
Henry mendengus kesal.
"Ya udah geser sana, jangan kasur sebesar ini kamu tempati sendiri," kata Henry Sambil mengguncang tubuh Nia. Ia ogah harus tidur di lantai ataupun sofa. Bisa pegal semua itu badan nya.
"Ribet bangat, sih," kata Nia matanya melotot merasa terganggu oleh keberisikan Henry.
"Inikan juga kamarku." Henry tidak mau kalah. Meski sudah dewasa namun ketika bersama Nia, entah kedewasaan Henry itu hilang kemana. Kewibawaan sebagai CEO muda Sanjaya Grupmseakan menguap begitu saja.
"Kalau begitu, aku akan tidur di kamar tamu saja." Nian pun bangkit dari kasur dan bersiap keluar kamar.
"Kamu juga jangan ribet kenapa," kata Henry menatap Nia.
"Kamunya aja yang rusuh," balas Nia lagi.
"Dasar bocah labil!"
"Jadi aku keluar beneran nih??" Nia mencoba mengancam Henry, padahal ia sebenarnya hanya mengetes Henry saja.
"Nggak usah, lagipula kenapa sih tidur sama suami sendiri kok susah amat, kayak nggak pernah tidur berdua aja." Mata Nia kembali melotot, tangannya bersiap menimpuk suami cerewetnya.
"Udah nggak usah mulai lagi!" teriak Nia. Mendengar Nia semakin marah, Henry malah terkekeh
Nia pun berjalan kembali menata kasurnya. Sesuai keinginannya, ia menata bantal dan guling sebagai pembatas wilayah kekuasaan.
"Ini pembatas, kalau saja kamu melewati pagar ini habis kamu," dengus Nia sambil mengepalkan tangannya.
"Kamu menggoda sekali," bisik Henry membuat Nia membungkam mulut suaminya pakai tangan bukan pakai bibir.
"Awas kalau sampai kamu mulai lagi!"
"Sudah aku bilang sama suami jangan kasar!"
"Sama istri harus bisa menghargai." Nia mengambil selimutnya dan mulai memejamkan mata, ia tidak menghiraukan ucapan Henry lagi.
"Jangankan bikin dia jatuh cinta adanya cuma bikin darah tinggi terus," kata Nia dalam hati.
Sudah menjadi kebiasaan Henry, bila tidur hanya memakai kolor saja. Begitu pula sekarang. Henry melepas celana panjangnya dan bersiap untuk tidur.
"Akhirnya bisa istirahat juga." Henry pun naik ke tempat tidur dan bersiap memejamkan mata.
Malam pun semakin dingin. Selimut yang tersedia hanya satu. Itupun sudah dipakai oleh Nia. Henry menggigil kedinginan.
"Huh, dingin banget lagi," umpatnya, tubuh Henry sudah merinding, ia terbiasa tidur dengan selimut tebal entah pas dingin ataupun hangat.
Dia mengedarkan pandangannya. Nia memakai selimutnya semua. Dengan semangat Henry pun menarik selimut dari tubuh Nia. Yang ditarik selimutnya hanya diam saja karena sudah pulas tertidur.
"Dingin," rengek Nia dengan mata masih terpejam. Henry enggan menghiraukan racauan istrinya.
"Aku juga dingin."
"Sini bagi selimutnya." Nia pun mulai menarik selimut yang kini melekat di tubuh Henry.
__ADS_1
"Nggak mau," kata Henry kekeh mempertahankan selimut.
"Aku dingin…." Akhirnya Nia pun hanya meringkuk kan badannya persis seperti kucing yang kedinginan.
Jam 02.00 dini hari.
Nia terbangun merasa haus.
"Oalah, pantes aja, aku kedinginan." Segera Nia pun keluar kamar melangkahkan kakinya ke dapur.
Seluruh penghuni rumah pun sudah terlelap semua. Lampu juga banyak yang mati.
"Uuh, kayak mau mati aja, kehausan begini." Nia membuka kulkas dan mengambil air mineral di dalamnya.
Glek
Glek
Glek
Dengan semangat 45, ia terus menerus menenggak isi botol itu hingga menyisakan separo saja.
"Akhirnya rongga perutku penuh lagi." Tidak lupa Nia pun mengambil air lagi untuk dibawanya ke kamar.
Kriuk
Kriuk
"Hii, jangan-jangan hantu lagi," gumam Nia lirih, hatinya sudah menciut ditambah ia memang anti dengan yang horor-horor. Pernah suatu ketika Nia berusaha menghilangkan rasa takutnya kepada novel maupun novel horor namun apa yang terjadi. Ia malah pingsan begitu saat melihat hantunya keluar di film alhasil ayahnya tidak memperbolehkan ia nonton film horor lagi apalagi horor plus plus.
Kriuk
Kriuk
Suara itu semakin jelas, jantung Nia sudah berdegup tak beraturan. Kakinya terasa enggan untuk melangkah. Tetap berdiam diri di tempat.
"Ayolah kaki, kita kabur dari sini."
Kriuk
Kriuk
"Hai, hantu jangan kamu bilang aku takut," ujar Nia dengan suara bergetar. Ia terus merapalkan berbagai macam doa apapun yang ia ingat bahkan doa sebelum makan pun tak lupa ia amalkan.
Tiba-tiba ada tangan dingin menyentuh bahu Nia. Seketika nafas Nia terasa berhenti begitu saja. Keringat dingin terus mengalir. Mengesampingkan rasa takut, Nia pun memutar tubuhnya melihat seperti apa hantu yang berani menyentuhnya.
"Hah, manusia??" tanya Nia dalam hati, karena sebelum membalikkan badan, Nia sempat mencekal tangan dari sosok tersebut.
"Nia, kamu kenapa??" Meski gelap, namun keringat sebesar biji jagung milik Nia kelihatan begitu jelas. Ternyata sosok itu adalah Hanson.
"M-M-Mister??" Suara Nia terdengar bergetar. Untunglah itu beneran Hanson coba saja hantu beneran, sudah pasti Nia pingsan hingga esok hari dan ceritanya pasti akan berubah. Author pun sampai bingung harus membuat alur baru.
__ADS_1
"Hai, kamu kenapa??" tanya Hanson panik melihat keringat Nia keluar meski lampu mati namun masih terlihat jelas dari pantulan cahaya lampu dari ruangan lain.
"Ah, ini beneran Mr. Hanson??"
"Kalau di rumah jangan panggil Mister, malah aku yang harusnya memanggilmu Kakak." Hanson terkekeh.
"Lucu ya, dosen killerku menjadi iparku."
"Apakah kamu juga seorang penulis??"
"Bukan, aku hanya mengoceh saja," kata Nia kini tidak takut lagi.
"Baiklah, kalau begitu aku akan lanjut pekerjaanku lagi," ucap Hanson sambil meraih keripik kentangnya.
"Silakan, aku juga mau kembali tidur, besok ada jadwal dosen killer, kalau telat bisa-bisa di damprat." Nia lun setengah berlari meninggalkan Hanson yang dosebut dosen killer.
Memang dilingkup kampus tempat Nia kuliah, Hanson dikenal salah satu dosen killer dengan sejuta pesona. Dosen killer yang jadi incaran para mahasiswa cantik maupun yang kurang cantik. Namun memang selama di kampus Hanson bisa menjaga image killer dan dingin. Mungkin juga itulah daya tarik seorang Hanson Sanjaya.
"Darimana kamu?" tanya Henry sambil mengucek matanya.
"Dari ambil air, mau," ujar Nia menyodorkan botol air minum. Secepatnya tangan Henry meraih botol yang dibawa Nia.
"Kok dihabisin sih!!" Dengus Nia marah air yang dibawa dari dapur malah dihabiskan oleh Henry begitu saja.
"Abisnya haus banget, kebetulan kamu ambil minum." Henry nyengir kuda.
"Huft…." Nia pun menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Drttt…
Tangan Nia mengambil ponsel yang bergetar.
"Hai, itu punyaku," kata Henry meraih ponselnya dari tangan Nia.
"Nih, aku pikir gawaiku yang getar. Lagian apasih malam-malam begini hubungin orang, ganggu aja." Henry melirik kepada Nia.
"Memangnya kenapa? 'kan aku yang dihubungi bukan kamu."
[Sayang, aku kangen kamu, kok nggak datang sih??] Begitulah pesan yangbmasuk ke ponsel Henry.
"Aku lupa," ucapnya menyugar rambut hitamnya kebelakang.
Nia hanya memperhatikan suaminya membalas pesan dini hari tersebut. Bahkan Henry sesekali tersenyum.
"Dari siapa sih, kok senyum-senyum gitu??" tanya Nia kepo.
"Mau tahu??"
"Nggak juga," ujar Nia merasa gengsi bila ketahuan kepo.
"Syukurlah kalau nggak, bagus." Henry kembali fokus membalas pesan tadi. Nia melihatnya lama-lama jadi kesal. Siapa sih???
__ADS_1