Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry

Nikah Dadakan Dengan Tuan Henry
Bab.5. Hukuman


__ADS_3

Ruangan bercat abu seolah menjadi saksi bisu perjanjian Nia dan Henry.


"Bagaimana?" Henry tampak tidak sabar menanti jawaban Nia.


"Baiklah aku setuju tapi harus kamu ingat aku bukan seperti yang kamu pikirkan," kata Nia dengan menekankan setiap kata agar Henry bisa percaya.


"Hahaa, sudah kuduga kau akan setuju, lagipula yang kau miliki hanya tubuh jadi tubuhmu hari ini menjadi milikku selama aku mau." Ada desiran hebat di dada, Nia menelan salivanya dengan kasar.


"Apa maksud semua ini?" batin Nia.


"Sekarang tugasmu adalah…"


"Melayanimu dengan baik," jawabnya lirih.

__ADS_1


"Gadis pintar, bersyukurlah kau menjalin ikatan pernikahan denganku walaupun posisimu tak berbeda dari wanita pemuas diluar sana dan satu lagi, jangan pernah ikut campur urusanku dan Alena."


"Baik." Tidak ada yang lebih baik kecuali mengiyakan permintaan Henry. Iya, memang Nia masih beruntung meski dirumah ini tak beda dengan penjaja tubuh di luar sana karena setidaknya bukan membuat dosa bahkan mendatangkan pahala hanya saja caranya mungkin membuatnya tidak nyaman.


"Baik, aku akan menghukummu karena telah merobek perjanjianku." Nia menghembuskan nafas pasrah, dia mengutuk dirinya sendiri yang telah ceroboh berhadapan dengan Henry hanya menuruti amarah saja. Kira-kira hukuman apa yang akan diterimanya?


"Tunggu nanti sore atau kapanpun aku mau kau harus bersiap, jangan pernah jauh dari handphonemu," kata Henry sambil berlalu dari hadapan istrinya.


Henry memasuki parkir kantornya. Ia hendak turun tapi malas setelah melihat sosok wanita cantik tengah menunggunya, siapa lagi kalau bukan Alena.


"Henry tunggu!" Henry menghentikan langkahnya. Dengan malas dia berbalik ke arah Alena.


"Oh, jadi kamu sudah menikah tanpa memutuskanku?" Alis Henry terangkat satu.

__ADS_1


"Memutuskan? Dengar ya Alena, aku tidak pernah menganggap perjodohan kita terjadi, yang ingin kamu menjadi istriku adalah orang tuamu bukan diriku, sejak awal aku menolak perjodohan kita." Mata Alena mengambang, Henry terus saja melangkah ke dalam kantornya.


"Selamat pagi semua," kata Henry menyapa seluruh karyawannya. Dia adalah boss yang ramah tapi juga tegas. Memperlakukan semuanya sama.


Henry sudah sampai di kursi kebesarannya, tak habis pikir kenapa dia bisa menikahi seorang Varenia. Mungkin sudah takdir, tanpa ada rasa pernikahan bisa terlaksana secepat itu. Henry menyunggingkan senyum, karena sudah menikah jadi tidak mungkin orang tuanya akan memburu untuk menikahi Alena. Dia tahu mama dan papanya orang terbuka bukan tipe memaksakan kehendak. Yes, planning satu terlaksana bisa menghindari Alena. Karena dengan cara dia keluar bersama wanita malam tidak membuat Alena cemburu, tapi jika menikah mungkin bisa membuatnya perlahan menjauh.


[Siapkan pakaianmu, aku akan pulang cepat] Nia membuka handphonenya dengan bergetar, pakaian apa yang dimaksud? Belum sempat membalas Henry sudah terlebih dulu mengirimkan pesan lanjutan.


[Aku sudah pesankan, sebentar lagi akan datang]


[Jika tidak mau memakainya, jangan bilang aku menanggung biaya ayahmu.] Sabar Nia, bukan waktunya emosi. Nia mengelus-elus dadanya agar amarahnya turun. Ia sengaja tidak membalas pesan dari Henry. Antara takut dan bingung harus membalas apa. Nanti malah suaminya kegeeran jika Nia terus membalas.


"Awas kalau itu orang ngerjain aku!" geram Nia sambil minum air dingin dari kulkas.

__ADS_1


__ADS_2