Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry

Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry
17. Kiss Mark


__ADS_3

Wanita itu semakin memejamkan matanya. Beberapa kali ia memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya.


"Keluarkan suara seksimu, Sayang. Aku rindu." Henry semakin beringas menyerang lawannya.


"Hemmm…mmmhh." Ia sudah tidak sanggup berkata apapun lagi bibirnya sudah disumpal oleh Henry.


"Cepat Sayang, jangan siksa aku begini." Ia terus menjambak rambut Henry. Tangan Henry bergerak ke area bawah. Dengan lihai ia pun membuka resleting celana gadis itu.


"Ahh… Sayang," ucapnya parau tidak jelas.


Tok


Tok


Tok


Pintu ruangan Henry diketuk oleh seseorang. Seketika itu mereka menghentikan permainannya. Ada raut kecewa di wajah gadis ayu tersebut.


"Maaf," ucap Henry seraya merapikan kemeja yang berantakan begitu pula gadis tersebut sibuk membenahi gaunnya. Beruntunglah Henry masih bisa mengendalikan hawa nafsunya.


"Masuk," kata Henry berlagak sedang memeriksa dokumen. Ternyata sekretarisnya Henry.


"Dila, ada apa?" tanya Henry basa-basi. Dila melirik sekilas gadis tersebut. Dia tahu, gadis itu sudah beberapa kali singgah ke kantor Henry dan sudah seperti rumahnya sendiri. Ia datang sesuka hatinya. Dila tidak mau tahu terlalu jauh apa hubungan gadis itu dengan Bosnya.


"Ada komplain mendadak dari klien, Pak." Henry mengangguk paham.


"Baiklah, berikan saja berkasnya kepadaku dan aku akan segera memeriksanya."


"Saya pamit, Pak." Dila pun keluar dari ruangan Henry. Kembali gadis itu dengan nakal mendekati Henry dan mengecup tengkuk Henry.


"Shh…." Begitulah ******* Henry. Merasa kembali mendapatkan lampu hijau, tangan gadis itu semakin berani.


"Febi, aku sedang sibuk, bisakah kau keluar dari sini?" pinta Henry dengan nada lembut. Febi meliriknya sekilas. Terlihat ia sebenarnya kecewa diusir secara halus oleh Henry.


"Aku akan segera mengirimkan ke rekeningmu." Henry hafal apa yang diinginkan gadis muda yang masih tengah mengenyam bangku kuliah.


"Okelah, tapi nanti datang??"


"Aku tidak bisa janji, tapi aku usahakan."


"Oke, makasih Sayang," ucapnya sambil mengecup leher Henry sambil membuat kissmark disana.


"Oke," jawabnya cuek.


Febiana pun berlalu dari ruangan Henry sambil berdendang, waktunya ia shopping bareng teman-temannya.


"Dih, seneng banget, lu dapat berapa sih??" tanya Novi sambil meneguk jus jambu di depannya.


"Mayan deh, 10 juta."

__ADS_1


"Gila, main berapa jam??"


"No, enggak sama sekali, tapi gue jadi ketagihan tauk."


"Ah, gampang, cari aja yang lain," kat Novi memberikan saran.


"Ogah, kalau gue cari yang lain mana ada yang seperti Henry. Tajir, ganteng, ya meski kadang koret juga sih," ujar Febiana tertawa.


"Lu kayaknya nyaman banget ya sama dia?" tanya Novi penasaran.


"Yap, lu bener, bener-bener bikin gue merem melek, Nov."


"Dih, liatin mana fotonya kalau beneran ganteng??" Febiana menggeleng.


"Gue gak boleh simpan foto dia, kalau ketahuan bisa mati dong gue." Febiana bergidik ngeri. Karena ia tahu siapa sebenarnya Henry. Ia sudah menemai malam panjang Henry kurang lebih selama 4 minggu ini.


"Jadi penasaran seberapa gantengnya doi."


"Gak usah ngayal, lu nikmatin aja sama om-om yang botak dan gendut itu." Febiana pun tertawa ngakak.


"Njir, sialan lu," kata Novi menimpuk Febiana pakai tas mungilnya.


"Gak papa kali, yang penting kita bisa nongki di tempat kek begini daripada di kosan terus." Novi mengangguk setuju dengan pendapat Febiana. Mereka bukanlah anak orang kaya. Hanya saja karena pekerjaan sampingan mereka, jadi bisa tampil up to date hingga tidak ada yang berani meremehkan mereka. Bahkan Novi sudah bisa membeli mobil dari hasil 'sampingannya'.


"Tapi gimana sama Mr. Hanson??" Tiba-tiba Novi mengalihkan pembicaraan.


"Gue masih berharap, gue bisa dekat." Febiana menerawang jauh. Tak bisa dipungkiri sebenarnya dalam hatinya ia ingin tumbuh seperti gadis pada umumnya. Namun sekali lagi, keadaanlah yang memaksa ia harus bertahan di kota besar yang tidak pernah ramah kepada siapapun. Yang memiliki uang  merekalah yang akan hidupnya enak.


"Eh, udah yuk, cari baju sama sweater katanya lagi ada diskon." Febiana menarik tangan sahabatnya.


"Woi sabar donk, cewek modal diskon," ujar Novi mengikuti sahabatnya.


*


"Nia, pulangnya aku antar saja," kata Hanson mensejajari Nia berjalan.


"Nggak usah, aku bisa pesan ojek online saja." Nia merasa tidak enak harus merepotkan dosen sekaligus adik iparnya yang paling baik sedunia, itu kata Nia.


"Yakin nih, nolak??" Hanson melirik kearah Nia.


"Lain kali saja deh."


"Oke, aku tahu kamu istri yang setia." Hanson pun meninggalkan Nia dan melangkah ke parkiran.


Sepuluh menit kemudian, ojek online pesanan Nia datang.


"Dengan Mbak Varenia??"


"Oke, benar." Nia pun menerima helm dari sang driver dan bersiap naik.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Mas." Ia memberikan uang sekaligus sedikit tip untuk babang driver.


"Mbak, ini kebanyakan loh," kata Babang ojek merasa uang yang diberikan Nia kebanyakan.


"Udah buat Abang saja, syukuri itu rejekinya Abang." Nia.pun melambaikan tangan dan masuk.


"Weh, Mbak Nia udah pulang," sapa Bibi.


"Iya, Bi. Aku langsung mandi ya." Segera Nia menaiki tangga dan membuka kamarnya.


Hari ini baru pukul lima sore hari namun karena suasana sedang mendung maka sudah terlihat gelap. Sambil menunggu makan malam siap, Nia menyalakan televisi dan menikmati drama korea kesukaanya. Kebetulan ia sedang menonton drama  yang sedang hits, pemain laki-lakinya sangat mirip dengan suaminya, Henry. Tanpa disadari Nia pun sudah senyam-senyum sendiri.


"Mbak Nia kenapa??" Bibi sengaja berbisik lembut di telinga Nia. Ia pun berjingkat kaget.


"Eh, ah…nggak kok, makan malam udah siap??"


"Alah nggak usah bohong, bilang saja kalau Park Hyung Sik ada kemiripan dengan Tuan," goda Bibi mengerlingkan sebelah matanya. Nia heran juga, Bibi ternyata hafal dengan nama aktor korea.


"Bibi hapal ya??"


"Bukan sih, cuma sewaktu nonton drama itu kok mirip Tuan, gitu aja."


"Hehe, nggak usah disamain nanti malah geer. Kalau kebesaran kepala susah nanti dikirain bola, bisa aku tendang."


"Jangan galak sama suami," kata Bibi mengingatkan.


"Hhaha, udahlah Bi, aku bantuin nyiapin makan malamnya." Aku bangkit dari duduk menggandeng Bibi masuk dapur.


Tepat jam 7 kurang sepuluh menit. Mobil Henry memasuki rumah.


"Nah, itu Hyung Sik datang," goda Bibi lagi.


"Biarin aja," sahut Nia cuek.


"Eh, jangan begitu, bukain pintunya." Bibi memberikan arahan kepada Nia.


"Males Bi."


"Nggak boleh gitu, kalau keras jangan diadu keras. Mbak Nia harus sedikit mengalah, rumah tangga itu harus saling terbuka bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang kuat." Nia berjalan ke pintu. Daripada mendengar ceramah dari Bibi lebih baik Nia pun segera membuka pintu.


Kriet


Pintu pun terbuka, Henry segera masuk. Ia terlihat sangat lelah hari ini.


"Lelah?" tanya Nia lembut.


"Iya," jawabnya singkat. Ini mungkin momen pertama Nia dan Henry tidak bertengkar bila sedang bertemu dan tidak di depan kakek serta mamanya. Niatnya ia ingin memberi minuman kepada Henry yang letih.


Tidak sengaja mata Nia memandang Henry yang terlelap di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Apa ini??" Nia pun mengelus seperti bekas merah di leher Henry. Setelah ia melihat lebih dalam, ternyata itu kiss-mark. Tangan Nia mulai mengepal.


__ADS_2