
Nia masih diam mematung.
"Nona,bisakah Anda mengikuti saya?" Leo berjalan ke mobilnya.
"Aku bawa motor."
"Biarlah, nanti saja biar diambil sama orang Tuan Henry."
"Mau kemana sih??" tanya Nia namun masih berdiam di dekat motornya.
"Mari ikut saja." Leo tidak mau berterus terang, apalagi ini merupakan pesan Henry untuk merahasiakan kemanakah Nia akan diajak pergi.
"Aku tidak mau." Leo menghentikan langkahnya, ia menggelengkan kepala betapa kerasnya istri bosnya itu. Kesal juga hatinya namun ia tetap melemparkan senyum sangat terpaksa untuk Nia.
"Nona, saya mohon, saya hanya melaksanakan tugas." Nia menatap Leo kesal namun perkataannya benar, tidak seharusnya Nia kesal kepada asisten suaminya.
"Ya sudah, aku kasihkan kuncinya ini ke Lilis dulu."
"Baiklah, aku tunggu disini."
Dengan langkah seribu, Nia segera mencari keberadaan Lilis.
"Akhirnya kamu ketemu juga," kata Nia bernafas lega akhirnya Lilis ketemu juga di toilet wanita.
"Ada apa lagi??" tanya Lilis menatap heran.
"Titip motor, bawa saja ke kosanmu deh." Nia menjatuhkan kunci motornya di telapak tangan Lilis.
"Aku mau langsung ke rumah calon majikanku."
"Kalau gitu, kamu bawa saja motorku ke sana."
"Kamu mau kemana??" Teriak Lilis namun Nia tidak menjawabnya.
Lilis pun keluar dari kamar mandi.
Bruk…!!
Tanpa disangka tanpa diduga, Lilis menabrak pintu kamar mandi.
"Nakal banget sih kamu." Lilis memegangi jidatnya yang terantuk pintu.
[Lis, cepat datang aku tunggu.] Sebuah pesan masuk di gawai Lilis.
[Baik Bu.] la membalas pesan tersebut dari salah satu kepala di rumah mewah tersebut. Gegas Lilis berjalan mengendarai sepeda motor Nia ke alamat yang sudah diberitahukan sebelumnya.
__ADS_1
"Semoga kali ini bisa betah," ucap Lilis ditengah perjalanan. Ia berharap diterima dan bisa tinggal disana sekalian.
Semenatara itu Henry terus saja gelisah di kantornya.
Kring…gawainya berbunyi. Ia melirik sekilas. Terpampang jelas Mamanya yang menelpon saat ini.
"Halo, Ma," ucap Henry dibalik telepon.
"Halo, Henry. Mama akan sampai sekitar sejam lagi, kamu datang ya?"
"Iya Ma, aku akan datang." Akhirnya Henry menyerah menghadapi mamanya.
Mayda mematikan teleponnya. Kemudian ia memasukkan ponsel ke tasmya kembali.
"Akhirnya aku bisa menghirup udara kota ini lagi." Memang sedikit lebay wanita berusia hampir setengah abad itu. Padahal ia baru pergi dari kota ini sebulan yang lalu. Namun rupanya sudah kangen dengan kota kelahirannya. Bila saja bukan karena bisnis keluarga Sanjaya yang ia pegang sejak mendiang suaminya meninggal, Mayda memilih untuk bergabung dengan kawan-kawannya kongkow di kafe atau arisan untuk ajang pamer kekayaan. Keadaanlah yang membuatnya harus berjuang. Apalagi sebulan di London ia mendapatkan kabar bahwa Sanjay Grup sedang oleng. Mayda harus kembali lagi kesini untuk membantu Henry menyelesaikan masalah tersebut.
"Pak, kita langsung pulang saja," titahnya kepada sopir di depannya.
"Baik Bu." Selang beberapa detik kemudian, mobil pun sudah berjalan meninggalkan bandara. Dengan kepercayaan diri yang tinggi Mayda memasangkan kacamata tukang pijatnya. Meski sudah hampir setengah abad dan rambutnya sudah banyak yang memutih, kecantikannya seakan tidak mau luntur. Mayda tetaplah menantu Sanjaya yang paling disayang. Apalagi oleh Kakek Sanjaya. Bahkan sang kakek pun cukup tunduk kepada mantan menantunya. Karena meski hanya menantu, Mayda sangat cerdas. Dengan modal tersebut, Mayda tidak diperbolehkan menempati rumahnya dan tetap menjadi bagian dari Sanjaya group.
Tibalah mobil sebuah pelataran yang luas. Mayda segera turun menemui Kakek Sanjaya.
"Mayda, bagaimana kabarmu??" Kakek Sanjaya berdiri di depan pintu. Ia tahu bahwa mantan menantunya akan datang.
"Aku betah disini, Pa." Tak lupa Mayda mencium tangan mertuanya.
"Ya begitulah, Pa. Semuanya lancar namun aku dengar Henry sedang mengalami masalah??" Kakek Sanjaya menatap lurus ke jendela luar.
"Ya benar, perusahaan Henry memang sedikit mengalami kemunduran." Mayda menarik nafas panjang. Belum genap setahun Henry menjadi pengganti Kakek Sanjaya namun dalam sebulan terakhir ini perusahaan mulai mengalami kemunduran.
"Apakah anakku masih sama, Pa??"
"Ya, begitulah, hanya saja sejak ia menikah Henry tidak lagi melakukan rutinitasnya."
"Apa?? Henry menikah?" tanya Mayda dengan mimik serius.
"Apa Henry tidak memberitahumu??" Mayda menggeleng. Memang hubungan keduanya tidak seakrab Mayda dengan Hanson, adik Henry yang sekarang memilih jalan sebagai dosen mengabdikan diri di sebuah universitas kota ini. Meski begitu, Henry tetep menghormati Mayda.
"Astaga, anak itu memang mirip seperti ayahnya." Kakek Sanjaya menyeruput susu jahe kesukaannya.
"Apakah ia masih bersama Alena??" Setahu Mayda, sebelum ia berangkat ke London sebulan yang lalu. Ia berencana menjodohkan Alena dengan Henry. Kelihatanya Alena juga suka dengan Henry sejak lama.
"Apa kamu kecewa, May?" tanya Kakek Sanjaya menatap Mayda di depannya.
"Seperti apakah istri Henry itu, Pa?" tanya Mayda lagi.
__ADS_1
"Entahlah, ia belum mengenalkan kepadaku, tapi aku dengar ia kalangan biasa."
"Kenapa Henry bodoh sekali?" Dengus Mayda kesal namun ia hanya berani bicara begitu di dalam hati.
"Baiklah Pa, apakah Henry juga akan kesini??" Kakek Sanjaya menoleh arlojinya. Ia tadi sempat telepon cucu kesayangannya. Sebenarnya Mayda juga mengabarkan kedatangannya.
"Mungkin dia baru dalam perjalanan."
Di jalanan yang padat akan kendaraan, Henry terus saja menyetir tanpa henti meski lambat tapi beruntunglah tidak macet.
"Semoga saja Mama belum datang, "kata Henry dalam hati sambil terus tangannya memegang handphone, mengontak Leo.
Tut …
Tut …
Tut….
Nada sambung khas Leo terdengar namun tak kunjung diangkat oleh sang pemiliknya.
"Ayo Leo, angkatlah," bisik Henry. Ia yakin pasti Leo sedang membujuk Nia.
"Halo,Tuan." Akhirnya Leo mengangkat teleponnya juga, sedari tadi ia baru berhasil mengajak Nia masuk ke mobilnya.
"Jangan sampai terlambat,Nia harus kamu permak dulu."
"Siap Tuan." Leo menutup teleponnya.
"Leo, kita ini mau kemana?? Kenapa sih kalian itu selalu kucing-kucingan terus dengan aku??" Cibir Nia kesal.
"Ya karena kamu susah dibilangin." Leo malas terus bersikap formal kepada gadis kemarin sore yang kebetulan menjadi istri kontrak bosnya.
"Lagian kalian juga susah ditebak." Bukan Nia namanya kalau mudah mengalah, apalagi Henry adalah orang yang paling berbuat kesalahan dalam hidup Nia. Penghancur sekaligus penyelamat keluarga Nia.
"Diam saja, kepalaku bisa langsung meletus kalau tiap hari dengar ocehanmu." Leo menatap kesal ke spion mobilnya. Terlihat Nia memajukan bibirnya. Dia jadi teringat adiknya yang dikampung.
Mobil Henry telah memasuki parkiran Kakek Sanjaya. Ia melihat satpam menutup pintu gerbangnya.
"Apakah Nia sudah sampai duluan??" Henry memperhatikan bahwa di parkiran sebelah ada sepeda motor mirip milik Nia yang dipakai ngampus tadi pagi.
"Ah, kenapa aku malah kepikiran gadis itu. Pastilah dia memilih untuk pergi dengan motor daripada dengan mobil.
"Kampungan," ucap Henry seraya masuk.
"Nah, itu dia baru datang." Kakek Sanjaya berdiri menyambut kedatangan cucunya. Mata Henry tidak tertuju kepada kakek dan mamanya. Ia justru mencari keberadaan Nia.
__ADS_1
"Hen, kamu mau kemana?" tanya Mayda melihat Henry terus melangkah masuk. Ia yakin sekali itu motor Nia.