertemu Manda di bioskop. Namun itu semua batal karena Mario dan juga Rendi memanggilnya untuk datang ke tongkrongan.
Hazlan kesal karena Rade memberi tahu pada Mario dan Rendi kalau ia akan pergi dengan Manda. Dua kakak kelasnya itu membenci Manda, perihal tentang Fajar yang di kerjai habis-habisan karena mengajak Manda nonton.
Mario merasa kalau anak-anak SMA Nusatama memandang rendah sekolah mereka. Memang isinya cowok semua tapi bukan berarti pesona mereka kalah dengan anak SMA Nusatama. Mungkin saja cowok-cowok di SMA itu kalah saing dengan ketampanan mereka.
"Iya gak maksa tapi cara lo yang cepu itu gak asik bangsat! Kalau gak bisa bersaing gak usah cepu! lo cowok bukan cewek yang mainnya sindir-sindiran di story! Bikin malu STM !" Tangan Hazlan dengan ringannya mendorong kepala Rade sampai wajah Rade tenggelam di kuah indomie yang Rade makan.
"Bangsat!" umpat Rade karena tidak bisa membalas.
__ADS_1
Hazlan sudah bergegas ke motornya lebih dulu karena dua kakak kelas yang mencarinya sudah pulang sejak tadi.
Rade bangkit dari duduknya. Niat ingin mengejar Hazlan karena tidak terima wajahnya sudah bersatu dengan kuah mie.
Sialnya Rade tidak menyadari kalau celananya tersangkut paku yang menyembul di bangku yang ia duduki. Alhasil saat berdiri untuk mengejar Hazlan, Suara robekan yang terdengar jelas membuat ia jadi tontonan anak-anak sekolahnya yang juga sedang nongkrong di sana.
"Anjir si Rade pake ****** polkadot!"
Rade kembali duduk dengan muka memerah. Celananya robek di belakang sampai belakang lututnya.
"Hazlan sialan!" kesalnya. Lalu menatap sekelilingnya yang sedang tertawa. "Diam gak lo pada!" Gertaknya, membuat yang lain tertawa dalam keheningan.
"Maaaak! Mak nemaaa!" teriak Rade membuat ibuk dengan daster yang rambutnya hampir memutih semua tengah menghampiri nya.
"Kenapa teriak-teriak? emak lagi manasin soto." Mak nema membawa dua mangkok soto dan meletakannya di meja belakang Rade sebelum menghampiri Rade.
"Pinjem sarung Mak, Bangku mak ada pakunya. Nih jadi robek..."
Gelak tawa pun kembali terdengar saat Rade mengadu pada yang punya warung. Tentu saja Mak Nema ikut menertawakan kesialan Rade.
Semoga saja Mak Nema punya sarung yang nganggur buat di pinjam ke Rade. Setidaknya Rade kecil tidak masuk angin karena jendela belakang yang baru terbuat di terpa angin kencang.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC