
"Huft." Nia kesal gara-gara malam itu dia hari ini harus menikah di usia mudanya. Andai waktu bisa diputar kembali, pasti dia akan memilih menuruti kata ayahnya untuk dirumah saja daripada pergi kepesta kawannya.
Hari sudah pagi, matahari masih enggan bersinar meski cahaya terangnya sudah bisa menerangi bumi. Ini adalah hari pertama Nia menyandang status sebagai istri orang. Ia mulai bangun dan menyiapkan sarapan pagi cukup sederhana hanya telur ceplok dan sayur sop saja..
"Pagi," Sapa Henry ramah. Nia sendiri heran dengan tingkah suaminya, kadang ramah kadang ketus, kadang mesum dan menyebalkan itu menempati urutan pertama.
"Habis sarapan langsung masuk kamar!" Nia mengangguk.
Dikamar Henry sudah menunggunya terlebih dulu. Ditangan kanan Henry menggenggam sebuah map.
"Baca dan tanda tangani," perintahnya dengan santai. Nia menerima map itu kemudian tangannya bergerak membuka dan mulai membaca poinnya satu persatu.
"Jadi maksud kamu?"
"Kita nikah kontrak." Tak perlu waktu lama Nia langsung berdiri persis di depan Henry
dan merobek kertas perjanjian itu. Henry hanya melongo tidak tahu apa maksud Nia.
__ADS_1
"Asal kamu tahu, aku tidak sudi menandatangani perjanjian konyol itu."
Setelah diam beberapa saat Henry mulai bicara.
"Haha, kenapa?"
"Karena aku berpikir menikah itu bukan untuk mainan, itu komitmen, jika belum sedia menikah hendaknya jangan menikah dulu apalagi sampai memaksaku seperti itu," katanya pelan. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang hendak keluar. Meski Nia termasuk perempuan kadang suka bar-bar tapi dia tetap memiliki naluri seorang istri. Bagaimana rasanya menjadi istri kontrak, jika novel kisahnya pasti akan menyenangkan, nah, ini Nia tidak mau nasibnya berakhir tragis.
"Oh, jadi kamu akan berusaha menjadi istriku selamanya?" Henry mengerling dengan tatapan mengejek.
"Hey, sudah kukatakan aku tidak tertarik denganmu, bagiku kamu adalah wanita panggilan yang telah diselamatkan oleh ku dan kau telah menyelamatkan hidupku," tambah Henry lagi.
"Ah, jangan banyak omong, kamu bisa puaskan aku sekarang?"
Henry menghempaskan tubuh Nia ke kasur.
"Mau apa?" Meski nyalinya ciut tapi dia tidak akan membiarkan Henry menyentuh dirinya. Matanya memerah pertanda marah.
__ADS_1
"Ayolah, jangan marah, bukankah ini sudah menjadi pekerjaanmu, jangan jual mahal!" Gatal sudah tangan Nia, sengaja tamparan itu didaratkan ke bibir tipis Henry.
"Sekali lagi kamu panggil aku begitu, aku akan buat dirimu menyesal dan kamu akan kubuat jatuh cinta denganku!" Kuping Nia terasa panas Henry selalu menyebutnya ****** kecil. Anehnya meski Henry nyinyir tapi hati Nia tidak membenci pria malah membuat Nia penasaran ingin menaklukan mahkluk sombong di depannya.
"Baiklah, jika dalam setahun kamu bisa membuatku jatuh cinta maka kamu akan mendapatkan separuh sahamku," ujar Henry.
"Oke, aku tidak mau kekayaanmu Tuan Henry tapi aku memiliki permintaan lain. Aku ingin kamu biayai ayahku hingga sembuh, itu sudah lebih dari cukup untukku."
"Oke, oke aku akan mencatat hutang, bila kamu tidak bisa memenuhi keinginanku maka aku akan menagih mu." Nia mengangguk setuju, baginya yang penting adalah kesehatan ayahnya.
"Dan agar impas, aku ingin kau jangan menolak apapun keinginanku."
"Asal tidak aneh-aneh," kilah Nia secepat mungkin.
"Apa kamu pikir aku sebodoh itu?" ketus Henry. Nia berdecak kesal dengan sikap Henry yang terkesan arogan melipat tangannya ke depan tampak sombong tapi bagi Nia memiliki daya tarik sendiri.
"Ya sudah, katakan saja apa maumu?"
__ADS_1
"Jadilah satu-satunya pemuasku dan jangan mencoba menjajakan tubuh indahmu lagi." Duar!! Hati Nia bagai diiris perih rasanya, ia direndahkan seperti itu. Bahkah sudah berkali-kali ia katakan bahwa dirinya bukan penjaja rupanya Henry tidak mau percaya. Namun tugasnya saat ini bukan untuk meyakinkan Henry ada tugas lain yang menanti. Dengan berlinang air mata, Nia memalingkan wajah dari Henry.