
*
Leo tengah sibuk mencari keberadaan Nia atas perintah Henry.
"Kamu dimana sih, Nia?" Leo terus berputar mengelilingi kampus. Namun sayang Nia tidak ketemu.
"Oh, ya, aku cari saja temannya Nia yang kemarin." Leo berjalan mencari temannya Nia yang dimaksud adalah Lilis.
Di taman kampus.
"Eh, kamu ngapain kesini?" Ternyata dia adalah Febiana. Leo mendengus kesal. Yang dicari siapa ketemunya sama siapa. Ia memandang Febi dengan malas.
"Kepo banget," kata Leo melengos pergi. Tentu saja membuat Febiana salah tingkah. Ia yakin Henry yang meminta Leo untuk mengawasinya.
"Kamu nggak usah sok ngawasin aku ya, aku udah gede." Febiana berjalan angkuh kepada Leo.
"Sok geer lu, lagipula aku ogah menerima tugas kurang bermutu seperti mengawasi kamu." Leo berjalan tanpa melihat Febiana di sampingnya.
"Kamu!" Teriak Leo melihat Lilis melintas di dekat taman. Lilis pun menoleh Leo. Dahinya mengernyit. Demikian pula dengan Febiana. Ia tidak mengira jika Lilis kenal dengan Leo. Jangan-jangan Leo juga menjadi muci-kari?
"Ada apa ya??" Lilis menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Ikut aku." Leo langsung menarik Lilis sedang Febiana masih melihat keduanya dengan aneh. Gadis berambut sebahu itu pun tidak bisa menolak keinginan Leo.
"Ada apa sih??" tanya Lilis begitu sampai di mobil Leo.
"Aku yakin kamu tahu dimana Nia berada." Deg, dada Lilis berdegup kencang. Ada hubungan apa sih keduanya?
"Kamu pacaran dengan Nia??" tanya Lilis penasaran.
"Jawab saja, kamu tahu dimana Nia??" Leo menatap tajam hingga manik matanya tidak bergerak dari Lilis. Membuatnya berada di dua sisi. Antara ingin memberitahukan keberadaan Nia sekarang tapi juga ia baru kenal Leo, belum tahu siapa Leo itu sebenarnya.
"Aku tidak tahu." Akhirnya Lilis berbohong.
"Aku tidak memintamu untuk berbohong." Leo yakin, Lilis keli ini berbohong.
"Ikuti aku saja," kata Lilis dengan pedenya.
"Tidak perlu, aku hanya ingin tahu dimana Nia itu saja."
"Jawabanku apakah belum jelas? Aku tidak tahu." Lilis pun turun dari mobil Leo dan bersiap ke rumah Tuannya.
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Pulang." Leo mengepalkan tangan. Mengikuti Lilis bukanlah pikiran bodoh.
"Baiklah, aku akan mengikutimu tapi tolong beritahu aku dimana Nia berada."
Lilis menepuk jidatnya. Begini rasanya kalau jadi jembatan diantara dua orang yang sedang berpacaran.
"Seharusnya kalian ini jika mau pavaran harus berpikir dewasa, aduh kalau begini bikin pusing orang lain, tauk." Lilis terus mengomel hingga telinga Leo terasa gatal. Ternyata gadis ini luar biasa cerewetnya, ia malah jadi ingat dengan emaknya yang sering mengomelinya waktu kecil tetapi karena demi bertemu dengan Nia agar dia tidak dimarahi oleh Tuannya. Terpaksa Leo mendengarkan Lilis terus berdendang.
*
Lilis diam-diam menghubungi Nia.
Lilis : Nia, sekarang kamu masih dikosan?.
Nia : Iya, memang ada yang mencariku?
"Jangan berusaha untuk menghubungi Nia, karena jika sampai kamu ketahuan menyembunyikan istri orang akan tahu akibatnya," ucap Leo tidak bermain-main dengan kalimatnya.
"Hahah, lebai amat lu, baru saja pacaran sudah bilang istri orang, hello Abang, halalim dulu dong baru bilang istri." Lilis terkekeh memegangi perutnya. Leo memadang Lilis jengah. Ingin sekali dia berkata jika Nia bukanlah pacarnya, tetapi lagi-lagi dia ingat jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk memberi tahukan kepada Lilis tentang posisi Nia sebenarnya.
Ponsel Lilis bergetar, ada panggilan dari Nia tetapi Lilis menatap Leo sepertinya terus mengawasi dirinya sambil terus mengolah stir bundar. Jadilah Lilis membiarkan ponselnya bergetar.
__ADS_1
"Maaf Nia, aku tipe orangnya nggak tegaan," batin Lilis berharap masalah Nia dan Leo bisa membaik dan mereka bisa bersama kembali.