
"Sayang, ini Mamaku." Henry berbasa-basi memperkenalkan Nia kepada Mayda.
"Oh, Halo, Mama," kata Nia mengulurkan tangan. Dengan canggung Mayda menyambut uluran tangan Nia.
"Halo, namamu siapa??" tanya Mayda berlagak sok ramah.
"Nia, Tante."
"Mama," tukas Mayda cepat.
"Maaf, iya Mama." Nia menganggukkan kepala seraya tersenyum simpul.
Nia memapah Henry masuk sedangkan Asisten Leo masih asyik bercengkerama dengan satpam rumah itu di pos satpam. Mereka terlihat menyalakan rokok bersama diselingi beberapa obrolan yang mengundang gelak tawa keduanya. Nampak akrab sekali.
Mayda mengikuti Nia dan Henry dari belakang. Dalam hati Mayda terus berharap semoga saja, apa yang dipikirannya itu salah.
"Makanya tadi itu jangan meleng, terpesona banget sama aku??" Nia mengerlingkan mata.
"Huh, kamu pikir aku tertarik kepadamu!!" dengus Henry tidak senang.
"Liat aja nanti, kamu pasti jatuh cinta padaku." Tentu saja ucapan mereka tidak terdengar oleh Mayda, hanya sebatas bisik-bisik. Bahkan saat Mayda melihat, sepertinya keduanya sangat akrab, tidak terdengar kalau sebenarnya mereka sedang berdebat.
"Ehm, mesra sekali kalian," sindir Mayda berjalan mendahului keduanya.
"Iya lah, Ma. Namanya juga pengantin baru." Henry merapatkan bahu Nia ke dadanya. Padahal tangan Henry mencengkeram namun Nia tersenyum seolah suaminya itu bertingkah sangat manis.
"Henry, ini istrimu??" tanya Kakek Sanjaya tiba-tiba saja sudah muncul dari balik ruang kerjanya. Perlu diketahui, bahwa ruang kerja Kakek Sanjaya itu terletak persis di dekat ruang tamu.
"Iya, Kek, ini namanya Nia." Seperti sudah dikomando, Nia mengulurkan tangannya kepada Kakek Sanjaya. Namun tidak seperti Mayda, Kakek Sanjaya menanggapi dingin kehadiran Nia di rumahnya.
"Ya sudah, Kakek mau masuk dulu." Kakek Sanjaya meninggalkan Henry dan Nia di ruang tamu.
"Ternyata sama aja, cucu sama kakek, angkuh, sombong." Nia terus menggerutu dalam hati.
"Kok diem??" Henry menyenggol bahu Nia. Tatapan matanya menoleh kepada Henry.
"Mau tau apa??" Sengaja Nia membuat Henry penasaran.
"Kenapa?" Heran aja, kalau bukan di kandangnya, Nia berubah menjadi pendiam. Jika sedang dirumah dengan Henry, sikap cuwawakannya mulai kumat.
"Kakek kamu kayaknya nggak suka deh sama aku," kata Nia. Ia berharap jika Kakek Sanjaya tidak setuju maka secepatnya ia akan bebas dari Henry.
"Terus kenapa?" Alis Henry naik sebelah.
"Nikah tanpa restu itu nggak akan berakhir baik." Sok bijak sekali Nia ini.
"Sok tahu!" Henry menjentikkan jarinya ke dahi Nia, hingga membuat Nia meringis kesakitan.
"Sakit tahu!!" Kembali Nia nampol tangan Henry.
"Makanya punya otak buat mikir, udah deh nggak usah mikir bookingan, kamu udah aku kontrak." Mulai lagi deh, Henry. Memang sih penilaiannya kepada Nia belum berubah. Ia masih menganggap Nia itu hanya wanita rendahan yang kebetulan menyelamatkan dia dari Alena. Itu saja.
__ADS_1
"Apa katamu!?" Nia menatap tajam kepada Henry yang duduk di depannya.
"Apa?? Nggak terima??"
Brak!!
Nia menggebrak meja tamu di kediaman Kakek Sanjaya. Sontak saja Mayda bertolak ke ruang tamu melihat ada kejadian apa. Ia hendak makan siang
"Maaf Ma, maaf." Henry tahu kalau Mamanya kaget.
"Ngapain sih??" tanya Mayda terlihat kurang suka.
"Ada kecoa," jawab Nia asal.
"Dimana??" Mayda memperlihatkan ekspresi ketakutan.
"Pembantu punya banyak, kon rumah sampai ada kecoanya." Mayda menggerutu masuk kembali ke ruang makan.
"Alia!!!" Serunya kepada salah satu asisten rumah tangga disini.
"Ada apa, Nyonya??" Alia terlihat tergopoh masuk menemui Mayda.
"Kamu bilangain ya sama semuanya yang kerja disini, bersihin rumah yang bener." Alia mengerutkan kening, mana mungkin di rumah Kakek Sanjaya ada kecoa apalagi ia dan krunya rajin memberikan obat anti kecoa di rumah itu.
"Masak sih, Nyah??" Alia masih tidak percaya.
"Tanya aja sama Henry." Mayda melanjutkan makan siangnya, dari pagi tadi belum mengunyah nasi. Hingga sekaeang perutnya protes minta asupan gizi untuk berkativitas lagi.
"Makan malam dulu di sini," titah Kakek Sanjaya.
"Kami makan di luar saja, Kek." Henry merasa Nia memang gerah berada di rumah itu. Apalagi sejak ia menggoda, eh bukan menghina Nia tentang wanita panas itu tadi. Mood Nia semakin hancur.
"Anggap sebagai perkenalan istrimu di keluarga kita." Kakek pun menyeruput teh hangat dan biskuit di teras depan ruamh sambil menunggu waktu malam tiba. Henry menatap Nia.
"Baiklah, Kek." Akhirnya daripada kakek dan mamanya curiga ia mengiyakan tawaran kakeknya.
"Kenapa kamu mengiyakan permintaan kakekmu?" tanya Nia saat berada di ruang kamar. Dulu merupakan kamar Henry namun sekarang kamar itu hanya digunakan saat ia menginap yang tidakesti ia lakukan setiap bulannya. Ia merasa nyaman dengan rumahnya sendiri meski ukurannya jauh lebih kecil daripada rumah kediaman Sanjaya.
"Aku bisa apa??" Henry acuh dengan pertanyaan Nia.
"Huh… kamu emang kebiasaan."
" Kamu merasa enggak sih, Kakek Sanjaya kelihatannya tidak suka denganku." Nia merapatkan giginya, ia geram dengan Henry.
"Udah tenang aja nggak usah bawel gitu napa??"
"Kamu yang cuek." Nia membuang mukanya agar ia tidak melihat ekpresi Henry.
Makan malam sudah siap. Semua anggota keluarga sudah berkumpul kecuali adik Henry. Jadi makan malam belum bisa di lakukn itu sesuai aturam di keluarga mereka.
"Apakah Hanson akan datang?" tanya Mayda kepada Kakek Sanjaya.
__ADS_1
"Ya, dia sedang diperjalanan."
Tak butuh waktu lama, terdengar klakson mobil di halaman depan.
"Ya, sebentar, Mas." Satpam yang setengah mengantuk berjalan terrhuyung membuka pintu gerbang.
"Parah lo, Bang, jam segini udah teler." Hanson mencibir satpam itu.
"Aku ngantuk Mas, bukan mabuk."
Hanson pun memarkirkan mobil di dekat mobil Henry.
"Ternyata ia datang juga." Hanson tidak menyangkan ia akan bertemu dengan kakaknya lagi setelah pertengkaran malam itu, Hanson memutuskan keluar rumah dan tidak menemui Henry lagi meski mereka tinggal satu kota saja.
Tak
Tak
Tak
Suara sepatu Hanson melantai di rumah Kakek Sanjaya.
"Silahkan Tuan, kelurga sudah siap di ruang makan." Salah satu pelayan di kediaman Sanjaya itu menundukkan kepala.
"Baiklah, aku akan menyusul mereka." Gegas Hanson pun bertolak ke ruang makan dimana seluruh anggot keluarga berkumpul.
"Halo, Hanson, akhirnya kamu datang juga." Kakek Sanjaya memeluk hangat cucunya.
"Halo, Kek. Aku kangen sekali dengan kalian." Hanson memeluk erat kakeknya.
"Kenalkan dia istri kakakmu," titah Kakek Sanjaya.
"Hai," kata Hanson menatap Nia.
Deg…
Jantung Nia berirama kencang melihat dan mendengar siapakah yang berada di dalam ruang makan.
"Mr. Hanson??" tanyanya dalam hati.
Tak luput mata Hanson menatap sosok yang tidak asing baginya.
"Halo," Mr. Hanson rupanya tidak ingat kepada Nia yang tadi siang mengikuti kuliahnya.
"Hai, Mister." Nia agak malu-malu juga.
"Senang bertemu denganmu." Dengan cekatan Nia menjabat tangannya.
Deg…
Hanson mengerutkan dahinya.
__ADS_1