
"Lepaskan aku!" Nia berteriak tatkala ada tangan laki-laki menyambar tangannya erat.
"Hey, aku mau dibawa kemana?!" Nia terus meronta berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman laki-laki tersebut
"Jangan harap dirimu akan selamat, jal*ng kecil!" Laki-laki itu membuang pandangan ke luar seakan jijik melihat wajah Nia. Kemudian ia mendekatkan wajahnya.
"Jaga ucapanmu, Tuan, apa maksudmu?" Nia tidak tahu apa yang dikatakan laki-laki di depannya tersebut. Terus saja ia menyeret lengan Nia dengan kasar hingga tiba di sebuah kamar 404. Nia bergidik ngeri. Laki itu adalah Henry Sanjaya, CEO muda di Sanjaya Group berusia 33 tahun.
"Cepat masuk!" Henry kembali menarik kasar tubuh Nia dan membantingnya di kasur. Merasa ketakutan, Nia hanya meringis menahan sakit di lengannya akibat cengkraman Henry yang keras.
"Puaskan aku malam ini!" Badan Nia beringsut ke belakang, tubuhnya menggigil ketakutan. Bagai serigala lapar yang hendak memangsa santapannya, tatapan tajam dari laki-laki tersebut mampu membuat lemas sendi-sendi Nia. Mau menangis tapi air mata tidak bisa keluar.
"Jangan… jangan sentuh aku Tuan, kamu salah orang." Tubuhnya meringkuk ketakutan ketika pria itu semakin mendekati hingga jarak mereka hanya beberapa mili. Nia memilih bertahan di samping ranjangnya.
"Tolong, jangan sakiti aku!" Dengan suara parau Nia memohon. Laki-laki itu hanya berdecak dan tangannya yang kokoh kini memegang dagu Nia tepatnya mencengkeram.
"Kamu sok jual mahal sekali, cepat puaskan aku!" Bentaknya. Tanpa membuang waktu ia langsung mengunci tubuh kecil Nia.
"Tolong! Hump…." Nia terus meronta melepaskan jerat laki-laki yang sedang dipenuhi nafsu syetan itu, tapi Nia tidak berdaya menghadapi laki-laki. Disaat mulutnya berkata 'tidak' tapi malah tubuhnya mengatakan 'lanjutkan'. Henry semakin menertawakan Nia, menggoda.
"Tolong jangan!" teriak Nia, air mata sudah membasahi pipi yang tak dihiraukan oleh laki-laki tersebut. Nia pasrah dengan keadaan.
Sinar matahari mulai menerobos masuk ke kamar.
"Cepat bangun dan pergi dari sini!" Nia hanya menoleh asal suara itu tanpa mau menjawab. Ia benci laki-laki di depannya setelah merusak mahkotanya tapi malah seenaknya saja mengusir dari sini. Setidaknya Nia membutuhkan identitas lengkap pria yang merenggut mahkotanya, dia tidak rela diinjak seperti ini. Apalagi dengan kasarnya dia memperlakukan Nia malam itu. Hati Nia terasa ngilu, badan pun rasanya seperti habis lomba marathon.
"Ini bayaranmu!" Uang berhamburan mengenai wajah Nia. Emosinya naik, dia tidak mau direndahkan seperti itu. Dia bukan ****** seperti yang dituduhkan Henry untuknya.
"Aku tidak sudi uangmu!" Jawabnya tegas, Nia tidak takut lagi dengan laki-laki di depannya. Cukup sudah semalam ia dipermalukan dan direndahkan. Bila hari ini terjadi lagi dengan sigap Nia akan menolaknya kalau bisa menghajarnya sekalian.
"Haha, jangan sok menolak, aku tahu kau butuh uang 'bukan, satu lagi tubuhmu sangat menggoda untuk dinikmati?" ujarnya santai.
"Maaf Tuan, sudah kukatakan aku bukan pelacur seperti yang kau tuduhkan." Tawanya menggelegar, mendengar kata Nia baru saja. Laki-laki itu memindai Nia dari atas ke bawah mencari celahnya.
"Lantas tujuan kamu berdiri di lift sana mau apa? Mencari mangsa bukan?"
PLAK…
__ADS_1
Tamparan keras Nia mendarat di pipi putih lelaki di depannya. Ia meringis menahan perih.
"Aku bahkan tidak mengenalmu, dan kamu sudah berani-beraninya menghancurkanku dan melecehkanku. Kurang ajar, laki-laki brengs*k!!" Buliran bening menetes dari pelupuk mata. Laki-laki itu tertegun. Ini aneh? Biasanya setiap wanita yang menemaninya bila sudah mengambil uang akan langsung pergi begitu saja atau bahkan ada yang sengaja menggoda kembali.
"Berikan kartu namamu!" Sorot tajam mata Nia mampu menghipnotis Henry. Tanpa sadar Henry mengambil kartu namanya memberikan kepada Nia.
"Hubungi aku jika kau butuh uang, asal kamu tahu servismu sangat memuaskan," bisik Henry matanya mengerling nakal.
"Cih, dasar laki-laki mesum!" Nia merebut kartu namanya dan beranjak dari hadapan Henry.
"Kalau terjadi apa-apa, aku pastikan kamu harus bertanggung jawab!" Nia kemudian pergi dari tempat itu.
Seminggu setelah kejadian itu, di kantor Henry heboh kedatangan tamu wanita.
"Ijinkan saya menemui Pak Henry," kata Nia menggebrak meja resepsionis.
"Maaf, Bu. Apa sudah janji dengan Pak Henry?" Resepsionis itu ketakutan melihat sikap Nia yang kasar.
"Tidak tapi aku mau ketemu bentar aja." Resepsionis sebenarnya sudah jenuh dengan tingkah laku banyak wanita yang datang kesini untuk menemui Henry ternyata Henry tidak pernah mengundang mereka. Sang resepsionis mulai hati-hati menerima tamu dia tidak mau dipecat Henry terlalu cepat dan dia merasa bertanggung jawab lebih, tapi perempuan yang datang pagi ini membuatnya kehilangan akal.
"Ini sesuai peraturan kantor kami, Bu. Kalau mau ketemu Pak Henry silahkan janji dulu." Tidak puas dengan jawaban resepsionis, Nia langsung memaksa masuk menerobos dua satpam jaga.
"Lepas! Aku mau ketemu Henry, si kurang ajar itu! Diaman kamu sekarang Tuan Henry?" Rupanya Henry baru keluar dari ruangannya. Mendengar ada ribut-ribut ia mengurungkan niatnya mengecek beberapa karyawannya. Kakinya melangkah ke depan mendekati area resepsionis.
"Hey, Tuan Henry!!" Mendengar namanya disebut, Henry menoleh.
"Masih ingat aku?" Nia menatap tajam Henry dan menyeringai.
"Ck, sudah kalian lepaskan saja." Kedua satpam pun menurut perintah Tuannya dan kembali ke pos.
"Ikut!" Nia mengikuti Henry sampai di ruangannya.
"Mau apa lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai?" Nia menggeleng.
"Kamu sudah merusak ku dengan entengnya berkata demikian?!" Tak tahan emosi Nia mengeluarkan amarahnya.
"Baiklah, kau pasti masih baru, sebutkan nominalmu berapa?" Henry mengeluarkan cek dan pulpen.
__ADS_1
"Tuan Henry, dengarkan aku!!!" Ditepisnya cek itu dan Nia menggebrak meja kebesaran Henry.
"Aku tidak terlalu membutuhkan uang, tapi aku menuntut tanggung jawabmu!" Henry tertawa kecil seperti waktu itu.
"Kamu mau aku menikahimu, begitu?" tanya Henry seperti mengejek gadis kecil di depannya.
"Entah bagaimana caramu tapi aku menginginkan tanggung jawabmu!"
"Rendah sekali dirimu, langsung saja katakan apa yang kau mau, kau mengincar hartaku, matre?" Tangan Nia sejak tadi sudah terkepal keras langsung menonjok muka Henry. Sudah dikatakan ****** kecil ini kembali lagi dikatakan matre.
"Argh...Sial!!" Henry mengumpat, dia tidak menyangka gadis kecil di depannya cukup bar-bar. Sudut bibirny mengeluarkan darah segar.
"Dengarkan aku Henry Sanjaya, malam itu kamu merenggut kesucianku dan kamu seenaknya mengatakan aku ****** kecil. Maaf bila aku kasar denganmu." Nia menyadari dirinya telah berbuat salah berniat membantu menyeka darah.
"Sial, kuat sekali tenaganya," batin Henry sambil memegangi bibirnya.
Meski telah kasar tapi ia merasa kasihan kepada CEO Sanjaya Group itu terluka akibat perbuatannya.
"Maaf, aku ambilkan kotak P3k nya." Nia mencari kotak P3K di samping tembok. Henry mengamati Nia dari belakang. Dengan cekatan Nia mengoleskan alkohol ke kapas.
"Diam jangan bergerak, aku akan mengobati lukamu!" Nia menekan bahu Henry agar duduk di sofa.
"Eh…." Nia terkejut saat Henry menarik tangannya, jadilah ia duduk di pangkuan Henry.
"Jangan bergerak atau teriak," bisik Henry. Nafasnya sudah terdengar memburu.
"Jangan macam-macam, cepat mana bibirmu yang terluka!" Nia tidak mau terbuai oleh Henry. Ia mengalihkan perhatian pria mesum itu agar tidak berbuat lebih.
"Apa kamu benar ingin mengobatiku ataukah hanya ingin berdua denganku?" Alis Henry naik sebelah. Nia sebal mendengus kesal. Tangannya sudah siap menonjok lagi, tapi ia menyambar air putih dimeja dan...
Byur…Disiramnya muka Henry dengan air putih di mejanya. Kini wajah dan baju Henry basah kuyup.
"Awas kau!" batin Henry. Apa jadinya dia dipermalukan oleh gadis kecil yang ditemui di hotel beberapa hari yang lalu.
"Kamu hanyalah jal*ng, beraninya kau!!" Wajah Henry memerah tajam.
"Itu akibatnya kamu tidak bisa menghargai perempuan," desis Nia pelan. Rahangnya mengeras merasa disindir Nia. Secepat kilat ia menyambar Nia kepelukanya. Henry memeluk erat Nia, tanpa bisa menghindar, Nia hanya bisa mematung apa yang terjadi dengan Henry. Tiba-tiba memeluknya, jangan-jangan mau berbuat asusila lagi? Nia berusaha memberontak.
__ADS_1
"Jangan menolak, tetaplah seperti ini!" Terdengar deru nafas Henry menghirup bau tubuh Nia begitu pula dengan Nia, hidungnya masih hafal dengan bau parfum Henry kala itu, masih sama dan aromanya menenangkan.
"Hallo say…." Seseorang membuka pintu ruang Henry, dengan tampilan glamour, terlihat sekali wanita bukan kalangan biasa. Melihat Henry sedang memeluk Nia, reaksinya hanya biasa saja. Nia tidak tahu bila ada dua mata yang sedang mengawasi dari belakang. Henry menatap wanita itu dengan tatapan kemenangan