
Sengaja tidak memberitahu Nia terlebih dahulu. Lilis langsung mengarahkan Mobil Leo untuk menuju ke kos-kosannya. semuanya Lilis pikir agar cepat beres dan mereka bisa bersama dan tentu saja tidak terus-menerus membebani pikiran Lilis.
sekitar 1 jam dari kampus mereka sudah sampai di depan kos-kosan. Langsung saja Lilis menyuruh Leo untuk turun.
"Ah, tidak, lebih baik kamu saja yang turun aku di dalam sini." Dahi Lilis berkerut.
"Ko begitu?"
"Iya, nanti aku takutnya Nona Nia malah nggak mau keluar." Lilis berdecak. Mereka tidak berubah. Masih saja memanggil Nia dengan sebutan Nona. Padahal kelihatannya sedang marahan tetapi panggilan itu tetap tersemat. Lilis jadi berandai-andai jikalau dia suatu saat nanti juga menemukan pasangan yang seperti mereka berdua.
"Heh, Lis, ayolah cepat turun," titah Leo karena sedari tadi hanya melihat Lilis tersenyum tidak kunjung turun.
"Idih, jangan galak-galak gitulah, nanti Nia kabur lagi," ucap Lilis cengengesan.
"Udah, gue tunggu kabar baiknya, pokoknya lo turun dan bawa Nona Nia kemari." Leo mendorong tubuh Lilis agar cepat turun dari mobilnya.
"Ingat ya, pajaknya jangan dilupakan, kalau udah baikan sama Nia." Lilis teringat belum memalak Leo apapun.
"Iya, cepat sana jangan bawel."
__ADS_1
Lilis mengacungkan jempol dan berjalan ke lantai dua mengetuk pintu kosannya. Ia membutuhkan waktu lumayan lama untuk naik, karena di tangga masih bertemu dengan teman-teman di kosannya, Lilis cukup supel.
"Nia, bukain pintunya, ini aku Lilis," kata Lilis mengetuk pintu.
"Kamu datang sama siapa?" Sebelum membuka pintu Nia terlebih dahulu memastikan jika Lilis hanya datang sendirian saja.
"Sendirian, Nia, kebelet pipis, ayolah buka cepat," imbuh Lilis lagi. Iaa celingukan ke samping kanan dan kiri untuk memastikan jika Leo masih tetap bertahan di dalam mobil dan tidak turun.
Nia yang baru bangun dari tidurnya merasa malas untuk membuka tetapi karena yang datang adalah Lilis, sang pemilik kamar. Mau tidak mau Nia terpaksa membukakan pintu untuk sahabatnya.
"Kamu bolos kerja?" Nia mengeluarkan separuh tubuhnya. Ia tudak mau persembunyiannya diketahui oleh Henry maupun Leo.
"Udah ah, aku ini hampir ngompol loh." Lilis langsung menerobos masuk begitu saja melewati Nia yang sedang bengong sibuk dengan alur pikirannya sendiri.
*
"Emangnya kamu lagi ada masalah, Nia?" tanya Lilis menatap mata sahabat karibnya tersebut.
Nia menoleh kepada Lilis yang tengah sibuk memasukkan kue pukis ke dalam mulutnya, sisa sarapan Nia tadi pagi.
__ADS_1
"Kamu datang ke sini bukan karena ada yang mencariku 'kan?" tanya Nia penuh selidik. Entah dalam hati kecilnya, Leo ataupun Henry pasti tengah mencari dirinya. Hampir saja Lilis tersedak.
"Emang siapa yang yang mencari kamu? Bukannya ayahmu sedang sakit?" Lilis tidak mau langsung jujur.
Nia jadi salah tingkah mendengarkan pertanyaan balik dari Lilis. Selama ini dia belum mengakui jika dirinya telah menikah dengan Tuan Henry.
"Ni, kok diem??" Lilis semakin penasaran dengan Nia.
"Oh, enggak kok ya udah kalau nggak ada nanti kalau misalnya ada orang yang mencari aku bilang saja kamu nggak tahu ya." Nia berkata demikian sambil memegang jemari Lilis dengan penuh harapan.
"Memangnya ada apa sih?" Lilis mulai bertanya dalam hati.
*
Di dalam mobil Leo sudah gundah. Sejak menunggu Lilis keluar dari kamar, Henry sudah beberapa kali menelponnya.
"Ya, Tuan," jawab Leo menempelkan ponsel di telinga kirinya.
"Apakah sudah ada perkembangan di manakah Nia berada?" Besar harapan Henry untuk bisa bertemu dengannya.
__ADS_1
"Sabarlah sebentar Tuan sudah begitu merindukan istri?" Sengaja Leo menggoda Henry terlebih dahulu.
"Bukan begitu, masalahnya ada problem yang lebih penting daripada Nia jika masalah Nia bisa dibereskan maka kita bisa membereskan masalah yang lainnya."