
Ibra terbangun dari tidurnya, ia melirik Nata yang tertidur sambil memeluk guling. Ibra menggeserkan guling dengan pelan, Ia mengangkat kembali bra sport yang di gunakan Nata, ia dengan inisiatif sendiri untuk menyusu tanpa menganggu tidur Nata.
Hal ini sudah biasa iya lakukan sejak dua tahun lalu, saat Ibra mengetahui Nata memilik asi dan sering menyumbangkan kepada anak anak di panti. Awalnya dia tidak berniat untuk menyusu,tetapi karena di tengah malam Nata akan merasakan sakit di dadanya, ia menawarkan diri untuk menyusu.
Nata terbangun,ia melihat Ibra yang berpindah ke sisi kanannya dan tetap menyusu. Ia mengelus wajah Ibra yang penuh dengan keringat.
" Gue kek rasanya punya bayi gede " Nata sambil menggaruk kepalanya.
Nata melepaskan *********** dari mulut Ibra, membiarkan lelaki itu tidur dan berjalan menuju dapur untuk masak.
"Wangi,kamu masak apa?" Ibra memeluk Nata dari belakang dan menyembunyikan wajahnya dileher Nata.
Nata dengan jahilnya meneteskan sedikit minyak panas ke tangan Ibra. Membuat lelaki itu menjauh dari Nata sambil mengelus tanganya, Nata hanya terkekeh melihat Ibra memasang wajah sedihnya.
" Makanya kalo orang lagi masak jangan di ganggu" Nata meletakan makanan yang telah ia masak.
Nata mengambil nasi dan lauk untuk Ibra makan. Ibra selalu memakan apapun yang Nata masak,karena dia lebih menyukai masakan Nata daripada siapapun.
***
" Kalian ngak pulang?" Xian menatap Zhou dan Stevie.
Clarien telah tertidur di sofa ruangan Xian, Stevie dan Zhou menggelengkan kepala mereka.
" Eh Zhou, coba lu minta si Nata pompa asi deh. Soalnya tadi gue denger di kamar sebelah ada bayi yang nangis, di kasih susu formula juga ga mau. Katanya ibunya baru saja ninggal" ucap Stevie menatap Zhou.
" Gue iri sama Nata,dia belum punya anak aja udh banyak anak susunya" ucap Xian memandang *********** kasihan.
Stevie dan Zhou tertawa melihat kelakuan si Xian, memang diantara mereka semua payudara Nata yang lebih besar. Membuatnya terlihat lebih seksi dari pada mereka.
" Zhou buru gue kesian sama tuh bayi" paksa Stevie, dengan berat Zhou menelfon Nata.
***
Suara telfon Nata bergema diruang tamu, pemiliknya sedang mandi membuat Ibra segera mengangkat telfonnya tanpa melihat si penelpon.
" Hallo" suara dingin Ibra terdengar oleh Zhou.
" Halo Nat?ini nomor lu kan kok suara cowok. Apa gue salah nomor?"
" saya Ibra. Nata sedang mandi ada apa?"tanya Ibra to the point.
"O-om nanti kalo Nata selesai mandi suruh telfon Zhou ya"
" Hm" Ibra mematikan sepihak Panggilan telfon itu. Iya masih fokus nonton tv.
Nata keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk, ia mengambil baju santai dan menggunakan. Sebelum keluar dari kamar ia telah mengeringkan rambutnya, berjalan mendekati Ibra.
"Tadi Zhou menelfon mu, telfon kembali baby. Sepertinya penting" Ibra masih fokus ke tv tanpa melirik Nata.
Nata menjambak rambut Ibra, ia tidak suka jika ada yang berbicara kepadanya tanpa menatap dirinya.
" Jika berbicara menatap ku, jangan menatap tv paham" nata terus menjambak rambut Ibra. Lelaki itu melepaskan tangannya dan tersenyum kecil kearah Nata.
"Maaf sayang, aku mau nen boleh?" ucap Ibra.
Nata mengangguk, ia meletakan bantal di pahanya untuk Ibra merebahkan kepalanya. Agar Nata tidak membungkuk saat Ibra menyusu, Nata mengangkat bajunya yang tidak menggunakan bra, Ibra yang melihat itu langsung memasukkan kedalam mulut.
Nata menghubungi kembali Zhou, seperti yang di perintahkan Ibra. Ia mengelus kepala Ibra,membiarkan lelaki itu menyusu.
"Hallo Nat."
" Ada apa? Aww" Ibra sengaja mengisap kuat ****** milik Nata dan tangan sebelahnya meremas payudara yang ia genggam
" Lu gpp?"
" To the point bisa"
" Nat lu punya stok asi banyak kan?bisa lu bagi untuk bayi di kamar sebelah Xian. Soalnya bayi itu tidak bisa menyusu formula dan ibunya baru saja meninggal."
" Gue kirim, suruh kurir ambil"
Nata mematikan telfonnya, menatap Ibra tajam. Ia menjetikan jarinya kekening Ibra, membuat pria itu melepaskan ****** nata dari mulutnya.
" Sakit yang" ucap ibra memelas
"Kamu isap nya terlalu kuat, sakit tau" ucap Nata memasukan kembali pentilnya kemulut Ibra, lelaki itu menerimanya dan tersenyum.
__ADS_1
" Ssshhh.... Ahhh... I-ibra" Nata mendesah ketika Ibra bukan hanya menyusu,lelaki itu memainkan pentilnya.
Ibra berdiri dari rebahannya, memangku Nata ******* bibir seksi gadis itu. Nata mengalungkan tangannya di leher ibra, ia juga membalas ******* lelaki itu.
Tangan Ibra tidak tinggal diam, ia mengelus bagian bawah milik Nata dan sebelah lagi meremas payudara Nata.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat keduanya tersadar, Nata berdiri cepat merapikan pakaiannya. Dan berjalan membuka pintu, sedangkan Ibra lelaki itu merebahkan dirinya kelantai dan membelakangi pintu.
" Permisi mba,mau ambil pesenan mba Zhou"
" Tunggu sebentar " nata dengan dingin meninggalkan lelaki itu, ia membuka kulkas dan mengambil beberapa stok asi. Kemudian ia taruk di tempat khusus dan memberikan nya kembali ke kurir tersebut.
Setelah kepergian sang kurir,nata kembali mengunci rumahnya dan duduk di samping Ibra.
" Kamu tidak pulang?putrimu pasti menunggu" ucap Nata mengelus rambut Ibra.
Ibra berbalik memeluk perut Nata, ia kembali menyusu pada Nata. Nata membiarkan saja, iya tau Ibra tidak akan pernah puas jika menyusu.
***
(Flashback on)
Nata yang terus berlari sambil menoleh kearah belakang, ia terus melihat dua mobil yang masih berusaha mengejarnya. Nata berlari tanpa tentu arah, tanpa sadar dirinya telah berada di tengah jalan.
Dari Arah kejauhan, terdapat sebuah mobil yang di Kendarakan dengan kecepatan tinggi. Lelaki yang membawa mobil itu terkejut,melihat Nata yang berdiri di tengah jalan.
Lelaki itu membunyikannya Klakson, Nata yang mendengar itu pun kaget ketika mobil yang di Kendarakan lelaki itu hampir menyentuh tubuhnya, Nata terjatuh dan sebelah tangannya berusaha menutup mukanya.
Lelaki itu pun,tetap tenang berusaha mengendalikan mobilnya agar tidak menyentuh gadis yang didepannya itu, iya memutarkan mobilnya dan menatap gadis yang telah terduduk dijalan itu. Setelah mobil yang dirinya gunakan telah terhenti, lelaki itu turun dan menghampiri Nata.
" Kau tidak apa-apa?" Tanyanya sambil menjulurkan tangannya ke depan Nata.
Nata berdiri tanpa menerima bantuan lelaki itu, ia membersihkan pakaiannya dan menatap lelaki itu.
" Kecewa?" Tanyanya, membuat lelaki itu menatapnya bingung.
" Maaf?"
" Kau coba membunuhku, tapi aku selamat" ucap Nata sambil mengomeli lelaki itu.
" Oh jadi aku yang salah begitu?" Ucap Nata sambil menatap lelaki itu. Lelaki itu terus menatap Nata.
" Katakan, kenapa kau mengendarai mobil,jika kau tidak bisa menyetir " Tambah Nata.
Lelaki itu menarik nafasnya "kenapa kau berada di jalanan,jika kau tidak bisa mengunakannya dengan baik!"
" Kenapa bicara kau sangat tidak sopan " ucap Nata terus menyolot.
" Kau tau! Tidak ada yang pernah berbicara sekasar ini kepadaku" ucap lelaki itu dingin sambil menatap Nata.
Nata menarik nafas lalu membuang mukanya, lelaki itu terus menatap pakaian yang Nata gunakan. Pernikahan? Gila apakah perempuan ini kabur.
" Ini hari pernikahan mu? Kenapa kau berada disini. Mau ku antar?" Ucap lelaki itu sambil menatap Nata.
"Tidak, terimakasih. Ini bukan hari pernikahan ku" balas Nata sinis.
Nata mengambil barang-barang, lelaki itu meninggalkan Nata kemudian memasuki mobilnya. Nata menatap kearah mobil lelaki itu bukan tetapi kearah dua mobil yang berada di depan mobil lelaki itu. Nata kaget dan berlari memasuki mobil lelaki tadi.
" Dengar! tunggu" Nata memasuki mobil itu dan menutup pintunya,lelaki tadi kaget ketika dia sibuk memasang seatbelt melihat Nata masuk.
"Aku" ucap lelaki itu.
" Dengar " Nata menaruh tasnya di jok belakang dengan panik.
" Apa" lelaki itu menatap Nata yang memasang seatbeltnya.
" Apa kau... Apa kau bisa mengantar aku?" Tanya Nata dengan seatbelt yang terpasang.
" Kau bilang.." ucap lelaki itu menatap Nata.
" Tidak... Aku berubah pikiran" ucap Nata sambil menatap lelaki itu.
" Kau cukup menyetir dan cepat lah" Nata menatap lelaki itu.
" Kau kabur dari RSJ mana?" Tanya lelaki itu menatap Nata.
__ADS_1
" Terserah... Kau antarkan saja aku ke RSJ mana pun yang kau mau" nata menatap lelaki itu.
" Aku tidak punya waktu!banyak penjahat yang sedang mengejar ku!" Ucap Nata, lelaki itu menoleh ke arah belakang.
" Tidak bukan disana" Nata menyentuh wajah lelaki itu dan membuatnya menatap kedepan.
" Tapi disana" tambah Nata menunjuk dua mobil yang berada tidak jauh dari mobil lelaki itu.
" Kau akan terus menatapnya?" Tanya Nata yang melihat lelaki itu terdiam.
Lelaki itu tersadar dari lamunannya, memundurkan mobilnya dengan cepat. Dan berbelok kearah kanan dan mengendarai dengan kecepatan tinggi. Kedua mobil dibelakangnya terus mengejar mobil didepan itu.
" Kutanya lagi. Kau ingin aku mengantarmu kemana"
" Berhentilah berbicara dan fokus saja menyetir."
nata sambil terus menatap mobil yang mengejarnya dibelakang.
"Lebih cepat" nata menatap lelaki itu
" Ini mobil, bukan pesawat. Ada batas kecepatannya." Ucap lelaki itu terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Benarkah? Tak ada batas kecepatannya saat kau hampir menabrakku tadi?" Tanya Nata dengan muka tidak santainya.
" Kau hampir membunuhku hari ini. Dan kau bahkan tidak meminta maaf kepadaku!"
Lelaki itu hanya menghela nafas dan terus melirik mobil yang masih mengejar mereka.
"Bisa kah kau diam sungguh cerewet sekali" ucap lelaki itu tanpa menoleh.
Nata mengabaikan lelaki itu, pandangan terus kearah belakang. Ia terus menatap mobil yang masih mengejar mereka itu. Lelaki itu melirik Nata dan menambah kecepatan mobilnya.
Di depan ada persimpangan, membuat lelaki itu menambah kecepatannya. Melewati lampu jalan yang sebentar lagi akan menunjukan warna merah. Nata yang melihat itu hanya memejamkan matanya.
Mobil yang Mereka kendarakan melaju meninggalkan satu mobil yang bertabrakan di belakang,tetapi satu lagi berhasil mengikuti mereka. Nata hanya menutup mata dan telinganya. Tas lelaki itu yang berada di jok belakang,terjatuh membuat dirinya menghela nafas.
Terdengar suara tembakan yang mengarah ke mobil yang mereka tumpangi, lelaki itu terus menghindar tembakan.
" Bisakah kau mengantikan ku mengemudi"
" Apaaa!!" Kaget Nata.
" Cepatlah kita tidak punya banyak waktu" ucap lelaki itu memegang sebelah kemudi.
Lelaki itu beranjak dari kursinya, menatap Nata dan membuat perpindahan tempat duduk seketika, Nata telah duduk di kursi pengemudi dan menambah kecepatannya.
Lelaki itu sibuk membuka tas dirinya dan mengeluarkan pistol, ia melirik Nata yang masih mengemudi.
" Itungan ketiga pelan kan mobil ini, supaya aku bisa menembak mereka" ucap ya sambil membuka atap mobilnya, nata menganggukkan.
Lelaki itu menempatkan dirinya, dan menatap mobil yang terus melancarkan tembakan. Nata terus menghindari tembakan tersebut.
" 1 2 3 pelankan" aba lelaki itu dan ikuti Nata.
Lelaki itu menembak ban mobil yang di belakangnya, tidak butuh waktu lama. Mobil yang mengejarnya pun oleng sebelum menabrak pembatas jalan.
Lelaki itu kembali ke posisi duduk, membiarkan Nata membawa mobilnya. Nata tetap fokus mengendarai mobil, tidak menganggap tembak menembak itu terjadi.
"Dia seperti telah biasa, tetapi kenapa ada yang mengejarnya." Ucap lelaki itu menatap wajah tenang Nata.
"Didepan, belok kiri" ucap Lelaki itu menatap Nata.
Nata mengendarai mobil itu sesuai perintah lelaki di sampingnya itu, ia berbelok kearah kiri dan memasuki kawasan apartemen elit.
" Kau benar?" Nata memajukan badannya menatap kawasan apartemen elit sambil terus menyetir. Nata memakirkan mobil di pakiran yang telah di perintahkan lelaki itu
" Masuk saja, kau menginap di apartemen ku." Ucapnya turun terlebih dahulu.
Nata turun mengikuti langkah kaki lelaki itu, memasuki lift. Kedua orang itu tidak ada pembicaraan sama sekali, lelaki itu sibuk menatap ke layar hpnya.
Ketika lift terbuka terdapat hanya satu mansion di lantai ini, Nata telah menebak jika ini punya lelaki yang berada disampingnya itu.
Lelaki itu memasukan kunci akses, mansion mewah itu terbuka. Ia melirik Nata yang terlihat biasa saja tanpa ada rasa kagum sedikit.
"Wanita ini bukan orang biasa, banyak wanita yang terpesona dengan Mansion ini. Tetapi dia hanya santai saja" ucapnya menatap Nata yang telah masuk.
Nata berdiri menatap lelaki itu dan menjulurkan tangannya "Natatusha Anzelvanzia"
__ADS_1
Lelaki itu menjabat tangan Nata dan tersenyum "Ibrahimovic"
(Flashback off)