
"Setelah beberapa penjelasan telah dijelaskan, kurasa kalian bertiga telah mengerti." Ujar Omar setelah memperkenalkan para anggota OSIS.
"Jadi? Kami nantinya akan memasuki fase junior OSIS terlebih dahulu begitu?" Tanya Dion.
"Tentu saja. OSIS yang saat ini menjadi enior, nantinya akan menjadi seniornya kalian. Dan juga, sepertinya para junior ini merasa mereka tidak membutuhkan bantuan kalian." Jelas Omar sambil melirik ke arah para junior OSIS saat ini.
"Ketua, kenapa satu orang yang direkomendasikan oleh para guru ini hanya diam saja?" Tanya seorang OSIS, merujuk Azmi.
"Sepertinya dia tidak terbiasa saja dengan kita, siapa tahu mereka bertiga sebenarnya telah berteman." Jawab Omar.
"Berteman? Lucu sekali ketua, aku bahkan tidak sudi menyapa orang ini." Ucap Dion sambil memandang jijik pada Azmi.
"Apa masalahmu, Dion?!" Azmi membalas ucapan Dion dengan membentak, dan menampar meja dengan dua tangannya.
"Ketua Omar, sepertinya kita sudahi dulu pertemuan kita, daripada nanti keadaan makin tidak kondusif. Lagian, sebentar lagi jam kerja sambilannya Dion." Ujar Gram pada Omar, berdiri dan sambil melihat ke arah jam dinding yang ada di ruang OSIS itu.
"Baiklah, kalian bertiga kurasa sudah mengerti, mari sudahi pertemuan ini, dan kalian pulanglah kerumah masing-masing." Balas Omar, lalu menyuruh seseorang untuk membukakan pintu untuk Gram, Dion dan Azmi.
Setelah Gram, Dion dan Azmi keluar dari ruangan OSIS, mereka berpisah, berniat untuk pulang.
"Gram kamu beneran gak mau bareng lagi?" Tanya Dion di depan pintu utama gedung sekolah.
"Enggak deh, aku mau jalan kaki aja. Seminggu belakangan ini aku jarang olahraga soalnya." Jawab Gram, padahal ia mengulur waktunya sendiri, agar mencerna penjelasan dari ketua Omar.
"Sama Chibby lagi?"
"Ah enggak, aku sendirian aja. Udahlah ya, sampai besok." Pamit Gram, lalu meninggalkan Dion yang menuju tempat parkiran sekolah.
-
"Oke, jadi ada berapa poin yang bisa aku ambil dari pertemuan barusan?" Pikir Gram bertanya-tanya lalu ia mengeluarkan buku saku kosong, seperti tempo hari, dan ia membukanya.
Ia seolah-olah membaca buku saku itu, "Dari penjelasan Ketua Omar, sepertinya tidak ada larangan untuk membawa gadget, penampilan juga tidak ada pelarangan sepertinya, yang jelas harus disiplin ya?" Sambung Gram.
Ternyata, dengan membaca buku saku kosong itu Gram bisa mengingat hal-hal yang sebelumnya ia dengar, lihat dan juga rasakan. Hal ini terjadi karena, kembali lagi ke kebiasaan Gram yang suka membaca buku.
__ADS_1
"Tapi, mengapa aku merasa ada yang aneh dari penjelasan Ketua Omar tadi ya? Ah sudahlah, mungkin cuma perasaanku saja." Setelah banyak berpikir, Gram pun bergegas pulang. Ya walaupun dengan jalan kaki, waktu tempuhnya jauh lebih lama daripada ia naik angkot.
-
Singkat cerita, sesampainya di rumah, Gram yang kelelahan langsung menuju tempat minum, dan segera minum.
"Kak... Kak Mona mau datang ke sini lho." Ucap Nia yang lari dari kamarnya menuju Gram yang sedang meneguk air.
"Uhuk..." Gram tersedak. "Mo-Mona? Kapan emangnya?" Tanya Gram terbata-bata.
"Kata ibu dia datang dengan ibunya." Jawab Nia.
"Sekarang dimana ibu? Kenapa ngasih taunya mendadak banget sih..."
"Kenapa sih Gram? Lagian Mona juga sekolahnya juga di SMA-mu tuh. Kelasnya juga sama katanya, dia gak masuk tiga hari pertama karena harus ke rumah saudaranya." Sahut ibu Gram yang muncul secara tiba-tiba dari kamar Nia.
"Aku lagi males ketemu cewek gila itu, lagian SMP sebelumnya udah beda, kenapa SMA-nya jadi sama sih?!" Tanya Gram, buru-buru ke kamarnya, niatnya mau menghindari kedatangan Mona.
Setelah Gram berada di kamarnya, dia berputar-putar di kamarnya. Berusaha memikirkan cara agar terhindar dari Mona.
Gram lalu duduk di meja belajarnya, dan lalu mulai menghidupkan HP-nya. Dia berniat untuk menghubungi setidaknya Dion atau paling tidak Arima, ya walaupun keberadaan Mona sendiri hanya Dion yang tau, sedangkan Arima tidak mengenal Mona.
-
Mona, teman Gram dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Dasar. Dan inilah yang jadi alasan mengapa Gram berusaha menghindar dari Mona, dia seorang cewek tapi tingkah lakunya cukup cowok, kalo bahasa umumnya bisa disebut tomboy.
Gram merasa cukup tertekan dengan kehadiran Mona, sebelumnya.
-
Gram pun berhasil menghubungi Dion melalui panggilan suara.
"Kenapa lagi kamu Gram?"
"Kamu lagi kerja?"
__ADS_1
"Ini masih perjalanan sih, kan tempatnya lumayan jauh. Kamu tumben telepon gini? Biasanya chat biasa."
"Kamu inget si Mona kan? Si cewek barbar itu."
"Temen SD kita ya? Iya-iya, kenapa tuh?"
"Dia mau dateng ke rumah, brengsek sekali.... Padahal aku berusaha jauh darinya, kita SMP juga kan gak satu lembaga sama dia."
"Ya, kalo kita satu lembaga sama dia, kamu gak bakal ketemu Chibby sih... Lagian gak papa kali, sesekali ketemu temen lama. Cuma sekali ketemu kan? Besok-besok udah gak ketemu lagi tuh."
"Kalo alurnya begitu, aku gak akan panik dong. Dia sekelas sama kita, kamu tau kan ada siswi yang absen di tiga hari pertama ini? Nah itu si Mona ternyata."
"Oh baguslah."
"Kok bagus? Nasibku bagaimana? Kamu tega gitu aku ditekan sama tuh cewek?"
"Hahaha... Santai aja kali, moga aja dia udah beda dari yang dulu. Lagian juga sekarang udah sama-sama gede kan? Dan juga, aku udah mau sampe di tempat kerja, udahan dulu yak. Ntar kasih info aja ke aku, ku bantu sebisa ku, apa yang kamu perlukan. Dah."
Dion lalu memutus panggilannya. Sedikit menenangkan Gram, namun di sisi lain Gram masih memiliki kecemasan yang ia sendiri belum bisa mengatasinya. Gram juga tiba-tiba kepikiran dengan Bara yang trauma dengan cewek, jangan-jangan Gram sendiri juga mengalami trauma yang sama.
-
Tak lama setelah itu, Mona dan ibunya benar-benar datang ke rumah Gram. Tapi, Gram berencana untuk tidak sama sekali keluar dari kamarnya, karena malas bertemu dengan Mona.
Tapi... Ya, Mona adalah cewek yang cowok...
"Graaam~" Dengan suara lantang, ia langsung mendobrak pintu kamar Gram, walaupun memang tidak dikunci oleh Gram.
Gram yang termenung di meja belajarnya sampe menoleh kaget ke arah Mona, dengan wajah terkejutnya Gram.
Melihat reaksi lucu Gram, Mona lalu merangkul bahu Gram dari sampingnya, dan tersenyum lebar.
"Aku makin cantik kan?" Tanya Mona, dengan senyum percaya dirinya, sedangkan Gram dengan perasaan yang dag dig dug ser tegang, takut ditindas atau semacamnya.
...•••...
__ADS_1