
Singkat cerita, jam pelajaran pertama dan kedua telah dilewati oleh Gram dan Bara. Tidak ada hal menarik pada dua jam pelajaran itu.
"Akhirnya jam istirahat." Ucap Arif, sambil meregangkan tubuhnya. "Tak kusangka ya, dua guru tadi cukup menarik, aku jadi gak bosen dengerin pelajaran dari mereka." Sambung Arif pada tiga kawannya.
"Sebenarnya aku sudah berharap pada pelajaran-pelajaran di SMA sih, jadi kurasa hal ini sama seperti yang kuharapkan. Dan juga siapa sangka, yang mengajar tadi begitu bijaksana." Balas Gram, dengan senyum sumringah.
-
"Permisi." Seseorang berkacamata dan memiliki lencana OSIS tiba-tiba muncul di pintu kelas 10 Ekonomi-Akuntansi. "Aku mencari seseorang yang bernama Gram, apakah ada?" Tanya orang itu.
Gram yang mendengar itu langsung berdiri, untuk menanggapinya.
"Sepulang sekolah nanti, kamu silahkan datang ke ruang OSIS, kami ada sedikit urusan denganmu." Ucap cowok itu, lalu pergi dari posisinya.
"Nah kan bro, hari-harimu bakal menarik." Celetuk Bara, pada Gram yang kembali duduk.
"Ini pasti ulah Dion lagi, kira-kira apa yang ia rencanakan kali ini ya? Apakah ini adalah balasanmu Dion? Kalo kamu terus menekanku seperti ini, mau tidak mau aku harus membersihkan kesalahpahaman antar kita." Pikir Gram sambil melamun.
"Bro?"
"Ah ya, maaf-maaf... Aku sedang memikirkan sesuatu."
"Santai ajalah Gram, paling cuma mereka penasaran sama kehebohan yang kamu bikin kemarin." Ucap Arif, dengan santai.
"Kehebohan?"
"Kamu tidak tau? Tadi aku melewati beberapa gerombolan siswa, dan gak sengaja denger mereka membicarakan tentangmu yang menyanggupi permintaan wali kelas kita untuk menjelaskan kembali apa yang ia ucapkan kemarin." Jelas Arif.
"Maksudnya? Berita itu udah nyebar gitu?"
"Tapi, kurasa hal itu hanya akan populer di angkatan kita, tidak mungkin kakak kelas akan heboh dengan hal itu." Sahut Sima, menjawab sambil memeragakan tanganya seolah sedang menjelaskan sebuah materi pelajaran.
"Bagaimana caramu mengetahui hal itu Sima?" Tanya Gram.
"Apa? Gampang aja, mana mungkin orang akan tertarik dengan mudah tanpa ada bukti. Lagian, siapa yang akan langsung percaya, apalagi dengan gosip para siswa baru. Mungkin aja akan dicap sebagai panjat sosial aja." Jelas Sima, lalu berdiri dan meninggalkan tiga kawannya.
"Lah? Nih anak gimana sih? Selesai jelasin langsung pergi gitu aja, tanpa basa-basi." Ujar Bara keheranan.
"Haha ya sudah lah ya... Aku mau ke kantin, kalian mau ikut?" Tanya Arif.
__ADS_1
"Aku di kelas aja deh." Jawab Gram, sedangkan Bara hanya menggelengkan kepalanya.
Arif pun pergi ke kantin sendirian.
-
"Jadi gimana Bar? Jadi cerita gak?" Tanya Gram pada Bara, yang berjanji akan bercerita sebelumnya. Karena, di kelas hanya ada Gram dan Bara, seisi kelas tengah pergi keluar.
"Boleh saja, lagian aku juga sebenarnya gak terlalu kepikiran akan hal ini bro. Jadi begini bro..."
Bara lalu menceritakan tentangnya yang sekolah di SMP khusus laki-laki, ia berkata kalau bersekolah di SMP itu karena memiliki trauma terhadap cewek sebelumnya. Ia juga bercerita kalau cewek yang membuatnya trauma itu sempat mengancam Bara, dengan pernyataan kalau cewek itu suka makan laki-laki.
"Hah? Cuma karena hal seperti itu, trus kamu jadi takut sama cewek gitu?" Tanya Gram yang kaget mendengar cerita Bara.
"Aku gak bilang takut cewek ya bro, aku kan cuma gak terbiasa aja sama cewek. Gimana perasaanmu, kalo sebelumnya di sekolahmu hanya ada cowok, dan lalu kamu pindah ke sekolah yang dicampur kek gini? Ini sih hal baru bro."
"Ya, tapi kalo hanya dengan alasanmu yang tadi, itu bukan membuatku iba, malahan membuatku ingin tertawa."
"Bro, kamu kan pinter. Pernah denger gak sih, kalo ancaman yang dilontarkan ke anak kecil itu bisa jadi trauma di kemudian hari. Mungkin kasusku demikian bro."
"Nggak sih, tetep gak masuk akal. Kamu kemarin juga bilang kalo tempramenmu buruk kan?"
"Yaudahlah. Kemarin kamu juga bilang kalo cowok harus bisa menangani masalahnya sendiri kan ya? Kira-kira kamu akan menyelesaikan masalah ini sendiri kah?"
"Well, kalo aku gak sanggup, ya aku tinggal menerima kenyataan bro."
"Ya gak salah juga sih. Sebenarnya hal ini juga bukan hal yang wah banget kan? Harusnya aku bisa maklumin gak sih?"
"Kok malah nanya? Maklumin aja lah. Lagian juga gak ngerugiin kamu kan."
"Iya sih."
-
Keheningan terjadi sejenak di antara mereka, lalu tiba-tiba Bara mengeluarkan HP dari tasnya.
"Loh Bar? Emangnya boleh bawa HP ke sekolahan?" Kaget Gram.
"Gak ada larangan, berarti boleh dong. Orang aku juga gak make waktu pelajaran, jadi gak mengganggu *** yang sedang berlangsung." Jawab Bara dengan santainya, dan lagi-lagi keheningan terjadi diantara mereka, karena Bara sibuk main HP.
__ADS_1
"Oh ya, bro. Kamu main game HP gak?" Tanya Bara memecah keheningan.
"Ah ya, aku main sih. MOLE."
"Kebetulan banget, aku juga main MOLE tuh. Aku tier empat, kamu tier berapa?"
"Tier ya? Kalo tier sih, karena aku udah lama mainnya, sekarang udah tier enam."
"Ha? Enam? Bro, tier sampe tujuh kan? Kamu hebat banget dong? Berapa jam kamu main biasanya?"
"Aku cuma sejam aja sih sehari." Jawab datar Gram, yang membuat Bara terpaku kaget.
Karena Bara menghabiskan waktu 5 sampe 6 jam sehari untuk menaikkan tiernya, dan Gram dengan mudahnya bilang hanya 1 jam dalam sehari, bahkan melebihi tiernya.
"Bro, kamu gak bohong kan? Kamu pasti mainnya bareng orang jago ya?"
"Enggak juga, aku solo sih Bar. Lagian juga, ngapain bahas game? Game kan cuma buat have fun doang Bar."
"Gak bro, kamu sih hebat bro, sesekali main bareng lah kita."
"Ya-ya... Kalo ada waktu ya, aku jarang main juga. Kurang asik aja, lebih asik baca novel gitu."
"Terserah kamu. Dipuji kok malah kek orang bego gitu ya kamu, haus pujian kah? Atau merendah untuk meroket?"
"Udah, jangan bahas game."
Setelah Gram bilang seperti itu, muncul lagi keheningan di antara keduanya. Namun, tak lama setelah itu, Arima dan Ina masuk ke kelas. Gram pun melambaikan tangannya, menyuruh Arima dan Ina datang padanya.
Di saat Arima dan Ina menghampiri Gram, Bara langsung tertunduk di bangkunya.
"Stts... Temenmu kenapa?" Tanya Arima bisik-bisik pada Gram.
"Ei Gram, temenmu kenapa nunduk gitu?" Tanya Ina blak-blakan.
Gram pun merasa tidak enak dengan Bara, karena pertanyaan Ina.
"HP... Ya, HP. Bara sedang main HP aja kok." Jawab Gram dengan harapan bisa menghindari pertanyaan Ina selanjutnya.
"Uwaah~ Lihat muka merah Bara, dan matanya yang sepertinya mau copot itu." Pikir Gram sambil nyengir.
__ADS_1
...•••...