Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry

Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry
Bab 9. Mama Datang


__ADS_3

Pagi harinya


Nia sudah bangun, sekarang menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Jadwalnya kuliah," kata Nia seraya berdiri di depan pintu kamar mandi. Tidur di kasur paling nyaman membuatnya betah serasa dinina bobokan. Bahkan ia bisa tidur lebih nyenyak daripada di rumahnya dahulu.


Ia pun melepaskan seluruh pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Hanya lima menit saja bagi Nia waktu untuk mandi. Ia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja, karena ia mengira bahwa tidak ada orang di kamar selain dirinya sendiri.


"Ni," panggil Henry dari pojok ruangan dengan nada canggung. Ia tengah duduk di kursi malas yang terletak di sudut kamar. Panggilan itu terkesan seperti sudah akrab saja.


"Ada apa lagi? Jangan liat aku mau ganti!!" Mata tajam Nia menatap Henry.


"Wajar dong, aku lihatin kamu, kamu sudah sah jadi istriku, Nia." Dengan telapak tangannya Nia menutup bagian tubuh yang tidak tertutup oleh handuk. Henry semakin mendekatkan dirinya kepada Nia.


"Jangan mendekat!!" teriaknya.


"Hehe, kamu itu menghadapi suami seperti menghadapi maling." Henry terkekeh menurunkan tangan Nia dari pundak. Kini tubuh mulus Nia terekspos kecuali bagian sensitifnya. Pemandangan indah itu membuat Henry menaik turunkan jakunnya, darah kelelakiannya berdesir hebat.


"Beraninya kamu lihat aku, kucolok matamu!!" geram Nia membenahi handuknya. Henry segera tersadar.


"Cih, jangan mengkhayal kamu," ucap Henry tidak mau mengakui kemolekan tubuh Nia. Padahal mereka sudah sah.

__ADS_1


"Ya sudah sana, keluar!!" teriak Nia lagi.


"Aku tidak mau," jawab Henry santai. Ia tidak mau terkena serangan darah tinggi gara-gara harus ngotot terus saat bicara dengan Nia.


"Bisakah kamu berlaku lembut kepadaku, kecuali saat kamu merasa tertekan??" Nia diam menelan salivanya. Benar juga, sejak bertemu Henry. Ia selalu saja beradu urat leher bila bicara dengan suaminya.


"Aku tidak bisa," kata Nia memalingkan mata.


"Kenapa?"


"Di dalam kontrak tidak ada perjanjian bahwa aku harus bersikap lembut kepadamu," ungkap Nia merasa tidak menyalahi kontraknya.


"Baiklah, nanti aku minta Leo untuk merubahnya." Alis Henry terangkat sebelah.


"Terus aku harus bagaimana? Ini hanya untuk sandiwara di depan Mama saja." Henry kehabisan akal menghadapi karena pikirannya tidak sepenuhnya berada di rumah. Perusahannya sedang kacau, ia sedang menyelidiki apa sebab kerancuan tersebut.


"Ya sudah, nanti aku bisa pikirkan, dasar anak mama," ejek Nia lagi. Tanpa peduli perkataan Nia, Henry berlalu begitu saja. Bodo amat ia dikatakan anak mama, yang penting Nia bisa bersandiwara menjadi istrinya. Ia lupa berkata kepada Nia bahwa Mamanya itu sangat perfect kepada menantunya.


"Semoga saja Nia bisa kuandalkan," lirihnya sambil jalan ke ruang makan.


"Selamat pagi Tuan," sapa Leo ternayat sudah standby di ruang makan.

__ADS_1


"Pagi, ikut sarapan saja dengan kami," ucap Henry merangkul bahu Leo. Akrab sekali memang, Leo sudah menjadi asisten Henry sejak beberapa tahun yang lalu. Leo tak segera menjawabnya.


"Ada apa Leo??"


"Nyonya sudah mendarat sejam yang lalu." Ucapan Leo terhenti.


"Itu artinya sebentar lagi, Mama akan sampai disini??" Leo mengangguk.


"Gawat," desis Henry. Ia segera berlari ke kamarnya.


"Mama sudah datang, cepatlah kamu berdandan dan langsung turun," titah Henry kepada Nia yang tengah bersiap pergi ke kampus.


"Iya deh iya, jangan bawel gitu kenapa??" Henry merapatkan giginya menahan gemas.


"Jangan pakai jeans, ganti dengan dress, mama tidak suka bila wanita memakai jeans." Nia memutar bola matanya dengan jengah menghadapi hal ini.


"Aku mau ke kampus, yang benar saja pakai dress?"


"Terserah apa katamu, cepat ganti dress, atau aku akan menghentikan perawatan ayahmu." Henry yakin ancamannya kali ini akan berhasil. Nia sangat mencintai ayahnya.


"Aku tidak mau!!" Nia menggeloyor pergi dari kamarnya. Henry menatap heran Nia. Bagaimana bila mamanya tahu?? Bisa berabe nanti.

__ADS_1


"Nia!!" panggil Henry lebih keras.


__ADS_2