Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry

Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry
Bab 6. Lingerie


__ADS_3

"Paket!!" Teriakan abang kurir dari halaman membuyarkan lamunan Nia. Ia meletakkan gelasnya. Kemudian dengan langkah tergesa ia segera membuka gerbang.


"Atas nama Mbak Varenia?" Kurir tersebut memastikan kiriman paket yang dia bawa.


"Iya, betul saya." Kurir itu menyerahkan paketnya untuk Nia.


"Makasih ya, Bang." Nia tersenyum kepada sang kurir berwajah oriental tersebut. Kurir tersebut tersenyum memandang Nia. Bukan karena tertarik tapi tertarik dengan isi paket Nia.


Nia kembali masuk, tidak lupa mengunci pintu sesuai perintah tuan rumah. Sesampainya di kamar ia membuka isi paket tersebut.


"Astaga!" Nia menjerit, untung saja di rumah itu tidak ada asisten rumah tangga jadi aman tidak terdengar siapapun.


"Gila tuh orang!!" Sepaket pakaian lingerie dan dalaman warna senada, ternyata itu barang yang dipesan Henry untuknya. Nia sama sekali belum terbiasa memakainya apalagi itu sangat minim. Matanya melotot seperti loncat dari tempatnya.


"Ya Tuhan, cobaan apalagi ini." Mana dia pede memakai baju kurang bahan seperti itu memakai dress saja jarang bila bukan ke pesta. Nia terus memandangi benda tersebut.


Kringg….telepon berdering, Nia meliriknya sebentar. Ia kemudian meraih ponselnya, yakin sekali itu adalah Henry.


"Halo," jawabnya ketus.


"Bersiaplah aku akan segera pulang." Klik, sambungan dimatikan.

__ADS_1


"Mati aku, apa yang harus kulakukan?" batin Nia kebingungan.


Jangankan memakai, melihat saja Nia sudah malu.


Setengah jam kemudian Henry sudah pulang padahal baru jam 5 sore. Nia masih diam mematung, hendak memakai tapi ragu.


"Kenapa kamu tidak menuruti perintahku?!" tanya Henry di depan pintu kamar saat melihat Nia belum juga berganti masih mengenakan baby doll.


"Aku malu, tolonglah, Tuan, jangan paksa aku melakukan diluar nalarku." Mata Nia memohon agar Henry tidak melaksanakan niatnya.


"Aku sudah katakan itu hukumanmu, bila kali ini kamu membangkang juga maka aku mau kamu berganti di depanku saat ini juga." Nia tidak percaya akan pendengarannya. Bagaimana bisa laki-laki ini semakin gila. Menyuruh ganti di depannya itu artinya??


"Kenapa diam? Ayo lakukan untukku."


Lima menit kemudian, Nia sudah usai melaksanakan perintah Henry.


"Aku sud…" Pelukan hangat merayap di belakangnya, rupanya Henry telah menunggu dibalik pintu. Desiran halus memenuhi ruang hati Nia.


"Lepaskan aku!" ronta Nia.


"Jangan seperti itu, bukankah ini yang kamu inginkan saat di kamar 404?" bisik Henry tepat ditelinga Nia. Ia menggeleng.

__ADS_1


"Ayo jangan buat aku menunggu lebih lama." Nia mencari akal agar suaminya tidak segera menyentuh dirinya.


"Mandilah dulu, aku akan menunggu disini." Suara Nia terdengar bergetar.


"Haha, baiklah aku mandi."Henry melepaskan pelukannya, Nia bisa bernafas lega setidaknya dia bisa memikirkan cara agar Henry tidak jadi menyentuhnya.


Tak berselang lama, Henry keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggang. Dada kekarnya dibiarkan terekspos dengan sempurna. Nia memandangnya tak berkedip sama sekali.


"Aku perlu berganti atau begini saja?" Huh, Nia membuang muka.


"Jawab aku!" bentak Henry. Keringat dingin mengucur membasahi dahi Nia.


"Ga-gantilah," katanya terbata.


"Dimana seorang Nia yang pemarah, Nia yang bisa melukai bibirku hingga berdarah, Nia yang bisa membuatku merasa pria paling hebat?" Henry tertawa mengejek.


"Karena sekarang kau adalah suamiku, tidak pantas rasanya aku kasar padamu lagi." Nia menunduk ke bawah tidak berani mendongakkan kepala.


"Okey, cepatlah ganti, aku muak melihatmu berpakaian seperti ****** seperti itu." Lho, bukannya tadi disuruh memakai baju kurang bahan sekarang malah mengatakan seenaknya seperti ******. Lama-lama Nia bisa gila mengikuti peraturan suaminya.


"Ayo cepat ganti! Besok kamu harus berlatih menyenangkan suami agar betah tinggal di rumah." Henry berganti malas menatap Nia.

__ADS_1


"Sabarlah Nia, ini baru awalan saja, pasti ada jalan untuk keluar dari sini," gumam Nia kepada dirinya sendiri.


Henry meremas keras rambutnya, bagaimana bisa Nia terlihat begitu lugu padahal di malam itu dia sangat lihai memuaskan Henry bahkan sudah seperti profesional.


__ADS_2