NATATUSHA

NATATUSHA
chp 13


__ADS_3

" bagaimana? Apakah mereka akan kemari?" Tanya Stevie menatap Zhou.


Zhou mengangguk "om Ibra akan bersama Nata, jadi kita sebutkan saja siapa yang udah buat Xian terluka"


Clarien hanya tersenyum sinis, dalam otak mereka telah menyusun rencana. Stevie melirik kearah koridor yang telah terdapat Nata yang berjalan terlebih dahulu dari Ibra.


" Mereka sampai, mulai lah dramanya" Stevie sambil berbisik, Clarien dan Zhou hanya mengangguk.


" Ada apa ? Kenapa? Dimana Xian?" Tanya Nata penuh khawatir. Ibra yang berdiri dibelakangnya pun hanya mengelus punggung gadis itu.


"Dia masih didalam, sedang ditangani dokte" ucap Stevie sedih.


" Nat, apakah Lo masih punya tabungan?" Ucap Clarien menatap Nata.


Nata mengangguk " masih tabungan gue sepertinya masih cukup."


" Xian perlu di operasi kepalanya robek karena jatuh dari tangga, dan dokter meminta kita untuk menyelesaikan administrasi. Biar Xian bisa di tangani dengan baik" tambah Zhou sambil menunduk.


" Oke, gue ke ad-" sebelum Nata menyelesaikan ucapannya.


" Tidak perlu, biar saya yang bayar. Kalian tunggu disini" potong Ibra kemudian berjalan meninggalkan keempat gadis itu.


Nata melihat Ibra yang pergi langsung menatap serius kearah saudaranya itu. Clarien menggode Nata untuk duduk, sedangkan Stevie dan Zhou masih berdiri menjaga situasi takutnya Ibra kembali.


" Ada apa kenapa begini?" Tanya Nata.


Clarien menarik nafas "Caca, dia berulah lagi, tadi kami tidak sengaja bertemu mereka. lalu dia membuat keributan mengenai diri Lo. Lo tau sendiri, Xian tidak suka orang menjelekkan nama Lo"


Nata masih terdiam mendengar penjelasan Clarien,gadis itu tidak berniat memotong ucapan Clarien sedikitpun.


" Terus mereka ribut di tangga Caffe, Caca mendorong Xian. Xian jatuh dan kepalanya kebentur tangga. "


" Caca anaknya Ibra bukan?" Tanya Nata.


" Benar, sekarang kita bisa menghancurkan dia dengan cara membuat papanya sendiri yang menghancurkan dia" ucap Zhou tidak lupa dengan smirk di bibirnya.


" Hustt Ibra mendekat" bisik Stevie ketika melihat ibra berjalan mendekati mereka.


Nata melirik sekilas Ibra dan menangis tersedu-sedu, clarien yang tau Nata hanya berpura-pura langsung memeluknya menenangkan gadis itu.


" Ini bukan salah Lo, udah Nat jangan nangis lagi" Clarien masih memeluk Nata.


" Ada apa ini!" Ibra langsung mendekati Nata, membuat Clarien langsung berdiri dari duduknya.


Ibra memeluk Nata yang masih menangis, menatap tajam kearah Zhou Clairen dan Stevie. Ketiga gadis itu memasang wajah takut, dan menunduk.


" Bisa kalian jelaskan kepada saya!" Ibra menatap dingin dengan aura yang tidak baik.


" I-itu om, di sekolah ada yang ngebully Nata" ucap Stevie dengan ragu.


" Ngebully Nata?" Dengan suara dingin Ibra membalas,Stevie mengangguk.


"Mereka berusaha mencoba mencelakai Nata, berkasnya masih ada kok om di kaki nata" tambah Zhou sambil menunjuk kaki Nata.


Ibra tanpa meminta izinpun melihat kaki Nata, menatap setiap kaki Nata dirinya menemukan luka yang belum mengering. Tanpa sadar, aura dirinya pun langsung berubah menggelap ketika melihat luka di kaki mulus Nata.


" Aww" ringis Nata saat Ibra memegang lukanya. Ibra menggenggam bahu Nata dan menatap mata gadis itu.


" Siapa yang telah melukaimu" hanya suara dingin dan tatapan tajam yang keluar dari Ibra. Nata yang di tatap seperti itu hanya menunduk dengan badan yang gemetar.


" Maaf om, bantu menjawab. Caca Sherina Ibrahimovic" jawab Clarien ragu.


" JAGA BICARAMU!" Ibra penuh amarah sambil menunjuk Clarien.


" Kami tidak sembarang om, bahkan kami punya buktinya" balas Clarien dingin.


" Jika kami mau, kami bisa melaporkan putri anda" tambah Stevie dingin.


" Dia selalu melukai Nata, bahkan beberapa Minggu lalu Nata sampai drop gegara anak anda, bagaimana jika saya melaporkan dirinya kepihak berwajib? Melukai adik saya, lalu melukai teman saya sampai masuk rumah sakit" skat Zhou sambil tangan di dada.


Sedangkan Nata, duduk bersender di kursi dan tangan di dada menatap Mereka yang sibuk berbicara. Ibra terdiam mendengar ucapan mereka tapi dia tidak akan percaya begitu saja.


" Om masih ga percayakan?" Tanya Zhou. Ibra hanya terdiam, bukti bahwa dirinya masih tidak percaya.


Clarien mengeluarkan hpnya dari kantong, memberikan kepada Ibra " liatlah. Ini semua bukti jika kau tidak percaya terserah."


Ibra melihat semua bukti kejahatan putrinya,bukan kepada Nata saja tetapi kepada semua siswa yang bersekolah di tempatnya, Ibra menggenggam tangannya menahan emosi. Lelaki itu membanting hp yang di genggamannya, berjalan meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


" Mangsa masuk dalam perangkap" ucap Mereka berempat penuh smirk.


* * *


" ****!!! berani berani Nya anak tidak tau diri itu merusak nama baik saya dan melukai wanita saya!" Umpat Ibra sambil memukul stir.


" dia harus di beri pelajaran " lanjutnya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Ibra menyalip semua mobil yang berada didepannya, emosi yang dia tahan ketika melihat luka di kaki Nata dan juga bukti yang berada di tangan Clarien. Membuatnya tidak sabar ingin menghukum putri nya itu.


Setelah cukup lama, Ibra memakirkan mobilnya sembarangan di depan rumah. Kakinya melangkah memasuki rumah mewah yang semua orang pun tau bahwa digit nomila uangnya tidak berseri.


Aura yang keluar dari dirinya serta tatapan tajam, membuat para pelayan tidak berani menatap sang majikan.


" Dimana Caca" geramnya menatap para pelayan.


" Maaf tuan, nona Caca ada dikamarnya" ucap bi Suti.


Ibra langsung melangkah kakinya menuju kamar Caca, dia ingin memberikan pelajaran kepada gadis bodoh itu. Yang berani beraninya merusak nama baik yang telah susah payah iya dapatkan. Terlebih dia telah berani melukai wanita yang dia cintai. Sudah susah payah Ibra menjaga Nata, malah dengan enaknya putri bodohnya itu melukai gadis itu.


Ibra membuka kasar pintu kamar Caca, membuat Caca yang tadinya sedang berada di meja belajar pun menoleh dengan tatapan takut, melihat sang ayah yang penuh emosi menatapnya.


Plak!!!!


Ibra menampar  pipi Caca, membuat bibirnya terluka. Ibra menggenggam erat dagu Caca untuk teru menatapnya.


" JANGAN PERNAH SEKALI SEKALI KAU MERUSAK NAMA BAIKKU!! ATAU AKU AKAN MELENYAPKAN MU ANAK SIALAN!!!" Ibra melepaskan kasar pegangannya, membuat Caca hampir terjatuh dari duduknya.


"M-maksud papa" Caca yang bingung apa yang terjadi menatap sang papa.


" Berhenti membully semua siswa di sekolah mu!! Atau aku akan membunuh mu hari itu juga. Dasar Anak tidak berguna!"


Ibra meninggalkan Caca,yang masih menangis mendengar bentakan sang papa.


" BI SUTI!"teriak Ibra yang masih penuh emosi.


Bi Suti yang mendengar namanya di panggil, berlari pontang-panting mendekati sang majikan yang masih emosi.


" Liatin anak itu, jangan sampai dia mempermalukan saya" ucap Ibra dingin.


BI Suti mengangguk dan berjalan memasuki kamar Caca. Caca yang melihat bi Suti langsung memeluknya.


" Kenapa papa seperti ini bi, dia tidak pernah memikirkan perasaan Caca bi" Caca Terus meluapkan seluruh isi hatinya.


" yang sabar ya non" bi Suti memeluk Caca, ia menatap iba kearah gadis ini. Tetapi dia juga tidak membernarkan cara Caca yang berkali kali membuat anak orang terluka.


Ibra yang masih emosi pun, masuk kedalam kamarnya. Menatap tajam foto perempuan yang masih tersimpan di kamarnya. Ibra merebahkan dirinya dan menatap langit-langit kamarnya, ia memikirkan keadaan Nata  saat ini.


Dengan perasan emosi, ia meninggalkan gadis itu yang masih menangis tadi, rasa bersalah menyelinap dalam hatinya.


***


" Gimana Xian,Ada yang sakit? " Tanya Nata menatap Xian yang berbaring di ranjangnya.


" Lebay lo semua, kek apa aja" ucap Xian memandang mereka remeh.


" Si anj- tapi gpp si gegara Lo, kita bisa buat Caca kapok" kekeh Stevie


" Maksud Lo?" Xian menatap mereka bingung.


" Iya dengan cara ini, dan luka di Kaki Nata membuat seorang Ibrahimovic emosi hahah, gue ga sabar apa yang terjadi ke tuh cabe" ucap Zhou membuat semuanya menjadi penasaran.


" Yaudah gue pulang, ngantuk. Gegara si duda jadwal tidur gue ke ganggu, kalo ada apapun telfon gue" ucap Nata berdiri dan langsung meninggalkan mereka semua.


" Sadar tukang tidur" cibir Xian setelah kepergian Nata.


" Tapi gue penasaran gimana nata bisa menaklukkan si Ibra. Apakah dia pakai pelet yak?" Tanya Stevie dengan penasaran.


" Lu kira masih jaman dukun!! Goblok saia" umpat Zhou sambil menjitak kepala Stevie.


" Sakit setan!" Stevie mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat tangan Zhou.


Clairene menggelengkan kepalanya melihat kelakuan saudaranya itu, ia berjalan merebahkan diri disofa. Stevie duduk di lantai sambil membuka laptopnya. Sedangkan Zhou?gadis itu telah menghilang dari ruangan Xian. Iya bergabung dengan para dokter yang berada di ruang sakit itu.


Setelah pergi dari rumah sakit, Nata berjalan gontai menuju lantai rumahnya, dia tetap menyapa para tetangga yang menyapanya.


" Non Nata, nih bibi buatin non kue kering kesukaannya non,dimakan ya non." Ucap wanita berbadan gemuk sambil memberikan dua toples kue kesukaan Nata.

__ADS_1


"Huahhh, terimakasih ya bi. pasti Nata makan, terimakasih telah ingat makanan kesukaan Nata " nata menatap wanita itu dengan sedih.


Wanita yang di depannya itu merupakan pengasuh dirinya, saat peristiwa pembantaian di rumahnya, pengasuh nya itu sedang balik kampung. Jadi wanita itu selamat, saat kejadian itu.


" Sudah non, masih ada kami disini jangan sedih ya"  wanita itu mengusap bahu Nata.


Nata mengangguk sambil tersenyum " yaudh bi, Nata masuk dulu ya. Perlu istirahat " wanita itu mengangguk.


Nata memasukin tempat tinggalnya, meletakkan toples yang di tanganya kemeja, membuka sembarangan bajunya, hanya menyisakan bra sport. Nata merebahkan dirinya di lantai bulu, melamun memikirkan keluarganya.


"Ma pa bang, Nata kangen" lelah dengan keadaan yang ada, Nata tertidur di lantai.


***


Ibra berkali kali, mengetuk pintu di hadapannya ini. Tidak ada tanda tanda pintu terbuka, apakah Nata tidak ada dirumah pikirannya?.


"Kata mereka Nata ada dirumah, tapi kenapa tidak ada jawaban sama sekali?" Ibra terus mengetuk pintu.


Nata terbangun ketika mendengar ketukan pintu yang sangat tidak ramah, dia berfikir saudaranya telah kembali,dengan langkah goyah Ia berjalan membuka pintu, tanpa menatap siapa yang berdiri di depan pintu.


Ibra menatap pintu yang terbuka, ia terkejut melihat Nata hanya mengenakan bra sport yang terlihat mewah ketika gadis itu memakainya. Ibra dengan susah payah menelan ludah menatap bentuk tubuh gadis di depannya ini. Ia lelaki normal, pasti akan tergoda dengan pemandangan didepannya ini.


Ibra lalu mendorong Nata masuk, mengunci pintu tersebut. takut ada orang yang melihat bentuk tubuh gadis itu, Ibra tidak Sudi jika ada lelaki lain yang menatap tubuh gadis didepannya ini. Cukup dirinya saja yang boleh.


Nata terkejut dan tersadar, ia menatap Ibra dan segera menutupi dadanya itu.


" Kenapa lama sekali membuka pintunya?" Ibra berjalan meninggalkan Nata yang masih diam.


Ibra duduk di lantai, yang beralaskan karpet bulu yang tebal dan nyaman. Ibra menatap Nata yang masih terdiam mengumpulkan nyawanya dan mencerna kejadian ini.


"Om ngapain kesini?" Nata tersadar kemudian berjalan menuju dapur.


" Aku merasa bersalah, meninggalkan dirimu yang menangis tadi" Ibra mengambil remote tv, dan menyalahkannya.


Nata berjalan sambil membawa jus dan memberikannya kepada Ibra. Ibra yang melihat itu pun mengambil lalu meminumnya.


Nata duduk di sofa kecil yang jauh dari Ibra, lelaki itu sibuk menonton sambil memakan kue yang berada di toples. Nata sibuk dengan  hpnya.


Ibra yang melihat itu berjalan mendekati Nata, ia duduk membelakangi gadis itu. Menyenderkan kepalanya di dada Nata, dan masih sibuk menonton.


" Ada apa hm?" Gumam Nata.


Ibra menarik tangan gadis itu, menciumi nya sambil terus menonton. Posisi ini membuatnya nyaman, melupakan emosi yang sedang ia tahan.


" Pindah"


" Pindah ? Pindah apaaan?" Tanya Nata mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan singkat yang keluar dari mulut Ibra.


" Kamu jangan tinggal disini,aku telah menyediakan apartemen. Kamu akan tinggal bersama ku disana" Ibra tetap tidak melirik Nata.


"Hm" guma Nata sambil merapikan rambut Ibra. Dan memeluk leher Ibra dari belakang.


Ibra meletakan tangannya di paha Nata, membiarkan gadis itu memeluknya dari belakang. Ibra tidak ingin membiarkan Nata melepaskan pelukannya itu.


" Tinggal lah bersama ku" Ibra mendongak menatap Nata. Nata hanya menggeleng.


Ibra meletakan toples yang berada di genggamannya, Ibra membalikan badannya dan menyembunyikan wajahnya di leher Nata, menghirup wangi yang menjadi favoritnya dari dulu itu.


" Aku mohon, jangan biarkan aku sendiri Nata. Tidak bisakah kau tinggal bersama ku lagi" rengek Ibra sambil memeluk Nata.


Nata memutar bola matanya malas, dia menyesali pertemuan mereka dulu. Yang menjadikan Ibra tidak ingin melepaskan dirinya.


Iya,Ibra dan Nata telah saling mengenal sejak dirinya pindah dari negara ini. Nata memang tinggal bersama saudara tetapi ketika semua mereka kembali kenegara ini,  nata terjebak dan bertemu dengan Ibra, dia tinggal bersama Ibra. Sebelum memutuskan kembali, ia sudah lama mengumpulkan bukti tentang siapa Ibra,tapi dia tidak bisa melepaskan Ibra begitu saja, ia harus mengambil semua kekayaan Ibra. Makanya dirinya bertahan.


" Baiklah baiklah" Nata berusaha menjauhkan muka Ibra dari lehernya, ia melihat muka Ibra yang penuh dengan air mata.


" Oke aku tinggal Sama kamu lagi" ucap Nata membuat Ibra tersenyum dan mengangguk.


Ibra menarik Nata, ibra merebahkan Nata dengan nyaman di karpet.  Ibra mengangkat bra sport Nata, ia melihat aset miliki itu. Lelaki itu langsung melahapnya,tangan sebelahnya mengenggam payudara Nata sebelahan kanan.


Seperti telah terbiasa, Nata membiarkan Ibra menyusui didirinya sampai tertidur. Nata memiliki kelebihan hormon, jadi ia memiliki asi sebelum punya anak. Bahkan ia selalu menyumbang ASI-nya untuk diberikan kepada anak panti. Tetapi setelah bertemu dengan Ibra, Lelak itu ikut menyusu meskipun sering kesal karena harus berbagi dengan anak panti.


"Sayang" Ibra melepaskan payudara Nata,mendongak menatap nya.


" Kenapa?" Nata sedikit menunduk.


" Aku tidak menguncinya" Ibra menunjukan pintu. Nata menghela nafas.

__ADS_1


" Kunci nanti ada orang yang masuk"


Mendengar perintah Nata,Ibra berdiri dan berjalan mengunci pintu. Ia berbalik menatap Nata yang masih rebahan, Ibra berjalan mendekati Nata dan kembali kepada posisinya. Nata mendengar suara nafas teratur, Nata mengeluarkan dengan pelan *********** dari mulut Ibra. Ia merapikan kembali bra sport nya dan membiarkan Ibra tidur sendirian.


__ADS_2