
jasvin tersenyum, dan detik berikutnya senyum itu berubah menjadi tawa lalu dengan pelan ia memukul kepalanya.
"stop jasvin! salting kamu jelek jika Yasmin melihatnya dia bakalan ilfile, betul tidak Beby?"
dari dalam mobil jasvin bisa melihat Yasmin yang keluar dari supermarket dengan menenteng dua kantong plastik yang sudah pasti isinya adalah perlengkapan bayi.
jasvin langsung mengubah ekspresi wajah menjadi datar, saat yasmin membuka pintu mobil dan masuk.jasvin tidak ingin terlihat oleh Yasmin bahwa ia baru saja salah tingkah dengan isi kepalanya sendiri di depan Yasmin.
"maaf lama, soalnya tadi antri di kasir" ujar Yasmin sembari meletakan dua kantong plastik itu kebelakang.
"emang" ujar jasvin.
"ck! baru di suruh jaga bentar,masa udah gitu, berikan tu bayi padaku" ujar Yasmin.
ngomong-ngomong soal jiwa seorang ibu, mungkin jasvin dengan semangat 84 akan menjawab jika Yasmin sudah cocok menjadi seorang ibu, apalagi calon istrinya..eh?
Saat jasvin ingin menyerahkan bayi mungil itu pada Yasmin, tiba-tiba saja jasvin merasa ada sesuatu yang hangat menerpa kulitnya dan terasa basa.
"Smin...ko gue ngerasa ada sesuatu yang hangat gitu kena celana gue" ujar jasvin yang masih menggendong bayi mungil itu.
Yasmin mengerutkan keningnya ia bingung apa yang di maksud jasvin. "apa ana?"
"apa jangan-jangan ni bocah..." jasvin menyerahkan bayi itu ke Yasmin dengan cepat dan sesuai duganya Sekarang celana miliknya basah.
Yasmin yang melihat itu tertawa, apalagi melihat ekspresi wajah jasvin yang sudah terlihat kesal.
"ahh...kenapa kau pipis di celanaku sih cil..."kesal jasvin.
bukanya kasihan dengan jasvin Yasmin malah tertawa semakin kencang hingga membuat bayi mungil itu menangis.
oekk...oekk..
__ADS_1
Yasmin langsung menghentikan tawanya, ia segera menimang-nimang bayi itu. bisa dilihat dari cara dia khawatir dan panik saat melihat bayi mungil itu menangis, Yasmin memberikan botol susu ke mulut bayi itu dan seketika bayi mungil itu berhenti menangis dan mulai menikmati meminum susunya.
jasvin terdiam ia terpaku dengan Yasmin yang merawat bayi yang tidak kita tahu asal-usul nya. jasvin melihat ketulusan dari Yasmin.
sebuah ide muncul di otak jasvin, ia langsung tersenyum menyeringai. karena ia sudah mendapatkan solusi untuk perdebatan kecil mereka tadi.
"Smin?" panggil jasvin.
"ya? ada apa?" tanya Yasmin tanpa mengalihkan pandangannya pada bayi itu.
hal itu membuat jasvin kesal, namun ia tiba-tiba tersadar sekarang Yasmin sedang sibuk memberi makan bayi mungil itu. tidak mungkin ia melihatnya. dan bisa kita liat bayi itu mulai memejamkan mata nya kembali.
"sepertinya gue udah tahu di mana bayi ini akan tinggal" ujar jasvin.
"ha? serius Lo ? dimana?" tanya Yasmin antusias.
"USS pelan kan suaramu, kau ingin dia terbangun" ujar jasvin dengan suara pelan.
"dimana?" tanya Yasmin masih penasaran.
"apartemen gue"
"terus yang jaga ni bayi siapa?"
"ya Lo lah"
"enak saja sesuai kesepakatan tadi kita berdua yang menjaga ni bayi"
jasvin membuang nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "jadi maksud Lo, Lo mau tinggal di apartemen bareng gue gitu?"
pertanyaan dari jasvin langsung mendapatkan pelototan tajam dari Yasmin. ia langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"enak aja, bilang aja. Lo mau berbuat mesum kan!"
jasvin mengepalkan tangannya, ia tak habis pikir dengan pemikiran Yasmin, yang masih menganggap dirinya ingin berbuat mesum. jasvin langsung memukul-mukul setir mobil karena kesal dan merasa tertekan dengan Yasmin. jasvin langsung membentur kan kepalanya di stir mobil.
Yasmin yang melihat tingkah jasvin hanya mengerti apa yang sedang di lakukan oleh pria itu.
"kenapa Lo?, apa obat Lo sudah habis? atau Lo udah gila yah?"
"YA..SEMUA ITU KARENA LO!" Kesal jasvin menatap kearah Yasmin.
Yasmin mengedipkan bahunya acu h, ia kembali fokus pada bayi mungil itu yang masih meminum susunya melalui dot.
"gini deh Smin, jika Lo tinggal di apartemen gue, kita bakalan aman. dan kita bisa cari cepat orang tua ni bocah" kali ini jasvin berusaha bersikap tenang, agar bayi itu tidak terusik.
alih-alih setuju dengan jasvin, Yasmin justru bersikeras menolak dan menuduh jasvin lari dari tanggu jawab, alias kesepakatan yang mereka buat tadi.
"tidak! pasti Lo mau kabur kan, biar gue sediri yang ngurus ni bayi wah..ngaco Lo"
sedangkan bayi mungil itu tertidur pulas, ia seperti tidak terusik dengan perdebatan orang tua dadakannya.
"Ya..terus gimana? Lo sendiri kan yang bilang gue cowok mesum karena tinggal bareng Lo di apartemen gue"
"i-iya juga sih. Ya tapikan---"
"Tapi apa? udah deh Smin gue capek dengar Lo ngebacot terus. kalau Lo ngga setuju mending balikin lagi tuh bayi ke sana, kalau Lo ingin rawat ni bayi kita tinggal di apartemen jagain ni bayi sampai orang tuanya ketemu"
"wih, ko jadi Lo yang. ngatur sih?" tanya Yasmin sewot.
"Ya..jelas gue kan sekarang papinya, gue yang bakalan urus semua kebutuhannya. dan Lo berprofesi sebagai maminya harus jagain dan rawat ni bayi" jelas jasvin enteng.
"bisa tidak Lo pakai kata lain? gue jijik dengar mami, papi Lo pikir kita SUAMI ISTRI?"
__ADS_1
"Otw"