
Singkat cerita, hari esok pun tiba. *** berjalan normal-normal saja, tapi untuk memenuhi permintaan dewan OSIS, Gram sepulang sekolah lagi-lagi datang ke ruang OSIS.
Tapi sebelum itu, Gram bertekad untuk meminta maaf pada Dion, agar tidak ada beban lagi di kesehariannya.
-
"Haha… Kamu ini tetep suka ngelawak ya Gram? Kita dari dulu bukannya tidak ada masalah, kupikir kamu terlalu memikirkan hari itu." Jawaban Dion, saat Gram meminta maaf padanya.
Ya, hari itu. Hari itu sebenarnya adalah hari yang sangat disesali oleh Gram, pasalnya ia kesal terhadap perilaku Dion yang menceritakan tentang kemalasannya pada teman-teman SMP-nya. Padahal seluruh teman-teman Gram di SMP, tanpa diberitahu Dion pun, mereka sudah tahu kalau Gram adalah seorang pemalas.
Kesalahpahaman pun terjadi antara Gram dan Dion mulai dari hal itu, dan sebenarnya yang menghindari kontak antar keduanya adalah Gram, bukan Dion.
-
"Tapi ya Gram, kalo boleh jujur. Saat ini aku sedang benar-benar kesal terhadap seseorang." Sambung Dion, selagi berjalan bersama Gram menuju ruang OSIS.
"Aku ya?" Tanya Gram.
"Tidak-tidak… Mana bisa aku kesal pada orang sepertimu, yang ada malah aku kehilangan teman sejatiku. Aku sedang kesal dengan Azmi."
"Azmi? Kenapa dengan Azmi?"
"Alasan pastinya, aku tidak tau. Yang jelas, saat aku mengingat anak itu, aku merasa tidak nyaman aja. Kalo kita adalah kandidat pasti OSIS, menurutmu siapa diantara kita bertiga yang akan menjadi ketua OSIS di masa depan."
"Kalo itu sudah pasti bukan aku. Tapi kalo diantara kamu dan Azmi, sepertinya aku tidak bisa menjawabnya."
"Lah kenapa? Jangan-jangan kamu lebih mamilih Azmi?"
"Bukannya begitu sih, aku hanya mengenalmu saja. Sedangkan Azmi, ya aku sebenarnya cuma tau namanya saja, itupun ditambah sedikit informasi dari Arima."
"Chibby? Apa katanya?"
__ADS_1
"Ya, Azmi emang disukai guru-guru karena dia sering membantu urusan sekolah gitu."
"Itu aja? Aku juga bisa kali."
"Ya gak salah sih. Yang jelas, hari ini aku mau fokus dengan ketua OSIS yang memanggil kita, apakah dia benar-benar meremehkan kita, ataukah mereka kemarin terdesak urusan saja."
"Iya Gram, aku juga penasaran dengan hal itu sih."
Mereka berdua pun mempercepat langkahnya menuju ruang OSIS.
-
Sesampainya di depan ruangan OSIS, mereka langsung masuk saja. Karena pintunya sudah terbuka, di dalam sudah ada beberapa siswa di sana, begitu juga dengan Azmi yang sudah berada di kursi yang sama seperti hari sebelumnya.
Gram dan Dion duduk di kursi yang sama, namun situasi kali ini cukup berbeda dengan hari sebelumnya. Di hadapan Gram kini bukan lagi hanya seorang sekretaris OSIS, melainkan ketua OSIS.
Setelah Gram dan Dion duduk, para siswa yang ada di sana lalu duduk di masing-masing kursi yang ada di meja panjang di hadapan Gram itu.
Gram dan Dion bersamaan menganggukkan kepalanya, dan Ketua OSIS pun berdiri dari duduknya, dan mengambil papan yang kemarin juga dikeluarkan oleh sekretaris OSIS.
"Lah, tulisannya udah beda." Pikir Gram saat melihat papan itu.
"Ini adalah beberapa siswa junior yang nantinya akan menjadi kandidat bersama kalian. Sengaja disini kalian tidak aku cantumkan, karena kalian wajib OSIS." Ujar Ketua OSIS.
Ada beberapa nama yang Gram kenal dalam papan itu, antara lain, ialah Bara, Arif, Sima, Noir, Arima, Ina, Adel, dan beberapa lainnya yang tidak Gram kenal. Gram berasumsi kalo nama-nama yang lain adalah nama siswa dari jurusan lain.
"Sebenernya berapa banyak sih jumlah keseluruhan OSIS? Kok sepertinya banyak banget ya, apa cuma perasaanku saja? Ataukah mungkin pengetahuanku yang masih kurang?" Pikir Gram bertanya-tanya setelah membaca nama-nama yang ada di papan itu.
"Ketua, berapa banyak sih jumlah keseluruhan anggota OSIS?" Tanya Dion.
"Jumlah pastinya ada dua puluh enam, dan itu berisi tiga belas siswa senior dan tiga belas siswa junior. Yang mana artinya, setelah aku dan angkatan kelas dua belas semua sudah selesai masa jabatannya, maka kalian akan dilantik didampingi oleh siswa junior kamu, yang nantinya akan jadi siswa senior kalian." Jelas Ketua OSIS lalu kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
"Dari tadi kenapa Azmi hanya diam saja ya?" Pikir Gram, lalu melirik ke arah Azmi, yang ternyata Azmi nampak sangat tertarik dengan ucapan Ketua, dilihat dari sorot matanya yang berbinar-binar.
"Lalu? Tidak mungkin kan kalo kamu menyuruh kami bertiga kemari hanya untuk melihat tulisan di papan itu saja." Tanya Dion.
"Ya, tentu saja tidak. Aku akan menjelaskan sedikit tentang sistem OSIS yang berlaku di sini, kupikir ini akan membantu kalian nantinya." Jawab Ketua OSIS lalu menjelaskan tentang sistem OSIS.
-
Intinya, OSIS di sekolah ini tidak akan dianggap sebagai tangan kanan para guru, karena mereka diberikan kewenangan untuk melakukan atau membuat acara-acara pribadi OSIS. Yang mana artinya, para OSIS akan dipercayai sepenuhnya oleh para guru.
Di samping itu, para OSIS juga memiliki sebuah pekerjaan bulanan yang bisa membantu ekonomi sekolahan juga ekonomi kesiswaan atau OSIS. Pekerjaan itu adalah menjadi perantara pembayaran listrik masyarakat pada petugas pusat PLN, para OSIS akan mendapat keuntungan 10% dari hal itu.
Pekerjaan itu cukup berguna untuk anggota OSIS, yang diberikan kewenangan dan kebebasan di sekolah, karena tidak perlu pusing dengan masalah anggaran.
Meski terlihat menyenangkan begitu, ada tanggungjawab yang besar di balik itu semua. Para OSIS harus disiplin, agar menjadi sosok yang bisa dicontoh oleh para warga sekolah, tak terkecuali para guru. Contoh kedisplinan para OSIS ialah, tidak terlambat di jam pagi, dan terlihat rapi dalam berseragam.
Dan karena pekerjaan OSIS sama halnya menjadi seorang relawan, para OSIS harus siap sedia kapanpun mereka dibuutuhkan, tak terkecuali pada tengah malam. Itu semua karena keperluan sekolah yang tidak menentu, terlebih lagi para OSIS wajib juga membantu para guru.
-
"Sampai sini kalian paham?" Tanya Ketua OSIS setelah panjang lebar menjelaskan.
"Ada satu hal sepele yang sebenarnya membuatku bertanya-tanya." Jawab Gram pada ketua OSIS, dan semua OSIS yang ada di ruangan itu menatap ke pada Gram.
"Apa itu?"
"Siapa namamu Ketua? Bukankah lebih baik untukku mengetahui namamu setelah mendengar panjang penjelasan darimu?"
"Oh hahaha... Aku sampai lupa memperkenalkan diri ya, maaf-maaf. Jadi, namaku Omar, aku kelas dua belas Ekonomi-Akuntansi sama sepertimu." Jawab Ketua OSIS sambil berdiri di tempat duduknya.
"Aku akan memperkenalkan para OSIS satu-persatu pada kalian juga." Sambung Omar sang ketua, lalu memperkenalkan para OSIS pada Gram, Dion dan Azmi.
__ADS_1
...•••...