
Mansion mewah milik keluarga besar Ozama, telah berkumpul semua rekan bisnis, sahabat dan ribuan orang yang berada dibawah naungan keluarga Ozama. Untuk mengikuti proses pemakaman dari putra sulung tuan Alvaro dan keluarganya yang tewas dibunuh oleh para musuh.Membuat mereka yang ada didalam mansion itu berfikir siapa yang telah melakukan perbuatan keji itu.
Alvaro Bautista Ozama, duduk di kursi sambil menatap kosong kearah 3 peti mati yang dimana telah terisi jazad dari putra sulungnya serta sekaligus keluarga dari putra sulungnya tersebut.
"Mereka terlalu serahkan sampai melakukan berbagai cara untuk menghancurkanmu."
Alvaro berbicara dengan sendirinya sambil tetap menatap foto sang putra yang terdapat di peti.
Tanpa disadari oleh semua orang terdapat seorang laki laki yang tersenyum puas melihat 3 peti mati yang berada di tengah tengah aula itu, merasa puas telah menghabisi nyawa dari musuhnya.
"Beristirahatlah dengan nyenyak kawan, masa kejayaan mu telah menjadi milikku saat ini, dasar manusia bodoh."
Ungkapnya dalam hati sambil tersenyum tipis,lalu merubah kembali raut wajahnya menjadi sedih untuk menghindari kecurigaan bahwa dirinya lah sang pelaku yang sebenernya.
Melihat sosok ayahnya yang masih setia duduk menatap peti sang kakak, membuat sosok lekaki tampan itu berjalan mendekati.
Berdiri disamping sang ayah lalu menunduk untuk membisikan "Ayah mereka telah sampai, para cucu mu dan lebih tepatnya Nata telah berada di negara ini, kita tidak mungkin bukan menunjukkan siapa identitas asli dari Nata sampai pembunuh itu didapatkan," Ungkapnya dengan suara penuh emosi, membuat seseorang yang sedang dibisikkan itu melirik sekilas putranya itu.
Alvaro tersenyum "Biarkan.... dia harus menunjukkan jati dirinya sendiri setelah dendamnya usai."
Percakapan ayah dan anak tersebut tidak menimbulkan rasa curiga kepada siapapun, dan hanya menampilkan hal sewajarnya untuk saling menguatkan satu sama lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di bandara kelima remaja yang telah ditunggu kedatangan mereka oleh keluarga besarnya, berjalan dengan santai tanpa pengawalan, meskipun tanpa di kawal ketat kehadiran mereka dengan pakaian hitam tampak misterius serta aura tidak bersahabat,membuat suasana yang berada di bandara menata mereka secara terang-terangan, bahkan ada yang melirik.
"Sial gue benci keramaian."
Clarien berjalan menunduk dan menurunkan topi yang sedang dirinya kenakan, berjalan lurus menghiraukan semua orang.
Sedangkan, dibelakang Clarien terdapat Xian Zhou serta Stevie berjalan sambil menunduk untuk menghindari wajah mereka terlihat jelas semua orang.
Jauh dibelakang mereka semua, terdapat Nata yang sedang berjalan menyusul mereka, hanya dengan menggunakan kacamata hitam yang tertengger cantik di hidung mancungnya, dengan sengaja dia membiarkan mukanya terlihat dengan jelas.
"Siapa mereka kenapa Mereka tampak menyeramkan."
"Apakah mereka penjahat?."
"Mungkin mereka artis yang sedang berlibur."
"Lihatlah wanita itu sungguh sempurna sekali dengan kacamata hitam, mendukung penampilan yang sedang dia kenakan sekarang."
Tanpa menghiraukan ucapan semua orang yang di bandara, mereka berlima berjalan menuju parkiran yang telah terdapat, sebuah mobil ranger cover berwarna hitam yang telah menanti kedatangan mereka.
Clarien masuk lebih dulu kedalam mobil, duduk dengan tenang di kursi penumpang sambil menatap Xian Zhou Stevie yang menyusulnya masuk, sambil melirik Nata yang berjalan santai kearah mereka.
Nata masuk kedalam mobil, dengan melepaskan kacamata hitamnya, duduk dengan tenang di kursi pengemudi "Kalian tidak akan menunjukkan diri kalian di pemakaman dengan jelas bukan," Ucapnya sambil menjalankan mobil.
"Gue ga tertarik akan hal itu,"1 Balas Clarien sambil menurunkan kaca jendela dan menghidupkan rokok yang dikantongi dirinya.
"Gue ngikut aja," Ucap Xian dengan menyender punggung kursi sambil memejamkan mata.
"Gue lagi cek lokasi aman untuk kita menyaksikan pemakaman itu."
__ADS_1
Zhou sambil menatap tablet yang berisi lokasi pemakaman dipegang di tangannya.Dengan menatap jalanan, Stevie mengingat telah berapa lama mereka semua pergi dari negara ini. dan saat nya mereka kembali hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarga mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang dikendarai Nata bersama sepupunya, telah sampai disebuah komplek pemakaman elit milik keluarga.Mereka hanya berdiam diri sambil menatap orang orang yang berpakaian hitam sedang berdiri membelakangi mereka, menandakan pemakaman telah dimulai.
"Nat... lu bisa menyaksikan dengan jelas proses pemakaman dari sini. Akses kakek udh gue hack," ujar Zhou sambil menjulurkan tablet yg dipegang ke arah Nata.
Nata tersenyum getir, sambil memegang tablet Zhou yang menampilkan proses pemakaman keluarganya.
"Bahkan untuk hadir lebih dekat dan menyaksikan langsung pemakaman kalian, aku harus menyaksikan dari jarak jauh," Ungkapnya dalam hati, tanpa sadar air mata yang dari tadi dia tahan jatuh.
"Maaf dad bang mom, kami hanya bisa menyaksikan pemakaman kalian dari jauh," Ucap Stevie dalam hati,sambil menatap dari jendela mobil.
"Selamat beristirahat dengan tenang mom dad dan kamu,king," Ungkap Zhou dalam hati sambil menundukkan kepala dan meneteskan air mata.
"Pergilah dengan tenang mom dad bang, kami berjanji akan memberikan keadilan untuk kalian," Ungkap Xian yang telah menangis sambil menundukkan kepala.
"Selamat Tinggal para hero mom dad dan bang king, Clarien janji akan Clarien bantai orang yang membuat kalian seperti ini,"ucap Clarien yang menundukkan kepalanya sambil menahan air matanya yang jatuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dimana mereka."
Alvaro menatap dingin gundukan tanah yang terdapat putra dan keluarga putranya itu.
"Mereka telah berada disini tuan, lebih tepatnya di dalam mobil hitam dibelakang anda berdiri saat ini tuan," ungkap seorang pria.
Alvaro menoleh sesuai arahan yang dibicarakan asistennya, Alvaro mendapatkan mobil full hitam, membuat dirinya tersenyum tipis.
Terima kasih telah hadir di pemakaman, saya berharap jika Gideon memiliki salah,tolong dimaafkan," balas Alvaro sambil menjabat tangan orang itu.
"Sama sama tuan, baiklah kami semua permisi pamit" ucapnya dibalas dengan jabatan tangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pemakaman dari Seorang Gideon berserta istri dan putranya telah selesai. Hanya menyisakan orang orang kepercayaan keluarga Ozama sertakan anggota Milik Nata.
" Kakek kami mengucapkan turut berdukacita atas kepergian Om Gideon, Tante Sheila serta King." suara tegas milik Rival sambil menatap Alvaro yang berdiri didepannya.
"Terimakasih untuk kalian yang telah menjadi sahabat baik cucuku. Pastikan kalian menemukan pelakunya." Ucap Alvaro sambil menepuk pundak Rival yang merupakan keponakan dari Sheila dan mendapatkan anggukan dari anggota nya.
Disisi lain kelima remaja yang memperhatikan pemakaman dari dalam mobil, akhirnya turun dari mobil setelah memastikan hanya tidak ada orang lain kecuali orang kepercayaan sang kakek.
"Kuatkan dirimu sebelum melangkah menuju tempat itu," ucap Zhou sambil menepuk pundak Nata dan berjalan mendekati sang kakek.
"Semua berat tapi akan kita lalui bersama, kami akan selalu bersamamu." Lanjut Xian sambil berjalan mengikuti Zhou.
"Tetaplah hidup untuk membalaskan kematian mereka," Ungkap Clarien sambil menyusul Xian serta Zhou yang telah berjalan lebih dulu.
Clarien menepuk pundak Nata yang masih diam "Gue masih ada disini, kita akan saling menguatkan satu sama lain, tetapi jadi Nata yang seperti dulu setelah dendammu selesai," sambil tersenyum lalu berjalan meninggalkan Nata.
Sedangkan, Nata sendiri masih mempunyai tatapan dan fikiran yang kosong "Gue harus kuat," sambil menghela nafas berat dan berjalan menyusul mereka semua.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kakek"
Mendengar suara dari Clarien membuat Alvaro yang sedang berbicara dengan anggota milik Nata menoleh dan tersenyum.
"Kami semua kembali kek, tapi kami kehilangan sosok mereka."
Keempat gadis itu memeluk sang kakek sambil menangis, membuat semua orang kepercayaan keluarga dan anggota Nata merasakan kesedihan seperti yang keempat gadis itu rasakan.
"Kakek tau itu, maaf kan kakek gagal menjaga mereka."
Dengan suara bergetar sambil memeluk keempat cucunya Alvaro berusaha menahan tangis yang dari tadi dia tahan.
" Opah."
Pecah sudah pertahanan yang dari tadi Alvaro bangun, mendengar suara bergetar dari seorang gadis yang dibelakangnya.
"Kemarilah Zel kemari."
Nata berlari ke pelukan Alvaro menumpahkan semua tangisan yang berusaha dia tahan didalam mobil. Bukan hanya Alvaro dan Nata bahkan semua orang yang berada disana menangis melihat gadis cantik yang biasanya tersenyum kepada siapapun, rapuh dan hancur saat ini. Kecuali anggota Nata yang masih berfikir siapa kelima gadis ini.
" Kenapa mereka meninggalkan Nata opah kenapaaa," isak Nata didalam pelukan Alvaro
"Tenang sayang ini takdir mereka," balas Alvaro sambil memeluk erat Nata diikuti keempat gadis yang lain memeluk mereka berdua.
" Siapa mereka? ada hubungan apa Mereka dengan keluarga ini."
Anggota Milik sambil menatap kelima gadis yang sedang berada dalam pelukan Alvaro. Rival menunduk menatap kelima orang itu, terutama saudara itu yang menangis begitu pilu.
"Nata bangun Nataa hey," Alvaro merasakan beban berat akhirnya menyadari Nata yang didalam pelukan dirinya pingsan.
"Nata bangun,Nataaa," ujar keempat gadis yang sadar sahabat mereka telah pingsan di pelukan sang kakek.
"Biar Rival yang membawanya kakek."
Rival memilih gerak lebih cepat untuk membawa gadis itu kedalam gendongannya menuju mobil yang terparkir.
Keempat gadis itu mengikuti Rival yang membawa Nata kedalam mobil. Sedangkan, Anggota milik Rival masih terlihat linglung, Ketua sekaligus sahabat mereka yang anti dengan perempuan menggendong gadis cantik itu dan menunjukkan raut wajah khawatirnya.
"Natatusha Anzelvanzia Ozama al-Fatih," ujar Alvaro membuat mereka menegang.
mendengar suara dari lelaki tua disamping mereka,membuat mereka semua menoleh dengan raut muka meminta penjelasan sekaligus terkejut.
" Kembaran sekaligus pemilik sah dari AXE COMPANY yang dikelolah oleh Gideon, sekaligus pemimpin utama kalian semua," ujar Alvaro sambil meninggalkan keempat remaja pria tersebut untuk menyusul cucunya.
"Jadi dia yang selama ini tersembunyi," ujar Maxi
"Apa alasan keluarga mereka dirinya," ujar Ariel bingung.
"Jadi dia pemimpin kita yang kejam,"balas Cleon.
"Apapun alasan nya, dia lah yang akan memimpin kita nanti," Ujar Ical sambil meninggalkan ketiga sahabat.
__ADS_1
"SIAL OIII TUNGGU KITA KUTU BUKU," Teriak mereka sambil mengejar Ical.