
Pagi telah menyapa, Nia sudah membuka matanya. Disampingnya Henry masih terlelap. Gegas Nia bangun dan mencuci mukanya dahulu.
"Siapa sih yang whatsapan malem-malem begini?" tanya Nia dalam hati. Tanganya bergerak membuka ponsel milik suaminya yang tergeletak begitu saja di meja.
"Ngapain kamu??" Ternyata Henry hanya pura-pura tidur saja padahal ia sudah bangun sedari tadi.
"Ngapain?? Mau ambil ikat rambut." Nia menemukan alasan yang tepat.
"Nggak usah cari-cari alasan deh," kata Henry.
"Lagi males ribut, nggak usah bersuara."
Drtt….
Kebetulan ponsel Henry berdering. Secepatnya Henry pun turun dari ranjangnya. Nia hanya menatap dengan perasaan aneh kepada sang suami.
"Halo." Henry berjalan agak menjauh dari Nia.
"Iya kita nanti ketemuan di cafe." Nia tidak mau ikut campur urusan Henry. Sekali lagi dia harus ingat bahwa ia hanyalah istri kontraknya saja.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar yang ditempati Nia dan Henry diketuk oleh pelayan.
"Tuan, Nyonya, sarapannya sudah siap," ujar pelayan dari luar.
"Baik, kami akan segera kesana," balas Henry.
"Ayo kita sarapan dahulu." Henry menggandeng tangan Nia.
"Sepertinya aku tidak usah sarapan, aku langsung berangkat saja," kata Nia merasa tidak nyaman di rumah Kakek Sanjaya. Apalagi tatapan Mayda yang terus menerus seperti memindainya. Bukan apa-apa hanya risih saja.
"Kenapa begitu??"
"Aku ada kuliah pagi." Nia mencangklong tasnya dan bersiap keluar.
"Kamu berada disini dan ikuti peraturan keluarga sini." Nia mendesah kesal. Kalau sudah menyangkut peraturan Nia harus menuruti.
"Iya iya, jangan bawel." Nia akhirnya menurunkan tasnya dan menuju ruang makan bersama Henry.
Dengan mesra, Henry menggandeng tangan Nia.
"Duh, pengantin baru jalannya saja gandengan," ujar Mayda memecah keheningan pagi. Hanson juga ikutan stand by di ruang makan menatap mereka berdua tanpa kedip.
__ADS_1
"Pasti dong, Ma," sahut Henry semangat.
"Sudah jangan pameran terus, Kakek sudah lapar," kata Kakek Sanjaya tidak sabar menunggu mereka berdua duduk di kursinya masing-masing. Semuanya tersenyum simpul hanya Hanson saja yang terlihat manyun.
"Nia, jangan lupa nanti masuk kuliah jatus tepat waktu," ujar Hanson setelah selesai makan.
"Idih, aku nggak pernah telat kali." Nia memayungkan bibirnya tidak terima dikatakan suka telat padahal ia hanya jarang-jarang sekali. Untung saja dosen killernya ganteng coba saja killer teta killer Nia pilih pergi kerja daripada bertemu dosen killer di fakultasnya.
"Udah nggak usah ceramah, Han." Henry ikutan nimbrung percakapan Hansin dan Nia.
"Lah kok marah," cibir Hanson melirik kakaknya.
"Huh, siapa yang marah, aku mau berangkat."
"Aku ikut," celetuk Nia hendak berdiri.
"Ogah, naik ojek sana!" hardik Henry masih merasa malu akibat diledek adiknya tadi.
"Nia, kamu bareng aku aja kalau gitu, kita 'kan satu arah." Hanson ikut andil dalam perdebatan Nia dan Henry. Bukannya mengiyakan, ia hanya diam saja. Jika Henry melarang Nia akan menurutinya. Meski terlihat cuek namun bukan berarti Nia tidak menghargai Henry sebagai suaminya.
"Nah, itu ada tumpangan," sahut Henry cuek. Hati Nia agak berdesir, padahal ia berharap bisa satu mobil dengan Henry pagi ini eh malah disuruh bareng Hanson.
"Ya udah, besok lagi aja aku barengan adik ipar." Nia naik mengambil tasnya dan berangkat.
"Lho kok bareng Hanson??" Mayda berhasil memergoki Nia tengah berada di mobil Hanson.
"Iya Ma, Henry katanya ada meeting mendadak." Nia membeberkan alasan yang hoak mengapa ia bareng Hanson daripada ia harus jujur. Jika saja jujur, dipastikan ia akan segera bebas dari pernikahan kontraknya.
Mereka akhirnya berangkat berdua. Sepanjang perjalanan Hanson mengobrol banyak tentang kesehariannya.
"Jadi kamu sebenarnya tinggal sendiri??"
"Iya, aku merasa bebas bila tinggal di rumahku sendiri," kata Hanson tersenyum.
"Apa tidak kasihan dengan Kakek sendirian??"
"Ada beberapa saudara yang tinggal disana, namun beberawaktu ini mereka pindah ke luar pulau." Hanson terus bercerita tentang keluarganya hingga tak menyadari kalau mereka sudah sampia di depan parkiran kampus.
"Silakan turun, Kakak ipar," kata Hanson menggoda Nia.
"Aku masih terlalu muda kau sebut sebagai Kakak," sungut Nia.
Begitu Nia turun dari mobil hampir seluruh mata cewek di kampus itu melihat kearahnya tanpa kedip tak terkecuali Lilis. Matanya hampir jatuh dari tempatnya.
"What?? Mr. Hanson bareng Nia??" Febiana, cewek tercentil di fakultas Nia berteriak tidak terima kalau Nia duduk sebangku dengan Hanson.
"Iya Feb, lu liat deh," sambung Ninik, sahabat karib Febiana.
__ADS_1
"Njir, mau buat masalah aja sama gue tuh anak!" Febiana mengepalkan tangannya.
"Makasih ya, Mister." Karena ini di kampus maka Nia kembali ke posisi awalnya memanggil Hanson dengan sebutan Mister.
"Nia!!" Lilis berteriak sambil berlari ke arah Nia.
"Ada apa sih??"
"Gila lu, ketiban apa semalam lu bisa nebeng sama Mr. Hanson?" Nia bingung harus menjawab bagaimana.
"Mimpi ketemu pangeran berkuda putih, eh paginya dapat tebengan kuda besi, mayanlah, dosen killer tapi handsome," ujar Nia enteng sambil terus berjalan ke ruangannya.
"Kapan ya Nia, gue bisa dapat bareng sama Mr. Hanson?" Lilia berandai-andai.
"Banyanin aja sampai lumutan sana," kata Nia mendahului langkah Lilis.
Henry melajukan mobilnya dengan cepat, ia habis meeeting dengan klien lamanya.
"Selamat datangi, Tuan." Beberapa karywannya menunduk hormat.
"Iya, terima kasih," jawabnya singkat. Segera ia menuju ruangannya melepas lelah setelah bernegosiasi.
"Halo sayang," sapa seorang perempuan muda seumuran Nia dengan pakaian kurang bahan tengah duduk di meja Henry dengan pose sensual menggoda gairah kelelakiannya Henry.
"Pagi sekali kamu datangnya." Henry sumringah menyambut wanita itu. Sebenarnya bukan pagi lagi tapi sudah jam 11 siang.
"Aku udah kangen sama kamu," ucapnya sensual.
"Kamu butuh apa hingga semalam menghubungiku??" Dengan manja ia melingkarkan tangannya ke pundak Henry, kini posisi mereka saling berhadapan.
"Aku nggak minta apapun, hanya saja aku butuh buat shoping."
"Apa kamu semalam juga ke klub??" Ia menggeleng.
"Aku hanya di apartemen saja, menunggumu." Tentu saja itu hanyalah akal-akalannya.
"Sudah langsung saja kamu butuh berapa??"
"Lima puluh juta aja," katanya lagi.
"Huh, lima juta saja, jangan boros-boros." Gadis itu kembali manyun.
Henry pun melingkarkan tangannya ke pinggang wanita itu sambil mengendus lehernya. Aroma parfum strawbeery menambah gairah Henry.
"Shh… jangan lama-lama, Sayang." Wanita itu memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Henry.
"Kamu selalu saja menggairahkan," ucap Henry sambil tangan nakalnya meraba bagian buah pepaya ranum milik gadis muda itu. Gadis itu pun tersenyum.
__ADS_1
"Lebih keras lagi," rancaunya. Bak dikomando, Henry pun mulai panas. Ia langsung mengecup bibir wanita itu tak lupa ia meremas setiap senti tubuh wanitanya. Merekapun saling bersentuhan bibir sangat lama. Henry dengan lincah menelusuri langit-langit mulut milik gadis cantik tersebut.
"Cepat Sayang," ucapnya sambil menjambak rambut Henry.