OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Batin yang Tertekan


__ADS_3

"Halo?!"


"Ina?"


"Iya Gram, ada apa?"


"Aku mau kamu ngomong sama seseorang yang sedang sama aku nih, gapapa kan ya? Tenang, ini teman sekelas juga kok."


"Boleh aja sih."


Setelah itu, Gram memberikan HP-nya pada Arima, pada awalnya Arima menolaknya, namun karena paksaan dari Gram akhirnya ia pun menerimanya, dan mulai berbicara dengan Ina.


-


"Ha, halo?" Sapa Arima pada Ina, sambil merapatkan HP di samping telinganya.


"Eh ceweknya Gram ya? Iya-iya ada apa?" Tanya Ina dengan suara semangat.


"Bukan-bukan... Aku bukan pacarnya Gram kok. Belum aja sih."


"Oh kirain. Btw Gram baik banget tuh, yakin gak mau dipacarin? Atau kamu udah ada cowok lain?"


"Enggak ada kok, emang Gramnya aja yang gak mau pacaran katanya."


"Oh gitu ya. Btw, namaku Ina, kalo kamu?"


"Aku Arima, temen Gram dari SMP. Salam kenal."


"Oh, gitu ya. Tadi Gram bilang ada urusan penting itu apa? Ketemu kamu aja gitu? Dia sampe ninggalin aku ditengah sawah lho, mana panas gini lagi."


"Ninggalin?!" Tanya Arima kaget, dan lalu melotot pada Gram, ya bingung lah Gram, kalo tiba-tiba dipelototin.


"Kenapa?" Tanya Gram, tapi Arima mengabaikannya.


"Eee, Ina ya? Nanti kita ngobrol lebih banyak lagi ya, aku minta kontakmu dari Gram ntar." Sambung Arima pada Ina.


"Ya, boleh saja. Aku sedikit semangat kalo punya teman baru lagi. Sampai nanti ya." Ucap terakhir Ina lalu menutup panggilan.

__ADS_1


-


Setelah Arima berbicara sedikit banyak dengan Ina, ia lalu mengembalikan HP Gram, dan terus diam, seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa lagi Ma?" Tanya Gram.


"Kamu... Tega banget kamu ninggalin cewek dibawah terik matahari, di tengah persawahan lagi." Jawab Arima sambil terus menundukkan kepala, dengan kedua tangan yang mengepal.


"Apa? Kamu mau marah? Marah aja, dan coba inget-inget, demi siapa aku jadi tega gitu?" Tanya Gram, lalu membuat Arima dengan reflek langsung mengangkat pandangannya, "Nah. Seperti yang kubilang kan? Gak baik overthinking itu, malah bisa merugikan orang di sekitar kita." Sambung Gram nampak menggurui.


"Selama libur ini kamu kemana aja Gram? Kok makin bijak aja?" Tanya ibu Arima, yang tiba-tiba datang membawa dua gelas minuman di atas nampan.


"Ehehe... Jalan-jalan ke sawah aja, selain dari itu ya gak pernah kemana-mana bu hehe. Paling juga ke toko buku." Jawab Gram sambil sedikit tersipu karena merasa dipuji.


"Arima-Arima..." Ucap ibu Arima sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu menaruh dua gelas untuk Gram dan Arima itu di atas meja, setelah itu ibu Arima pergi lagi.


"Apa? Setidaknya jelaskan apa yang dipikirkan ibu Arima?" Pikir Gram kebingungan serta penasaran dengan tindakan ibunya Arima itu.


"Aku bentar lagi pulang deh Ma. Takutnya motornya mau dipake sama ibu." Celetuk Gram, lalu menyeruput gelas berisi teh di hadapannya.


"Hmmm iya Gram. Aku minta kontaknya Ina dulu ya." Jawab Atima, lalu mengambil HP Gram yang ada di atas meja dan lalu mengeluarkan HP-nya dari saku.


"Aku bahkan sekarang tidak bisa menebak apa yang akan dibicarakan dua cewek ini, kalo aku biarkan apakah baik-baik saja? Kenapa perasaanku malah jadi tidak nyaman gini ya?" Pikir Gram bertanya-tanya.


Tak lama setelah itu, Gram pun pamit untuk pulang.


-


Singkat cerita, hari sudah malam. Setelah makan malam, seperti biasa, Gram duduk di meja belajarnya dan membaca novel lagi. Tapi lagi-lagi, dia di telepon oleh Arima.


"Ada apa lagi ini? Kenapa perasaanku menyuruhku untuk tidak mengangkat panggilan ini?" Pikir Gram. Lalu tanpa mengabaikan pikirannya, Gram pun menerima panggilan Arima, dan lalu...


"GRAMMM!!!" Teriak Arima saat baru diterima panggilannya oleh Gram, membuat Gram kaget.


"Aih... Apa? Kaget lho aku." Jawab Gram.


"Ina bilang kalian pelukan. JELASKAN!!!"

__ADS_1


"Tekanan batin hari ini banyak banget ya, besok apa aku masih bisa hidup? Kalo tiap hari ada tekanan kek gini, sepertinya umurku tidak akan sampai ke usia kepala tiga deh." Pikir Gram.


"Ya-ya..." Gram pun menjelaskan kronologi lagi, tentang dia yang melewati sebuah lubang di jalan persawahan, ditambah lagi Gram menceritakan tentang cengkraman pelukan Ina yang membuatnya sesak nafas.


"Hahaha... Kasian deh kamu, hehe maaf deh ya kalo aku berpikirnya keterlaluan." Balas Arima dengan tertawa terbahak-bahak, setelah mendengar penjelasan dari Gram.


"Udahlah Ma, kalo besok-besok ada salah paham lagi berterimakasih aja, jangan minta maaf. Ini minta maaf yang keberapa di hari ini?" Tanya Gram, dengan suara lesu, di sambung dengan ia menguap.


"Kamu udah ngantuk Gram? Ini baru jam delapan lho."


"Gak tau deh, akhir-akhir ini aku tidur lebih cepet daripada biasanya gitu. Udah ya, kalo gak ada yang diomongin lagi aku tutup dulu panggilannya, aku mau tidur."


"Yaudah deh. Sampai jumpa besok ya Gram."


"Ya... Malam." Gram lalu menutup panggilannya, dan menaruh HP dan novelnya di atas meja belajar, dan mulai merebahkan diri di atas kasur, berniat untuk segera tidur.


"Hari ini banyak banget hal yang terjadi ya, tapi lumayan seru juga. Apa mungkin ini efek murid SMA ya? Orang bilang masa SMA ada masa keemasan bagi remaja, apakah masa keemasanku sudah dimulai?!" Pikir Gram bersemangat, sambil rebahan dan menatap langit-langit kamarnya.


-


Singkat cerita, besok paginya.


"Haaaa~h." Gram menguap di samping jalan raya, sambil menunggu angkot yang akan menuju sekolahnya. "Apakah angkot sampai sesiang ini? Padahal kalo aku diantar ayah selalu pagi." Sambung Gram monolog sambil melihat jam di layar HP-nya.


Tak lama setelah itu, datanglah angkot dan bertanya pada Gram mau naik angkot atau tidak, Gram yang sudah menunggu dari tadi pun mengiyakan.


Saat ia masuk angkot, ia langsung sedikit terkejut, karena sudah ada Bara di dalam sana.


"Oh hai Bara." Sapa Gram, lalu duduk di samping Bara.


"Pagi bro, pagi bener berangkatmu?"


"Pagi? Bukankah ini udah agak siang ya? Aku bahkan tidak pernah berangkat jam segini."


"Siang? Ini masih pagi kali bro, maksudmu ini udah kesiangan gitu? Kamu ini murid teladan apa gimana sih? Suka baca buku, ingatan kuat, disiplin, dan sekarang kamu keliatan rajin gini. Gila banget gak sih?"


"Haha... Kalo gak salah kamu penumpang baru ya? Orang yang kamu panggil Gram itu berangkat selalu pagi. Benar, dia gak pernah berangkat jam segini, maaf ya nak Gram, tadi aku harus ke kota sebelah dulu." Sahut supir Angkot.

__ADS_1


"Oh gapapa pak, santai aja. Ini kalo pun telat, aku ada temen yang dihukum bareng haha." Jawab Gram, merujuk Bara.


...•••...


__ADS_2