
Leo tidak bisa menyembunyikan tawanya. Ia bahkan bisa tertawa lepas.
"Sudah jangan meledekku," ucap Henry memukul bahu Leo perlahan.
"Jangan sentuh aku, Tuan," kata Leo sengaja dibuat manja.
"Leo!! Aku jijik mendengar suaramu." Henry memalingkan pandangannya.
"Tuan, apakah ada yang seperti itu?" Leo mengerlingkan matanya.
"Ah, kamu ini, sudah jangan mulai lagi."
Kring
Ponsel Leo kembali berdering tapi sesaat kemudian ia meletakkannya kembali.
"Kenapa tidak diangkat??"
"Dari orang tuaku, malas rasanya." Henry menatap asistennya dengan seksama.
"Itu lebih baik," celetuk Henry.
"Apa maksudmu, Tuan?? Aku tidak mau dijodohkan."
"Sudah kubilang itu lebih baik daripada kamu jomblo sejati. Apalagi sebentar lagi musim hujan, pasti dingin," kata Henry sedikit berbisik.
"Ogah," jawab Leo datar.
"Lanjutkan saja Tuan akan bercerita apa??" Leo mengalihkan pembicaraan, mengingat dirinya diundang Henry untuk curhat bukan sebaliknya.
"Bagaimana kamu akan memberiku solusi, jika kamu sendiri saja belum pernah berhubungan dengan wanita." Henry masih betah untuk menggoda asistennya.
"Aku dulu pernah pacaran," ujar Leo tidak terima dengan ucapan Tuannya.
"Ah, bodo amat, wanita memang sulit dimengerti." Henry kembali menimpali.
"Wanita mana yang ingin dimengerti oleh Tuan Henry??" Wajah Henry memerah.
"Sudahlah, jangan dibahas, aku tidak percaya jomblo." Leo mendengus kesal. Datang kesini malah menambah beban hatinya saja.
"Kalau begitu, aku pulang saja."
*
__ADS_1
Keesokan harinya seperti biasa sebelum berangkat ke kantor Henry sarapan dulu.
"Bi, Nia mana?"
"Nggak tahu, Tuan, mungkin masih di kamarnya," jawab Bibi sambil membawakan teh hangat dan biskuit buatannya untuk Henry.
"Ya sudah, bisa minta tolong panggilkan, Bi."
"Baik, Tuan." Bibi pun naik ke kamar Nia dilantai atas.
"Mbak Nia." Bibi mengetuk pintu namun tidak dijawab.
Kriet…
Mata Bibi membelalak melihat kamar Nia kosong melompong, bahkan tempat tidurnya sudah rapi.
"Tuan!! Tuan!!" Bibi pun memanggil Henry dari atas.
"Ada apa, Bi??" tanya Henry beranjak dari duduknya.
"Anu itu…" ucap Bibi sambil menunjuk ke arah kamar Nia.
"Ada apa??" Henry terlihat panik, ia ikutan naik ke kamar Nia.
"Itu nggak ada dikamarnya." Henry langsung berlari membuka kamar Nia. Beneran, Nia tidak ada dikamarnya.
"Kemana dia??" gumam Henry lirih. Apakah Nia beneran marah??
Tanpa menunggu Bibi, Henry pun segera turun dan menyalakan mobilnya. Tujuannya adalah ke tempat tinggal Nia dahulu.
"Bu, rumah ini ada penghuninya??" tanya Henry basa-basi setelah sampai di depan rumah Nia.
"Oh, rumah Pak Wardiono, kelihatannya enggak ada, Mas. Katanya pulang kampung," jawab ibu-ibu berdaster bunga.
"Jadi begitu, apakah dengan anaknya juga??"
"Kurang tahu ya, Mas, tapi Nia nggak pernah kelihatan lagi."
"Terima kasih, Bu." Hemry pun segera berlalu dari sana.
"Bikin susah aja!" gerutu Henry membelokkan mobilnya ke kantor.
"Ada apa Tuan, masalah dengan istri atau dengan Febiana??" Leo langsung bertanya ke titik masalah.
__ADS_1
"Kamu cari dimana Nia sekarang." Leo menatap Henry lama.
"Cari kemana??"
"Gue lempar sepatu deh, kalau aku tahu nggak bakal minta bantuan kamu, Leo!"
"Jadi kemarin itu ada masalah dengan Nia??" tanya Leo mengangguk baru sadar yang dibicarakan semalam itu Nia padahal ia mengira itu Febiana, cewek manja peliharaan bosnya.
Semalam sebelum Nia pergi dari rumah Henry.
Menjelang jam 10 malam, Nia malah terjaga.
"Jadi aku tadi tertidur??" Ia menyingkapkan selimut. Teringat akan tanda yang berada di leher Henry tadi sore.
"Astaga, kenapa sakit begini ya, apa aku beneran jatuh cinta dengan Henry itu??" tanya Nia dalam hati.
"Selama disini, aku tidak pernah merasa tenang, apa sebaiknya aku pergi saja dari sini??"
Kemudian Nia pun berkemas. Sebelumnya ia menghubungi Lilis dahulu.
"Lis, kamu di kosan apa dirumah bosmu?" tanya Nia dari balik telepon.
"Dirumah bos."
"Boleh aku numpang ke kosanmu??" Kebetulan kosan Lilis baru akan habis akhir bulan ini.
"Boleh saja, kamu datang saja, lagipula barangku juga masih disana." Nia pun menutup teleponnya dan bersiap-siap pergi.
Dengan sedikit mengendap mirip seorang maling amatiran, Nia berusaha kabur sekarang juga. Ia sudah memesan ojek online terlebih dahulu. Sebenarnya ia takut ketahuan namun begitu mendengar suara Henry dan Leo. Nia yakin mereka sedang mabuk padahal mereka hanya bercerita namun sedikit konyol jadi kadang tertawa bersama. Usaha Nia berjalan mulus.
"Mbak Nia," kata ojek online itu ketika melihat Nia keluar dari gerbang.
"Iya, saya." Nia menerima helm dari Kang ojeknya dan menuju ke kosan Lilis.
"Maaf Ayah, aku belum bisa mengunjungimu," ucap Nia dalam hati. Ia sangat merindukan ayahnya. Meski jarang mengunjungi ayahnya, Nia tidak ketinggalan kabar terbaru tentang ayahnya. Ia sering video call ataupun sekedar bertanya kepada dokter yang menangani ayahnya. Semuanya karena Henry.
"Ayah cepat sembuh, ya," ucap Nia dalam hati.
"Sudah sampai, Mbak."
"Terima kasih, Mas." Nia segera masuk ke kamar Liliss setelah meminta kunci kepada ibu kos. Meski bukan penghuni situ, namun atas permintaan Lilis, Nia bisa mendapatkan kunci. Air mata Nia mulai bergulir kembali.
"Ah, kenapa aku jadi bodoh begini." Nia memeluk lututnya dan duduk tersipu di lantai.
__ADS_1