
"Awas mencoba membohongiku!" Disaat hasratnya sudah diubun-ubun malah dia melihat Nia masih berpakaian setelan baby doll. Padahal angan-angannya tadi sampai dirumah disuguhi pandangan Nia dengan pakaian yang baru ia belikan tapi seketika buyar saat Nia berusaha menghindar dengan masih memakai baju rumahan.
Nia lama berdiam diri di kamar mandi. Ia melihat dirinya dengan balutan lingerie ungu muda. Tampak mulus tubuh mungilnya.
"Ternyata dia tahu ukuran tubuhku." Nia menggigit bibir bawahnya.
Tanpa membuang waktu lagi Nia segera mengganti dengan baby doll semula.
"Huft, syukur sudah keluar."
"Aku masih disini." Ternyata Henry sedang duduk di pojok ranjang.
"Sini kamu!" tunjuk Henry agar Nia mendekat.
"Kamu sebenarnya tahu nggak sih cara menyenangkan laki-laki?" Nada bicara Henry sedikit meninggi.
"Nggak lah, mana aku tahu aku juga belum pernah pacaran, nggak boleh sama ayah," jawab Nia apa adanya. Henry melongo mendengar jawaban konyol Nia. Dia kemudian meninggalkan Nia dengan pikiran anehnya. Pikirannya sudah kacau.
*
Siang ini Nia sudah bersiap untuk berangkat kuliah, rasanya sudah kangen dengan teman-temannya.
"Jika ditanya temanmu jawab saja sedang mengurus ayah," perintah Henry.
"Heem." Nia menjawab tanpa menoleh wajah ganteng suaminya.
"Dan jangan harap kamu bisa lepas dariku, bocah kecil, jangan jauhkan hp mu dari dirimu." Nia menggelengkan kepalanya. Pasti akan ada kejutan lagi, ya dinikmati saja, Nia.
"Aku berangkat." Ia mengambil kunci motornya dan melajukan menuju kampus.
*
__ADS_1
"Nia, tumben baru muncul, kemana aja sih satu minggu lebih gak ada kabar? Rumah kamu juga kosong." Mala, sahabat Nia nyerocos tanpa jeda.
"Ayahku sakit, jadi aku ke rumah sakit ngurus Beliau." Sesuai perintah Henry dia mengatakan merawat ayahnya.
"Ups, maaf aku pikir kamu pulang kampung." Mala tampak bersalah tidak menemani Nia di rumah sakit.
Jam kuliah telah usai, Nia membuka gawainya. Semoga saja tidak ada kejutan dari Henry lagi.
"Aman." Nia menengok ponselnya, ternyata tidak ada notifikasi apapun. Baru pukul 4 sore, malas rasanya mau pulang.
"Apa aku ke rumah sakit saja ya, kangen sama ayah." Ia lalu mengetik pesan kepada Henry.
[Aku mau ke rumah sakit.] Ia masih bingung harus memanggil suaminya dengan sebuta apa.
[Jam 5 sampai rumah.] Gila, berarti Nia disana hanya sekitar setengah jam.
[Ya, baiklah.] Nia melajukan sepeda motornya ke rumah sakit.
Kamar ayahnya ditunggui dua pengawal Henry.
"Hih, orang aneh, memangnya sini makhluk astral, orang berbasa-basi kok dicuekin," gerutu Nia.
Sebenarnya ada perempuan yang sejak tadi mengikuti Nia. Mulai dari kampus hingga rumah sakit tapi bodohnya Nia tidak menyadari hal itu. Ia terus melangkah santai.
"Rupanya seleramu berubah, Hen." Bibirnya membentuk senyuman di sudutnya.
"Aku harus cari tahu siapa Nia itu." Ia memasangkan kacamata hitamnya ke mata indahnya
Waktu pun telah habis, pengawal Henry berlari mengejar Nia.
"Nona, anda diperintahkan pulang."
__ADS_1
"Oke, tunggu sebentar." Nia menghela nafas berat, kenapa hidupnya seperti dipenjara saja. Padahal dia itu korban tapi sekarang situasinya seperti Nia yang bersalah harus memenuhi apapun permintaan seorang Henry Sanjaya. Pengawal pun menggandeng tangan Nia dan masuk ke mobil dan kemudian dikemudikan dengan kecepatan maximum.
Deg, tiba-tiba hatinya terasa ada yang dingin.
"Sudah lamakah, Tuan Henry menyuruhku pulang?"
"Ya, sebenarnya sudah sekitar 10 menit yang lalu." Nia terpaksa ikut mobil anak buah Henry dan motornya dibiarkan di rumah sakit.
Sesampainya dirumah Nia sudah mendapati Henry sedang duduk di sudut kamarnya. Apa yang akan Henry lakukan setelah ini? Batin Nia berkecamuk.
"Rupanya sudah disini," kata Henry dingin.
"Mau apa lagi?" tanya Nia ketus. Mata Henry hanya meliriknya sekilas. Kakinya melangkah mendekati Nia. Dadanya mendegub, laki-laki itu semakin mendekat. Nia teringat obrolan dengan pengawal Henry tadi.
"Sepertinya Tuan Henry tidak salah pilih, Nyonya Varenia."
"Hah?" teriak Nia. Pengawal itu mengangguk.
"Ya, aku yakin Tuan Henry itu suka wanita yang lemah lembut."
"Kalau ingin mendapatkan hati Tuan Henry, berlaku lemah lembutlah dan manjakan dia," bisiknya lagi seolah ada yang menguping pembicaraan mereka.
*
"Mengapa kamu menatapku seperti itu?" Henry bertanya kepada Nia. Istrinya menatap tanpa kedip. Perlu digaris bawahi jika Henry memang sosok lumayan handsome.
"Oh, tidak tidak, aku… aku…"
"Apa kamu masih berpikir pernikahan ini selamanya?" Nia diam membisu, menatap lantai kamar.
"Baiklah, kalau kau tidak mau menjawab, biar aku paksa kamu menandatangani surat perjanjian kita." Henry memberikan kertas dan pulpen. Nia menerima kemudian dibacanya secara seksama. Hatinya gundah harus menandatangani atau tidak. Sama-sama pilihan yang sulit. Selama menjadi istri Henry posisi Nia tidak beda hanya sebagai pemuas nafsu Henry saja, bila menolak maka Henry akan menghentikan biaya perawatan ayahnya. Akhirnya Nia menandatangani surat perjanjian tersebut.
__ADS_1
"Ok, thanks baby." Henry menyambar surat itu dan pergi dari hadapan Nia.
"Laki-laki biadab, akan kubalas semuanya, mungkin menjadikanmu cinta padaku adalah salah satu cara agar aku bisa menang dan aku akan buktikan kalau aku bukan ****** seperti pikiranmu selama ini!!" Nia tersenyum sedikit dan merebahkan diri ke kasur.