Nesa

Nesa
Rinto dan Aisyah


__ADS_3

Setelah mendapat lampu hijau dari calon anak Rinto semakin mantap untuk mengejar cinta Aisyah. Kini dia yakin bahwa apa yang dia rasa untuk Aisyah selama ini adalah cinta. Dia tidak perduli tentang status janda anak satu yang di miliki Aisyah. Baginya Aisyah adalah sosok yang tegar, sabar dan baik.


"baiklah mulai sekarang aku akan mulai gencar mendekati dirinya. Aku yakin bisa miliki dia tak masalah statusnya yang penting dia bukan milik orang lain. karena, memang benar kata Nesa terakhir kali. Aku gak bisa bayangin dia sama orang lain." tekadnya bulat kali ini. Sebelum berpisah semalam Nesa masih sempat memberi satu kalimat nasehat.


"kalo om belum yakin tentang perasaan om, coba om bayangin kalau seandainya nanti mama memilih bersama lelaki lain apa yang om rasakan? kalau biasa saja berarti om tidak mencintai mama rasa itu mungkin hanya simpati atau kagum sesaat saja. tapi, bila om merasa marah, sedih , kecewa, tidak rela dan tidak nyaman atau bahkan tidak sanggup membayangkannya maka percaya sama aku kalau om benar jatuh cinta. karena cinta itu kadang egois gak menginginkan yang kita cintai bersama orang lain. yah walau kadang cinta juga memiliki kerelaan. Rela menderita asal dia bahagia walau bukan bersama kita." jelas nesa.


Sekarang terbukti dia bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya sebelum itu terjadi dia bertekad akan mendapatkannya lebih dulu.


Di kamarnya Nesa dan Aisyah mengobrol setelah Ani keluar kamar.


"Ma boleh Nesa bertanya sesuatu?" tanya nesa.


"boleh, sejak kapan kamu mau nanya pake ijin?" Tanya Aisyah balik.

__ADS_1


"Sebenarnya perasaan mama ke om Rinto itu gimana sih ma? Aku mau mama jujur aja aku gak marah kok cuma mau memastikan saja. karena, aku liat mama bisa lepas tertawa di samping om rinto." jelas Nesa setelah menangkap raut khawayir mamanya.


"Mama juga gak yakin sih nak. Jujur mama merasa nyaman di dekat dia dan juga dia itu bisa bikin mama melepaskan segala beban yang ada di hati mama. Mama seneng saat dia ada di dekat mama tapi, mama ragu mengingat status mama dan dia yang kontras. dia masih bujang dan mama." belum selesai kalimat Aisyah, Nesa sudah memotong duluan.


"mama bisa kok sekali sekali egois gak perlu mikirin banyak hal yang penting mama bahagia. status itu gak bisa dirubah lagi tapi kalau cinta saling bersambut kenapa tidak. Nesa cuman pengen mama bahagia. Egoislah sekeli sekali tak perlu hiraukan apa pendapat orang di sekitar toh mereka gak akan mau tau saat kita menderita kenapa saat kita bahagia mereka mau ikut campur. Kalau om Rinto memang mencari jalan dekat dengan mama jangan tutup jalan itu sambut saja kebahagiaan mama. itupun kalau mama yakin tentang perasaan mama." Setelah mengatakan itu Nesa beranjak dari tempat dia duduk dan melangkah keluar menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


Sepeninggalan Nesa, Aisyah mulai memikirkan kata kata Nesa.


"yah aku bisa mencoba egois kali ini. asalkan dia juga merasakan yang sama dengan perasaanku aku akan bersedia bersamanya. tak perduli apa pendapat orang lain." gumamnya. Yah memang satu hal yang menjadi beban fikiran Aisyah adalah apa kata orang sekitar kalau dia menjalin hubungan dengan Rinto yang masih bujang dan tampan. Nesa memang paling paham mamanya dia tahu betul apa yang di resahkan mamanya selama ini.


Sepeninggalan anak anak Rinto mengajak Aisyah duduk di taman belakang vila. Mereka hanya diam saling lirik dan menunduk malu layaknya remaja baru kenal cinta. Sekian lama hening akhirnya Rinto angkat bicara.


"Dek aku mau bicara sama kamu boleh?" tanyanya.

__ADS_1


"Nah tuh mas udah bicara masih pake ijin. ya boleh aja." jawab Aisyah meski ada nada meledek tetap saja dia masih ter tunduk malu.


"Adek jangan marah ya kalau dengar penyataan mas nanti?" pintanya dan Aisyah hanya mengangguk.


"Bisa gak dek jangan nunduk soalnya aku mau liat muka kamu itu?" tanyanya dan Aisyah lalu mengangkat kepalanya. Tatapan mereka saling bertemu dan "deg deg deg" tiba tiba jantung mereka seakan meronta ingin keluar.


"kok aku jadi kayak remaja tanggung gini yah deg degan mulu kalau bareng mas Rinto. Bahkan dulu sama mas Danu aku gak kayak gini." batinnya.


"a aku cu cuma mau bi bilang ka, hah," Rinto menghela napas berusaha menenangkan diri. Dan memulai lagi kalimatnya.


"Aku itu cuman mau bilang aku merasa nyaman dekat dengan kamu, pengen selalu di samping aku itu ada kamu. Aku mau kamu menjadi pendamping aku menemani aku hingga menutup mata nanti." terangnya menatap wajah Aisyah mencari perubahan mimik wajahnya takut dia tak nyaman dengan itu.


"Aku udah bukan remaja tanggung lagi yang menjalin kasih lama dengan pacaran. Mengingat usiaku aku mau mencari pendamping yang bersedia menemani suka dukaku mendampingiku hingga aku menutup mata." Ada jeda sedikit sebelum dia mulai bicara lagi.

__ADS_1


"maukah kamu menjadi orang itu? yang menemani di sisiku hingga tua nanti?" tanyanya menatap mata Aisyah penuh harap dan Aisyah sudah menangis haru mendengar penuturan Rinto dia tidak bisa lagi berkata kata. Dia hanya mengangguk dan Rinto refleks memeluknya sangking bahagianya karena perasaannya di terima oleh Aisyah pujaan hatinya. Setelah tangis Aisyah reda mereka tersenyum hangat Rinto mengucapkan terima kasih lalu mengecup kenung Aisyah agak lama. Aisyah memejamkan matanya kecupan terlepas dan mereka saling tatap dan tersenyum bersama. Aisyah duduk dengan bersender dibahu Rinto tautan jarinya tak pernah Rinto lepaskan dari tadi.


"Kita harus beri tahu Nesa secepatnya. Aku mau kita segera menikah oke?" Tanya Rinto dan Aisyah hanya mengangguk mengiyakan kemauan Rinto. Mereka tidak khawatir tentang Nesa karena mereka tau Nesa mendukung keputusan mereka untu bersama. Aisyah merasa beruntung memiliki anak ber fikiran terbuka dan dewasa meski usianya masih remaja seperti Nesa. Rinto merasa beruntung sudah mengenal Nesa karena Nesa dia menemukan cinta sejatinya. Mereka berjanji akan menjalani hidup dengan bahagia seperti keinginan Nesa.


__ADS_2