
Nata keluar dari kamar mandi, ia menatap William yang sibuk dengan siaran di tv yang menampilkan acara di mana negara yang selama ini ia bersembunyi, Nata melirik heran William yang menampilkan muka khawatir dengan berita yang berada di tv.
"Lo kenapa," Nata berdiri di belakang sofa yang di duduki William, memegang pundak lelaki itu hanya untuk menenangkan.
" Gue gapapa," balas William dengan santai. Nata mencubit kecil pundak lelaki itu dan berjalan duduk di sampingnya.
"Negara yang gue pimpin, sepertinya tidak baik baik saja sejak gue pergi 2 tahun ini,"
William terus memandang ke acara berita di tv, Nata yang mendengar itu pun sedikit kaget.
"Gue bukan siswa sebenernya, gue mengikuti kelas akselerasi, lima tahun yang lalu gue lulus dari universitas terkemuka kemudian gue berusaha untuk mengikuti pemilihan pemimpi negara itu, akhirnya berkat kerja keras gue jadi pemimpin negara." William merasakan kenyamanan saat bercerita kepada Nata, dia tidak pernah menceritakan apapun kepada orang lain tetapi dengan gadis disampingnya ini membuat dia menceritakan apapun kepadanya. Nata hanya tetap diam mendengarkan William.
"Tapi dua tahun terakhir ini, gue harus meninggalkan sementara Jabatan gue meskipun masih bisa gue kendalikan jarak jauh," William menoleh ke arah Nata yang hanya diam disampingnya.
"Apa alasan yang membuat Lo sampai meninggalkan jabatan Lo itu," Nata menatap wajah tenang William.
"Gue lagi mencari bukti penyebab kematian sahabat gue, karena bagaimana pun gue harus melindungi adik dan satu satunya orang yang masih hidup saat ini, gue harus mencari keberadaan dia," ucap William sambil menatap Nata lebih tepatnya menatap mata gadis menenangkan dirinya itu. Ia merasa tatapan yang dimiliki Nata itu sama dengan tatapan gadis yang dari kecil telah memiliki hatinya itu.
" Lo sendiri? Pure murid baru atau?" Tanya William. Nata menghela nafas panjang.
" Gue sedang mencari penyebab kematian keluarga gue," ucapan yang keluar dari mulut nata membuatnya terkejut.
" Keluarga Lo dibunuh, kapan?"
"Dua tahun yang lalu mendengar kematian keluarga gue, akhirnya gue memutuskan untuk mengirim saudara gue,"
"Maksud Lo, Clarien dan yang lainnya?"
William tetap menatap Nata wajahnya mungkin tenang, tetapi tidak dengan hatinya.
__ADS_1
Nata mengangguk "iya Clarien dan ketiga nya merupakan saudara gue."
" K-king Ghafan Ozama Alfatih, Abang yang Lo maksud?" Dengan gugup dan perasaan campur aduk William menatap Nata, berharap tebakannya salah.
Tetapi salah, Nata menganggukkan kepalanya ketika mendengarkan nama sang Abang di sebutkan, gadis itu mendongakkan wajahnya supaya air matanya tidak turun. William menarik Nata kedalam pelukannya, menyembunyikan mukanya di leher Nata untuk berusaha meredam tangisannya. Nata yang mendapatkan perlakuan itu terkejut lalu tanganya dengan bergerak sendiri mengelus punggung william yang telah bergetar, lelaki tampan itu menangis dalam pelukannya.
" Don't cry I'm here," ucap Nata dengan gemetar memeluk erat lelaki yang telah ia cintai sejak dulu, sebelum perpisahan itu terjadi.
" Jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi aku aku aku" suara parau William tetap memeluk erat Nata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Ckck! Untuk apa orang orang memperingati kematian keluarga bodoh itu sungguh tidak penting sama sekali, dengan kematiannya membuat posisiku tetap aman."
Ucap lelaki berpakaian rapih sambil menatap undangan yang di tangannya kemudian membuang nya ke dalam tong sampah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Clarien dan yang lainya turun dari mobil mereka, memasuki area pemakaman pribadi keluarga Ozama, di depan sana telah ramai pelayat yang berdatangan memperingati acara kematian 3 orang yang paling penting di keluarga Ozama itu. Kedatangan mereka mendapatkan tatapan dari para pelayat, mereka mencari cari keberadaan orang yang paling ingin mereka temui. Gadis itu tidak pernah datang ke pemakaman setelah kabar kematian keluarganya menyebarkan luas.
Nathan mengambil dupa yang telah tersedia,diikuti yang lainya kemudian lelaki itu memimpin doa untuk ketenangan keluarga yang telah pergi terlebih dahulu itu, kemudian ia meletakan dupa itu ketiga makam di hadapannya. Lelaki itu menatap papan kayu yang bertuliskan ' king Ghafan A' ia mengusap papan kayu itu.
" King, dia telah berada Disini tetapi dia tidak ingin menemuimu, sebelum dirinya membalaskan dendam kematian kalian, dan menemukan Wanitanya." Tanpa sadar Nathan telah menangis di hadapan makam sang sahabatnya itu.
"Bang, Nata telah kembali tetapi dia tidak ingin kesini bang,bujuk dia untuk menemui kalian, rien tau kalo dia sangat terpukul dan ingin memeluk kalian, tapi dia telah bersumpah tidak akan kemari Jika tidak membalaskan dendamnya." Clarien mengusap air matanya yang menetes tidak berhenti.
Yang lainnya pun hanya bisa mengusap air mata mereka, sudah lama mereka tidak bertemu. Sekalinya bertemu, mereka menghadiri pemakaman ini, dua tahun yang lalu mereka kembali setelah mendapatkan kabar kematian orang orang yang telah bersatu dalam tanah ini, mereka kembali dengan membawa dendam dan tujuan yang sama.
" Bagaimana keadaan kalian?" Ucap Alvaro menenangkan mereka semua.
__ADS_1
" Kami baik kakek, hanya sedikit pusing mencari bukti" balas Varen menatap Alvaro, lelaki paruh bayah itu menepuk pundak Varen memberikan semangat.
"Apakah kakek tau, dimana mr.huang saat ini?" Nathan memecahkan suasana menjadi tegang.
" Belum, kakek sedang berusaha mencari tau keberadaannya" Alvaro menghela nafas, didalam hatinya pun menginginkan bisa bertemu dengan orang kepercayaan putranya itu, karena hanya dia satu satunya kunci dari segalanya. Mendengar ucapan Alvaro membuat para perempuan dan laki-laki itu hanya menundukkan kepala mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana keadaan suami saya dok?"
Dokter yang baru keluar dari ruangan pun, hanya menghela nafas menatap prihatin kearah wanita paruh baya depannya.
" Maaf Bu, keadaannya masih sama tidak ada perkembangan sama sekali"
Wanita paruh bayah itu hanya menunduk lesu mendengar jawaban keadaan lelakinya itu.
"Berdoa saja Bu,semoga tuan mendapatkan mukjizat supaya cepat sadar." Ucap dokter itu sambil menepuk pundak wanita itu pelan, berusaha untuk menenangkan wanita tua itu.
"Semoga saja dok"
" Baik Bu saya permisi"
" Sadar lah, hanya kau satu satunya harapan mereka pa, hanya papa saksi kematian mereka pa."
Ucap seorang wanita paruh bayah yang berdiri di depan ruangan penuh kaca, menatap seseorang lelaki paruh baya yang terbaring penuh dengan mesin di tubuhnya.
Pengamanan sangat ketat dilantai itu, wanita itu melakukan hal terbaik untuk suaminya,Karena bagaimanapun suaminya adalah saksi kunci yang saat ini pasti di butuhkan oleh semua orang, terlebih gadis yang saat ini dirinya tidak tau keberadaannya dan keadaannya.
"Non, semoga non baik baik saja saat ini non, saya tau anda hancur kali ini,tapi tetap lah bertahan non,saya akan membawa kembali suami saya untuk membantu non."
__ADS_1