NATATUSHA

NATATUSHA
chp 17


__ADS_3

Nata dan yang lainnya memasuki kawasan kantin, mereka melihat meja yang terisi penuh. Kecuali satu meja yang terisi oleh gadis berkacamata tebal, mereka berlima berjalan Menuju meja gadis itu.


" Kita boleh gabung?" Tanya Stevie


"Ka-kakak mau makan, duduk aja kak. Biar aku yang pindah" ucapnya sambil membenarkan kaca mata.


" Udah loh duduk aja disini jangan pindah" imbuh Clarien dan duduk. Gadis itu hanya mengangguk.


Nata duduk di hadapannya menatap gadis itu, gadis itu hanya menunduk takut ketika di tatap oleh Nata.


"Nama Lo"


" Aku Silvi kak" jawabannya gugup.


" Santai ngak usah gugup juga. Xian pesan makanan sana"


" Oke Nat" xian meninggalkan meja.


" Lo anak baru"tanya Stevie


"Iya, 3 hari lalu Silvi masuk kak" ucap Silvi masih nunduk.


" Udah, ngak perlu nunduk muka kita di depan bukan di bawah" tambah Zhou


" Maaf kak" Silvi mengangkat wajahnya, pandangannya terpaku menatap wajah Nata.


"Sempurna"


Silvi masih menatap muka Nata, Nata yang merasa ada menatapnya. Mengangkat alisnya sebelah.


Clarien menepuk pundak Silvi dan berbisik "jangan natap dia kek gitu,nanti Lo dimakan"


Silvi menegang dan mengalikan pandangannya. Clarien terkekeh melihat kelakuan gadis berkacamata di sampingnya itu.


Xian kembali dengan pedagang yang membawa bakso mereka, dia membawa nampan berisi es jeruk.


"Makasih ya mang"


" Sama sama neng, selamat menikmati"


Mereka berenam, memakan makanan mereka dengan nikmat sebelum berakhir ada yang mengebrak meja mereka.


Brak!!!


"LO UDAH GUE BILANG KAN!! KERJAIN TUGAS GUE KENAPA LO NGAK KERJAIN"


" maaf kak Caca" Silvi menunduk.


Caca?ya gadis menyebalkan itu menganggu makan mereka dengan cara mengebrak meja, membuat semua yang sedang makan melirik ke arahnya.


" Lo tuh cuma anak beasiswa bisa bisanya lo ga ikutin ucapan gue! Mau gue keluarin hah!" Caca masih menunjuk muka Silvi.Silvi hanya menggelengkan kepalanya.


" Aku kerjain kok kak tunggu ya" Silvi merapikan tempat makannya.


" Kak Silvi duluan ya"


" Duduk" dingin hanya itu yang keluar dari mulut Nata.


Clarien menarik Silvi untuk duduk lagi, Silvi yang awalnya menolak dan hanya duduk ketika Clarien berbisik kembali.


" Duduk aja atau Lo bakalan pindah dunia"


Caca mengeram melihat Silvi yang hanya duduk sambil menunduk, ia mengambil gelas berisi air jeruk Nata.


Ketika Caca akan menyiramkan air itu kearah Silvi, Nata terlebih dahulu mendorong tangan Caca. Membuat gelas berisi air itu jatuh ke lantai.


Nata menggebrak meja dan berdiri menatap Caca tajam.


" LO BISA NGAK SIH SEHARI AJA JANGAN BUAT MASALAH!!! IDUP LOH PERLU PERHATIAN BANGET KAH? SAMPAI SAMPAI SEMUA SISWA LOH BULLY!! GINI NIH KALO OTAK LO GA PERNAH DI GUNAKAN MENDING LO JUAL AJA BISA NGAK!" Bentak Nata.


" Urusan lo apa sih! Gue cuma nyuruh tuh cewek ngak ada urusan sama jablay kek Lo" balas Caca


Nata menampar Caca dengan keras membuat kepala gadis itu menoleh kearah lain. Nata menjambak rambut Caca,untuk menatap dirinya.


" MULUT LO NGAK PERNAH DI SEKOLAHIN YA! ATAU NGAK PERNAH DI AJARI OLEH NYOKAP LO TENTANG SOPAN SANTUN! CK!KESIAN BANGET IDUP LO."


"Lepas gue bilang!" Caca berusaha melepaskan jambakan Nata.


" Lo fikir akan gue lepas gitu aja hah! Ngak bodoh" Nata mendorong Caca, punggung gadis itu mengenai meja siswa lain.


Kedua teman Caca membantu Caca berdiri. Mereka menatap tajam kearah Nata. Salah satu dari mereka mengambil gelas yang berisi air dan menyiramnya kearah Nata.


Clarien dan yang lainnya berdiri menatap berang kearah Caca dan temannya. Nata yang melihat bajunya basah pun, mengambil wadah cabe di sampingnya. Menuangkan cabe itu kearah gadis yang berani beraninya menyiram dirinya.


Banyak siswa yang berteriak histeris ketika gadis itu berteriak pedih karena cabe yang di tuangkan Nata.


Teman Caca yang satu lagi menarik gadis itu dan menyirami mukanya dengan air. Caca yang terlihat geram pun berjalan mendekati Nata sebelum suara seseorang mengintruksikan dirinya. Caca menegang mendengar suara yang sangat dia kenal itu.


***


Ibra hari ini melakukan sidak ke sekolahan putrinya, sekalian melihat gadis nya itu. Karena dia baru pulang dari luar negeri, ingin kembali ke apartemen tetapi dia tau gadisnya itu akan berada disekolah,jadi dia memutuskan untuk ke sekolahan.


" Mari pak kita keliling sekolahan" ucap kepala sekolah mendampingi Ibra.


Kepala sekolah tersebut terus menjelaskan kepada apapun hal itu, Ibra hanya diam menanggapi bosan. Matanya tertuju kearah kantin yang terlihat di kerumunan siswa.


" Ada apa disana?" Ucapnya dingin.


" Tidak tau pak,mati kita kesana" ucap kepala sekolah berjalan diikuti Ibra.


Ibra menegang ketika mendengar suara kedua gadis yang sangat dia hapal, terlebih suara gadis yang sedang menahan emosinya itu. Ia berjalan lebih cepat memasuki kawasan kantin.


Pandangan tertuju kepada baju Nata yang telah basah, dan dalaman yang tercetak jelas. Auranya menjadi sedikit suram ketika melihat pandangan itu. Ia menatap gadis yang ingin berjalan mendekati Nata sambil membawa semua wadah berisi cabe.


" Berhenti" ucapnya dingin


Suara Ibra mengalihkan pandangan semua orang terutama kedua gadis yang menjadi tontonan itu.


Satu menatapnya tajam dan satu lagi menatap Ibra dengan tegang. Ibra berjalan membuka jas yang ia kenakan. Memakaikannya kepada gadis nya, dia tidak ingin aset miliknya terlihat orang lain.


" Apa yang terjadi Disni" ucapnya dingin dan tajam natap Caca. Caca hanya tertunduk kaget menyadari papanya berada Disni.


Ibra mengabaikan Caca, ia menoleh kearah Nata " kamu pergi keruang koperasi minta baju baru, bajumu telah basah dan terlihat sangat jelas dalamanmu"


Nata meninggalkan tempat itu di susul sama yang lain termasuk Silvi, gadis itu mengikuti langkah yang lainnya.


" Kamu ikut saya" Ibra meninggalkan Caca.

__ADS_1


Caca yang mendengar Nada perintah dari papanya itu pun,mengikuti sambil menunduk.


" Bubar ana anak bubar,kamu adinda antar temanmu ke uks"


" Baik pak",


Setelah kepergian semuanya, banyak siswa yang berbisik-bisik mengenai kelakuan Caca yang ketawan sama orangtuanya.


" Gimana ya si Caca"


" Kapok tuh pasti nenek lampir"


" Sungguh Caca kalo ngak ketawan bapaknya gak bakalan kapok"


" Tapi ya body si Nata keren cuy, gue yang cewek aja ngiler liat bodynya"


"Rajin olahraga tuh pasti "


" Tapi ngak deh, si Caca emang pantes dapat hukuman dari papanya "


"Iya bagus tuh biar nenek lampir ngak sekolah Disni lagi."


Bisik bisik itu terus terjadi, menjadi booming di sekolah itu. Karena Caca sang ratu bully terdapat membully orang didepan sang papa sendiri.


***


" Kaka sini Silvi bantu keringkan rambutnya" ucap Silvi yang melihat Nata keluar dari kamar mandi.


Nata berjalan duduk di sofa, Silvi mengambil hairdryer dan mengeringkan rambut gadis di hadapannya itu.


" Kak,makasih ya udah bantuin Silvi" ucapnya sambil sibuk merapikan rambut Nata.


" Santai aja"


"Lo sering di bully Caca?" Tanya Zhou. Silvi mengangguk.


" Dari awal Lo masuk?" Sambung Stevie.


" Iya kak, Caca udah sering bully aku. Malah kemarin dia nyuruh akan makan,makanan yang udah dia ludah in" ucap Silvi menunduk


" Dan Lo makan?" Kali ini Clarien menatap Silvi.


Silvi menggeleng sambil membenarkan kacamata "ngak kak, kemarin ketawan sama guru BK. Jadi Silvi aman"


" Kaka Silvi kepang ya rambutnya?" Ucap Silvi melirik Nata, nata hanya mengangguk.


"Kalo Lo di gitu kan lawan aja gosah takut" Xian masuk sambil membawa bakso dan memberikan kepada Nata.


Silvi menganggukan sambil terus fokus mengepang rambut Nata. Ia tersenyum puas dengan hasil nya, ia menata rambut Nata dengan indah.


" Wow Lo berbakat cuy" puji Xian


" Gue juga mau" sambung Stevie


"Sini sini" Silvi memanggil Stevie untuk mendekati dirinya.


Silvi tersenyum puas, ketika melihat hasil kerjanya yang bagus di rambut Nata dan Stevie.


***


" Kali ini papa melihat sendiri kelakuan kamu Caca!" Bentak Ibra.


" Kamu mau ngeles! Papa hukum kamu tidak boleh keluar rumah selama satu bulan, fasilitas kamu papa cabut"


" Pa Caca mohon jangan"


" Bukan urusan ku"


Ibra berjalan meninggalkan ruangannya, ia berjalan mencari gadisnya. Dengan tatapan yang masih emosi iya berjalan lebih cepat menuju ruangan UKS.


Ibra membuka pintu UKS dan pandangan nya tertuju kearah Nata. Ia berjalan mendekati gadis itu dan memeluknya, menyembunyikan wajahnya dileher Nata.


Nata hanya mengelus punggung Ibra, menyuruh semuanya keluar meninggalkan dirinya dan Ibra Saja.


" Kamu gakĀ  apa apa kan?" Ibra menatap Nata khawatir.


Nata menganggukan "aku baik baik saja"


Ibra memeluk Nata, ia menghirup aroma tubuh nata yang menjadi candu untuknya itu.


***


Nata dan Clarien berlari di sekeliling komplek apartemen,mereka menikmati waktu berdua dan menyapa beberapa keluarga kecil yang sedang berolahraga juga.


" Cok laper Cok"ucap Nata sambil duduk di rumput.


" Eleh si anying!! Kita olahraga, kalo makan percuma njeng"


Clarien merebahkan dirinya ke rumput, menatap langit yang terlihat sejuk. Nata mengikuti Clarien tetap pandanganya terfokus ke salah satu pohon.


" Cok mangsa Cok" ucap Nata sambil menepuk Clarien.


"Santai anying!!!" Ucap Clarien ngegas sambil menjauhkan Tangan Nata dari mukanya.


Nata menatap Clarien yang menjauhkan tanganya kasar "santai njir, kasar banget lu sama gue."


" Gimana gue gak kasar njir, tangan lo menepuk muka gue" ucap Clarien sewot.


Nata yang mendengar itu pun hanya menampilkan wajah tidak bersalah dan tersenyum. Clarien menoyor kepala Nata.


" Kdp lu njeng!" Ucap Nata sewot.


" Kdp ? Apaan tuh" tanya Clarien bingung


"Kekerasan dalam persaudaraan " ucap Nata santai sambil duduk.


" Alah tai, emng sih Lo cocok untuk mendapatkan itu" ucap Clarien mendekati Nata.


Clarien dan nata berdiri dari duduknya, berjalan mendekati pohon mangga. Mereka menatap mangga yang bergelantungan banyak, memilih untuk mencari pemilik rumah.


Nata melihat seorang bapak tua yang duduk di teras rumah sambil menikmati segelas kopi.


" Sore pak" ucap Nata sambil tersenyum.


" Sore neng, orang baru ya?" Tanya bapak itu ramah.


" Iya pak kita baru pindah ke daerah ini" giliran Clarien yang menjawab.

__ADS_1


" Oh pantes bapak baru ngeliat neng disini "


" Oh iya pak boleh minta mangga nya gk pak" ucap Nata ragu


"Oh neng mau mangga? Boleh neng boleh tunggu ya bapak ambil bambu dulu" ucap bapak itu berdiri kearah belakang rumah.


Nata dan Clarien berdiri sambil menyapa para warga.


" Warga baru neng"


" Iya Bu kita baru pindah" balas Clarien


" Kalian lagi apa neng"


" Oh ini Bu, lagi minta mangga sama bapak ini tadi" balas Nata ramah.


" Oh nanti kalo mau, dirumah saya juga banyak neng datang aja"


"Beneran Bu? Ahhh makasih ibu ibu " balas Clarien dan nata


Ibu ibu tersebut melanjutkan mengobrol dengan Nata dan Clarien, mereka juga memperkenalkan diri mereka. Bapak yang mengambil bambu tadi telah kembali.


" Sini pak biar saya aja" inisiatif Clarien mengambil bambu di tangan bapaknya.


" Hati hati neng" balas bapak itu.


Clarien mengangguk, lalu mengarahkan bambu yang berada di tanganya ke arah mangga. Membuat Nata yang mengumpulkan mangga itu di bantu ibu ibu setempat.


" Buat rujak aja gimana nih neng mau ngak, ikut ibu ibu sini kumpul"


" Wahhh boleh Bu, boleh banget. Ngerepotin gak" Clarien menatap ibu ibu tidak enak.


" Ahh sudah neng, gk ngerepotin kok. Yuk kerumah saya, ayok ibu ibu"


" Kalian tau ngak sih"


Nata dan Clarien menggeleng kompak menatap ibu ibu yang menatap penuh minat.


" Hah?apa "


" Itu loh tentang janda muda yang baru itu"


" Oh janda yang gatal itu ya Bu" ucap salah satu dari mereka sambil mencolek bumbu rujak.


" Iya bener, katanya semalam ada laki laki yang masuk kedalam rumahnya."


"Astagfirullahal'adzim serius Bu"


" Iya semalam saya sama Bu RT lihat sendiri"


" Ah paling sodaranya Bu" jawab Nata minat.


" Gak mungkin neng, soalnya tuh betina ya. Tinggal di kota ini seorang diri"


" Oh paling tukang AC Bu" lanjut Clarien.


"Masa iya tukang AC pakai jas rapih"


" Oh tukang, tukang apa ya gatau Bu hehehe" Nata sambil terkekeh


" Oh berarti pelanggan Bu"


" Hust mulutnya " ucap salah satu ibu ibu itu menepuk paha Clarien.


"Loh benerkan Bu"


Semua ibu ibu yang duduk di lantai itu mengangguk,termasuk Nata.


" Bener kata neng Clarien,mungkin mereka itu pelanggan"


"Ihhh,, ibu ibu mah ya jangan salah. Sekarang mah banyak" ucap Clarien sambil mulai memasuki perghibahan.


Nata hanya ikut mengangguk sambil menggeleng saya, karena dia tidak terlalu mengerti apapun itu. Sedangkan Clarien seperti menemukan informasi dari ibu ibu ini.


" Eh sudah sudah, ayok pulang udah magrib"


" Loh iyo, udah magrib"


" Ibu ibu, terimakasih ya. Kami berdua pamit dulu" ucap Nata.


" Nanti kita lanjut lagi ya Bu, sekalian tunjukkan orangny" balas Clarien.


" Siap neng, sering kesini ya gabung sama kita."


Clarien dan Nata berjalan meninggalkan rumah ibu tersebut,mereka berjalan santai memasuki gedung apartemen. Nata menatap Wajah bingung Ibra mencari dirinya, Clarien yang melihat itu memasuki paviliunnya duluan.


" Sayang,,,,, astaga kamu darimana" Ibra memeluk Nata.


" Heiii... Kata apa aja ih. Itu tadi aku sama Clarien joging,eh gataunya masuk perkampungan dibelakang apartemen" Nata membuka pintu dan masuk, Ibra hanya membuntuti gadis itu.


" Perkampungan emang ada?" Tanya Ibra


" Ada sayang,terus tadi ikut ngobrol sama ibu ibu disana" Ucap Nata sambil duduk di sofa. Ibra duduk di samping gadis itu.


" Jangan bilang kamu ikut ngerumpi" tanya Ibra curiga.


Nata hanya terkekeh kecil dan menggaruk kepalanya, Ibra menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah kamu mandi sana, aku mau masak" Ibra mengecup kening nata, lalu berjalan menuju dapur.


Nata meninggalkan Ibra, memasuki kamar mereka mengambil handuk dan masuk kekamar mandi.


****


Setelah selesai mandi, Nata menggunakan baju t-shirt polos dan hotpants pendeknya. Ia menggunakan skincare, setelah merasa selesai. Nata berjalan keluar kamar dan menatap Ibra yang duduk di meja makan dengan laptop yang menyala.


" Makan dulu ya nanti kerjanya" ucap Nata memeluk Ibra dari belakang, Ibra menghirup aroma tubuh Nata yang membuatnya rileks.


Nata menggeserkan laptop laki laki itu, mengambil piring lalu mengisi makanan untuk lelaki itu. Ia duduk di samping Ibra melakukan hal sama.


Kedua manusia itu, sibuk dengan makan mereka. Tanpa ada yang memulai untuk berbicara, Ibra yang telah selesai. Menaruh piring kotor ia dan Nata,lalu melekatkan yang lainnya.


" Sayang aku ke ruangan dulu ya" Ibra memeluk laptopnya dan mengecup kening Nata.


" Aku ke paviliun depannya" Ucap Nata.


" Iya jangan pulang larut oke" Ibra mengedipkan matanya dan memasuki ruangan pribadinya untuk bekerja.

__ADS_1


Nata berjalan meninggalkan paviliunnya dan masuk kedalam paviliun saudaranya yang sedang berkumpul.


Kelima gadis itu menikmati malam dengan bercerita panjang, mereka berbagi suka dan duka. Beban yang mereka tanggung akhirnya terbagi juga.


__ADS_2