Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry

Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry
18. Mulai Cemburu


__ADS_3

"Kamu nungguin aku disini?" tanya Henry melihat istrinya masih duduk di sampingnya. Tanpa menjawab Nia langsung pergi begitu saja meninggalkan Henry yang masih terbengong.


"Ya, biasalah namanya juga wanita aneh," gumam Henry menggelengkan kepalanya yang terasa berat. Banyak sekali masalah yang terjadi di internal perusahaan. Sampai-sampai dia belum sempat istirahat.


Henry segera bangkit dan menuju kamarnya. Melepas sepatu, baju dan celana kerjanya. Kemudian dia pun mandi. Dalam benaknya masih terbayang akan kenangan dengan Febiana tadi siang. Andai Dila tidak datang pasti mereka akan melakukan pergumulan yang keras.


"Dila sialan!" umpat Henry. Jadilah hasratnya tidak tersalurkan sampai sekarang.


Henry menyudahi mandinya dan keluar dari kamar mandi pribadinya. Ia pun mengaduk isi lemari hingga menemukan pakaian yang cocok untuknya.


"Astaga, dasar cewek mesum!" Henry melihat ada kissmark di lehernya lewat cermin besar yang terletak sebelah lemari. Tak usah ditanyakan lagi, itu adalah perbuatan Febiana  tadi siang.


"Sial, kenapa dia malah bikin mu begini sih??" Henry terus mengumpat Febiana. Ia sebenarnya tidak suka diberi tanda kepemilikan oleh seseorang. Lain lagi bila dengan orang yang dia cintai.


Selesai berganti dan menyemprotkan parfum. Henry pun bersiap makan malam. Jarak kamar dan dapurnya tidak begitu jauh karena memang sengaja Henry memilih kamar dibawah.


"Bi, Nia kemana?" tanya Henry setelah sampai di ruang makan dan tidak melihat Nia ikut makan malam, tidak biasanya seperti itu.


"Nggak tahu, tadi dia semangat banget nyiapin menunya kok." Bibi berkata apa adanya tentang Nia.


"Jadi Nia yang masak??"


"Dia sedikit membantu, Tuan," ujar Bibi sambil berjalan ke belakang.


Sementara Henry hanya menikmati menu makan malamnya sendiri. Nia sedang berada di kamarnya dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Nia kenapa, sih?" tanyanya dalam hati.


Begitu selesai makan, Bibi kembali membereskan tempat makan dan Henry langsung bertolak ke kamar Nia di lantai atas.


Tok


Tok


Tok


Tak ada jawaban apapun dari Nia.


"Apa dia sedang marah??" Hati Henry terus bertanya.


"Nia," panggilnya dari balik pintu.


Nia memang mendengar Henry mengetuk pintu tapi malas membukanya. Entahlah hatinya sangat sakit melihat tanda itu begitu jelas tercetak di leher kiri Henry.

__ADS_1


"Nia!!" panggilnya kini semakin keras.


"Kamu sakit ya??" Henry masih saja berdiri di luar kamar Nia.


Akhirnya karena pintu tidak dikunci, Henry pun bisa menerobos masuk.


"Kamu kenapa?" Tak habisnya ia terus menanyakan keadaan istrinya. Terlihat Nia meringkuk membelakanginya persis seperti kucing melingkarkan tubuhnya saat tidur.


Lantas Henry menempelkan tanganya di kening Nia.


"Normal, terus dia kenapa??"


"Nia!" panggilnya lagi. Tetap saja Nia masih diam tak bergeming. Henry pun mengusap tengkuknya. Tiba-tiba saja ia teringat akan hasil kissmark yang diberikan oleh Febiana.


"Apa Nia tahu kalau aku memiliki ini?" tanya Henry dalam hati.


"Tidak mungkin ia cemburu kepadaku," gumamnya lirih. Ia terus mengelus bekas kemerahan tadi.


Hampir setengah jam Henry berdiam diri di kamar Nia. Dari yang awalnya pura-pura tidur hingga Nia tidur beneran. Henry pun memperbaiki posisi tidur Nia dan menyelimutinya.


Kini Henry kembali turun dan masuk kamarnya. Ia sama sekali belum mengantuk dan jam  masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Henry pun mengeluarkan ponsel dari sakunya menghubungi seseorang.


"Halo, Tuan." Ternyata Henry menghubungi Leo.


"Baru saja mau tidur, ada tugas, Tuan?"


"Datang saja ke rumahku, aku butuh kamu." Leo pun menuruti perintah Tuannya. Tak ada waktu setengah jam, Leo sudah berdiri di teras bosnya.


"Ada tugas apakah Tuan?" Dalam hati sebenarnya Leo sangat dongkol. Dia ternyata habis ditelpon orang tuanya di kampung.


"Tidak ada, temani aku saja," kata Henry membuat Leo tercengang. Biasanya Henry memintanya untuk mencarikan wanita bayaran untuk menemani malamnya sekarang kok malah Leo sendiri yang disuruh menemani Tuannya. Leo bergidik ngeri, bagaimana juga dia adalah lelaki tulen yang demen dengan perempuan bukan jeruk makan jeruk.


"M-maaf aku tidak bisa," jawab Leo sedikit bergetar. Ia tidak menyangka bosnya sekarang  memiliki orientasi yang berbeda.


"Apa maksudmu tidak bisa??" tanya Henry merasa tidak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh Leo.


"Biasanya Tuan memintaku untuk mencarikan wanita bayaran, bukan malah aku yang disuruh menenmani atau aku panggilkan Febi saja," jawab Leo berdiri tegak. Henry mendengar jawaban Leo hanya menahan tawa.


"Oalah, maksudku kamu temani aku ngobrol, kamu kira temani apa sih, Leo??" Henry tak bisa lagi menahan tawanya. Pecahlah keriuhan diantara mereka berdua.


"Alhamdulilah, aku kira Tuan sudah berubah," ujar Leo menunduk menahan malu.


"Gila, aku masih waras Leo. Aku masih tahu mana wanita cantik," kelakar Henry.

__ADS_1


"Syukurlah," ucap Leo mengelus dadanya. Ia bahkan sudah menyiapkan strategi dadakan bila ternyata pikiran tentang Henry benar.


"Sialan lu!!" Henry menepuk punggung Leo.


Mereka akhirnya duduk di dekat kolam renang belakang rumah sambil menikmati kerlap-kerlip bintang.


"Ada apa, Tuan??" Leo bertanya setelah sekian lama mereka hanya menikmati segelas kopi pahit dan biskuit sebagai gantinya rokok. Henry tidak bisa merokok karena ia tahu akan kesehatannya. Pun dengan Leo, ia sebenarnya pemuda biasa yang akrab dengan rokok, namun ketika bersama manusia  lainnya ia akan menghilangkan kebiasaan merokoknya dengan alasan agar memberikan kenyamanan untuk orang lain disekitarnya.


"Leo, apakah kamu pernah berpacaran?" Pertanyaan yang Henry ajukan sangat aneh di telinga Leo. Buat apa ia bertanya demikian.


"Maaf Tuan, memangnya kenapa??"


"Kamu pernah mencintai wanita??" Leo hanya menatap keheranan bosnya yang berbeda dari biasanya. Kenapa ia bertanya detail begitu?


"Pernah tahu rasanya didiemin perempuan?" Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Henry membuat Leo menjawabnya dengan  sedikit plesetan.


"Tuan ini kenapa aneh begini? Tidak biasanya membahas perempuan apalagi perasaan kepada perempuan," ujar Leo membuat Henry tertawa ringan.


"Leo, aku ini juga lelaki normal."


"Normal syahwatnya??" Henry mendelik, merasa benar apa yang dikatakan Leo.


"Kamu ini awas ya!!" geram Henry sambil melotot ke arah Leo. Membuatnya cengengesan.


"Udah, kamu pernah nggak pacaran?? Pasti belum 'kan??" Henry menebak. Leo tersenyum datar.


"Memangnya kenapa, Tuan?"


"Aku tanya, bukankah tidak baik bila ditanya dibalas tanya??" Henry kesal Leo menjawab demikian.


"Apakah perlu Anda tanya saya balas dengan perasaan??" Leo terkekeh, ia tahu sepertinya Bos sedang jatuh cinta dengan seseorang.


"Sial! Aku tanya beneran malah dijawab candaan," ujar Henry. Leo pun diam, mana pernah ia pacaran. Pernah itu sudah lama bahkan sudah satu dekade yang lalu sebelum masuk ke keluarga Sanjaya. Sejak bersama Henry, ia sangat sibuk. Waktunya habis, maka tidak heran bila orang tua dikampung malah akan menjodohkannya.


"Tuan, aku ini lupa rasanya pacaran."


"Kenapa??"


"Sudah lama," jawab Leo menatap air kolam yang tengah beriak.


"Makanya cari pacar, biar tahu rasanya." Kini giliran Henry mendelik, sebenarnya apa maunya bosnya. Ia sendiri kebingungan sama wanita malah ia disuruh mencari wanita.


"Tuan, Anda sadar 'kan??"

__ADS_1


"Apa maksudmu???"


__ADS_2