Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry

Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry
Bab 12. Latihan Anggun


__ADS_3

"Leo, sampai kapan aku harus mempersiapkan semua ini??" tanya Nia sibuk memakai high heels. Berkali-kali ia mencoba namun tetap saja oleng ketika berjalan. Kakinya hampir lecet.


"Ingat ya, nanti jalannya harus anggun." Nia memperhatikan Leo dan mendesah.


"Kenapa??" tanya Nia mimik heran, ah bukan tapi malas.


"Karena Nyonya Mayda suka dengan wanita anggun." Kembali Nia menggaruk tengkuknya. Bagaimana bisa ia berjalan seperti model catwalk sedang sehari-harinya saja ia begitu tomboy. Walau tomboy namun tetaplah ia Varenia yang cantik dan berpipi chubby.


"Kalau tahu diajak ke tempat beginian, mending deh nggak sudi," gerutu Nia saat di make over oleh Nine, MUA cowok yang bergaya centil kebetulan merupakan kawan dekat Henry.


"Aduh Sist, jangan geleng-geleng terus dong, nanti eke syusah mau pasangin bulu matanya," ujar Nine dengan menjentikkan jarinya. Nia hanya menatap kesal kepada Nine dan Leo.


"Alah, nggak usah kasih bulu, nih bulu ketek gue udah panjang."


"Idih, masak cewek bulu keteknya lebat sih, sini Nine kasih tahu biar nggak bau asyem lagi."


"Nggak usah, cepetan aja deh, tapi gue nggak mau pakai bulu mata!" Nia menyahut dengan galak.


"Ya udah, eke ganti bulu ketek eke, mau??" Nine memperlihatkan bulu keteknya. Terlihat bulu ketiak Nine yang masih asri. Leo sejak tadi menjadi pendengar setia diantara perdebatan mereka hanya tersenyum simpul.


"Wuekk…ogah, mau pingsan tahu." Nia menutup hidungnya.


"Kagak bau kalik, eke rajin…." Nine tidak terima dikatain keteknya bau padahal dia setiap hari sudah perawatan.


"Eh, kok lipstiknya dihapus sih?" Nine protes hasil riasannya dihapus begitu saja oleh Nia.


"Kaya habis minum darah, jijjk tahu." Nia terus mengusapkan tisu di bibirnya.


"Tap-"


"Leo, aku sudah selesai." Nia memotong perkataan Nine sebelum ia kelewatan ngoceh lebih panjang kali lebar.


"Kenapa dihapus riasanya??" Leo ikutan bertanya.


"Aku sudah cantik tanpa lipstik," jawab Nia penuh percaya diri. Leo mengangkat alisnya dan Nia mengangguk pertanda bahwa dia baik-baik saja tanpa lipstik dan hanya mengenakan lipgloss saja bibir Nia sudah merah.


"Yups, kita segera berangkat." Leo mengambil kunci mobilnya dan hendak berjalan.


"Eh, wait, dulu lah, jadi nggak pakai bulu mata yang cetar begini??" Nia menggeleng. Nine menatap kecewa.


"Cantik sih emang namun tomboy. Semoga saja Henry bisa love sama cewek itu." Nine bicara sendiri setelah Leo dan Nia tidak ada. Nine menutup pintu salonnya dan melanjutkan aktivitas manicure pedicure.

__ADS_1


Nia masuk mobil. Seperti biasa gaya duduknya tidak pernah berubah meski ia saat ini memakai dress selutut warna navy dipadu dengan rambutnya digerai sebahu serta lipgloss membuat penampilan Nia berbeda.


"Leo, apakah kamu akan menjualku?" tanya Nia dengan takut. Ia pernah nonton berita tentang perdagangan manusia.


"Apa katamu, Nona?" Leo menatap tidak senang dengan pertanyaan yang Nia lontarkan.


"Mau kemana kita??" Nia mengalihkan pertanyaan saat melihat asistennya tidak suka dengan pertanyaan yang ia ajukan baru saja.


"Kurang jelas kah??! Sesuai perintah Tuan Henry, ia memintaku untuk membawamu ke kediaman kakeknya." Leo tidak mampu menyimpan rahasia Tuannya lama-lama.


"Kakek??" Nia terheran, jadi selama ini suaminya masih mempunyai kakek.


"Iya." Leo kembali fokus ke jalanan.


Benar-benar aneh, tentang keluarga suaminya saja ia tidak tahu. Namun ia berusaha memberikan yang terbaik untuk Henry. Sebenci apapun, Henry adalah suaminya sekarang.


Dikediaman Sanjaya


Henry terus memanggil nama Nia membuat Mayda merasa aneh.


"Siapa Nia, Pa?"


"Menurut informan Papa, itulah istri Henry," kata Sanjaya mendekati mantan menantunya. Mayda mengangguk paham.


Henry melangkahkan kakinya ke dapur. Padahal ia sangat yakin Nia sida ada di sini, namun apa boleh dikata, Nia memang belum datang.


"Terus itu motor siapa??" Henry bertanya dalam hati.


"Hen, Mama ingin tahu istrimu katanya kamu baru menikah??" tanya Mayda menghampiri Henry duduk di meja makan keluarga Sanjaya.


"Mau apa sih, Ma??" Henry menjawab tidak senang.


"Ya mau tahu aja, seperti apa sih pilihanmu," kata Mayda membenarkan rambutnya. Henry menghirup udara kemudian menghembuskan lewat mulut.


"Nanti Mama juga tahu." Ia melanjutkan minum air putih yang sudah ia tuangkan sebelum mamanya menyusul.


"Kenapa kamu tidak tertarik dengan Alena lagi??" Henry menghentikan minum dan menatap Mayda.


"Aku tidak pernah berkata kalau aku mencintai Alena," jawab Henry.


"Tapi bukankah lebih baik kalian itu menikah secepatnya?" ungkap Mayda.

__ADS_1


"Kamu tahu, Alena itu sangat kaya, jadi walaupun kamu nggak jadi CEO di Sanjaya Grup, kamu masih bisa berkesempatan menjadi CEO Alan grup," jelas Mayda berapi-api.


"Aku tidak tertarik jabatan seperti itu, Ma." Henry mengupas apel merah di depannya.


"Hen, dengerin Mama. Mama nggak mau kamu menderita nanti setelah Kakek menendangmu dari posisi CEO nya bukan tidak mungkin kamu akan menjadi gembel, Hen," kata Mayda dengan gemas. Tangannya sibuk mengelus pundak Henry.


"Terus menikah dengan Alena bisa menjadi tempat pelarianku, begitu maksud Mama??" tanya Henry.


"Ya, lagipula apa salahnya Hen, Alena itu kan juga cantik."


"Cantik dan kaya itu nggak akan cukup, Ma. Aku tidak pernah tertarik dengan Alena," jawab Henry seraya meninggalkan mamanya sendiri di ruang makan.


"Dasar susah diatur! Dua anak sama saja, nggak ada yang bisa nyenengin orang tua," ujar Mayda meremas taplak meja makan.


Mobil yang dikemudikan Leo telah memasuki kompleks mewah dimana keluarga Sanjaya tinggal.


"Rumahnya disini??" tanya Nia takjub melihat deretan rumah mewah berjajar rapi di pinggir jalan dengan rapi.


"Bukan, tapi di bawah jembatan." Leo menjawab seadanya. Dalam hati Nia merasa geli, Leo yang dingin bisa melucu meski tidak begitu lucu.


"Terserah kamu sajalah, Leo." Nia menata kembali rambutnya.


Tin…


Terlihat satpam membukakan gerbang. Terpampang rumah mewah dengan gaya klasik dengan dua pilar mewah di depan.


"Kita sudah sampai," ujar Leo memarkirkan mobilnya.


"Ah, itu mereka sudah datang," kata Henry menghampiri Leo dan Nia ke mobil.


"Halo, Sayang." Henry langsung menuju ke arah Nia. Dalam hati Nia, merasa muak harus bersandiwara.


"Sayang??" tanya Nia berbisik di telinga Henry, membuat suaminya itu menoleh seraya menebarkan senyum namun bukan senyum tulus.


"Aw…!!" Henry meringis kesakitan sambil mengangkat kakinya sebelah. Ternyata Nia sengaja menginjak Henry dengan high heelsnya dengan keras.


"Ops, maaf Sayang, aku nggak sengaja," ucap Nia pura-pura sedih, jangan ditanya lagi, dalam hati ia bersorak gembira melihat Henry kesakitan apalagi ia tidak sedang memakai sepatu.


"Awas kamu!!" rutuk Henry menatap tajam Nia. Sedang Nia hanya cengengesan terus berpura menolong Henry.


"Kamu sudah datang??" Tiba-tiba Mayda sudah berdiri di dekat mereka. Tahu bukan waktunya dekat dengan bosnya. Leo sengaja menjauh ke pos satpam.

__ADS_1


Nia menoleh ke asal suara tersebut.


"Mama ngapain disini??" tanya Henry tidak suka. Hati Nia mendegup kencang melihat sosok wanita yang disebut oleh Henry dengan Mamanya. Demikian juga dengan Mayda. Matanya tak kalah membulat melihat siapa yang telah menjadi istri Henry.


__ADS_2