
Henry segera menyusul Nia ke ruang makan. Ia tidak mau kehilangan kesempatan, sebelum Nia berangkat kuliah.
"Selamat pagi, Leo," sapa Nia menebarkan senyum kepada asisten pribadi Henry.
"Pagi, Nona Nia," jawab Leo menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Jangan terlalu formal kepadaku, aku tidak nyaman."
"Tapi ini aturan dari Tuan Henry." Nia sedikit berbisik.
"Ah sudahlah jika memang begitu." Nia mengundurkan salah satu kursi makan.
Henry terlihat sedikit terengah-engah takutnya Nia sudah berangkat duluan.
"Diburu maling?? Atau macan??" tanya Nia melihat hidung suaminya kembang kempis.
"Diam kamu! Aku ngejar kamu," ucap Henry.
"Makasih ya udah di kejar, namun nggak perlu deh kayaknya."
"Nggak usah sok jual mahal!"
"Masih pagi, nggak mau ribut." Nia pun berdiri sambil menyeruput susu hangat yang telah tersedia di meja.
Dengan cekatan, Henry menahan tangan Nia.
"Hih, ada apa sih??"
"Ganti pakai dress dan kita nanti akan ke rumah," titah Henry.
"Aku nggak mau!!" Nia menggeleng.
"Jangan membangkang! Tolong sekali ini saja." Terlihat wajah Henry kembali memelas.
Kring…
Ponsel milik Leo berdering. Henry menoleh kepada Leo sebagai isyarat bertanya siapa yang telepon.
"Kakek," jawab Leo seolah tahu apa yang ada di pikiran Henry.
"Ya, Tuan." Leo mengangkat telepon, agak menjauh dari keduanya.
"Leo, bisakah Henry berkunjung pagi ini ke rumah?" Sengaja Leo menyalakan speakernya agar Henry bisa langsung mendengarkan isi pembicaraan Leo dan Kakeknya.
"Baik Tuan Sanjaya, Tuan Henry bersedia datang pagi ini."
"Selamat kamu," kata Henry melepaskan cengkeramannya dari tangan Nia.
"Jadi aku boleh berangkat?" Nia menoleh kearah Henry dan Leo. kemudian Asisten Leo pun mengangguk mewakili Henry.
Gegas Nia segera menstarter sepeda motornya dan berangkat ke kampus. Baginya kampus adalah tempat terbaik melepaskan kepenatan selama di rumah Henry.
*
"Hiuh, segarnya udara pagi ini." Sambil berkendara Nia menghirup udara yang masih belum tercemar dengan debu dan polusi.
__ADS_1
"Nia, kamu datangnya tumben pagi banget," cibir Lilis, sahabat satu-satu Nia. Si gadis dari desa yang merantau ke kota untuk kuliah demi merangkai cita-cita keluarganya. Mereka sudah akrab sejak pertama kali masuk kampus ini.
"Iya nih, lagi boring di rumah."
"Pakde baik-baik aja 'kan?" Saking dekatnya dengan Nia, Lilis bahkan kenal dengan Pak Wardiono, ayah Nia.
"B-baik kok." Terpaksa deh, Nia berbohong. Ia tidak mau bila sahabatnya tahu keadaan yang sebenarnya.
"Ya udah, kamu udah sarapan belum?" tanya Nia kepada Lilis. Sudah bisa diketahui, jarang sekali Lilis sarapan pagi. Ia harus super duper menghemat uang jatah bulanannya.
"Udah kok," jawab Lilis membuat Nia terheran sendiri.
"Tumben, emang udah dapet kerjaan lagi?" tanya Nia, Lilis bukanlah tipe mahasiswa yang suka berpangku tangan. Beberapa waktu lalu, ia mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah fotokopi dekat kampus namun belum lama ini berhenti karena sulit membagi waktu kerja, kuliah dan mengerjakan tugasnya.
"Doain aja, tapi kali ini kayaknya aku pilih jadi ART aja deh." Nia menatap Lilis kagum.
"Yakin??" Lilis mengangguk.
"Iya Nia, soalnya dari info yang aku dapatkan, aku akan bekerja di sebuah keluarga kaya dan katanya bisa sambil kuliah."
"Wah, aku jadi ikut senang deh kalau gitu. Sekalian hemat uang kos 'kan??"
"Yes, kamu cerdas banget Nia." Lilis mencubit pipi Nia dengan gemas.
"Ih, pipiku habis, jangan dicubit!" Disini dicubit Lilis di rumah Henry juga demen banget nyubit pipi Nia.
"Haha, habisnya chubby banget sih."
"Sarapan yuk, aku laper, belum makan." Nia memegangi perutnya. Ia tadi hanya sempat menyeruput susu, mana bisa merasa kenyang. Bagi Nia susu hanyalah pengganjal perutnya saja, bisa lemas kalau tidak sarapan pagi.
Mereka berdua berjalan ke kantin dan memesan makanan.
"Udah, ini aja." Dalam hati Lilis enggak enak Nia selalu saja mentraktirnya atau kadang Nia membawakan bekal untuk dirinya ke kosan.
"Kamu pesen gih, aku yang bayarin," kata Nia pede.
"Kamu sekarang beruang banyak??" bisik Lilis.
"Dapat uang tambahan." Padahal itu adalah jatah uang jajan harian Nia dari Henry.
Kelas telah usai.
Nia dan Lilis segera keluar dari ruangan ke parkiran di pojokan kampus.
"Cie, kayaknya Mr. Hanson memang naksir kamu," canda Lilis. Sontak Nia menghentikan langkahnya. Ia ingat akan dosen itu tadi berusaha meraih jari tangannya ketika Nia meminta tanda tangan dosen muda tersebut.
"Apaan sih, enggak mungkin deh." Nia mengelak karena ia sadar bahwa saat ini sudah menjadi istri orang.
"Kalau iya malah bersyukur Nia, kamu dapat dosen, sambil menyelam minum air."
"Nggak mau, kembung, Lis!" Nia memakai helm.
Namun dari kejauhan Leo tampak berjalan ke arah Nia dan Lilis berada.
"Nona Nia," sapanya. Nia menoleh sumber suara tersebut dan menoleh siapakah itu.
__ADS_1
"Asisten Leo??"
"Nona?" Lilis merasa heran, sejak kapan Nia dipanggil Nona.
"Kalian ini lagi akting ya??" tanya Lilis menengahi obrolan mereka.
"Oh, tidak….." Leo belum sempat meneruskan perkataanya, Nia sudah menyodok rusuk Leo hingga pemuda berusia 28 tahun itu terdiam.
"Kenalin ini Leo, teman baru."
"Tapi Nona ini salah," bisik Leo merasa tidak enak diperlakukan Nia layaknya teman.
"Stt, diam saja, bersikaplah normal bila di luar rumah," ucap Nia tak kalah lirih. Tak ayal membuat Lilis semakin heran dengan hubungan keduanya.
"Dia pacar kamu, Nia??"
"Bukan," jawab mereka bersamaan. Lilis tambah heran lagi.
"Awas ya kalau bohong, aku tagih PJ nya…." Dahi Leo mengerut.
"Maaf Nona, apa itu PJ??" saking penasarannya ia memberanikan diri bertanya kepada Lilis.
"Pajak Jadian," jelas Lilis.
"Jika begitu aku akan meminta Tuan Henry untuk pajak jadian," ucap Leo dalam hati, tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum.
"Kenapa Leo??" tanya Nia melihat Leo tersenyum sendiri. Jika saja Nia tahu pasti akan memukul Leo beraninya malah meminta pajak jadian kepada Henry, sedang ia menderita batin menikahi Henry.
"Tuan Henry meminta saya untuk menjemput Nona."
"Saya rasa kamu salah kamar, Kak Leo." Lilis berjalan ke arah sepeda motornya. Geli saja mendengar Leo menyebut Tuan, Nona.
"Kamar siapa?" Mendadak Leo menjadi bingung akan istilah yang digunakan Lilis.
"Kamar mandi." Lilis berjalan menjauhi parkiran.
"Lis, mau kemana?"
"Lanjutkan akting kalian, aku pusing mendengar kalian menyebut Nona dan Tuan," kat Lilis sambil terkekeh.
"Kalau di luar rumah, panggil saja aku Nia." Nia menoleh tajam kepada Asisten Leo.
"Tidak bisa Nona, Anda itu bosku." Leo membungkukkan kepala. Bukan hanya Lilis saja yang heran bahkan mahasiswa yang kenal Nia juga heran ada lelaki berjas dan kacamata hitam menemui Nia di kampus, sepertinya bukan orang biasa.
"Leo, aku tidak nyaman," dengus Nia.
"Semuanya akan baik-baik saja bila sudah terbiasa." Nia berdecak kesal mendengar penuturan Leo.
"Bos sama asistennya sama aja," kata Nia menstarter motornya.
"Nona mau kemana??"
"Ya pulanglah, ada apa emangnya??" Nia menatap asisten Henry.
"Anda harus ikut mobil saya." Nia mendadak mematikan mesinnya dan turun dari motornya.
__ADS_1
"Ada apa lagi??"
"Ikuti saja," kata Leo tenang. Ia akan membawa Nia ke suatu tempat yang tidak akan disangka sebelumnya. Nia masih diam mematung.