NATATUSHA

NATATUSHA
chp 10


__ADS_3

Setelah tiga Minggu di sekolah baru,semua mulai berjalan rutin. Rutin sama dengan membosankan. Nata Tidak menemukan bukti apapun tentang kecelakaan keluarganya,padahal ia mendapat informasi dari  sang kakek. Jika anak dari salah satu pembunuh keluarganya bersekolah Disini juga.


Dengan kebosanan yang melanda itu pun, Nata mendapatkan kabar dari Bu Puput jika dirinya menang dalam pendaftaran ketua kepanitiaan lomba basket antar sekolah. Mendengar kabar itu pun, ia kaget siapa yang berani beraninya mendaftarkan dirinya ke dalam kepanitiaan. Sampai kabar mengatakan bahwa William lah yang mendaftarkan dirinya untuk menjadi ketua panitia lomba tersebut.


Nata telah menolak secara halus, tetapi Bu Puput mengatakan jika gadis itu memilik potensi besar dan sekolah membutuhkan potensi baru seperti dirinya, berani merubah sistematis sekolah dan mengusut tuntas kasus pembullyan terhadap para siswa. Dengan hal itu, banyak siswa yang memilih Nata untuk menjadi ketua panitia lomba basket yang memang terkenal.


Stevie dan Xian mereka sibuk dalam kegiatan cheerleader, Zhou dan Clarien mengikuti latihan basket putri, hanya dirinya saja yang tidak berniat mengikuti apapun kegiatan yang ada di sekolah. Dengan kesibukan mereka, Nata memaksa keempat temannya untuk menemui dirinya tanpa ada penolakan.


"Wajib militer buk, pake acara apel segala," kata Clarien.


"Kalo nggak gini, lu bertempat sibuk dengan kegiatan kalian sendiri sendiri, lah gue kenapa jadi begini, atas izin siapa kalian nyuruh Will untuk daftarkan gue hah!" Ucap Nata dengan sewot menatap mereka berempat.


"Ya mau gimana lagi ya bun, biar lo sibuk juga gitu ," kata Xian sambil terkekeh di ikuti yang lainnya.


"Kalian tau kan, gue masih mencari bukti bukti," sahut Nata dengan lesu.


"Dengan cara begini, Lo lebih leluasa untuk mencari bukti dan berkenalan dengan mereka, karena yang gue tau bakalan ada anak orang orang itu di acara nanti," sahur Stevie dengan tangan di dada.


" Maksud Lo?" Kata Nata sambil menatap Stevie.


Stevie menghela nafas  sejenak dan melanjutkan ucapannya " di acara itu nanti, Lo bakalan Nemu bukti dan siapa orang orang yg udah membunuh mereka, karena gue ngeliat salah satu anak memiliki tanda lahir seperti itu."


Nata menatap ketiga saudaranya itu, mereka hanya mengangguk membenarkan ucapan Stevie.


" Kita bukan bersantai Nat, tapi kita sedang menyelediki selama dua tahun ini, jadi gue dan yang lainya berharap lu mau ngambil tugas itu," kata Zhou.


" Oke kalau kalian emang udah menemukan mereka, tinggal gue yang berjalan," kata Nata.


"cukup percaya sama kami semua kami lakukan untuk membalaskan semuanya, karena kita akan segera hidup dengan damai kembali," ucap Clarien di setuju dengan yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nata berjalan dengan semangat menuju ruangan guru untuk bertemu dengan Bu Puput, membuat beberapa siswa yang di koridor pun menyapanya, Nata hanya tersenyum sambil melanjutkan perjalanan ke ruang guru. Sebelum sampai ke ruang guru,di tanpa sengaja mendengarkan seseorang berbicara dalam telefon,membuat gadis itu berhenti untuk mendengarkan.


"Pa, aku nggak mau tau aku mau cincin yang kata papa terbuat hanya satu di dunia itu, aku mau cincin itu tidak perlu disembunyikan, tidak ada tau siapa yang punya,lagian orangnya udah mati, keluarga bodoh itu udah binasa semua."


"Terserah kamu,jangan sampai cincin itu hilang atau kita akan ketawan kamu paham!"


"Baik pa, terimakasih" Gadis itu mematikan telfon nya dan berjalan memasuki kelasnya.

__ADS_1


Nata yang mendengarkan pun, menggenggam tangan dengan erat, dia tau cincin yang di pakai oleh gadis itu setelah menelfon seseorang, cincin yang dia buat khusus untuk sang mommy telah di pakai sang gadis yang dirinya tidak tau.


"Cincin itu bisa kau pakai dengan senang hati,tapi jangan senang dulu dengan cincin itu terpakai, gue bisa leluasa mencari bukti bukti tentang kalian, tunggu waktunya,"  ucap Nata dengan smirk andalan, ia kemudian berlari menuju ruang guru agar tidak di curigai oleh siapapun.


William yang sedari tadi mengikuti Nata pun, tersenyum penuh misterius ketika dirinya mendengarkan sebuah bukti baru, lelaki itu mematikan perekam yang ada di jamnya lalu berjalan menyusul Nata yang telah berlari jauh di depannya.


" Satu bukti ketemu, sisanya akan menyusul selamat datang di neraka, nyawa harus di bawa dengan nyawa."


William berjalan santai dengan memasukan sebelah tangannya kedalam kantong celananya, banyak siswi perempuan yang terpesona dengan lelaki itu.


" Woiii COGAN ***"


" Astaga willl mau jadi pacar gue ngak!"


" Will 08 berapa "


Banyak lagi bisik bisik yang di abaikan William, lelaki itu berdiri sambil menyenderkan punggungnya di tembok sebelah ruang guru, ia menunggu Nata yang masih berbicara dengan Bu Puput.


"Hai Will, kamu ngak ke kantin?" Caca tersenyum kearah William.


"Ga minat" William hanya melirik Caca sekilas mengabaikan gadis itu.


"Ayok,, Caca traktir deh," ucap Caca sambil memegang tangan William.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tugasnya udah di dalam file ya nak, kamu tinggal print dan sebarkan aja. Nanti kamu bakalan di bantu sama anak OSIS dan anak kepanitiaan yang lain, kalo kamu tidak ngerti" ujar Bu Puput sambil menyerahkan flashdisk kearah Nata dengan sendang hati gadis cantik itu menerimanya.


Nata melempar senyum kearah Bu Puput " terimakasih Bu,telah percaya sama Nata kalau begitu saya permisi Bu"


Bu Puput hanya mengangguk, Nata pun berlalu dari ruangan guru. Ketika tiba didepan ruangan dia melihat William yang ganggu oleh Caca, Nata hanya mengangkat alisnya sebelah, dan perhatiannya fokus ke tangan Caca yang memeluk lengan William.


"Kamu ngak berat gitu di tempelin makhluk halus?" Nata menatap William dan melirik Caca.


"Hey!! Mulut lo di jaga, Lo kira gue setan hah!" Balas Caca sewot.


"Loh loh loh, gue ngak bilang ya," Ucap Nata sambil mengangkat bahunya sebelah.


"Loh!!" Tunjuk Caca.

__ADS_1


William segera melepaskan tanganya dari Caca, mengandeng tangan Nata meninggalkan Caca yang menghentakkan kakinya.


"Nata Lo liat aja, gue pastikan Lo bakalan nyesel berurusan sama gue." Caca menatap Nata yang pegi bersama William dengan penuh dendam.


William terus berjalan sambil menggandeng tangan Nata, ia membawa Nata menuju ruang pribadi dirinya, Nata tidak menolak sama sekali ia hanya mengikuti langkah kaki William.


"Kamu kenapa," ucap Nata sambil memeluk lengan William.


William membuka pintu ruangan tersebut, menyuruh Nata untuk masuk kemudian disusul dengan dirinya. Didalam ruangan itu bukan hanya ada mereka berdua, tetapi teman teman mereka yang lainnya pun telah menunggu.


William duduk di sofa singel, kemudian lelaki itu menarik Nata agar duduk di pangkuannya, Nata tidak menolak sedikitpun.


"lo udah Nerima tawaran untuk menjadi ketua panitia lomba nanti kan,Nat?" Ujar Nathan.


"Udah tenang aja, gue udah Nerima tawaran itu ya walaupun ada sempat gue nolak," balas Nata.


"Gue denger bakalan ada latihan gabungan antara Anak cheerleader sekolah kita dan sekolah musuh,so gue dan yang lain bisa melihat siapa anak yang memiliki tanda itu" ucap Stevie


" Sama hal nya dengan dengan Stevie, gue dan Zhou akan mencari di antara anak basket perempuan," sambung Clarien.


" Kita anak basket laki laki pun akan mencari tau bener kan, Wil?" Varen menatap William yang dari tadi hanya mendengarkan sambil memainkan rambut Nata yang berada di pangkuannya.


" Tidak perlu, karena anak basket mereka yang laki laki tidak ada yang terlibat "


Ucapan yang keluar dari mulut William membuat mereka semua menatap William penuh tanda tanya.


William menghentikan aktivitas nya, meletakkan tangannya di pinggang Nata lalu menatap Mereka semua "mata mata gue ada diantara anak itu, mereka bilang orang yang punya tanda lahir itu tidak ada. Tapi -".


"Tapi apa Will?" Nata menatap William penasaran.


"Ada orang yang bersembunyi, kata mereka semua bukti yang berada disana telah hilangkan."


Sial!! Mereka menatap satu sama lain, terutama Nata yang hanya menampilkan tatapan kosong, bukti tentang kematian orang tuanya telah dihilangkan apa yang harus dia lakukan sekarang, Mr. Huang sang kepercayaan Daddy nya pun seakan menghilang dari dunia.


" Tapi tenang, sebelum mereka menghilang barang bukti, mata mata gue telah mengirimkan semuanya ke gue" ucap William santai


Semuanya menghela nafas lega, ketika mereka mendengar bahwa misi yang selama ini mereka jalankan tidak sia sia.  Nata hanya masih terfokus pada pemikirannya tentang sang asisten kepercayaan Daddy nya itu, salah satu saksi kunci untuk dia melakukan balas dendam. Mereka yang melihat Nata itu pun mengkode William, lelaki itu tau apa yang sedang dipikirkan gadisnya itu.


" Tenang lah, Mr. Huang ada bersama kita tapi kita hanya harus menunggu dia sadar."

__ADS_1


William membisikkan sesuatu yang membuat badan Nata tegang, gadis cantik itu melirik lelaki itu kemudian memeluknya


"Selagi aku hidup, tidak akan aku biarkan kamu sendirian, tidak akan aku biarkan orang orang itu menyakiti mu, tanpa kamu membalas mereka telah lenyap satu persatu."


__ADS_2