
Sesampainya mobil Maxi di RS telah di tunggu oleh dokter dan suster yang membawa ranjang pasien. Maxi turun dan membuka pintu mobil belakang membopong Ibra untuk diletakkan di ranjang pasien, diikuti Nata yang turun.
" Bawa ke UGD sekarang." teriak dokter malik sambil mendorong ranjang pasien yang berisi Ibra.
Maxi dan Nata berlari mengikuti dibelakang Para team medis menuju UGD.
"dok Anda mau masuk atau nunggu disini."
Dokter Malik Menatap Nata ketika mereka sampai di depan UGD.
"saya disini aja, lakukan yang terbaik untuk dia."
Nata menatap Dokter Malik dan mendapatkan anggukan dokter muda itu yang berlalu masuk kedalam UGD.
" Nat." panggil Maxi. Membuat Nata menoleh sambil mengangkat alis sebelah kearahnya.
" Obatin dulu luka lu, gue bakalan tunggu disini."
Maxi menatap Nata yang penuh luka dan darah, membuat Nata mengangguk lalu meninggalkan Maxi.
Setelah melihat kepergian Nata, Maxi duduk didepan UGD sambil mengusap kasar wajahnya
" Gue harap lu selamat Ibra."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di Rs keenam remaja tersebut memakirkan kendaraan yang mereka bawa sembarangan, menimbulkan pusat perhatian para pengunjung Rumah sakit.
" Langsung ke UGD mungkin mereka langsung kesana."
Zhou berjalan mendahului semuanya menuju UGD, yang nyatanya keempat gadis itu mengetahui letak semua bangunan rumah sakit dari Nata tersebut.
Selama berjalan menuju ruangan UGD, keempat gadis itu sibuk menyapa para perawat,dokter,bahkan pengunjung rumah sakit tersebut, membuat kedua lelaki yang sedang mengikuti mereka pun bingung.
" Kalian udah sering kesini."
Cleon sambil menatap Stevie yang berjalan disampingnya.
Stevie menoleh kearah Cleon yang bertanya kepadanya " Ini rumah sakit milik Nata, jadi ya kita sering kesini, karena dia selain menghabiskan waktu di kantor ya disini."
Hening, itu lah menggambarkan keadaan keenam remaja yang sedang berjalan menuju UGD untuk mengecek keadaan Ibra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah melakukan pengobatan, Nata berjalan kembali ke UGD untuk menemani Maxi, mereka duduk sambil menunggu dokter yang menangani kasus Ibra.
" Belum ada dokter yang keluar."
Nata duduk disamping Maxi yang sedang bersandar pada kursi dan memejamkan matanya.
" Tadi dokter panik tidak menemukan stok darah yang sedang mereka butuhkan, tapi ada beberapa orang mengirimkan stok darah tersebut."
Hening, tanpa ada suara dari Nata ataupun Maxi, mereka sama sama saling fokus dengan pikiran mereka ketimbang harus mengobrol satu sama lain.
Keenam orang yang berjalan menuju Ruang UGD bisa melihat Suasana yang terjadi antara Nata dan Maxi, yang diam membisu, membuat mereka langsung menghampiri mereka berdua dengan pikirannya yang berbeda-beda.
" Gimana Ibra."
Nata dan Maxi langsung menoleh kearah 6 remaja yang telah berdiri didepan mereka. membuat mereka berdua saling melirik satu sama lain,dan langsung menatap pintu UGD yang masih tertutup rapat.
Seakan mengerti apa yang dimaksud oleh kedua teman mereka, membuat keenam yang masih berdiri langsung duduk di kursi yang ada di depan pintu UGD.
" Gue harap lu sadar, maaf karena gue lu harus begini."
Nata menampilkan wajah datarnya menatap pintu UGD, tadi jika dilihat didalam matanya terdapat guratan khawatir sekaligus rasa bersalah, terhadap lelaki yang berada didalam.
" Kalian udah ngehubungi kakek."
Stevie sambil menatap keempat sepupunya,dan membuat keempat orang tersebut menggelengkan kepala.
" gue hubungi kakek."
Stevie berjalan menjauh dari mereka untuk menghubungi lelaki tua yang tanpa mereka beritahu pun, kakek mereka pasti telah mengetahui semuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dikediaman Ozama, Alvaro dan keluarga dari inti EX-ISCAM sedang berkumpul, untuk membahas kerjasama mereka dan membahas tentang pembunuhan yang dialami oleh Gideon berserta keluarganya.
" Permisi tuan besar, ada telfon dari nona Stevie."
asisten Jung mendekati Alvaro sambil membawa telfon yang di dalam genggaman nya.
__ADS_1
Alvaro dan yang lain akhirnya menghentikan pembicaraan mereka, Lalu mengangkat telfon yang di berikan asisten Jung.
" Ada apa Stevie?"
" Maaf mengganggu waktu mu kakek, Stevi dan yang lain sedang berada di rumah sakit Nata."
" Apa yang terjadi? siapa yang sedang di rawat."
Alvaro menampilkan wajah khawatirnya, membuat keluarga dari inti Ex- iscam mendengarkan dengan seksama apa yang sedang di bahas Alvaro dan orang yang didalam telfon itu.
"Ibra kakek, dia terluka akibat menyelamatkan Nata dari orang orang yang menghadang dirinya tadi siang."
Alvaro mematikan telfon nya secara sepihak, dan menatap orang tua Anggota EX-ISCAM.
" Ada apa paman?"
"apakah Ibra telah berada disini?"tanya Alvaro menatap mereka semua.
"kami tidak tau paman, ada apa?"
"Ibra terluka" Alvaro menghela nafas panjang.
" Siapa yang telah di tolong oleh Ibra."
Gabriel menatap Alvaro dan Richard penasaran, membuat Richard langsung menatap Alvaro.
Alvaro menghembuskan nafas pelan, dan menatap semua orang yang telah menunggu jawabannya.
" NATATUSHA ANZELVANZIA OZAMA AL-FATIH."
Richard berserta semua orang yang di kediaman Alvaro menatap terkejut kearah lelaki tua itu dan tidak percaya apa yang di dengar mereka semua.
Alvaro hanya tersenyum lalu meninggalkan mereka yang sedang sibuk dengan pemikiran mereka.
"natatusha? bukan kah itu putri dari Gideon yang selama ini tersembunyi."
"natatusha? ahh sungguh aku merindukan anak itu."
" Bagaimana keadaan dia setelah dewasa ini."
" anak Gideon bukan?"
Alvaro yang telah duduk siap di mobilnya, berteriak kearah orang-orang yang masih berada dikediaman dan pergi meninggalkan mereka semua.
Richard dan yang lain tersadar dari lamunannya, kemudian bergegas menyusul ke rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Stevie yang telah selesai menelepon sang kakek, kembali berjalan mendekati semua orang yang masih setia menunggu pintu ruangan UGD terbuka.
Clarien tertidur di pundak Xian yang sedang asik bermain sosmed, Zhou duduk di samping Cleon dan disusul Stevie, karena hanya tempat itu yang tersisa, sedangkan Sam Maxi dan Nata duduk di seberang Mereka yang langsung mengarah kearah pintu UGD.
Ariel yang telah mengetahui ibra di rawat, akhirnya menyusul ke rumah sakit yang telah diberitahukan.
Akhirnya, pintu UGD yang telah lama tertutup,terbuka menampakkan Dokter Muda yang menangani Ibra. Membuat semua remaja itu langsung mendekati dirinya.
" Bagaimana keadaan sahabat kita."
Sm bertanya sambil menatap dokter itu dengan penasaran, dan dibalas senyuman.
Dokter Malik menatap mereka semua " Operasi nya berjalan dengan lancar, dan dia juga berhasil melewati masa kritis, sekarang kita hanya menunggu dia sadar, kami akan segera memindahkan dia keruangan pribadi."
" Masukan dia dikamar VVIP dan terimakasih atas kerjasamanya."
Nata menatap dokter Malik dan dibalas anggukan dari dokter muda itu berjalan masuk keruangan UGD.
Ranjang pasien yang berisi Ibra, melewati mereka yang masih berdiri setia menunggu pemindahan Ibra.
"terimakasih telah bertahan sayang," guma Nata dalam hati menatap Ibra yang lewat di hadapannya.
Setelah pemindahan Ibra keruangan VVIP, Delapan remaja tersebut masih setia menunggu Ibra sadar, dengan kesibukan mereka sendiri-sendiri.
" assalamualaikum, gimana keadaan Ibra."
Ariel masuk kedalam ruangan sambil membawa barang belanjaan yang berisi snack pesanan dari Maxi.Semua orang yang berada dalam ruangan menatap kedatangan Ariel.
" Dia belum sadar kita tunggu aja." Cleon dan langsung mendapatkan anggukan Ariel.
Ariel duduk di lantai yang disampingnya terdapat Sam dan Maxi yang sibuk dengan laptop mereka, sedangkan Nata yang duduk didekat ranjang Ibra,menaruh kepalanya di ranjang sambil menggenggam tangan Ibra dan tertidur, sedangkan Keempat sepupunya sedang tertidur di sofa ruangan.
"Mereka terlihat serasi"ujar Maxi menatap Nata dan Ibra.
__ADS_1
"sangat serasi, tapi ya begitu lah. kita tau gadis itu merupakan musuh dari Caca," balas Cleon.
"cepat atau lambat,Caca akan di buang dari hidup Ibra," ujar Sam dingin.
Maxi dan Cleon menatap Sam lalu mengangguk, mereka paham apa yang di maksud oleh Sam. Ariel masih sibuk mencari orang yang telah melukai Ibra. tidak lupa menghubungi anggotnya yang sedang bertugas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rumah sakit Axe, sedang disibukkan karena mereka mendapatkan kabar bahwa kakek dari sang pemilik akan segera sampai,dan mereka semua telah berdiri rapih didepan rumah sakit sambil menunggu kedatangan Alvaro.
Setelah menunggu cukup lama, Mobil yang ditumpangi Alvaro memasuki kawasan rumah sakit, diikuti beberapa mobil dibelakangnya.
" Selamat datang tuan besar."
Seluruh staff mengucapakan itu, ketika melihat Alvaro turun dari mobilnya. Sedangkan orang tua dari inti ex-iscam ikut berdiri disampingnya.
Alvaro menatap mereka semua kemudian mengangguk dan menatap kepala bagian dirumah sakit ini.
" Dimana Nata?"
" Nona Muda berserta yang lainnya, sedang berada diruang VVIP mawar tuan," Ujar kepala bagian rumah sakit hanya menunduk kepalanya tanpa berani menatap Alvaro.
" Terimakasih."
Alvaro berjalan meninggalkan kepala rumah sakit menuju ruang mawar dan diikuti oleh anggota keluarga ex- iscam.
" Apa yang terjadi?" ujar Alvaro membuka pintu ruangan mawar dengan tenang dan tatapan datar.
Kedelapan remaja yang sibuk dengan dunia mereka, menoleh ke sumber suara dan mendapatkan Alvaro dan keluarga mereka.
Richard masuk melewati Alvaro dan berdiri disamping ranjang Ibra dan menatap Nata yang sedang tertidur pulas di kursi samping ranjang Ibra dan masih menggenggam tangan Ibra Membuat Richard tersenyum menatap pemandangan indah didepannya.
"Selamat bergabung di keluarga kami nanti cantik, kamu bakalan menjadi menantu kesayanganku." Bisiknya
" Siapa pelakunya?" ujar Alvaro menatap ketiga cucunya yang tidak tertidur.
" Niko," balas Zhou menatap Alvaro
dan melirik ke arah Nata,dan membuat Alvaro melirik kearah yang dilihat Zhou.
" Selesaikan."
Alvaro meninggalkan ketiga cucunya,berjalan menuju ranjang dan mendekati Ibra yang masih belum sadar. Zhou Stevie dan Xian paham akan apa yang dikatakan kakeknya hanya mengangguk.
Richard melirik Alvaro yang berdiri disampingnya, dan membuat Alvaro menoleh kearahnya.
" Terimakasih untuk kebaikan putramu" Ujar Alvro menepuk pundaknya dan berjalan kearah luar ruangan dan mengkode ketiga cucunya.
" Baiklah, paman balik dulu, paman titip Ibra sama kalian."
Richard berjalan kearah para remaja dan menatap mereka semua.
" baiklah paman hati hati." ucap mereka kompak.
Richard dan para orang tua berjalan meninggalkan semua remaja yang berada diruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ibra membuka matanya dan menyesuaikan cahaya lampu yang berusaha masuk kedalam mata. Dan menoleh menatap semua orang yang diruangan,yang tertidur semua.
Merasakan tangan yang di genggam seseorang membuat Ibra menoleh dan tersenyum mengelus kepala Nata yang masih terlelap tidur.
" air ." suara serak.
Nata terbangun mendengar suara serak seseorang dan menatap Ibra, kemudian memberikan air putih untuk Ibra.
" Terimakasih," ujar Ibra mengembalikan gelas yang kosong ke Nata.
Hening, itulah yang menggambarkan suasana didalam ruangan Ibra kesepuluh remaja itu terlelap dalam tidur.
"terimakasih," Nata menunduk tanpa menatap Ibra.
Ibra menghela nafas mengelus rambut Nata "tidak perlu merasa bersalah, sudah tugas dan kewajibanku melindungi dirimu."
Nata mengangkat kepalanya menatap Ibra "jangan membuat ku takut."
"tidak sayang, aku baik baik saya," ujar ibra yang tau bahwa gadisnya itu khawatir.
Nata memeluk Ibra, menumpahkan segala air matanya yang sedari tadi hanya dia tahan. Ibra mengelus punggung gadis itu.
"tenanglah akan aku selesaikan semuanya. jangan takut,aku akan selalu berada di garda terdepan untuk mu," Ibra mencium pipi Nata.
__ADS_1