OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Prolog I


__ADS_3

Malam yang sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan tetesan air, sisa hujan lebat tadi sore. Gram sedang menyiapkan pakaiannya untuk ia bersekolah besok pagi.


"Hmm... Kira-kira apa besok aku akan langsung punya teman baru ya?" Monolog Gram sambil memandangi seragam barunya.


*Kring... Kring...


HP Gram berdering, segera Gram mengangkat HP-nya, dan menerima panggilan tersebut.


"Halo. Malam!" Sapa Gram.


"Halo Gram. Lagi apa kamu?"


"Oh Arima ya... Ini, aku lagi siap-siap buat sekolah besok, besok biar gak buru-buru gitu."


"Sama sih. Oh ya, kamu jadi ambil jurusan Ekonomi-Akuntansi?"


"Iya Ma, kenapa?"


"Ehem... Aku juga ambil itu sih."


"Oh jadi kita sekelas dong?"


"Iyalah. Dan kalo gak salah, dikelas kita ada tiga puluh lima-an siswa."


"Gak ada siswinya gitu?"


"Ih... Ya ada, maksudnya total ada tiga puluh lima kepala gitu."


"Kalo manusia itu dihitung berdasarkan kepala ya? Kan hewan, ekornya tuh."


"Aih... Terserahlah Gram. Aku tutup panggilannya ya?"


"Ya-ya... Lagian aku juga bentar lagi tidur. Gaknya kamu tumben aja calling-calling? Malem-malem pulak."


"Oh jadi aku ganggu ya Gram?"


"Aku gak bilang gitu ya... Udahlah, aku mau tidur aja. Sampe ketemu besok ya."


"Yo~"


Arima menutup panggilannya. Gram yang merasa sudah menyiapkan segalanya buat besok, akhirnya ia memutuskan untuk segera tidur.


Ia merebahkan dirinya di kasurnya, dan mulai mematikan lampu kamarnya. Dengan cahaya remang-remang, Gabriel menatap langit-langit di kamarnya itu.


"Dion... Kurasa besok adalah waktu yang tepat untuk kita klarifikasi, kau satu-satunya teman yang kupunya saat ini, tapi kita malah ada konflik hingga saat ini. Aku mengejarmu hingga jurusan yang sama denganmu, semoga kita bisa kembali akrab." Pikir Gram merenung.


-

__ADS_1


Tak sadar, Gram tau-tau sudah bangun di pagi hari. Lalu bangkit dari kasurnya, dan ia membuka gorden jendelanya.


Melihat ke arah luar rumah, semua hal disana basah dipenuhi sisa air hujan semalam. Matahari bersinar, tidak ada awan yang menghalang.


"Pagi yang cerah, apakah ini pertanda baik untukku?" Pikir Gram dengan semangat.


Segera ia mengambil handuknya dan mandi.


Diperjalanan menuju kamar mandi, dilorong antar kamar ia dihadang oleh adiknya, "Kak..." Ucap adiknya sambil merentangkan tangannya.


Gram lalu menekuk satu lututnya dan jongkok di hadapan adiknya yang masih duduk dibangku TK itu.


"Ada apa Nia?" Tanya Gram sambil menepuk kepala adiknya.


"Kakak jangan pergi. Nia sayang kakak, jangan pergi kak."


"Haha... Kakak gak kemana-mana kok Nia, kakak cuma keluar sebentar, nanti pulang lagi kok."


"Kakak janji?"


"Iya. Udah ya, kakak mau mandi dulu." Gram lalu kembali berdiri.


"Nia~ Sini nak, bantu ibu. Gram kamu cepetan deh, nanti kesiangan lho." Teriak ibu Gram dari dapur.


"Nah... Ayo Nia, ibu manggil tuh." Ucap Gram setelah itu lalu menggandeng tangan adiknya, dan menuju ke dapur.


Waktu SMP, Gram membayar semua biaya sekolahnya. Bukan karena ekonomi keluarga Gram rendah, namun Gram hanya merasa tidak enak saja dengan ayahnya. Pasalnya, meski Gram dan ayahnya tinggal serumah, sangat jarang mereka mengobrol.


Bukan karena saling membenci juga, namun karena ayah Gram yang berangkat kerja agak siang, dan pulang ke rumah selalu larut malam, yang membuat beliau tidur sampai agak siang juga. Alhasil, Gram yang berangkat sekolah pagi-pagi tidak pernah dapat kesempatan untuk mengobrol dengan ayahnya, apalagi waktu malam.


-


"Biaya ya? Ayahmu sudah bangun, kamu tanyakan sendiri saja. Sekalian minta antarkan ke sekolah." Perintah ibunya.


"Eh? O-oke deh.." Setelah menyapa ibunya itu, Gram lalu kembali ke niat awalnya, yaitu mandi.


Kebiasaan buruk Gram saat mandi adalah, ia sering konser sendiri di kamar mandi. Ya, konser. Itu hal yang membuat mandi Gram jadi lama.


"Kenapa jadi tiba-tiba grogi gini ya... Biasanya kalo mulai sesuatu gapernah se-grogi ini." Pikir Gram sambil memulai keramas.


"Gram... Buruan, beneran kesiangan lho kamu nanti." Teriak ibu Gram dari luar kamar mandi.


"Iya bu, sabar dong." Jawab Gram. Lalu ia secepatnya menyelesaikan mandinya.


-


Singkat cerita, setelah selesai mandi, Gram lalu duduk di meja makan.

__ADS_1


"Buruan makannya ya Gram, ayahmu udah nunggu di depan sambil manasih motor tuh." Ucap ibunya.


"Lah sebelumnya gak ngomong bu, aku belum ganti seragam ini."


"Yaudah ganti dulu baru sarapan."


Gram pun memakai seragam yang telah ia siapkan di hari sebelumnya. Setelah selesai bersiap, Gram kembali ke meja makan lagi, dan terlihat ayahnya juga duduk di sana.


Gram lalu duduk di samping ayahnya itu.


"Tanya tuh ke ayah." Ujar ibunya.


Gram pun bertanya perihal yang ia tanyakan sebelumnya pada ibunya, "Ya terserah kamu aja." Jawaban datar ayahnya. Gram pun kembali diam.


Singkat cerita, Gram selesai makan dan langsung diantarkan ayahnya ke SMA-nya.


-


Sesampainya di depan gedung SMA, Gram lalu berpamitan dengan ayahnya.


"Ntar pulang naik angkot aja." Ucap ayahnya lalu meninggalkan Gram.


"Buset... Keknya serem juga bapakku." Pikir Gram sambil senyum-senyum sendiri.


Gram lalu balik badan dan menatap gedung sekolahnya, "Woah... Jadi mulai sekarang aku bakal sekolah disini ya. Tapi kenapa masih sepi gini ya?" Pikir Gram bertanya-tanya.


"Gram... Oi... Graham..." Panggil seseorang dari belakang Gram.


Gram pun menoleh ke arah orang yang memanggilnya, "Oh Arima ya. Pagi~" Gram menjawab sapaan Arima dengan mengangkat satu tangannya.


"Dari zaman SMP kamu ini orangnya emang disiplin banget ya Gram." Ucap Arima sambil tersenyum ramah.


"Enggak juga Ma. Lagian, kalo aku kesiangan bakal dimarahin gitu sama ibu."


"Jadi yang disiplin itu ibumu ya haha." Arima tertawa dan menepuk punggung Gram.


"Eh ya, ngomong-ngomong masih sepi ya? Padahal udah jam tujuh tepat." Sambung Arima sambil melihat ke sekitar.


"Ya aku juga bingung sih. Tapi bener sekarang kan upacara penerimaan siswa didik barunya?"


"Gak tau deh Gram."


Gram dan Arima pun masuk melewati gerbang, dan menuju aula utama di dalam gedung sekolah. Di sana Gram dan Arima melihat banyak bunga dan beberapa orang sedang menatanya, yang mana berarti memang hari itu upacara penerimaan siswa didik barunya.


"Gram, liat deh anak yang berseragam itu, kalo gak salah namanya Azmi. Dia seangkatan lho sama kita, cuma dia sering aja gitu bantu-bantu guru yang ada di SMA ini." Ujar Arima sambil menunjuk salah seorang siswa berseragam yang sedang ikut menata bunga.


"Azmi ya..." Gram penasaran.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2