
"HEY KALIAN BERDUA!"
Suara cempreng yang berasal dari depan membuat atensi keduanya teralihkan. Tampa sadar Bu Maryam sudah berkacak pinggang di depan mereka dengan tatapan melotot.
"Apa topik yang kalian bahas sehingga tertarik berbicara di bandingkan mendengarkan penjelasan guru ? Tanya Bu Maryam guru matematika.
Baik Yasmin maupun sara sama -sama terdiam. Tidak mungkin kan mereka harus mengatakan dengan jujur disaat yang tidak seperti ini? Bisa-bisa Yasmin dan jasvin langsung di seret di ruang kepala sekolah.
"Maaf Bu tadi kami membahasa, kenapa guru matematika begitu kejam" ujar sara Tampa merasa bersalah.
.∆∆∆∆
Nasib baik terjadi pada Yasmin dan sara karena mereka berdua di haruskan membersikan koridor gedung IPA yang tidak terpakai karena ucapan sara. Mungkin Bu Maryam tersinggung.
Setelah selesai sara menyempatkan diri untuk ke toilet. Tak lupa mengajak yasmin sekalian. Karena sebentar lagi bel istirahat kedua akan segera berbunyi, keduanya sengaja memanfaatkan waktu itu untuk membahas insiden Yasmin.
Lebih tepatnya sara sengaja membawa siswa pintar itu untuk bergosip ria.
Seperti artis yang sudah terkenal, Yasmin mereka adegan dengan detail dan lengkap sampai tidak ada yang tertinggal.
Dari mula jasvin yang masuk toilet menjulurkan ponsel dari bawah sampa kaki Yasmin menginjak ponsel dan beserta jarinya itu.
__ADS_1
"Parah banget sih, kenapa ada manusia seperti itu?"
"Aku tidak tahu, sayangnya kepala sekolah disini keluarganya. Sekalipun dia lapor bakalan percuma sih"
Memang benar adanya kepala sekolah SMA GARUDA PANCASILA punya hubungan keluarga dengan jasvin. Pak Bima di kabarkan adalah omnya Jasvin dari pihak ibu.
Kring...
Bel istirahat pun berbunyi sara bergegas menarik tangan Yasmin menuju kantin. Ia harus cepat sebelum siswa-siswa memenuhi kantin pak Ujang.
Setelah pesanan sudah di hadapan mereka duduk dengan tenang. Yasmin mulai menagih janjinya kepada sara tentang ingin memukul pelaku di toilet tadi.
"Tenang santai aja, entar kamu dengar bocah itu nangis" ujar sara dengan mulut penuh bakso.
Sara mengangguk, ia masih fokus pada makanya. Walaupun tidak melihat kearah Yasmin, sara masih mendengarkan gadis itu berbicara agar merasa di hargai.
"Em..siapa namanya?" Tanya sara.
Yasmin menyeru es jeruk manisnya sebelum melanjutkan "Jasvin di ikan mola-mola"
Bagaikan menelan batu rambutan, sara tiba-tiba saja tersedak, sampai terbentuk-batuk hanya karena mendengar nama Jasvin. Apa benar itu yang jasvin yang di maksud yasmin atau ada nama Jasvin lain di sini?
__ADS_1
"Nama panjangnya?"
"Jasvin Mahendra, cowok yang terkenal nakal dan ketua tim basket yang banyak di puji oleh cewek-cewek sekolah seperti idola kampus saja" Yasmin menyuap baksonya dengan santai.
"Smin?"panggil sara.
"Kenapa sar, kamu jadikan pukuli si ikan mola-mola?"
Sara langsung tersenyum menyebalkan, ia menggeleng pelan sebagai isyarat jika dirinya tidak akan memukul jasvin.
"Kamu kenapa?"
Sara menepuk jidatnya dengan pelan, gadis ini lebih cocok pelajaran menghitung dari pada menghapal, karena Yasmin merupakan manusia pelupa tingkat akut.
"Kamu lupa atau gimana sih? Aku kan ngeidolain jasvin, masa sih mukanya aku pukul?" Terlihat sara mengalihkan topik mengelabuhi Yasmin.
Seperti punyya dendam pribadi, Yasmin menacapkan garupnya ke bakso yang masih tersisa karena saking kesalnya.Namun, di detik berikutnya ia memakan bakso itu lalu berdiri meninggalkan sara dan berucap.
"Temanan aja tu sama si ikan mola-mola, aku tidak penting soalnya"
Sedik kecewa denga sara, karena temanya itu lebih memilih jasvin daripada dirinya benar kata orang, jika seseorang memiliki wajah cantik/ganteng akan aman.
__ADS_1
Yasmin benar-benar serius ia tidak bicara dengan sara karena sara tetap bersikeras untuk tidak memukul jasvin