Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry

Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry
14. Kesal


__ADS_3

"Ehm…." Henry berdehem melihat Hanson begitu lekat memandangi Nia. Entah ia merasa tidak rela saja Nia dipandang begitu oleh Hanson.


"Oh, Kak Henry." Hanson melayangkan tangannya untuk menjabat tangan kakaknya, tapi seperti biasa Henry malah melengos mengabaikan  tangan Hanson. Karena tidak tersambut, Hanson terpaksa menarik tangannya lagi kemudian ia ikut bergabung makan malam.


Suasana hening menyelimuti ruang makan. Sudah tradisi sejak dahulu di keluarga Sanjaya. Mereka pantang makan sambil ngobrol, kalau mau ngobrol ya nanti jika sudah selesai makan. Hanya sendok dan piring saja yang beradu.


"Apa kamu mahasiswa di universitas XY??" tanya Hanson ketika sudah selesai makan dan Kakek Sanjaya telah berlalu lebih dulu. Sedang Henry entah ia juga kabur meninggalkan ruang makan.


"Iya, Mister, saya memang mahasiswa di universitas XY," jawab Nia sambil membantu bibi membereskan meja makan.


"Sudahlah, Non, biar saya saja." Bibi merasa tidak enak Nia ikut turun tangan. Meski belum diperkenalkan secara langsung namun Bibi itu tadi sudah mendengar bahwa Nia adalah istri dari Tuan Henry.


"Udah gak apa-apa, aku bisa bantuin meski cuma sedikit." Nia merasa tidak  tega kelihatannya bibi itu sudah memasuki usia kepala lima.


"Kalau begitu aku juga ikut," kata Hanson memegang nampan buah-buahan.


"Aduh, kok bibi jadi nggak enak sih," kata Bibi canggung melihat kedua cucu bosnya ikut sibuk membersihkan meja makan.


"Gak setiap hari juga kok, Bi." Hanson ikut menimpali.


Ketiganya saling membantu mencuci piring. Mereka sangat kompak.


"Oh, kamu bukannya yang tadi pagi telat masuk kelasku ya?" tanya Hanson di sela-sela meletakkan piring bersih ke rak.


"Hehe, maaf iya, Mister."


"Astaga, ini di luar kampus panggil saja saya Hanson." Ia merasa tidak nyaman dipanggil Mister di luar kampus.


"Maaf," kata Nia menundukkan kepala.


"Ngomong-ngomong kamu beneran sudah menikah dengan kakakku??" tanya Hanson lagi.


"Eh, iya udah."


"Tapi ya belum mengadakan pesta, jadi tertutup gitu karena Ayahku masuk rumah sakit."


"Oh, pantas." Hanson menganggukkan kepala.


"Kenapa?"


"Tidak mengundang siapa pun juga."


"Iyalah, lagipula kita cuma nikah kontrak mana mungkin kakakmu itu mau undang-undang, " ucap Nia tentu saja hanya dalam hati.


"Besok kamu masuk juga 'kan??" Nia mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah, pekerjaan sini sudah selesai saya masuk dulu ya."


"B-baik silakan." Nia kembali duduk di ruang makan sendirian.


Di ruang kerja Kakek Sanjaya.


Mayda mengunci pintu dan Kakek Sanjaya duduk di kursi kebesarannya.


"Pa, apa Papa setuju dengan pernikahan Henry?" Mayda ikutan duduk di kursi depan meja kerja Kakek Sanjaya.


"Kamu lihat apakah Papa ini setuju??" Mayda mengerutkan kening.


"Kelihatannya sih, iya."


"Ya sudah, memang Papa setuju, itu harapan Papa agar Henry bisa menikah secepatnya."


"Tapi nggak sama gadis sembarangan gitu dong, Pa." Protes Mayda tidak setuju ternyata Kakek Sanjaya malah mendukung pernikahan Henry dan Nia.


"Kelihatannya dia juga baik," kata Kakek Sanjaya.


"Bagaimana dengan Alena??" Kakek Sanjaya mengerutkan kening.


"Alena?? Anak dari Alan grup?"


"Apa yang salah sih, Mayda?? Bukannya bagus bila Henry tidak jadi dengan gadis manja itu??"


"Bukan begitu, Pa. Tapi kita kan belum tahu dimana Henry mungut wanita itu. Apalagi aku lihat dia tadi sangat kasar." Mayda terus mengompori Kakek Sanjaya.


"Ah, sudahlah, ini sesuai kesepakatan Papa dan Almarhum Roman Sanjaya, bila Henry boleh menikahi siapapun yang ia cintai."


"Nggak bisa gitulah, Pa."


"May, apa iya ini masih jamannya jodoh perjodohan? Cukup aku dan neneknya Henry saja yang menjadi korab perjodohan, jangan sampai ke anak cucuku," tegas Kakek Sanjaya mantap. Mayda hanya mendesah kecil.


"Lalu bagaimana dengan jabatan yang diisi Henry saat ini??" tanya Mayda mengalihkan pembicaraan.


"Henry tetap menjadi CEO."


"Dan Hanson??" Meya mengingatkan bahwa dia memiliki dua putra.


"Hanson biarlah dia dengan pilihannya. Menjadi tenaga pendidik bukanlah pekerjaan yang hina."


"Bagaimana dengan perusahaan ini??"


"Sudah aku bilang, Henry pasti mampu."

__ADS_1


"Kalau mampu pasti keuangan perusahaan menjadi kacau."


"Papa percaya Henry."


Mayda pun berdiri dari kursinya, ia merasa kecewa keluhannya tidak direspon oleh mantan mertuanya. Bukannya membujuk agar Hanson mau ikut membantu menumbuhkembangkan perusahaan malah Kakek Sanjaya mendukung keputusan putra keduanya.


Sebenarnya saat mereka saling bicara, Henry mendengarkan dengan seksama dari luar ruangan. Henry nampak tersenyum puas ternyata Kakeknya menyetujui mempertahankan posisi dia menjadi CEO Sanjaya group.


"Ternyata Kakek mempercayaiku seperti ini." Beda raut muka beda hati, itulah Kakek Sanjaya. Sebenarnya Henry sudah dari awal takut bila tidak menyetujui pernikahannya dengan Nia.


"Henry, sejak kapan kamu disitu?" Selidin Mayda begitu keluar dari ruangan Kakek Sanjaya.


"Baru lewat aja, kenapa sih, Ma?" tanya Henry pura-pura tidak mengerti isi pembicaraan antara Mayda dan Kakej Sanjaya.


"Enggak apa-apa sih." Mayda berlalu begitu saja dari Henry. Sudah menjadi kebiasaannya dari dulu, baik Mayda dan Henry saling cuek begitu, hanya akan bicara bila ada hal-hal yang perlu. Berbeda dengan Hanson, Mayda selalu hangat dengan anak keduanya. Entah kenapa ia begitu membedakan kedua putranya.


"Ya sudah, Mama mau naik dulu." Mayda pun meninggalkan Henry sendirian.


"Oh, ya besok jangan lupa ada mata kuliah lagi 'kan?" Henry menoleh dari mana asal suara tersebut. Ternyata Hanson dan Nia. Mereka tampak akrab sekali.


"Oh, jadi kamu dosennya Nia?" Selidik Henry kepada Hanson.


"Heem, dia emang dosenku," jawab Nia. Ia tidak menyangka saja dunia ini begitu sempit. Dosen tampan itulah yang sebenarnya dilirik Nia diam-diam namun sikap Hanson di kampus hanya dikenal sebagai dosen killer nan menakutkan. Namun Nia merasa tertantang, eh malah sekarang ia menjadi iparnya. Huh, menyebalkan memang.


"Nia, ayo masuk." Henry menggandeng Nia menuju kamar. Malam ini mereka memang diminta Kakek Sanjaya untuk menginap. Nia menuruti kemauan suaminya, karena memang ia ditarik kasar oleh Henry.


"Kamu sudah kenal lama dengan Hanson?" tanya Henry kepada Nia saat mereka sudah sampai kamar tak lupa Henry mengunci pintunya.


"Sudahlah, kan dia dosenku," celetuk Nia malas membahas tentang Hanson.


"Kamu pindah kampus aja." Mata Nia membelalak.


"Enak aja, aku nggak akan pindah," ketus Nia.


"Kenapa??"


"Aku kuliah disana perlu perjuangan, bahkan kalau bukan karena beasiswa aku tidak akan bisa kuliah."


"Aku akan membiayaimu." Entah Henry tidak suka saja melihat Nia akrab dengan Hanson.


"Huh, sombong! Aku lebih suka dengan hasil usahaku sendiri." Nia menjatuhkan diri di kasur yang super empuk.


"Siapa yang minta kamu tidur disitu?"


"Bodo amat! Kalau kamu nggak mau tidur aja di lantai sana." Nia menarik selimutnya tanpa peduli Henry lagi.

__ADS_1


__ADS_2