
"Ehm…" Henry akhirnya melepaskan pelukannya. Nafas Nia memburu karena Henry terlalu kuat mencengkeram bahu Nia hingga dia beneran menempel di tubuh Henry.
"Kamu bisa keluar!" perintah wanita itu dengan elegant. Nia menatap ke arah Henry seolah meminta persetujuan. Tak disangka, tangan Henry malah menahannya.
"Dia akan disini bersamaku." Wanita itu berdecak kesal melihat kelakuan Henry.
"Henry kamu lupa kalau kita akan segera..." Henry memberikan isyarat tangan agar dia tidak melanjutkan.
"Ya, kamu sebaiknya yang pergi dari sini," kata Henry dengan mempersilahkan wanita itu meninggalkan ruangannya dengan menjentikkan jari.
"Ck, jadi kamu lebih memilih jal*ng kecil itu daripada aku." Wanita itu melirik Nia dengan pandangan merendahkan.
"Bukan urusanmu, Alena, sekarang pergilah dan aku akan mengurus pembatalan pertunangan ini, jadi kamu tidak usah khawatir."
"Nggak semudah itu, Hen. Kamu nggak bisa berpaling dari aku!" Dada Henry bergemuruh.
"Alena, aku bilang keluar! Dan asal kamu tahu aku tidak sudi menikahimu, aku lebih memilih dia." Nia membelalakkan mata ketika telunjuk Henry mengarah padanya.
"Apa? Kamu buta ya, Henry? Apa kata orang tuamu bila kamu menikahi gadis kecil seperti dia, hah!?" Merasa tak terima dia kalah saing dengan bocah ingusan. Alena mencoba mendekati Nia.
"Hay, jal*ng kecil berani betul kamu masuk kedalam kehidupanku!" Tatapan benci tersirat di kedua bola mata hitam milik Alena. Nia hanya diam mematung tidak tahu mesti berkata apa. Dari pada salah dia memilih diam walaupun saat ini diam bukanlah emas.
"Alena cepat pergi!" hardik Henry lagi, dengan menahan perasaan Alena keluar dengan membanting pintu.
Setelah Alena pergi, Henry mendekati Nia.
"Lanjutkan membersihkan lukaku, katanya kau adalah orang yang tanggung jawab."
"Baik." Nia mulai membersihkan sisa darah yang mulai mengering. Dia tidak menyangka emosinya bisa membuat bibir Henry sobek. Memang keadaanlah bisa merubah diri seseorang bila sudah terjepit.
"Selesai," kata Nia sembari membereskan peralatannya.
"Oh, ya yang tadi itu hanya bercanda 'kan?" Tak ayal pernyataan Henry tadi membuat kepala Nia enggan berhenti memikirkan.
"Aku serius."
"Bagaimana jika kita lupakan meski aku belum menyembuhkan sakit hatiku, tapi bila kamu sudah memiliki calon istrimu maka aku akan pergi tidak akan mengganggumu dan menganggap peristiwa ini tidak pernah terjadi." Nia berusaha memberikan solusi.
"Apa kamu sedang menentang perintahku?" Alisnya kembali terangkat keatas semakin menambah kharisma pria berusia 33 tahun tersebut. Nyali Nia menciut, ia mengangguk saja.
"Menikahlah denganku!"
__ADS_1
"Menikahlah denganku minggu depan, kamu menuntut keadilan 'kan dariku? Bukankah ini sudah adil?" Mulut Nia terkunci, dia memang mencari tanggung jawab Henry tapi harus menikah mendadak membuatnya pening. Bagaimana bisa pria ini dengan gampangnya meminta dirinya menikah? Jangan-jangan hanya untuk kepentingan Henry saja.
"Aku masih muda, tidak akan menyiakan masa mudaku untukmu," ketus Nia.
"Bukankah tawaranku lebih baik daripada kamu tetap melayani pria-pria itu?"
"Sudah ku katakan aku tidak seperti itu!!!" teriak Nia, hampir saja tangannya mendarat di pipi Henry apabila pria itu tidak cekatan menahannya. Dia tidak terima direndahkan lagi oleh Nia.
"Terima tawaranku atau tidak!?" tanya Henry pelan.
"Tidak sudi!" Tapi seketika itu bayangan kelebat ayahnya yang sedang sakit hadir di pelupuk matanya. Sudah dua bulan ini ayah Nia sakit parah. Untuk ke dokter belum ada biaya, Nia takut bila terjadi sesuatu ke ayahnya, beliaulah orang tua sekaligus orang dekat satu-satunya yang Nia miliki.
"Bagaimana, ****** kecil?"
"Sudah kukatakan aku tidak suka dipanggil seperti itu, aku masih punya nama."
"Maaf, habisnya aku tidak tahu namamu, siapa namamu?"
"Nia." jawabnya singkat.
"Aku tunggu jawabanmu hingga pukul 11 malam." Enak sekali bos muda itu bisa mengatur sesukanya.
"Pikirkan lagi tawaranku, aku tahu kau butuh uang," kata Henry yakin. Sebelum pulang Henry memasukan nomornya ke hp Nia.
"Hast, mimpi apa semalam bisa berurusan rumit dengan pria hidung belang sepertinya," batin Nia disepanjang perjalanan pulang.
Pukul sudah menunjukkan angka 10 malam berarti tinggal sejam lagi waktunya untuk menjawab tawaran Henry. Nia gelisah padahal Henry tidak mengancamnya sama sekali. Dia terus meremas tangannya dengan gundah.
"Uhuk...uhuk." Terdengar suara batuk ayahnya dibalik pintu. Nia segera menghampiri ayahnya.
"Yah, kok belum tidur?" Ayah tidak menjawab hanya tersenyum.
"Nia, ambilkan air hangat dulu." Ia berlari ke dapur menuang air termos ke gelas dan diberikan ayahnya.
"Sudah malam, Yah, istirahat biar cepat sembuh." Dipegang tangan yang renta itu, tangan yang selalu bekerja keras demi kelangsungan hidup keduanya, tangan yang digunakan untuk menggendong tubuh kecilnya dulu. Kini dia menderita kesakitan dan ia belum bisa membawa berobat karena belum ada uang. Biaya kuliah untungnya Nia memiliki beasiswa jadi tidak perlu pusing memikirkan.
"Ya, terima kasih Nia."
Nia terus mondar mandir dikamarnya. Beberapa kali ia menghapus dan mengetik jawaban atas tawaran Henry.
[Aku mau menikah denganmu tapi aku mengajukan syarat.]
__ADS_1
[Katakan apa?]
[Tolong beri kami biaya untuk berobat ayahku.]
[Oke]
Dalam hati Nia bersyukur, dia mendapatkan pertolongan Tuhan dengan mudah, meski harus mengorbankan masa mudanya dia lakukan demi sang ayah.
"Sebutkan biaya pengobatan ayahmu." Nia menemui Henry di kantornya pagi ini.
"Aku tidak tahu, akan sangat berterima kasih bila kamu mau membayar penuh biayanya."
"Bukan hal sulit kulakukan." Dengan sombongnya Henry menatap keluar. Jika bukan karena ayahnya diselamatkan Nya tidak sudi seperti mengemis kepada pria sepertinya.
"Aku sudah melakukan apa yang kamu mau, sekarang aku ingin kita persiapkan pernikahan kita." Lidah Nia tiba-tiba kelu tidak bisa bicara, mendengar kata pernikahan membuat bulu kuduknya ngeri. Dia takut akan terkekang.
"Baiklah." Rupanya hanya itu jawaban yang aman. Nia terlihat lebih menurut dengan Henry daripada kemarin.
"Tapi bisakah aku menemui ayahku dulu?"
"Ayahmu sudah ditangani dokter kamu tidak usah khawatir." Dalam benaknya ia bertanya bagaimana bisa Henry tahu itu.
"Apakah ayah sudah dirumah sakit?"
"Iya, lihat ini, anak buahku sudah membawanya dan aku sudah mengatakan agar ayahmu dirawat dengan baik." Nia bernafas lega, yang penting ayahnya bisa kembali sehat dan masalah pernikahan dia bodo amat meski tidak lupa berdoa semoga pernikahan ini adalah yang pertama dan terakhir untuknya. Ia bukan tipe orang yang mempermainkan pernikahan.
Henry dan Nia sengaja datang ke butik langganan Henry. Nia terlihat kikuk dengan banderol harga disana. Satu baju cukup untuk uang jajannya sebulan bahkan lebih.
"Pilih sesuka hatimu." Pikiran Nia terus melayang ke rumah sakit, ia rindu ayahnya. Melihat Nia sejak tadi melamun Henry segera menemuinya.
"Kalau ingin ke rumah sakit, silahkan aku antar." Senyum merekah tanpa Nia sadari telah mampu membuat seorang Henry sanjaya tertegun pasalnya selama ini tahunya hanya Nia yang suka marah dan panik tidak karuan.
Perjalanan rumah sakit tidak jauh dari butik hanya perlu waktu lima belas menit. Parkiran sangat ramai. Nia berjalan mendahului Henry. Setelah ketemu kamar bapaknya, Nia langsung masuk. Disana sudah ditunggu dua asisten Henry. Nia hanya melirik sekejap.
"Nak, mereka siapa?" tanya Ayah dengan suara serak.
"Karena merekalah ayah bisa dirawat disini," kata Nia dengan senyuman. Ia sengaja menutupi kenyataan.
"Yah, Nia kesini juga ingin meminta restu dari ayah, karena Nia akan segera menikah." Mendengar demikian sang ayah kaget.
"Menikah dengan siapa, Nak?" Henry langsung menunjukkan dirinya disamping Nia. Ayah Nia menyetujuinya. Kini tinggal mereka menentukan akad nikah.
__ADS_1
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahiku?" tanya Nia disela-sela waktu mereka di rumah sakit.
"Aku tidak bisa jauh darimu, ****** kecilku, dengan aku menikahimu seharusnya kamu bersyukur tidak perlu menjajakan tubuhmu lagi." Sontak mata Nia melotot tajam mendengar Henry mengatakan dengan ringan. Yang ditatap hanya senyam-senyum saja. Kalau saja dia bukan yang menolong ayahnya. Dia tidak segan menghajar pria matang di sebelahnya. Demi ayahlah sikapnya jadi sedikit lembut dari biasanya. Sedang Henry merasa senang sebentar lagi dirinya bebas dari Alena.