
"Kalo dipikir-pikir lagi, kenapa aku terus kepikiran hal itu ya? Padahal gak perlu dipikirkan juga kan? Lebih baik aku fokus membaca novel ini." Sambung Gram setelah agak tenang. Lalu, dia melanjutkan membaca novel di ruang tengahnya hingga ibunya yang menjemput Nia pulang.
-
"Gram, kamu mau makan?" Tanya ibunya Gram, setelah ia mengganti seragamnya dengan pakaian sehari-hari.
"Aku masih agak kenyang bu. Aku pengen keluar sebentar dulu aja deh."
"Mau kemana kamu?"
"Gak kemana-mana kok bu, paling juga ke sawah aja. Mau nyari angin. Aku pamit ya bu." Gram lalu keluar, dan dengan mengemudikan motor ibunya, ia berangkat ke sawah.
Gram sering kali sawah, ya walaupun hanya melihat-lihat saja. Karena rumahnya cukup dekat dengan persawahan, dan juga selain suka membaca novel, Gram juga hobi mencari tempat-tempat yang membuatnya merasa nyaman.
Singkat cerita, Gram telah tiba di persawahan, dia berhenti di jalan tepi sawah dengan motornya, lalu memarkirkan motornya.
"Huaaa~ Emang pemandangan persawahan tidak ada tandingannya, berulang kali aku ke sawah tak pernah aku bosan." Pikir Gram, sambil senyum-senyum sendiri dan mengawasi luasnya pemandangan di sawah itu.
Tiba-tiba...
"Hai." Sapa seseorang pada Gram.
Gram pun segera melihat ke arah orang yang memanggilnya itu, ia tidak mengenal orang itu, tapi ia merasa pernah bertemu dengannya. Gram pun membalas sapaannya hanya dengan senyum keheranan.
Cewek itu lalu mendekati Gram.
"Orang yang ingatannya kuat tidak mungkin lupa dengan teman sekelasnya kan?" Tanya cewek itu, makin membuat Gram bertanya-tanya.
"Ih benar-benar lupa ya? Aku orang yang duduk di barisan paling belakang, namaku Ina." Sambung cewek itu sambil menyebutkan namanya.
"Ina? Oh kita satu kelas ya?"
"Iya. Kamu tau, aku benar-benar kaget saat kamu mengulang semua penjelasan bu guru tadi lho. Kamu ini bukan manusia ya?"
"Gimana maksudnya? Aku setan gitu?"
"Haha gak gitu juga kali, bercanda aja. Oh ya kamu ngapain disini?"
"Tunggu, cewek ini tidak menyapaku dengan nama, dan dari tadi dia hanya menggunakan rujukan kata 'Kamu', apakah dia sendiri tidak tahu namaku?" Pikir Gram.
"Aku disini cuma nyari angin doang sih. Dan ya ngomong-ngomong, apa kita perlu berkenalan? Namamu Ina kan?" Ucap Gram lalu mengulurkan tangan.
"A, ah ya... Namaku Ina, kamu... Oh ya kamu si ilmuwan ya?" Tanya balik Ina dengan gugup sambil menjabat tangan Gram.
"Sudah kuduga, cewek ini pasti tidak mengingat namaku." Pikir Gram.
"Huh... Namaku Graham, panggil aja Gram. Setidaknya kalo ingat wajah seseorang, ingat namanya juga." Ucap Gram.
__ADS_1
"Kenapa nada bicaramu seakan sedang menyesal?" Tanya Ina sambil melepas jabatan tangan mereka.
"Begitu kah? Kurasa hanya perasaanmu aja. Kamu sendiri ngapain disini? Dari pakaian yang kamu pake, sepertinya kamu sedang tidak bertani." Tanya Gram dambil melihat penampilan Ina yang cukup modis.
"Oh... Sama sepertimu, aku hanya sedang mencari angin." Jawab singkat Ina, lalu mengeluarkan HP-nya.
"Eh? Kamu... Jangan-jangan kamu kesini hanya untuk mencari bahan untuk stories medsos ya?"
"Haha..." Ina menjawab hanya dengan tawa kecilnya, lalu memotret pemandangan dengan HP-nya.
Gram yang merasa tidak ada lagi topik antara mereka, Gram pun berniat pindah tempat dan meninggalkan Ina.
"Ina, aku pergi dulu ya." Pamit Gram.
"Ah ya. Emangnya mau kemana kamu?"
"Aku... Gak tau sih, kalo disini terus bakal bosen, aku mau lebih ke dalam persawahan aja."
"Oh kamu bawa motor ini ya? Aku ikut dong."
"Ikut? Kamu jalan kaki?"
"Aku nebeng seseorang sih tadi hehe. Boleh kan?"
"Ya boleh aja sih, tapi aku hanya bawa satu pelindung kepala aja. Gimana dong?"
"Gapapa, aku gak pake deh."
Ina lalu memakainya, Gram lalu mulai naik motornya.
"Ina? Kunci dulu itu helmnya." Ucap Gram pada Ina yang tidak mengaitkan sabuk leher helmya.
"Ehe... Aku gak ngerti cara pakenya Gram." Jawab Ina.
Gram pun membantunya, "Gini nah..." Ucap Gram.
"Udah gitu doang?"
"Ya... Yaudah cepetan naik." Suruh Gram, Ina pun segera naik di jok belakang, dan mereka pun berangkat.
-
"Uwahh... Jadi gini ya, rasanya naik motor." Celetuk Ina di tengah perjalanan.
"Kamu gak pernah naik motor emangnya? Atau kamu anak orang kaya yang selalu naik mobil?" Tanya Gram, sambil terus fokus pada jalanan sawah yang berlubang.
"Lebih tepatnya keluargaku tidak punya motor, karena ayah bilang kalo beli motor percuma, mending beli mobil."
__ADS_1
"Ya, orang kaya emang bebas berbicara. Lagian juga, masa baru kali ini dalam seumur hidupmu naik motor?"
"Keknya pernah deh, tapi keknya gak pernah juga."
"Jadi pernah atau gak?"
"Gak aja deh."
"Lah?" Gram dibuat pusing dengan jawaban-jawaban Ina, sampai ia tak sadar ada lubang besar di depannya.
*Duk... Motor Gram serasa runtuh karena lubang itu. Tanpa sadar juga Ina yang sebelumnya santai, ia pun menyilangkan tangannya dengan kuat di dada Gram.
"Akh..." Teriak Gram, "Maaf Ina gak sengaja. Bisa lepas gak tanganmu ini? Sesak aku." Sambung Gram sambil berusaha bernafas.
Ina segera melepaskan tangannya dari badan Gram, "Sorry Gram, gak sengaja. Aku kaget." Jelas Ina.
Gram pun menepis dari jalan, dan berhenti.
"Aduh maaf ya Ina, aku gak lihat lubang di jalannya." Ucap Gram saat baru berhenti dan lalu berusaha bernafas lagi.
"Aku, aku juga minta maaf Gram. Aku gak sengaja langsung memelukmu." Jawab Ina, sambil menepuk-nepuk Gram agar bernafas.
"Kamu sebut itu memeluk? Itu tidak bisa dibilang memeluk Ina, aku sesak nafas karena itu. Lagian, tenagamu kuat sekali."
"Aku, hehe... Aku sebenarnya beberapa tahun lalu ikut latihan karate, dan sepertinya aku masih memiliki tenaganya."
"Oh... Ya,ya... Huh... Jadi gimana? Mau lanjut lagi?" Tanya Gram.
"Oh sebelum itu, kamu bawa HP gak Gram? Aku minta kontakmu dong, kita udah berteman kan?"
"Ya boleh aja sih." Gram lalu mengeluarkan HP-nya, dan dia kaget, karena ada 20 lebih panggilan tak terjawab dari Arima.
"Ada apa lagi nih anak, kenapa banyak banget panggilan terlewatkan dari dia." Pikir Gram.
"Bentar ya Ina." Ucap Gram. Lalu menelepon Arima.
-
Panggilannya pun diterima oleh Arima.
"Halo Arima, ada apa?"
"Hiks... Jadi itu alasan kamu gak mau pacaran ya Gram. Aku kecewa sama kamu." Ucap Arima terdengar sedang menangis.
"Loh ada apa Ma?" Tanya Gram, belum dijawab oleh Arima namun panggilannya diakhiri oleh Arima.
Saat Gram sadar, Arima mengirimkan sebuah foto. Foto saat Gram membantu Ina mengunci sabuk helm.
__ADS_1
"Astaga." Pikir Gram sedikit terkejut.
...•••...