NATATUSHA

NATATUSHA
chp 12


__ADS_3

Pagi ini, Ibra telah rapih dengan pakaian santainya. Lelaki itu berjalan menuju meja makan, membuat putrinya menatap bingung sang papa dengan bingung.


" Papa mau kemana? Tumben udah rapih?" Sang putri hanya menatap papanya itu. Ibra mengabaikan gadis itu dan duduk memulai sarapan.


Merasa di abaikan, gadis itu melanjutkan makannya. Ia akan menanyakan kembali kemana sang papa.


" Pa, Caca nanya. papa mau kemana,pa?" Caca menatap papanya,sedangkan Ibra hanya melirik nya sekilas.


" Bukan urusan mu anak sialan!!" Ibra meninggalkan Caca.


Caca yang telah terbiasa mendengarkan makian sang papa, hanya menundukkan kepala dan menghela nafas. Ia berdiri kemudahan berjalan memasuki kamarnya.


"Kesian non Caca, tapi mau bagaimana lagi. Tuan sungguh tidak terbantahkan."


***


Ibra menjalankan mobilnya ke daerah kumuh tempat Nata tinggal, lelaki itu berencana ingin membawa gadis itu berjalan jalan, karena hari ini libur sekolah atau pun kerja. Sungguh Ibra tidak ingin memasuki kawasan ini, jika bukan karena Nata dia tidak ingin melirik daerah kumuh ini.


Ibra memakirkan mobilnya, ia turun dari mobil dan berjalan memasuki area lantai tempat Nata tinggal, kejadian itu membuat para warga berbisik. Salah satu dari mereka segera mengabarkan kepada Zhou jika ada lelaki yang berjalan menuju arah lantai mereka.


Daerah ini merupakan orang orang kepercayaan Gideon semua, mereka orang yang berada di bawah naungan Gideon. Ketika kabar gideon dan keluarganya di bunuh,mereka memilih untuk membantu keempat gadis itu mencari bukti, sebelum kedatangan nata mereka telah di atur oleh Clairen.


" Guys, Ibra kemari. Ayok kita pergi" Zhou berdiri dari duduknya.


" Tetapi si nata masih tidur gimana dong" Stevie menatap Zhou.


" Tenang tujuan orang itu pasti Nata, dah yok kita cari bukti lagi" Clarien menyambar kunci motornya dan berjalan memasuki kamar sebelah untuk keluar. Di ikuti oleh Xian dan Stevie meninggalkan Zhou yang sibuk di dapur.


Tok... Tok.. tok...


Ibra mengetuk pintu rumah Nata, berharap gadis itu segera datang membukanya pintu untuknya, karena sejak semalam dirinya tidak bisa tidur, terbayang akan senyum gadis polos itu.


Zhou yang mendengar ketukan pintu segera berjalan membukakan pintu, ia memasang wajah sedikit terkejut ketika melihat Ibra yang telah berdiri.


" Om Ibra? " Zhou kaget sambil membuka pintu, ibra hanya mengangguk.


" Nata ada?" Ibra memasang wajah ramah nya.


" Masuk dulu om, Nata masih tidur nanti Zhou bangunkan." Zhou membuka lebar pintu rumahnya, membiarkan Ibra masuk.


Ibra memasuki rumah kecil itu, terlihat rapih tidak berantakan sama sekali, matanya terus memandang seluruh isi rumah.


" Seperti aku harus memindahkan Nata, dia tidak boleh tinggal di tempat kecil seperti ini."


" Om duduk  dulu, Zhou panggilkan Nata," kata zhou.


Ibra duduk di kursi lantai, dirinya terus menatap seluruh ruangan,matanya terjatuh pada foto Nata yang di tempel di dinding. Ibra berdiri lalu mendekat foto itu, iya mengelus foto tersebut dengan senyum lalu dirinya mengeluarkan hpnya memotret foto gadis yang membuat terfikir itu.


Kejadian itu, tidak lepas dari padangan Zhou yang mengintip. Zhou hanya menatap Ibra sini dan berjalan memasuki kamar Nata yang memang kecil tapi mewah. Zhou mendekati gadis yang masih bersembunyi dibawah selimut itu.


" Nat, Ibra di sini" ucap Zhou sambil berbisik.


" Hm" Nata membuka matanya dan mengumpulkan semua nyawanya yang masih melayang.


" Ibra ingin bertemu dengan mu sepertinya, ia telah masuk kedalam perangkap mu" Zhou berbisik kembali, membuat Nata mengangguk.


" Siapkan minum untuknya, aku harus mencuci muka saja" balas Nata sambil berdiri, Zhou hanya menggelengkan kepalanya melihat baju tidur Nata yang melekat pas pada tubuhnya. Terutama tatto yang berada di punggung gadis itu.


" Jika keluar ganti bajumu, jangan sampai dia mengenali tatto mu itu" Zhou berjalan menutup kamar Nata.


Setelah keluar dari kamar Nata, Zhou berjalan kearah Ibra. Ibra yang melihat Zhou pun mengangkat alis sebelah.


" Kalian sudah lama tinggal disini?" Ucap Ibra.


"Sudah om, maaf jika om kurang nyaman berada di tempat kecil seperti ini. Tapi hanya ini yang bisa aku sewa untuk tinggal sama Nata, jika di tempat lain aku tidak ada biaya om." Zhou menunduk sambil menggenggam tangannya.


" Tidak apa, apakah kalian masih bersekolah?" Ibra mengelus kepala Zhou, Zhou hanya mengangguk.


" Tidak perlu di pikirkan, nanti om akan mengurus semuanya" ucap Ibra santai, Zhou mengangkat kepalanya dan menatap Ibra.


" Om serius?" Ucap Zhou. Ibra hanya mengangguk dan tersenyum, Zhou tanpa disuruh memeluk nya sambil terus mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


Nata yang melihat itu dari kejauhan hanya terkekeh kecil, ternyata saudaranya itu lebih hebat memainkan perannya. Zhou yang melihat Nata dari sudut matanya pun menatap Nata tajam. Nata segera membuang pandangannya, dan masih terkekeh geli.


" Heheh maaf om, Zhou terlalu senang jadi memeluk om" Zhou melepaskan pelukannya kepada Ibra dan menunduk.


" Tidak apa, anggap saja saya keluarga mu" ucap Ibra.


" Om mau minum? Zhou ambilkan" kata Zhou.


"Tidak perlu saya hanya ingin bertemu Nata." Ibra dengan santainya


"Nata masih mandi, yasudah om tunggu aja dulu ya. Zhou harus nunggu tukang sayur." Zhou berdiri dari duduknya.


" Ini uangnya Zhou" Ibra mengeluarkan 5lembar uang seratus ribu.


" Ngak perlu om, Zhou ada uang kok" Zhou menatap Ibra tidak enak.


" Ambil lah" Ibra memberikan uang ketangan Zhou, gadis itu mengangguk lalu berpamitan keluar rumah.


"Sialan! Lo pikir gue miskin. Dapat apa njir 500rebu, makan nata aja lebih dari ini."  Zhou memasukan uang kedalam kantongnya dan menuju pakiran.


***


" Hai,Lama nunggu ya?"  Nata berjalan mendekati Ibra, gadis itu menggunakan hotpants pendek yang tertutup oleh kemeja oversizenya, ketiga kancing bajunya terbuka dan rambut yang di ikat asal. Membuat aura kecantikannya keluar seketika.


" Cantik" Ibra terus menatap Nata. Nata yang di tatap seperti itu pun hanya memandang Ibra jengah, kemudian mencubit tangan Ibra, membuat lelaki itu tersadar.


" Awww sakit, Nat." Ibra memasang wajah memelas berharap gadis itu luluh, tapi salah Nata malah terus mencubit nya.


Ibra menahan tangan Nata yang terus mencubit dirinya, bukan sakit hanya saja gadis itu terlihat lucu. Nata yang oleng pun jatuh keatas pangkuan Ibra, membuat Mereka bertapapan lebih dekat.


" Cantik, sungguh di tatap lebih dekat seperti ini pahatan mukanya tidak gagal, bibir merah kecil itu serta hidung mancungnya pun menambah kecantikan gadis ini" Ibra memeluk pinggang Nata dan menatap gadis itu.


" Sempurna tapi sayang kamu musuhku. Jika tidak,mungkin aku telah jatuh kedalam pesonamu" Nata menatap Ibra yang sedang memangku.


Ibra tanpa sadar mengelus pipi Nata, tanganya menelusuri setiap inci muka cantik gadis ini, berakhir diatas bibir Nata.


" Khm"


" Sorry ini masih pagi" Nata menundukkan wajahnya.


" Tidak hm" Ibra membuang mukanya tidak ingin membiarkan nafsu menguasai dirinya.


" Oh iya, kamu kesini ada apa. Kamu bawa sarapan kah? Laper ini " Nata menatap Ibra.


" Kamu lapar? Ayok kita cari sarapan." Ibra berdiri lalu menjulurkan tanganya kearah Nata. Gadis itu mengerti lalu menggenggam tangan Ibra.


" Bentar om kunci rumah dulu nanti Nata di gantung sama Zhou, jika peralatan tempur dia ilang" ucap Nata sambil mengunci pintu rumah dan menaruh di pot bunga.


" Peralatan tempur?" Ibra menatap bingung.


Nata terkekeh " itu om alat masak dia ya kek panci dan wajan,ah Nata tidak tau."


Ibra mengangguk "ayok."


Ibra berjalan di samping Nata, tangannya tidak lepas dari pinggang perempuan cantik disampingnya itu, Nata hanya mengikuti alurnya saja, meskipun dirinya sedikit ragu takut William akan melihat semuanya.


***


Di seberang jalan terdapat mobil mewah terparkir rapih, kelima lelaki didalamnya menatap objek yang mereka cari dari tadi pagi, yaitu Nata tetapi yang membuat mereka aneh mengapa ada Ibrahimovic di samping gadis itu. Bukankah lelaki itu tidak berada dinegara ini? Mereka menatap heran tetapi tidak dengan seseorang yang berada di balik kemudi, tatapan nya bukan kearah Nata dan Ibra tetapi ketangan lelaki itu yang telah lancang menaruh nya di tempat favorit dirinya.


" Ibrahimovic? Kenapa disini" Zoro menatap lelaki yang berjalan di samping Nata.


" Setau gue dia berada di luar negeri bukan?" Sambung Rakha.


" Kenapa dia bisa kenal Nata?" Tanya Varen bingung.


" Are you oke Wil? Ingat kau sendiri yang membuat dia bermain bersama wanita mu" ingat Nathan yang posisinya berada di samping William, ia melihat William yang hanya menggenggam erat stir itu.


William menjalankan mobilnya, meninggalkan daerah tempat nata dan yang lainya,setelah mobil Ibra pergi dari sana, ia membawa mobilnya menuju bandara.


Mereka harus segera menyelesaikan tugas merek secepatnya dan segera kembali, sebelum Ibra benar mengetahui siapa Nata sebenernya.

__ADS_1


***


" Gue denger William dan yang lain harus kembali ya?" Xian membuka pembicaraan mereka berempat.


" Varen ngabarin gitu sih, katanya ada kendala yang harus William turun tangan," balas Stevie.


" Jadi kita harus tetap menunggu mereka tau mencari tau sendiri?" Sambung Zhou dengan tatapan bingung


Mereka berempat saat ini sedang berada di Caffe pribadi milik Nata, mereka kemari ingin menghindari Ibra dan membahas rencana mereka selanjutnya.


" Seperti kita harus tunggu mereka, apalagi William yang tau siapa dalang dalang semuanya, hanya saja kita perlu menjaga privasi Nata. Biar Ibra tidak bisa melukai dirinya" Clarien menatap mereka semua sambil meminum kopinya.


" Lo benar, bagaimana pun Ibra akan mencari tau tentang Nata" Xian menyetujui ucapan Clarien.


" Bagaimana pun Nata bilang orang tuanya udah meninggal,emng benar tapi kita tidak bisa mengungkapkan kalo itu keluarga om Gideon" sambung Zhou.


" Sepertinya kita harus melibatkan William, karena bagaimanapun dia akan menjaga Nata sesuai sumpahnya." Ucapan yang di keluarkan oleh Stevie membuat yang lainnya diam merenungi


***


Ibra terus menjalankan mobilnya, Ibra tidak melepaskan genggaman tangannya kepada Nata. Nata melirik Ibra sekilas kemudian mengalikan pandanga ke  jalan untuk mencari hal yang ingin dia makan sebagai sarapan.


" Kamu mau bubur,Nat?" Ucap Ibra tanpa yang masih fokus kejalan.


" Tidak, aku benci bubur" balas Nata santai.


" Lalu, kamu mau makan apa sayang" ucap Ibra menatap Nata, memakirkan mobilnya di pinggir jalan yang terlihat ramai para pedagang.


" Tidak tau, tapi bagaimana kalo kita cari makannya?" Usal Nata sambil membuka seatbelt. Ibra mengangguk dan keluar mobil disusul Nata.


Mereka berdua berjalan menyusuri bagian para penjualan, Ibra tidak melepaskan genggaman tangan Nata. Entah mengapa dengan menggenggam tangan Nata membuat perasaannya menjadi tenang, Nata telah menjadi candu bagi duda satu anak itu. Padahal umur Nata tidak jauh dari sang putrinya sendiri.


" Bakso bagaimana?" Nata menunjuk pedagang bakso yang terlihat ramai.


" Baiklah"


Ibra berjalan mengikuti Nata yang telah mendekat ke lapak penjualan bakso, sebenernya lelaki itu tidak nyaman berada di kawasan seperti ini. Ibra berfikir makan di pinggir jalan ini sungguh tidak igenis. Tetapi meliha nata yang begitu semangat membuat lelaki itu akhirnya mengalah dengan ego.


" Hayo duduk" Ucap Nata sambil menarik Ibra untuk duduk di kursi yang kosong.


Lelaki itu menatap sekeliling dengan tidak nyaman, nata hanya memutar bola matanya dengan malas.


"Kenapa?kamu tidak nyaman?" Tanya Nata yang tidak menyebut Ibra dengan panggilan om.


Karena, dia tidak ingin terlihat seperti penggoda suami orang. Ibra mendengar pertanyaan Nata dengan cepat menggelengkan kepalanya.


" Kenapa kamu memilih tempat seperti ini? Kita bisa ke restoran" ucap Ibra menatap Nata, Nata hanya memutar bola matanya.


" Tidak semuanya dengan kemewahan, kamu tidak tau rasanya hidup sederhana, seperti ini kamu akan menjalankan hidupmu tanpa banyak manusia penjilat" ucap Nata sambil memakan baksonya.


Ibra membenarkan ucapan Nata, karena selama ini dia hidup dikelilingi para penjilat, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka mampu melakukan apapun, termasuk mengorbankan keluarga mereka sendiri.


Ibra terus menatap Nata, entah mengapa melihat wajah gadis itu membuatnya sedikit melupakan bebannya.


Berbanding terbalik dari Ibra, Nata telah mengumpulkan rencana yang matang untuk segera menghancurkan lelaki di depannya ini.


" Ayo makan kenapa malah menatap ku" ucap Nata sambil menatap bakso Ibra yang masih terisi penuh.


"Iya" balas Ibra memakan bakso yang berada di depannya itu.


Selama menikmati makanan mereka, telfon Nata berdering. Gadis itu melirik si nama yang tertera, kemudian ia melirik Ibra.


" Siapa?" Tanya Ibra menatap Nata.


" Zhou menelfon" balas Nata sambil mengangkat telfon.


" Hallo, Nat kerumah sakit sekarang"


" Siapa yang sakit ?" Tanya Nata penuh nada khawatir, Ibra langsung menggenggam tangan gadis itu untuk menenangkan dirinya.


"Kerumah sakit saja, bawa om Ibra sekarang seperti akan melancarkan rencana kita. Akan ku sharelock cepatlah datang." 

__ADS_1


Zhou mematikan telfon nya sepihak, nata menatap Ibra. Ibra mengangguk dan berdiri kearah pedang untuk membayar makanan mereka, kemudian Ibra mengandeng tangan Nata untuk segera kembali ke mobil.


__ADS_2