Nesa

Nesa
fitnah


__ADS_3

"tapi mereka jahat banget ma sama mama." seru nesa dalam pelukan mamanya.


"mama gak apa-apa kok nak sekarang yang penting Nesa ada untuk mama," kata mama nesa tenang berusaha menenangkan anak semata wayangnya walau hatinya sudah hancur berkeping-keping.


flash back on


sepeninggalan Nesa mamanya duduk santai nonton TV sambil menikmati cemilan. Saat masuk ke dapur untuk mengambil minum tiba-tiba "ting" bunyi notif pesan masuk pada hpnya. Aisyah duduk di kursi meja makan menaruh gelas yang di meja kemudian membuka pesan yang masuk. Dia kaget menutup mulutnya sambil berderai air mata melihat gambar suaminya sedang tidur lelap sambil memeluk seorang wanita dalam selimut yang sama.


aisyah "kamu siapa, ini maksudnya apa?"


no name "tak perlu tau siapa saya. Cukup lepaskan suamimu karena keluarganya disini juga butuh status. kau dan putri mu sudah saatnya sadar Danu tidak mencintai kalian"


aisyah "tidak mungkin kami baik-baik saja"


no name "itu karena aku Danu menitipkan anak tersayangnya padamu"


aisyah "apa maksudnya"


beberapa gambar kembali terkirim. foto 1 bayi dalam gendongan sang ibu dan ayah memeluk mereka dari belakang. foto 2 foto ayah menggendong bayi dengan sayang. foto 3 foto tiga orang layaknya keluarga bahagia ibu ayah dan anak duduk tertawa. tangis aisyah semakin pecah nelihatnya. Bagaimana tidak di foto itu sang ayah adalah Danu sang suami. Suaminya bahkan menemani wanita itu melahirkan. Kentara dari seragam pasien yang di gunakan si wanita. sedangkan saat dia melahirkan Nesa sang suami malah sibuk mengurus kerjaannya.


no name "sudah jelas sekarang? maka lepaskan mas Danu agar dia bisa bahagia dengan keluarga yang sesungguhnya dia harapkan. Bukan keluarga palsu yang dia terpaksa menerima karena paksaan ibunya."


Aisyah "aku gak bakal biarin keluarga aku hancur. kalau mas Danu gak bahagia dia bakal ceraiin aku tapi tidak. jadi cukup aku gak peduli itu pasti cuma masa lalu suami aku. Dia sekarang gak bakal gitu lagi."


Aisyah menyimpan hpnya lalu menutup mata dengan kedua tangannya sambil menangis pilu.


flash back off


"kamu yang sabar ya nak. kita pasti bisa lewatin ini semua. papa pasti milih kita dia sayang sama kita." mengeratkan pelukannya pada sang anak.


"tapi mama gimana, hati mama pasti hancur dengan semua ini" masih saja menangis sesegukan.


"mama gak apa-apa mama kuat kok. papa pasti cuma khilaf aja. Dia akan sadar kita lebih berharga" aisyah masih berusaha menenangkan anaknya dan menguatkan hatinya. Dia akan berusaha memaafkan suaminya demi anaknya agar tetap memiliki keluarga utuh.


"aku akan nerima ini sebagai takdir dan anggap ujian dari Allah. aku gak mau masa depan anakku hancur karena keretakan rumah tanggaku. aku iklas demi putriku" batin aisyah.


setelah tangis nesa reda aisyah menghapus air mata di pipi putrinya sambil tersenyum menguatkan hati putrinya.

__ADS_1


"ya udah jangan nangis terus liat tuh matanya bengkak." rak sengaja melihat lebam di pipi putrinya.


"ini muka kamu kenapa nak kok lebam gini?" tanyanya khawatir.


"gak papa kok ma cuma kepentok sudut meja tadi di warung." bohong nesa. Aisyah menghela napas.


"ya udah tunggu dulu mama ambil salep" aisyah beranjak mangambil kotak p3k di lemari dan mengobati putrinya.


"nah sudah kamu tidur gih, besok sekolah." nesa menuruti perintah ibunya beranjak ke kamar tanpa mengganti baju dia tertidur lelap karna kecapean nangis.


Besok paginya setelah nesa berangkat sekolah aisyah beres-beres rumah menyibukkan diri agar tidak teringat masalah keluarganya. siangnya Wanti menelepon Aisyah.


aisyah "ya nak ada apa?"


wanti "ma tolongin wanti"


aisyah khawatir mendengar tangis putrinya. walau sudah tau kebenaran asal usul wanti, aisyah tetap menyayangi wanti karena dia telah merawat dan membesarkan wanti layaknya anak sendiri.


aisyah "kamu kenapa nak, bilang mama kamu di mana? mama jemput ya nak."


wanti "di hotel xxx kamar xxx tolong ma wanti takut"


mematikan telfon kemudian bergegas ke tempat yang di sebutkan wanti.


Di hotel xxx


Aisyah bergegas ke kamar yang di sebut wanti. Dia langsung masuk karena tidak terkunci.


"kok sepi?" gumamnya heran.


"wanti... wanti di mana nak?" mencari anaknya. netranya menangkap gundukan di balik salimut. Saat di dekati dan hendak membuka tangannya ditarik. karena kaget dia terjatuh dan betapa kagetnya dia ternyata itu seorang pria tanpa busana memeluk tubuhnya kuat dan membalik tubuh jadi menindihnya. saat berusaha memberontak tiba-tiba pintu kamar terbuka muncul Danu membelalakkan mata marah.


"DASAR JA***G TIDAK TAHU MALU TERNYATA INI YANG KAMU LAKUKAN SELAMA INI" serunya emosi menendang pria yang di atas istrinya menarik paksa istrinya kemudian menamparnya. menyeretnya keluar dari kamar hotel memaksa masuk kedalam mobil. Di mobil hanya tangis aisyah yang menggema.


"BERHENTI MENANGIS JA***G TANGISMU MEMBUAT KEPALAKU PENING" teriaknya emosi. sampai di rumah aisyah diseret hingga di ruang tamu.


"TANDA TANGANI SURAT CERAI ITU ATAU KU BU**H KAU" ancamnya.

__ADS_1


"jangan mas kasian nesa kalau kita cerai kamu gak kasian sama anakmu mas? mas cuma salah paham aku ke hotel karna wanti menelepon." belum selesai kalimat aisyah wanti datang memotong.


"maksud mama apa mama mau fitnah aku di depan papa? aku baru pulang mama gak ada di rumah," fitnah wanti pura-pura menangis.


"jangan fitnah putriku. justru demi putriku kita harus cerai aku mau wanti punya status anak kandung keluarga baskara. tentang anak mu aku tidak perduli dia pasti bukan anakku setelah liat kelakuanmu itu." hinanya.


"jaga mulut mu mas nesa itu putrimu" aisyah tersulut emosi.


"berani kau berteriak ja***g" bentak danu siap menampar aisyah lagi tapi tangannya di tangkap oleh nesa. nesa menatap papanya penuh amarah . yah nesa pulang sekolah saat mendengar suara teriak-teriak dia bergegas masuk rumah. betapa terkajutnya dia melihat kondisi ibunya. saat papanya bersiap memukul ibunya dia sigap menangkap tangan papanya.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA MAMAKU DANU BASKARA BA*****N? BERANI KAU MELUKAI MAMAKU" teriak nesa kemudian menendang perut sang ayah. Dia tidak lagi peduli siapa orang dihadapannya setelah melihat kondisi mamanya dan mendengar pernyataan barusan. Terjadi perkelahian antara anak dan ayah itu dan di menangi oleh nesa. saat hendak memukul lagi aisyah menghentikannya.


"sudah nak jangan kamu bisa membunuhnya" tegur sang ibu.


"biar saja ma aku memang mau dia mati di tanganku." serunya.


"jangan mama gak mau kamu di penjara. kamu mau mama menderita liat kamu di kurung?" tanyanya.


"baik ma tanda tangani surat cerai itu segera!" pintanya. aisyah menandatangani surat cerai itu nesa mengambilnya dan melemparkan ke danu yang tersungkur di peluk oleh putrinya.


wanti tersenyum sekilas tanpa ada yang melihat.


"kalau begitu kau dan ibumu bisa pergi dari sini karena kau bukan siapa-siapa lagi di sini" usir wanti.


"ha ha ha ha" nesa tertawa mengejek.


wanti heran. "apa dia sudah gila?" batinnya.


" pergi kau bilang apa tuan danu tidak memberitahumu kalau rumah ini bukan miliknya? rumah ini milikku pemberian kakekku tuan indra jaya." serunya.


"tidak mungkin" seru wanti tak percaya.


"itu benar" aisyah muncul dari kamar membawa tas dan menyimpan di lantai.


"ini milik putriku jadi kalian bisa pergi!" seru aisyah dingin. dia mantap berpisah dari danu dan menguairnya setelah melihat ketegasan sang anak.


"selama putriku bersamaku dan tetap tegar aku akan tegar pula akan kumulai hidupku bersama putriku" batin aisyah.

__ADS_1


setelah itu danu keluar rumah di papah oleh wanti.


__ADS_2