
Tak terasa ulangan penaikan kelas telah berlalu dan saatnya penerimaan raport. Seperti biasa pihak sekolah akan mengundang wali murid untuk menerima nilai hasil ulangan siswa. Di sekolah mereka memang mewajibkan demikian agar lebih akrab dengan wali murid dan agar mereka tau lebih baik tentang perkembangan dan kelakuan para murid di sekolah. Seperti biasa Nesa selalu juara 1 tapi yang berbeda adalah peringkat ke dua bukan milik Ani tapi Adnan.
Para orang tua sudah datang termasuk Aisyah. Tapi orang tua Ani tidak datang dan kakaknya Aksa tidak bisa datang karena di luar kota. Aksa sudah mulai masuk dalam dunia usaha jadi dia mulai sibuk. Ani tampak murung Aisyah datang mengelus puncak kepalanya tersenyum teduh.
"kok murung sayang?" tanya Aisyah.
"orang tua aku gak dateng kak Aksa juga gak bisa dateng aku jadi gak ada walinya ma." jawab Ani sendu.
"Kan ada mama sayang. mama kesini bukan cuma buat Nesa tapi juga buat putri cantik tante yang satu ini." hibur Aisyah sambil menoel ujung hidung Ani. Ani menangis haru sambil berhambur memeluk Aisyah. Nesa dan yang lain hanya tersenyum bahagia melihatnya.
"Makasih ma sekarang aku udah ada mama yang sayang dan perhatian sama aku." kata Ani masih berlinang air mata.
"Jangan nangis dong sayang nanti cantiknya luntur loh " Aisyah tersenyum menghapus air mata di pipi Ani lalu mengecup kening dan kembali memeluk Ani.
"Ma... mau peluk juga!" rengek Nesa manja.
"Anak mama yang satu ini udah geda juga" kata Aisyah sembari memeluk Nesa dengan satu tangannya.
Di kejauhan Nesa melihat kak Aksa kakak Ani. Sebenarnya Aksa sudah datang dengan setengah berlari tapi, terhenti saat melihat Ani berhambur memeluk Aisyah. Dia bahagia melihat adiknya begitu di kasihi. Nesa ingin menegurnya tapi di larang Aksa dengan isyarat telunjuk di bibirnya Nesa mengurungkan niatnya.
"Te ri ma ka sih" katanya pelan seperti isyarat bibir di jawab anggukan dan senyuman oleh Nesa.
"masih tetap manis malah semakin manis senyumnya. Tumbuh besar kucing kecilku semoga kau selalu dapat tersenyum. terima kasih sudah menjaga adikku semoga kau selalu menjaga hatimu agar tak dimiliki siapapun kecuali aku kelak. Tunggu saat aku berhasil aku akan pastikan kau akan ku miliki." batin Aksa sembari berlalu pergi dengan wajah lega dan bahagia karena adik nya tidak bersedih lagi dan melihat senyum gadisnya. Ya dia menganggap nesa adalah gadisnya.
(Soal perasaan Aksa di bahas di episode berikutnya aja yah nanti ada episode khusus tentang dirinya)
Tak lama wali murid di panggil satu per satu sampai giliran Nesa aisyah masuk beserta Nesa.
"assalamu alaikum bu" salam Aisyah pada bu aeni karena memang bu aeni adalah wali kelas Nesa.
"wa alaikum salam bu Aisyah mari silahkan duduk bu." jawab bu aeni ramah di angguki Aisyah lalu duduk di depan meja bu Aeni. Nesa pun duduk di samping Aisyah.
"selamat ya ibu anak ibu Nesa seperto biasa mendapat nilai terbaik. Di pertahankan ya nak Nesa." kata bu Aeni ramah menatap Nesa dan di angguki nesa.
Setelah ngobrol sebentar kisaran Nesa di sekolah Aisyah di ijinkan kaluar. Saat giliran Ani di sebut Aisyah masuk lagi mendampingi Ani. Ibu Aeni heran belum bertanya Aisyah tau tentang maksud tatapan bu Aeni lalu bicara.
__ADS_1
"Ani sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri jadi saya yang akan jadi walinya dari sekarang klau orang tua kandungnya tidak bisa hadir."
"oh begitu, mari bu silahkan duduk," katanya ramah. Selesai semuanya para orang tua dan murid mulai bubar pulang.
"Ma kita-kita gak lansung pulang ya kita mo ngympul bentar baru balik?" ijin Nesa.
"ya udah tapi habis itu langsung kerumah ya? kalian juga mama bakal masak banyak ngerayain kenaikan kelas kalian." kata Aisyah di angguki oleh Nesa.
"siap bos" jawahb yang lain bersamaan.
Di kafe bunga mereka berkumpul.
"selamat Nes lo juara kelas lagi" seru Ani.
"iya lo memang pintar banget" seru irda
"hm, lo semua juga selamat udah naik kelas." jawb nesa.
"Eh tumben si Adnan gak gabung ma kita" kata irda.
"holang kaya berarti dia." tanya Irda di jawab gendikan bahu dari temannya soalnya Adnan tidak memperkenalkan diri sebagai anggota keluarga adijaya di sekolahnya. Dia gak mau temen-temennya makin mendekatinya kalau tau dia anak donatur sekolah.
Di kediaman keluarga Adijaya
"hai son kemsri sayang" sapa mami Adanan.
Adnan duduk di samping maminya.
"Mami kapan datangnya?" tanya Adnan.
"baru kok " jawabnya.
"berapa lama di sini mami bakal di sini beberapa harikan?" tanyanya.
"sorry son mami harus pergi sebantar lagi soalnya mo ketemu klien sore nanti di kota c." jawabnya.
__ADS_1
Tak berapa lama papi Adnan turun dari tangga dengan wajah tegang pertanda dia lagi marah. "glug" Adnan susah menelan salivanya. pasalnya dia tau betul apa yang menyebabkan amarah papinya.
"Apa perlu papi bertanya atau kamu langsung jelaskan yang terjadi?" tanyanya.
"maaf pi" jawab Adnan.
"papi tidak butuh kata maaf kamu. Kenapa bisa kamu tidak jadi peringkat pertama? " tanyanya tegas. Adnan bungkam membuat nya geram.
"bill siapa juara kelas itu?" fanyanya pada kepala asisten rumah tangga yang tadi jadi wali Adnan di sekolah.
"dia adalah Nesa putri tuan dia memang juara umum di sekolah semenjak awal. Putri dari Danu baskara yang kemarin kena kasus penjualan data perusahaan x." jawabnya.
"plak" satu tamparan mendarat di wajah Adnan.
"papi apa-apaan sih" tegur istrinya.
"jangan ikut campur. ceh kalah dari wanita yang notabenenya orang miskin huh?" tanyanya.
"papi gak mau tau kau harus berusaha lebih giat kalahkan dia. kalau tidak jangan salahkan papi kalau menyingkirkan dia daripada dia membuat malu keluarga adijaya. mengalahkan keturunan keluarga adijaya hanya dengan status rendahnya. heh" ujarnya.
"jangan pi aku akan berusaha menjadi juara berikutnya. papi jangan apa-apakan dia!" janji Adnan.
"baik papi pegang janjimu itu. kalau kamu tidak bisa tepatin papi yang akan turun tangan sendiri oke?"
"oke pi Adnan janji." jawab adnan.
Di rumah Nesa
"wah tante makanannya banyak banget ini." seru Mira girang soalnya dia yang paling antusias klau urusan makan.
"kalo makanan aja lo paling semangat" tegur Ani.
"harus dong apa lagi masakan tante Aisyah jempolan." jawabnya.
"ya udah makan gih" seru Aisyah bahagia pasalnya belakangan anak-anak itu lebih sering kumpul di rumah.
__ADS_1
"siap bos....!" seru mereka kompak lalu makan bareng.