OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Hasil yang Terduga


__ADS_3

"Trus? Mau duel kapan?" tanya Gram dengan wajah malasnya pada Adel, yang sepertinya sangat membara saat tantangannya diterima Gram.


"Setelah jam terakhir nanti, dan semua murid di kelas ini akan jadi saksi," jawab Adel, dengan senyum angkuhnya.


"Ya-ya..."


-


Singkat cerita, jam terakhir telah selesai, jam pulang tiba, sebagian besar siswa telah pulang.


"Kamu mau ngapain sih Gram? Nanti ibuku nanyain lho kalo kita pulangnya telat," ucap Mona pada Gram yang duduk di bangku, menuggu datangnya guru matematika yang Adel maksud.


"Kamu kalo mau pulang duluan ya gak papa, nih kunci motornya. Aku lagi mau ladenin seseorang," jawab Gram.


"Trus ini semua kenapa gak pada pulang ya? Dion juga masih ada di kelas, kenapa hey kenapa?"


"Diam dulu kamu Mon, aku lagi mau fokus ini," ujar Gram, sembari mengingat-ingat materi matematika kelas 12 yang ia baca ketika jam istirahat tadi.


"Mon!" sapa Dion pada Mona.


"Gram nih lagi mau berantem, jangan ganggu," sambung Dion berbisik pada Mona,"


"Berantem?!" Mona panik, trus menuju hadapan Gram lalu mencengkram kerah Gram, lalu menarik dan mendorong kerah yang di pegangnya itu.


"Bodoh... Kamu ini bodoh Gram, kenapa sih kepikiran buat berantem. Bodoh kamu brengsek!" teriak-teriak Mona sembari menarik dan mendorong kerah Gram.


Gram berusaha melepaskannya, "Wey apasih?! Kamu ini kenapa?! Aku gak akan berantem gilak, aku mau duel matematika doang," jelas Gram sambil berusaha melepaskan cengkraman Mona.


Mendengar jawaban Gram, Mona lalu melepas kerah yang ia cengkram itu, dan melirik ke arah Dion, nampak Dion tengah tertawa terbahak-bahak.


-


Singkat cerita, datanglah Adel dengan guru matematika, dan guru itu langsung duduk di tempat guru yang ada di bagian depan kelas 10 Ekonomi-Akuntansi itu.


"Kamu, orang yang tadi duduk bersama Gram ya waktu istirahat? Kamu pacarnya Gram kah?" tanya Mona pada Arima. Pertanyaan Mona sempat mengagetkan Arima, pasalnya entah darimana munculnya, tiba-tiba Mona sudah berada di samping Arima.


"E-eh?! Bu-bukan kok," jawab Arima terbata.


"Hoo~ Tapi sepertinya kalian cukup dekat ya? Apa kehadiranku mengusikmu?"

__ADS_1


"Tidak-tidak, kurasa kamu terlalu memikirkan hal sesepele itu. Maafkan aku, tapi sebenarnya aku sedikit merasa iri padamu, yang sepertinya lebih dekat dengan Gram," jawab Arima dengan nada yang sayu, sembari menundukkan pandangan.


Mona lalu menggenggam kedua tangan Arima dengan kedua tangannya, "Kamu tenang saja, aku bukanlah orang yang nantinya akan merebut Gram darimu kok, aku sudah berjanji pada Gram untuk tidak saling cinta. Lagian juga, siapa sih yang mau sama Gram yang pemalas itu haha," jelas Mona untuk menenangkan Arima.


"Karena malasnya Gram lah, yang membuatku tertarik pada Gram," ujar Arima yang tangannya masih digenggam Mona.


Mona kaget dengan apa yang diucapkan Arima, "Heh?! Gimana?! Kok bisa?" tanya Mona, padahal pada penjelasan Mona sebelumnya, ia hanya bercanda tentang Gram yang pemalas.


"Gram memang pemalas, tapi dia tidak pernah membuat orang lain tersakiti oleh tindakannya," jawab Arima.


"Heee~ Nih orang keknya beneran suka sama Gram deh hehe," pikir Mona sambil tersenyum.


"Eh kenapa?" tanya Arima yang melihat senyuman Mona.


"Enggak-enggak," jawab Mona.


-


Tak lama setelah itu, ada dua orang suruhan OSIS datang, dan itu membuat Gram kaget.


"Weih? Harusnya cuma pertandingan biasa kan? Kenapa ada anggota OSIS yang mengawasi?" pikir Gram bertanya-tanya.


"Baiklah. Di sini saya repot-repot datang, hanya untuk melakukan pertandingan antara Adelia dan Graham saja?" tanya Guru matematika itu.


Situasi makin tidak jelas, semua murid berdiri seolah memberikan ruang untuk Gram dan Adel. Setelah itu, guru matematika itu mulai menuliskan beberapa soal matematika di papan tulis.


"Tes ini berjumlah sepuluh soal, setiap soal akan bernilai sepuluh. Jadi kalau benar semua, akan mendapatkan nilai seratus sempurna, silahkan langsung kerjakan!" jelas guru matematika setelah menulis soal-soal di papan tulis.


"Pak guru ini, sepertinya meremehkanku... Tidak, meremehkanku dan Adel lebih tepatnya. Soal-soal ini memang materi kelas dua belas, tapi mengapa dibuat sesederhana ini? Kasihan kah?" pikir Gram, sambil menatap soal-soal yang dianggapnya mudah itu.


"Huaaa~ Ini beneran tes matematika kan? Dimana letak angkanya? Hanya ada huruf lho ini," ujar Mona.


"Iya ya, kira-kira Gram bisa mengatasinya gak ya?" ucap Arima mencemaskan Gram.


Di sisi lain, Dion dan gengnya seolah mematung melihat soal-soal yang ada di papan tulis itu, "Brengsek sekali, apa soal-soal ini beneran masih matematika? Matematika udah bukan angka lagi ya?" pikir Dion bertanya-tanya.


-


Tes pun segera diselesaikan oleh Gram dan Adel, mereka mengerjakan soal matematika ini dengan cepat dan serempak selesai.

__ADS_1


Pak guru pun mulai menilai hasil tes kali ini, dan...


"Ya, kalian sama-sama dapat nilai sempurna, tes kali ini hasilnya sama," ucap pak guru, yang membuat Adel geram mendengarnya.


"Sudah kuduga, soalan ini terlalu mudah untuk Adel. Sepertinya dia juga telah belajar dengan sungguh-sungguh sebelumnya," pikir Gram.


Dua anggota OSIS tadi lalu keluar dari kelas 10 Ekonomi-Akuntansi, pak guru matematika pun turut keluar dari kelas karena tesnya telah selesai.


Sedangkan, Adel yang masih geram, pun tertunduk di bangkunya. Lalu Gram, yang berada agak jauh darinya, mengucapkan sesuatu padanya.


"Bukankah soal-soal tadi terlalu mudah?" tanya Gram.


Adel pun mengangkat pandangannya, dan melihat kearah Gram, "Apa maksudmu?" tanya Adel.


"Kurasa pak guru itu meremehkan kita, beliau sengaja memberikan soal-soal yang mudah dipahami," jawab Gram, tapi disaat yang bersamaan juga, ada hal yang membuat kaget Gram.


Di atas meja yang ditempati Adel, tertadapat secarik kertas penuh coretan, sepertinya itu adalah media untuk Adel mengurai rumus-rumus matematika tadi.


Sedangkan, Gram tidak sampai segitunya dalam menguraikan soal-soal matematika tadi, Gram pun merasa bersalah karena sudah berkata kalau guru matematika itu meremehkannya dan Adel.


"Ah maaf-maaf, lupakan ucapanku," ucap Gram, yang membuat Adel pergi dari kelas itu tanpa sepatah kata pun.


"Huh~ Aku sudah bisa pulang nampaknya," pikir Gram, lalu menggendong tasnya.


Bersamaan dengan itu, para murid juga mulai bubar, tak terkecuali Arima.


"Mona, aku pulang duluan ya," ucap Arima pada Mona yang ada di sebelahnya.


"Ah iya-iya," jawab Mona.


-


Di jalan, saat Gram membonceng Mona.


"Apa maksudmu tentang soal-soal yang dibuat mudah tadi, Gram?" tanya Mona.


"Jangan pikirkan, aku hanya nyeletuk gak jelas aja. Lagian udah selesai," jawab Gram agak jutek.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2