
Nia sengaja membolos lagi kuliahnya, jika ayahnya tahu pasti akan marah. Ia ingin menghabiskan waktu dengan ayahnya sebelum dia menikah. Sang ayah rupanya tahu anaknya sedang gundah.
"Nak, bila kamu tidak bersedia menikah dengan Tuan kaya itu sebaiknya jangan, lagipula kamu masih muda." Nia tersenyum menatap ayahnya.
"Yah, mungkin ini sudah jalan Nia, doakan saja ya semoga lancar, Yah." Nia mengecup tangan ayahnya.
"Nia pamit ya Yah, semoga nanti operasi ayah juga lancar, Nia janji akan selalu mengunjungi ayah."
"Saya terima nikahnya Varenia Agatha bin Wardiono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan satu tarikan nafas Henry lancar mengucap ijab qabulnya. Akhirnya mereka sah menjadi suami istri.
Setelah pesta berakhir kedua mempelai pulang ke kediaman Henry.
"Lepas bajumu!" perintah Henry dingin.
"Ya, memang akan kulepas." Nia cuek dengan perintah Henry melepas gaunnya di depan Henry.
__ADS_1
"Dasar wanita panggilan!"
"Siapa yang kamu maksud?" Nia melirik sinis.
"Kamu pikir aku akan tertarik denganmu?" dengus Henry membuang pandangannya ke luar.
"Tertarik atau nggak itu hak kamu, Tuan, aku nggak maksa." Walau dongkol sebesar gunung, kini Henry adalah suaminya dia tidak boleh memanggilnya hanya nama atau kamu, itu sudah aturan kesopanan dalam hidupnya.
"Nia, kamu nanti tidur kamar sebelah." Henry sudah kembali kini berdiri di belakang Nia.
"Karena aku tidak suka privasiku kamu campuri."
"Hallo Tuan Henry, aku kan istri kamu, ya wajarlah aku tidur disini." Nia enggan mengalah dari suaminya, ia juga ogah harus tidur sendirian di tempat asing. Apalagi dia memiliki ketakutan yang tinggi tentang cerita hantu, namun jug suami yang mesum dan aneh tak kalah horor juga.
"Tapi ini kamarku," kilah Henry
__ADS_1
"Dan aku istrimu," tukas Nia cepat. Henry geram melihat tingkah istri barunya. Wanita yang sah menyandang gelar Ny. Henry belum ada 12 jam tapi sudah membuat aliran darah Henry meluap-luap.
"Baik, aku yang akan tidur di luar!"
"Janganlah!" Ditarik manja lengan suaminya ketika hendak mengambil bantal dan selimut.
"Hih, apa maumu, apa mau seperti waktu di kamar 404?" Nia menggeleng dan melepaskan genggaman tangannya. Membayangkan saja rasanya sudah eneg apalagi mengulangi.
"Bukan begitu, masak iya suami istri baru tadi udah pisah ranjang."
"Bodo amat!" Henry melangkahkan kakinya keluar.
Sepeninggal Henry wajah Nia berubah murung. Ia memikirkan nasib hidupnya, ia merasa berubah sejak bertemu Henry. Meski hal tabu disembunyikan bahkan pernikahan kilatnya tidak ada kawan kampusnya yang tahu.
Flashback
__ADS_1
Malam itu Nia dan beberapa temannya sedang menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman kuliahnya di sebuah hotel. Ketika sedang berdiri sendirian seorang pelayan menghampirinya dan memberikan minuman. Tanpa curiga Nia langsung minum habis. Setelah minum beberapa menit kemudian tubuhnya terasa gerah. Padahal ia berada di ruang ac tapi entah kenapa tubuhnya terus menerus mengeluarkan keringat. Setengah jam sebelum pesta dimulai Nia sudah berlari ke lift untuk mengambil baju ganti di bagasi motornya. Tapi entah takdir atau kebetulan seorang pemuda dengan kondisi mabuk berat juga di dalam lift. Hanya Nia dan laki-laki itu yang berada di dalam lift. Sang Pria langsung menjatuhkan diri. Lelaki itu menarik kasar Nia hingga sampai di depan kamar 404. Karena terpengaruh obat laki-laki itu melangkah jauh, hingga mereka baru menyadari setelah keesokan harinya. Nia merasa buruk dan menyesal. Mahkotanya yang selama ini dia jaga telah hilang.