OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Dihadang


__ADS_3

Singkat cerita, beberapa menit setelah empat sekawan itu ngobrol, tiba-tiba ada pengumuman, bahwasanya para siswa didik baru diperbolehkan untuk pulang, karena belum ada jadwal kegiatan belajar mengajar saat ini.


-


"Kamu jalan kaki bro?" Tanya Bara pada Gram.


"Aku naik angkot Bar, napa tuh?"


"Yaudah bareng aja, rumahmu ada diperbatasan kota ini kan? Aku bisa sekalian mampir."


"Boleh aja. Kamu Rif?" Tanya Gram ke Arif.


"Rumahmu ada di ujung timur kan? Rumahku ada di barat Gram, jadi kapan-kapan aja aku mampirnya ya." Jawab Arif, setelah itu dia pamit untuk pulang duluan.


Sedangkan Sima, saat mendengar pengumuman pemulangan, dia paling gercep untuk pulang. Dan meninggalkan tiga kawannya itu tanpa basa-basi.


Gram dan Bara pun keluar dari kelas, saat keluar dari kelas, mereka di hadang oleh dua orang yang tinggal kelas di kelas mereka. Ya, Jonathan dan Luffy.


"Mau kemana?" Tanya Luffy dengan muka angkuh.


"Kalian murid baru jangan merasa jadi paling sok deh di kelas ini, terutama kamu Gram. Hari pertama masuk sok-sokan jadi orang paling pinter, harusnya kamu tuh milih salah seorang diantara kami yang udah lama ada di kelas ini." Sambung Jonathan.


"Ya Tuhan, ini baru hari pertama kan? Kenapa rumit gini. Oh ya, bukannya tadi Bara bilang tempramennya buruk? Apakah saat ini dia akan marah?" Pikir Gram, lalu menengok ke arah Bara yang ada di sampingnya, eh taunya Bara malah diam terpaku, "Oi Bar, mana tempramen yang buruk katamu tadi? Atau kamu emang gak suka aja sama Sima?" Sambung Gram bertanya-tanya dipikirannya.


Tak lama setelah itu, Dion keluar dari kelas, dan langsung saja menerobos lewat tengah-tengahnya, antara Jonathan dan Luffy.


"Oh maaf, kalian terlalu besar, aku tidak bisa melihat jalan lain." Ucap Dion setelah berhasil melewati dan menabrak badan Jonathan dan Luffy.


"Kalian jangan macam-macam sama ilmuwan gila itu, atau kalian akan menyesal." Sambung Dion dengan suara agak lantang, sambil terus berjalan menjauhi empat orang yang ada konflik itu.


Dion lalu mengangkat satu tangannya, sedangkan tangan lainnya berada di saku celananya. Dengan cara berjalan Dion yang bisa dibilang cukup songong, hal itu sepertinya membuat Jonathan dan Luffy agak tergoyah niatnya untuk membully Gram dan Bara.


Akhirnya Jonathan dan Luffy pergi dari hadapan Gram dan Bara. Lalu Gram dan Bara pun melanjutkan perjalanan mereka.


-


"Apa kamu takut sama mereka Bar? Mana yang katamu tempramenmu buruk?!" Tanya Gram seperti sedang kesal dengan Bara. Karena Gram pikir Bara akan melawan dua orang tadi.

__ADS_1


"Yah sorry bro, aku kan juga orang baru di sekolah ini, bahkan ini juga bukan kotaku. Kalo aku cari masalah sama mereka, bisa-bisa aku dikeroyok di kota ini dan aku gak bisa pulang ke kota ku dong." Jelas Bara, yang cukup dipahami Gram.


"Haah~" Gram menghela nafas, "Yaudahlah ya... Lagian ini juga baru hari pertama." Sambung Gram.


"Hari pertamamu cukup menarik bro, keknya kedepannya bakal lebih menarik deh. Dan juga ngomong-ngomong, kamu beneran lagi ada masalah sama Dion? Kulihat dia barusan emang niat bantu kamu gitu." Tanya Bara.


"Itulah Bar, si Dion emang gitu orangnya, egois gitulah. Dan dia mewarisi sifat ayahnya yang cukup sangar gitu, jadi siapapun bisa merasa segan dengannya."


"Dion ya... Kurasa dia akan jadi sorotan di kelas kita bro."


"Eh emang iya? Gimana bisa jadi sorotan?"


"Elah, tadi aja dia jadi barisan depan geng di kelas kita bro, aku yakin banget dia akan jadi masterpiece nantinya."


"Masterpiece? Kamu kira dia semacam barang gitu?"


"Maksudnya, aku rasa dia akan jadi populer gitu bro. Dilihat darimana pun juga, dia kelihatan punya keistimewaan gitu."


"Nah kalo itu aku setuju Bar. Saat aku masih sering berinteraksi dengannya pun, dia sangat menghargai keputusan apapun yang aku buat, walaupun memang perlu waktu, karena dia sebenarnya juga kepala batu."


"Cih... Punya temen yang loyal gitu, kok masih aja kamu musuhin."


"Ya-ya. Ini kenapa gada angkot yang lewat ya?" Tanya Bara yang membuat Gram kaget, karena tanpa sadar mereka berdua telah berada di samping jalan raya depan SMA mereka.


-


Singkat cerita, setelah mereka naik angkot dan Gram turun di depan rumahnya ia menawarkan untuk Bara mampir, namun Bara menolak, karena dia ingin cepat-cepat pulang biar bisa bermain game.


Gram pun tidak basa-basi lagi, dan langsung pulang ke rumahnya.


"Aku pulang." Ucap Gram sambil membuka pintu rumahnya.


"Loh Gram? Cepet banget pulangnya? Ini masih jam sepuluh lho." Tanya ibunya sambil melihat jam dinding, saat Gram baru masuk rumah.


"Iya bu, cuma ada beberapa kegiatan aja. Dan ***-nya dimulai dari besok, jadi sekarang diperbolehkan pulang."


"Oh gitu ya."

__ADS_1


"Nia mana bu?"


"Masih di sekolahnya, ini ibu mau menjemputnya. Kamu jaga rumah ya Gram."


"Iya bu."


Ibjnya pun berangkat menjemput Nia, sedangkan Gram langsung duduk di ruang utama, dan lagi-lagi membaca novel yang sebelumnya ia baca di sekolah.


"Kalau dipikir-pikir lagi... Hmmm enggak deh, gak usah terlalu mikirin Arima lah. Lagian aku juga gak mau ada yang nyesel diantara aku dan dia." Pikir Gram, sambil terus mengingat-ingat ucapan Arima sebelumnya.


Gram lalu ke kamar dan mengambil HP-nya, dan kembali ke ruang tamu.


Saat Gram mengaktifkan HP-nya, tau-tau ada 8 panggilan tak terjawab dari Arima, dan karena itu jumlah yang gak wajar, Gram pun menelepon balik Arima.


"Halo Ma~"


"Halo Gram, dimana kamu sekarang?!" Jawab Arima dengan tegas.


"Kalem dong. Aku di rumah, kenapa?"


"Udah pulang ya? Dari tadi aku meneleponmu lho, tapi kamu gak aktif. Ya, aku kan jadi khawatir."


"HP-ku kumatiin emang Ma, lagian juga gak perlu khawatir berlebihan juga kali."


"Yaudah deh. Aku tebak kamu lagi baca novel kan? Nah lah lanjutin aja."


"Ya emang, buang-buang waktu aja kalo masih terus teleponan sama kamu Ma."


"Jahat banget mulutnya Gram."


"Bercanda kali Ma, jangan serius-serius. Yaudah ya, aku tutup dulu."


"Iya Gram. Bye-bye."


"Yo~"


Arima lalu menutup panggilannya, dan Gram membuka novelnya kembali, lalu lanjut membaca lagi.

__ADS_1


"Hari pertamaku di SMA, ya lumayan mulus. Ada sedikit kerikil sih, tapi sepertinya gak akan jadi masalah besar. Dan juga, aku gak nyangka Dion akan membantuku saat berurusan dengan dua orang tadi. Eh tunggu, Noir bilang Dion nongkrong bareng OSIS dan menyebut namaku, trus tadi dia sengaja membantuku? Waduh..." Pikir Gram lagi-lagi berlebihan.


...•••...


__ADS_2