
Selesai sarapan mereka bersiap siap untuk pulang ke rumah masing masing. Aksa tak harus mengantar karena kendaraan mereka memang sengaja di simpan di rumah Nesa jadi bisa langsung pulang kerumah dengan kebdaraan mereka sendiri.
"Kita pulang ya ma" pamit Ani mencium punggung tangan Aisyah lalu memeluk tubuh Aisyah. Aisyah membalas pelukan ani dan mengelus punggungnya.
"iya hati hati di jalan." jawabnya.
"Aksa juga pamit ya tante." pamit Aksa juga mencium punggung tangan Aisyah. lalh eralih pada Nesa mengelus puncak kepala Nesa
"aku pulang ya." pamitnya dan di jawab anggukan oleh Nesa. Begitu pula yang lain ikut pamitan dan mencium punggung tanagan Aisyah. sedang Rinto tetap tinggal karena ingin segera memberi tau Nesa perihal hubungan mereka dan meminta ijin padanya untuk menikahi Aisyah sang pujaan hatinya segera.
Setelah semua pulang menyisakan tiga orang yang kini sedang duduk agak canggung di ruang tengah. Hanya keheningan yang ada selama beberapa saat mereka di sana. Nesa paham betul apa yang ingin mereka utarakan dan dia tetap diam memberi waktu untuk mereka siap bicara padanya. Setelah beberapa saat Rinto mulai membuka suara. Dia menghirup napas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dirinya yang mulai grogi seras berhadapan dengan camer saja. Walau dia tau Nesa memberi dukungan tetap saja dia merasa grogi dan tak tenang memulai pembicaraan. Karena ini juga merupakan pengalaman pertama bagi dia untuk meminta ijin untuk menikah.
"Begini Nes om rasa kamu juga sudah tau apa yang ingin om bicarakan sama kamu. Tapi om rasa tetap harus memberi tahu kamu kalau sebenarnya om sama mama kamu memutuskan untuk bersama dan kami ingin meminta izin dari kamu untuk meresmikan hubungan kami." tutur Rinto gugup. Mendengar penuturan Rinto tersebut Nesa mengembangkan senyum tanda bahwa dia bahagia.
"om sama mama kan dudah tau kalau Nesa selaluu mendukung keputusan kalian apa lagi keputusan untuk bersama saling melengkapi. setidaknya Nesa lega ada yang melindungi mama di saat nNesa gak bisa di sisi mama." tutur nesa membuat Aisyah menangis haru.
"lalu kapan rencana kalian akan menikah" tanya Nesa.
__ADS_1
"Tunggu masa ida mama mu usai sekitar 3 minggu lagi selesai dan se minggu setelahnya kami akan mengadakan akad tanpa resepsi mengingat ini pernikahan ke 2 mama mu dan om tidak punya kerabat yang akan hadir." jelas Rinto di angguki oleh Nesa.
"Nesa sini nak " panggil seorang wanita yang wajahnya mirip dengan wajah Nesa. Nesa hanya diam terpaku memandangi wajah wanita itu.
"kamu sudah besar nak mami menyesal tidak sempat bertemu langsung denganmu" ucapan wanita itu membuat Nesa mengernyit.
"apa maksudnya dia gak sempat ketemu langsung nah dia siapa, jangan jangan ih tau ah." batin Nesa.
"ya ini hanya tubuh halus mami yang menemuimu langsung menyampaikan rasa rindu mami pada mu Nesa anak kandung ku." tuturnya lalu menghilang dalam sekejap mata. Nesa ter bangun dengan napas memburu dan keringat ber cucuran di wajah dan tubuhnya. Dia begitu penasaran tentang mimpinya itu. Bagaimana bisa wanita itu menyebutnya anak kandung sedang dia bukan anak angkat dari mamanya.
Setelah malam itu Nesa terus menerus di hantui oleh mimpinya waktu itu sesekali juga dia memimpikan wanita itu. Hingga dia tak tahan dan mulai memberanikan diri untuk menceritakan tentang mimpinya pada mamanya.
"ma boleh Nesa bertanya sesuatu yang mungkin akan membuat mama kurang nyaman mendengarnya?" tanya Nesa ragu.
"Boleh aja kok nak, tapi apa itu?" tanya balik Aisyah. Rinto hendak bangkit takut itu masalah pribadi yang tak boleh di dengarnya namun di urungkan karena Nesa mencegahnya.
"om Rinto gak perlu pergi lagian om bukan orang luar bagi Nesa jadi gak masalah om denger juga." cegah Nesa.
__ADS_1
"Gini mah, selama beberapa malam belakangan ini Nesa selalu mimpi tentang seorang wanita kira kira sebaya mama yang memanggil Nesa anaknya bahkan anak kandungnya. Apa..." belum sempat Nesa meneruskan kalimatnya sudah di potong oleh Aisyah.
"Apa kamu anak kandung mama apa bukan, itu yang mau kamu tanya nak?" tanya Aisyah. Nesa mengangguk pelan takut akan apa yang nanti di utarakan oleh Aisyah.
"kamu anak kandung mama, mama yang melahirkan kamu bahkan mama punya foto kamu baru lahir dan catatan kelahiranmu dari rumah sakit yang bisa kamu konfirmasi langsung pada pihak rumah sakit." jelas Aisyah dan Nesa bernapas legah.
"kalau soal mimpi mungkin cuma bunga tidur efek kamu nonton sinetron yang berimbas mimpi buruk." lanjutnya.
"Tunggu apa wajah wanita itu seperti ini?" tanya Rinto sembari mengeluarkan majalah bisnis yang ada gambar wanita cantik dengan tulisan turut berduka dari pihak tertentu akan meninggalnya wanita pada gambar tersebut.
"saat melihat ini aku penasaran kok wajahnya familiar banget. setelah di fikir fikir kok mirip banget sama wajah Nesa." jelasnya di jeda sedikit melihat perubahan raut muka Nesa seperti sedang kaget.
"makanya om bawa majalah ini untuk di perlihatkan padamu." lanjutnya.
"iya benar om ini orangnya dan tunggu dulu. tanggal meninggalnya pas banget Nesa mimpiin dia di tanggal itu dan jam segitu." jawab nesa kaget dan membuat Aisyah juga kaget.
"gak itu pasti cuma kebetulan kamu gak sengaja liat berita dia meninggal dan wajahnya mirip kamu makannya masuk dalam mimpi mu." Aisyah menolak percaya karena memang setahu dia Nesa adalah anak kandungnya yang oa lahirkan. walau sempat pingsan saat habis melahirkan ada banyak yang melihat dan jadi saksi dari pihak rumah sakit.
__ADS_1
"sudah gak perlu di bahas lagi. pokoknya kamu anak kandung mama kamu lahir di rahim mama." tegas Aisyah lalu nesa berhambur meneluk mamanya.
"iya Nesa hanya anak mama bukan yang lainnya." jawab Nesa tersenyum.