
Semua anak yang berada di kelas bernafas lega ketika mendengar bel istirahat telah berbunyi. Terutama Nata, gadis itu meregangkan otot tubuhnya setelah beberapa lama mengikuti pelajaran dan mencatat hal yang lumayan penting menurutnya. Nata melirik kearah buku William yang sama sekali tidak terbuka pun, tidak ingin ambil pusing ia menggoyangkan bahu william yang sedang tertidur.
"Will,, willll!!"
Nata mengeraskan panggilannya kepada William, berharap lelaki itu terbangun dari tidurnya.
"Hmm."
"Will, geser gue mau ke kantin."
William menggeserkan badannya supaya Nata bisa berjalan keluar dari tempat duduknya, Nata berjalan sambil mengkode para sepupunya yang menatap dirinya sambil tersenyum.
Seakan mengerti kode itupun Clarien dan yang lain hanya mengikuti Nata sambil terdiam dengan fikiran mereka masing-masing.
"Kalian mau makan apa ?"
Xian menatap Nata dan yang lainnya. Nata berjalan kearah meja bagian pojok yang masih terlihat kosong, ia menduduki dirinya diikuti oleh yang lain, beberapa anak yang melihat itu pun berbisik-bisik.
"Gue mau makan bakso. Kalian?" Kata Nata.
"Samain aja deh, biar mudah juga tuh anak pesannya," jawab Clarien sambil memakan permen menggantikan rokoknya.
Xian mengangguk lalu berjalan menuju stand penjualan bakso dan tidak lupa memesan es jeruk 5 porsi. Xian berjalan kembali dan duduk di dekat Stevie yang sibuk dengan hpnya. Sedangkan nata hanya mengetuk meja sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Habis ini kita mau ke makam, kata opah ini tepat dua tahun mereka pergi," kata Zhou sambil melirik kearah Nata.
Nata hanya terdiam dan mengangguk. "Gue ga bakalan datang sebelum gue balas dendam,"
Zhou dan yang lainnya hanya menghela nafas, mereka tau Nata tidak akan pernah berkunjung ke makam keluarganya sebelum janjinya terpenuhi.
" Permisi non ini pesanan," kata penjaga kantin sambil meletakan bakso dan es jeruk pesanan mereka.
" Terimakasih bi," balas mereka menatap pelayan tersebut, setelah kepergian sang pelayan pun, mereka mulai meracik lalu memakan pesanan mereka dengan tenang.
Kantin yang awalnya tenang, kini terdengar suara berisik, karena merasa penasaran Stevie melihat arah yang menjadi pusat perhatian semua yang berada di kantin, lalu dengan santainya dia kembali menyantap baksonya.
"Siapa?" Kata Xian sambil menyantap baksonya.
"Biasa, William dan geng," balas Stevie dengan santai, sedangkan ketiga orang lainnya hanya menganggukkan kepala, kecuali Nata yang tidak memperdulikan keributan yang ada , jika tidak menganggu makannya dia tidak akan peduli.
"Udah gue bilang bukan jangan duduk Disini!!!"
__ADS_1
Seseorang dengan beraninya mengebrak meja yang di tempati oleh Nata dan yang lainya, mendengar itupun membuat entesi yang awalnya fokus ke William dan geng,beralih menjadi menatap kemeja Nata dan kawan-kawan.
Nata dan yang lainnya tetap fokus dengan bakso mereka tanpa memperdulikan seorang gadis dan temannya itu. Merasa di abaikan gadis itupun menarik mangkok bakso nata, yang kebetulan posisi Nata berada di dekatnya. Nata yang masih memegang garpu itu pun hanya menggenggamnya dengan erat.
"Siapa suruh kalian abaikan ucapan gue hah!!!" Kata gadis berambut pendek yang ber name tag " Caca Anggita".
"Elu siapa, emang kita kenal?" Sahut Clarien dingin sambil melirik Nata yang menahan emosi.
Stevie mendekatkan kembali mangkok bakso Nata, tetapi lagi lagi di tarik lagi Caca membuat kuah bakso itu tumpah mengenai rok yang di pakai Nata. Clarien dan yang lainnya hanya menahan nafas, melihat rok Nata yang telah terkena tumpahan kuah.
"Mampus, beneran ngamuk nanti anak ini," Ucap mereka berempat dalam hati sambil menatap Nata.
"Kalian itu murid baru, gak perlu sok berani ini meja gue mending kalian pergi" kata Caca sambil mengebrak meja.
Nata yang masih menggenggam garpu pun, menancapkan garpu yang di tangannya ke samping tangan Caca. Membuat gadis berambut pendek itu berkeringat dingin. Hal itu, tidak luput dari pandangan siswa yang menahan nafas melihat garpu yang menancap mulus di sisi tangan Caca.
"Lo berisik" kata Nata dingin dan berdiri menatap Caca.
"G-gue," ucap Caca yang masih syok melihat garpu itu.
"Masih ada pembullyan dan sok berkuasa di sekolah ini? Bukannya sistematis sekolah telah di ubah? Tidak ada yang namanya pembullyan lagi," kata Nata sambil menatap Caca.
"Terserah gue lah, gue orang kaya bisa apapun gue lakukan termasuk mengeluarkan Lo dari sekolah ini,"Sahut Caca sambil menunjuk Nata.
"Lo !!!!" Sahut teman dengan geram menatap Nata. Caca mengambil air di meja kemudian menyiramnya ke arah Nata.
"diem loh semua ngak di ajak," ujar Clarien dingin sambil berdiri di samping Nata.
Tetapi, sebelum air itu mengenai Nata ada seseorang yang telah berdiri didepan Nata sambil menatap kearah rombongan Caca dengan tajam.
"W-william," ucap Caca dan yang lainnya gugup.
"Lo udah denger bukan!! Di sekolah ini tidak ada yang namanya pembullyan lagi, tapi kenapa Lo lakuin ini? Lo mau di keluarin dari sekolah" kata William dingin.
"jangan main main, Lo salah lawan"bisik Clairen di kuping Caca.
Caca dan teman temannya hanya terdiam, ia melirik Nata dengan tatapan emosi kemudian berjalan meninggalkan kantin. Semua siswa yang melihat kejadian itu pun membenarkan tindakan Nata, karena selama ini Caca selalu membully anak baru dan anak yang kurang mampu disekolah ini, sudah berkali-kali mereka melaporkan kelakuan Caca, tapi dengan posisi orang tuanya yang merupakan kepala sekolah pun tidak pernah menindaklanjuti laporan. Karena itu mereka lebih memilih diam ketika di bully oleh Caca, Bahkan ada beberapa siswa yang telah di keluarkan dari sekolah ini karena fitnah Caca.
"JIKA ADA PEMBULLYAN SEPERTI INI LAGI! KALIAN HARUS MELAWANNYA KARENA SISTEMATIS SEKOLAH INI SIAPA YANG PINTAR MEREKA AKAN DI HORMATI,JIKA ADA YANG MEMBULLY LAWAN JANGAN DIAM SAJA! KALIAN MENGERTI!" Ucapan tegas dari William membuat semua siswa yang berada di kantin merasa ada yang akan melindungi mereka.
"Ikut gue," kata William sambil menarik Nata untuk mengikuti dirinya.
__ADS_1
"Bakso gueeeeee" balas Nata menatap kasihan kearah baksonya.
Clarien dan yang lainnya hanya terkekeh melihat tingkah kerandoman Nata yang tidak pernah muncul lagi setelah kematian keluarganya, hari ini mereka melihat sisi yang hilang itu hadir karena William.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lo mau bawa gue kemana sih," kata Nata.
William terus berjalan sambil menggandeng tangan Nata, ia hanya fokus menatap jalan tanpa menghiraukan Omelan dari gadis yang baru di kenalnya itu.
"Ruangan pribadi, ini milik Lo?" Ujar Nata sambil menatap William yang telah masuk terlebih dahulu. Lelaki itu hanya mengangguk.
" Masuk,"
Nata memasuki ruangan pribadi itu dan menatap ke sekeliling ruangan itu dengan takjub, ruangan yang sangat rapih dan aroma ruangan itu sama dengan parfum yang dipakai oleh William membuat gadis itu tenang.
" Di lemari itu ada baju ganti, Lo bisa gunakan itu" William menunjuk lemari yang berada di pojok. Nata mendekati lemari itu dan membukanya, terlihat beberapa set pakaian perempuan yang masih terbungkus rapih.
" Punya cewek Lo, gapapa kalo gue pake?" Tanya Nata sambil menatap William.
" Bukan punya cewek gue, tapi ini ruangan di buat oleh sahabat gue, keknya dia yang sediakan pakaian itu"
Nata hanya mengangguk dan mengambil satu set pakaian perempuan dan berjalan memasuki kamar mandi, William melihat Nata yang berada di kamar mandi pun, membuka pakaian dan mengambil kaos hitam kemudian memakainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Kalian kenapa diam aja, ketika teman kalian di bully tadi?" Tanya Nathan sambil menatap Clarien.
" Dia bisa, jadi untuk apa membantunya, lagian jika udh jadi mangsa dia akan di kejar terus ama dia," sahut Clarien menyalahkan rokoknya.
Mereka berdelapan duduk di rootrof sekolah, sambil menikmati angin segar dari atas sana.
" Bagaimana apa kalian telah menemukan bukti?" Tanya Stevie membuat keempat lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"Mereka terlalu rapih, tapi semoga bisa menemukan hal kecil" balas Rakha yang duduk di sampingnya.
" Bagaimana dengan kalian?" Tanya Zoro menatap mereka.
" Sama dengan kalian, kami masih mencari keberadaan saksi kejadian itu" balas Zhou sambil menatap kedepan.
" Kalian akan ke pemakaman bukan?" Varen menatap mereka semua, ia mendapatkan anggukkan dari mereka.
__ADS_1
"Yaudh berangkat sekarang." Nathan berdiri diikuti yang lainya, mereka meninggalkan rootrof melupakan Nata dan William yang menghilang.