Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry

Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry
Bab 8. Berita Dari Leo


__ADS_3

Henry keluar kamar sambil bersiul.


"Akhirnya masalah satu terpecahkan," ujar Henry memiringkan bibirnya.


"Permisi, Tuan," kata Asisten Leo membungkukkan badan kepada Henry.


"Ada apa kamu datang malam-malam begini, Leo?" tanya Henry matanya memicing dan tersenyum smirk khas Henry.


"Maaf, Tuan, Nyonya Mayda besok akan datang." Mendengar kabar dari asisten Leo, Henry menghentikan senyumnya sejenak. Ia kemudian menoleh Asisten Leo.


"Ada berita apa lagi??" tanya Henry membenarkan lipatan bajunya  tanpa berpaling dari  Leo.


"Lelaki yang berada di rumah sakit itu…"


"Berikan perawatan yang terbaik untuknya, jangan ada yang kurang apapun." Asisten Leo mengangguk paham.


"Baik Tuan, saya pergi dulu." Henry mengangguk. Asisten Leo meninggalkan kediaman Henry dan menjalankan mobilnya kembali ke rumahnya.


Begitu mobil Leo sudah tidak terdengar lagi. Gegas Hanry segera menghampiri Nia di kamar lagi.


Tok…tok…

__ADS_1


"Masuk saja," ujar Nia menyisir rambutnya.


"Ada apa lagi?" tambahnya secara ketus melihat siapa yang datang.


"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa besok Ibuku akan datang."


"Terus aku ngapain?" Nia seolah tidak peduli dengan ucapan Henry barusan.


"Sini kamu!" Agak keras Henry memegang tangan Nia.


"Ih, nggak usah kasar kenapa sih!?" sungut Nia tidak terima diperlakukan kasar Henry.


"Nggak usah lebay!"


"Ah, aku tidak tahu apa maksudmu, Henry," kata Nia lagi sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Gampang saja, kamu hanya bersikap manis agar ibuku bisa merestui kita," ucap Henry sambil tersenyum membuat Nia terpana dengan senyuman manis milik suaminya.


"Aku tidak bisa!" jawab Nia ketus. Ia belum bisa bersikap manis kepada Henry. Apalagi lelaki itu pernah menyentuhnya dengan paksa. Namun besok harus melakukan sandiwara demi ibu mertuanya.


"Kamu harus bisa!" Henry tidak kalah nyolotnya.

__ADS_1


"Kamu memaksaku??" Henry mengangguk.


Nia menjatuhkan dirinya di tepi ranjang dan tidak berkata lagi. Ia tidak tahu harus bagaimana menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Henry.


"Ah, sudahlah, aku malas bicara denganmu," kata Henry meninggalkan Nia begitu saja setelah Nia terliat tidak memperdulikannya.  Membuat Nia hanya melongo tidak paham bagaimana maksud suami kontraknya.


"Ih, dasar aneh!" umpat Nia dalam hati. Ia kembali melanjutkan tidurnya.


"Aku harus bagaimana ini??" Nia terus menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri. Matanya tidak bisa terpejam. Memikirkan apa yang akan terjadi besok? Bagaimana seharusnya bersikap kepada mertuanya??


"Apakah orang kaya mesti sombong??"


Henry segera keluar dari kamar Nia menuju ke kamarnya sendiri.


"Dasar gadis aneh!" umpat Henry berkacak pinggang.


"Bicara saja nyolot terus, padahal lembut juga bisa," dengus Henry lagi. Ia terus mondar-mandir mengitari kamarnya. Otaknya terus berputar bilamana besok ibunya, Mayda akan datang dari London. Apa yang akan dikatakan olehnya. Kenapa dia terburu-buru menikahi Nia.


"Bodoh sekali aku ini," kata Henry sambil menjambak rambutnya dengan gemas. Bukan karena Nia gadis yang gampang diajak menikah,  tapi sifat Nia yang kadang ceplas-ceplos itulah membuat Henry sedikit jengah. Nia itu berbeda dari gadis yang dikenalnya. Tidak ada manisnya sama sekali namun bagi Henry ada sesuatu yang menarik dari Nia dibanding gadis lain.


"Terus bagaimana kalau Mama sampai datang??" Henry terus saja berputar di kamarnya.

__ADS_1


"Mana mungkin gadis sepertinya bisa anggun??" Henry mengacak kasar rambutnya. Ia tengah berpikir bagaimana caranya besok harus memaksa Nia tampil anggun.


__ADS_2