
Republika Barga
Di jalan pergunungan yang sepi, terdapat sebuah mobil konternya gandeng sedang melintas dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya terdapat 3 mobil yang sedang menyusul dengan kecepatan tinggi.
" Siapkan posisi kalian" ungkap Nata melalui HT, sambil terus memacu kendaraan menyusul konter di depannya.
" Kau siap?" Nata menatap Clarien.
" Tentu" Clarien merapikan pakaiannya.
" AYO DAPATKAN KEMBALI SENJATA KITA DAN PULANG " ungkap Clarien sambil mencoba keluar melalui jendela mobil yang di Kendarakan Nata.
" Semuanya dalam posisi" ucap Nata terus melakukannya mobilnya, memepet kontener di depannya.
" Siap bro" Balas Zhou sambil terus mempertahankan posisi mobilnya di belakang Nata.
Clarien masih berada di cup mobil Nata, menunggu saat yang pas untuk melompat ke kontener yang sedang berjalan di kecepatan tinggi.
" Kalian yang mencuri, kami ambil kembali" kekeh Xian sambil mengendarai mobilnya.
" Berhenti berbicara! Fokus dengan posisi kalian" ucap Nata dingin.
" Jangan membuatnya marah bodoh" balas Clarien bersiap siap.
Clarien melompat ke belakang kontener yang sangat dekat dengan mobil Nata. Clarien terus memanjat truk tersebut. Nata melakukan mobilnya mendahului kontener itu, berusaha menghalang-halangi laju truk tersebut.
Clarien yang telah berhasil melewati satu gerbong pun, turun di antara sambungan gerbong satu dan yang lainnya. Zhou mengendarai mobilnya mendengar gerbong tersebut.
"Oke guys, kita harus bergerak cepat 6 km lagi jalanan akan menurun" perintah Nata.
Clarien mengeluarkannya alat semprot untuk mematahkan Besi, gadis itu sibuk menyemprotkan cairan itu kearah besi. Zhou mengendarai mobilnya tepat di samping gerbong Yang sedang di eksekusi Clarien.
Xian masih berjarak cukup jauh dari, karena akan ada jeda untuk dirinya menyusul gerbong kedua. Nata terus melajukan mobilnya dalam kecepatan yang telah ia perhitungkan.
Zhou memutar mobilnya menjadi berjalan kebelakang, Stevie keluar dari mobil dan menunggu diatas bak belakangan mobil yang di Kendarakan Zhou. Zhou masih terus mengendalikan mobilnya supaya pas.
Clarien masih sibuk menyemprotkan cairan itu, menunggu beberapa detik kemudian ia tersenyum.
" Guysss bersiap lah membawa satu" teriak nya sambil terus menghentak kaki di antara besi yang telah rapih.
Stevie memasang pengait bak ke pengait konter itu " Selesai lanjutkan" teriaknya.
Clarien menghentakkan kuat kakinya dan membuat besi yang rapuh itu terputus dari tempatnya sebelumnya. Zhou terus mempertahankan mobilnya. Membawanya dengan cepat kearah berlawanan.
" Go go go guysss gerak cepat!!!" Perintah Nata yang melihat turunan tidak jauh lagi.
Xian mengendarai mobilnya kesamping mobil Zhou, Stevie melompat kearah mobil Xian dan tetap berada di bak belakang mobil. Clarien memanjat lebih cepat ke gerbong satu lagi. Iya turun ke tempat pembatas dan menyemprotkan cairan itu lagi.
Xian membalikan mobilnya,berjalan mundur mendekat gerbong itu. Dirinya terus mempertahankan mobilnya supaya Stevie lebih mudah untuk memasang pengait.
Stevie melihat arah yang pas dan membuka pengait mobil Xian " Lakukanlah" teriaknya.
Clarien terus menyemprotkan cairan lebih cepat dan menghentakkan kakinya lebih kuat, membuat sambungan terputus. Ia tersenyum melihat dua gerbong yang berisi senjata mereka telah di rebut kembali.
Xian terus melakukan mobilnya menyusul mobil Zhou yang jauh didepannya, Stevie duduk disampingnya dengan tersenyum senang.
" Mission completed" teriak Zhou dan Xian.
Nata yang mendengar itupun, mengarahkan mobilnya ke sebelah kanan. Ia mengurangi kecepatannya, menghampiri Clarien yang masih berpegangan di kontener itu.
Nata terus mengendalikan mobilnya supaya tetap bertahan, mendekati gerbong. Clarien melompat kearah mobil Nata dan memasuki mobil Nata.
Nata membalikan mobilnya,kearah berlawanan dari truk itu. Ia menambahkan kecepatan mobilnya, setelah merasa cukup jauh, dirinya menekan tuas.
Terdengar suara ledakan yang besar dari truk yang mereka bajak, mereka semua tersenyum sinis dan menjalankannya mobil mereka dengan ngebut.
***
Mobil mereka memasuki kawasan pelabuhan. Mereka mencari kapal yang telah menunggu kedatangan mereka.
Zhou memakirkan mobilnya di atas kapal yang telah menunggu, Xian melakukan hal yang sama, lalu di susul oleh Nata yang telah telah naik di atas kapal. Kapal tersebut berjalan meninggalkan pelabuhan.
Nata dan Clarien turun dari mobil, Zhou Xian dan Stevie telah menunggu mereka berdua.
Nata berjalan kearah mereka " good job" kemudian ia masuk kedalam kapal.
" Selamat atas kerja keras kalian" ucap Clarien menyusul Nata.
Stevie tersenyum lalu mengeluarkan rokoknya. Ia berjalan menuju pinggiran kapal dan menyalakan rokok yang di tangannya.
" Gue kira misi ini akan sulit, ternyata tidak" Xian duduk di dek kapal menatap Zhou dan Stevie.
__ADS_1
" Rencana ini, jauh dari rencana yang di sediakan kakek. Rencana kakek kita akan mengambilnya di markas mereka, tetapi Nata menyuruh kita menghadang dijalan dan meledakkan sisanya." Zhou berdiri menikmati hembusan angin malam.
" Gue curiga, otak Nata itu isinya apa? Kenapa dia bisa merubah strategi begitu matang dalam sekejap" tanya Xian sambil meminum kopi di tangannya.
" Entahlah gue pengen beli tapi gatau adakah yang jual lagi otak kek Nata." Tambah Stevie.
" Kalian mau seperti nata, coba mintalah ke kakek" sambung Zhou santai.
" Tidak terimakasih " teriak Stevie dan Xian bersama.
Nata berjalan menuju ruangannya yang berada di kapal ini, ia membuka ruangan yang terlihat rapih itu. Melangkah kan kakinya menuju kursi kebesarannya itu.
Clarien berjalan memasuki kamarnya, merebahkan dirinya di kasur dan menjelajahi alam mimpi.
"Ayok masuk panas" ajak Xian. Stevie dan Zhou mengikuti langkah kaki Xian.
Mereka menatap para koki yang menata makanan di meja, mereka duduk di tempat masing masing. Menikmati makanan yang telah tersedia.
Tok tok tok
Nata yang terus membaca berkas berkas yang berada di mejanya, meneliti satu persatu hal itu.
" Masuk"
Pintu ruangan terbuka menampakan dia koki yang sedang mengirimkan makanan untuk dirinya. Salah satu dari koki itu mendorong troli yang berisi makanan.
" Makanan anda nona"
Nata tanpa menatap mereka dan menunjuk kearah sofa "Letakan saja di sana, dan keluar lah"
Kedua koki itu menurut perintah dari nona besar mereka ini, meletakkan makanan dan berjalan keluar ruangan.
Mereka tidak berani mengganggu gadis itu ketika sibuk dengan berkas berkasnya, bukan hanya mereka saja. Para saudara nona besar pun tidak ada yang berani mengganggu waktu nya.
***
Ibra terus menatap orang orang yang berada diruangan nya dengan dingin. Ibra menggenggam tangannya dengan erat, menandakan lelaki itu sedang menahan emosi yang berada didalam dirinya.
"BAGAIMANA BISA BARANG ITU MELEDAK BODOH" teriak nya dengan kesal
" Ka-kami tidak tau bos, perjalanan disana telah kami perhitungkan tidak ada yang mengetahui barang itu" ucap lelaki di hadapannya dengan menundukkan.
Ibra meninju wajah lelaki di hadapannya itu, lalu iya membantu lelaki itu berdiri. Mengenggam erat pundaknya.
Ibra melepaskan lelaki itu,dan berdiri menghadap kaca yang memiliki pandangan puluhan gedung ibu kota.
" Pergilah!"perintahnya dingin.
Semua orang yang berada di dalam ruangannya pun pergi dengan cepat, mereka tidak ingin menjadi sasaran amuk dari tuan mereka itu.
Ibra terus menatap kedepan dengan tangan yang masih menggenggam erat, ia menahan emosi dengan menyatukan giginya.
" Sialan !!! Siapa yang telah berani bermain dengan ku, cepat atau lambat akan ku dapatkan orang itu."
***
" Will gue dengar Nata berhasil merebut kembali barang yang telah di curi" ucap Nathan.
" Baguslah, barang itu tidak boleh jatuh kepada tangan yang salah" ucap William sambil menatap berkasnya.
" Tapi itu bisa menimbulkan musuh akan mengincar nya" sambung Rakha.
" Tidak akan ada yang bisa mengincar dirinya, sedangkan musuh nya pun telah jatuh dalam pesona gadis itu" ucap Nathan
William mengenggam erat tanganya ketika mendengar ucapan Nathan. Dia seperti sangat emosi sekali mendengar ada yang menyukai Nata, ia mengingatkan wajah Ibrahimovic saat berada bersama Nata. Membuat aura ruangan itu menjadi mencengkram.
" Khm khm gimana kalo kita cari makan" ucap varen merasa jika William tidak ingin di ganggu.
" Kita duluan bos" Zoro berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan di susul yang lain.
" Bagaimana pun caranya tugas lo untuk melindungi Nata itu penting, tahan emosi Lo jangan menghancurkan semuanya" ungkap Nathan
"Hm "
***
" Oh ****!!! Dada gue sakit" ringis Nata merasakan dadanya yang mengeras, ia lupa memompa ASI nya.
Nata berjalan meninggalkan ruangannya dan mengetuk kamar zhou. Zhou yang sedang berada di kamarnya segera berdiri untuk membukakan pintu.
"Ada apa Nat" Zhou menarik Nata masuk, melihat muka gadis itu menahan sakit.
__ADS_1
" Gue lupa memompa asi, Lo bawa alat gue kan?" Tanya Nata sambil menahan sakit di dadanya.
"Gue bawa Lo tunggu disini" Zhou berjalan keluar kamar menuju dapur.
Nata duduk di kasur Zhou, menahan sakit di dadanya yang mengeras. Sungguh ia lupa memompa asinya pagi ini, karena harus mengejar waktu dalam misi tadi.
pintu kamar terbuka, menampilkan Zhou yang membawa alat pompa asi,ia kemudian menyerahkan kearah Nata. Lalu berjalan keluar kamarnya. Membiarkan Nata memompa asinya itu.
Nata terus memompa asinya dan menghasilkan setengah gelas dari tempat pompa,jika di masukan kedalam DOT bayi akan berisi penuh.
Nata memindahkan asinya kedalam kantong yang telah disediakan khusus, lalu melekatkan kedalam lemari pendingin, ia merapikan bajunya dan berjalan meninggalkan kamar tidur Zhou.
" Ngapain lu Cok" Xian menatap Nata sambil membawa alat pompa.
" Biasa gue kelupaan" nata sambil nyengir,sedangkan Xian hanya menggelengkan kepalanya.
" Sini, dah sana kau pacaran aja sama anak aku itu" Xian mengambil alih alat pompa nata dan meninggalkan gadis itu.
" Punya sodara kenapa begini yak, gak waras banget" ucap Nata sambil memasuki ruangannya kembali.
Mereka semua dalam perjalanan menuju tempat awal mereka tinggal, kapal ini Kana mengantarkan mereka sebelum melanjutkan perjalanan membawa senjata mereka.
***
Pagi ini terlihat Nata dengan mood yang tidak baik, mukanya hanya di tekuk dan pakaian sekolah yang sedikit rapih. Iya berjalan keluar dari apartemen setelah mendengar suara para saudara.
"Dia ngak mood kah?"bisik Xian ke arah Zhou.
" Keknya lagi datang bulan deh" sambung Stevie.
" Kalian tau kan, apa yang harus kita lakukan?" Jawab Zhou yang masih berbisik
Stevie mengangguk "jangan memancing amarahnya."
" Udah selesai?" Clarien menatap Nata yang berjalan lesu.
"Menurut Lo" dingin hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu, lalu berjalan meninggalkan yang lainnya.
Mereka semua menghela nafas dan mengikuti langkah kaki gadis itu. Mereka tidak ingin membuat singa mengamuk pagi ini.
Nata duduk di kursi penumpang dengan tangan di dada, Clarien duduk di kursi pengemudi. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi,untuk menghindari macet lagi ini.
10 menit perjalanan,mobil mereka telah sampai di pakiran sekolah. Nata turun terlebih dahulu meninggalkan yang lain.
Clarien Zhou Xian berlari mengejar Nata, Stevie berjalan menuju kantin untuk membelikan sarapan Nata.
***
" Baiklah anak anak, apa kalian mengerti yang telah ibu sampaikan"
"Mengerti Bu"
" Baiklah,ibu akan memanggil satu orang untuk menyelesaikan soal yang berada dipapan tulis"
Guru yang mengajar di kelas nata, mengedarkan pandangannya ke seluruh murid, ia melihat Nata yang menenggelamkan kepalanya di tumpukan tangan.
Semua siswa yang melihat ibu itu akan menyuruh Nata, hanya memberi kode supaya tidak menganggu gadis itu. Mereka tau saat ini Nata sedang tidak mood untuk melakukan apapun, atau mereka semua akan terkena imbasnya.
Abiyan yang merupakan siswa pintar di kelas itu, mengangkat tangannya. Ia mewakili untuk menjawab soal yang berada di papan tulis itu, jika guru tersebut menganggu nata maka mereka semua akan tidak baik baik saja.
"Kenapa kamu yang maju,ibu ingin menyuruh gadis itu"
" Sudah lah Bu, sama saja. Yang penting soal ibu telah terisi bukan. Lagipula jam pelajaran ibu telah abis"ucap abiyan kelewat santai
Guru yang mengajar itu pun hanya menghela nafas dan membawa semua barangnya meninggalkan kelas.
" Nat.. ayok kantin" Ucap Xian menepuk pundak Nata.
"Hm"
Nata bangun dari posisinya dan berjalan meninggalkan mereka,disusul oleh Clarien.
Abiyan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya "dia ngak mood Xian?"Xian mengangguk lalu menyusul yang lain.
" Untuk guru tadi ngak jadi nyuruh nata, bisa bisa kita di jemur di lapangan"
" Nata serem ih kalo ngak mood"
" Tapi ya namanya juga cewek hormonnya pas dapat pasti bawaan emosi mulu."
" Singa kalo nabrak cewek yang halangan, bukan cewek yang minta maaf tapi singanya"
__ADS_1
" Cewek halangan nabrak tiang listrik, tiangnya pindah"
Mereka semua tertawa dengan guyonan receh mereka. Kelas itu menghibur dan melindungi satu sama lain.