
"Trus-trus, apalagi yang kamu denger Noir?" Tanya Gram dengan cepat karena penasaran.
"Yah, sayangnya aku cuma denger segitu dong Gram. Lagian, ngapain juga aku buang waktu buat dengerin orang ngobrol hal yang gak ada kaitannya denganku."
"Oh ya bener juga."
Setelah itu Noir pun pergi dari hadapan empat sekawan itu, dan Bara menatap Gram, seolah penuh dengan pertanyaan.
"Oi bro, sebenernya kamu ini siapa? Kenapa di hari pertama udah bikin sesuatu yang menarik gini." Tanya Bara, sambil mengeluarkan sebuah permen bergagang, dan lalu mulai memasukkan permen itu ke mulutnya.
"Menarik ya? Sebenarnya aku malah gak ingin mencolok gini, Bar. Lagian apasih yang menarik, orang kebetulan aja kok tadi itu semua." Jawab Gram.
"Gak tuh, menurutku dibanding kebetulan, kurasa kamu memang sudah memprediksinya ya Gram?" Sahut Arif bertanya.
"Ih... Nih dua orang keknya gak bakal percaya kalo tadi itu benar-benar kebetulan. Eh tunggu, peristiwa mana yang mereka rujuk ini?" Pikir Gram terhenti, dan bertanya.
"Rif, Bar. Kalian ngomongin yang mana?" Tanya Gram dengan polosnya.
"Hah?!" Bara bingung, "Ya, yang mana lagi Gram. Aku sih merujuk kamu yang ingat semua ucapan guru tadi." Timpal Arif.
"Nah ya, yang mana lagi kalo bukan yang itu." Sambung Bara lagi.
"Jadi gimana?" Ya, kalo bukan Sima, siapa lagi yang bisa membuyarkan obrolan.
Gram, Bara dan Arif pun kembali diam. Akhirnya Bara, Arif dan Sima pun memutuskan untuk ke kantin, sedangkan Gram, ia bilang akan membaca novel di kelas.
-
"Kamu kenapa gak ikut temen-temen barumu itu Gram?" Tanya Arima yang sudah duduk di samping Gram.
"Ah ya males aja Ma, kantinnya jauh gitu, bikin capek gak sih. Dan juga, semalem aku nemu novel yang asik sih buat dibaca, jadi ya niatku sih kubaca waktu istirahat gini." Jawab Gram, sedikit banyak sudah menjelaskan.
"Eh ya Gram, temen-temen kita waktu di SMP nganggep kita pacaran lho... Ehem kamu gak mau pacaran yang beneran gitu?" Tanya Arima.
__ADS_1
"Yaelah, buat apa juga sih pacaran Ma. Yang ada malah banyak menyita waktumu, bukannya kita tiap hari udah deket gitu? Trus gunanya pacaran buat apa?"
"Gram, gram... Cewek itu butuh kepastian, setidaknya cewek pasti udah seneng kalo perasaannya terbalaskan."
"Oh gitu? Jadi perasaanmu selama ini ke aku gimana?"
"Ayolah Gram, kamu gausah sok gak tau gitu. Ehem..."
"Oh gitu." Setelah menjawab singkat ucapan Arima, Gram lalu menuliskan sesuatu di atas buku catatannya, yang mana nanti akan ditunjukkan pada Arima.
"Jodoh sudah ada yang mengatur. Kalau aku bisa memilih jodohku sendiri, maka kamu yang akan aku pilih." Tulis Gram, dan saat Arima membacanya, ia tampak tersipu akan tulisan Gram itu.
"Udah kan? Jangan tanya lagi ya, aku gak mau kamu menyita waktumu hanya untuk sibuk berpacaran dengan seseorang sepertiku." Ujar Gram, Arima yang masih tersipu pun hanya mengangguk menjawab Gram.
"Aaa... Sebenarnya aku juga mau pacaran kek orang lain, tapi ya~ Kurasa aku takut tidak bertanggungjawab dengan hubungan pacaran itu." Pikir Gram penuh kelabilan.
-
"Ma, bisa kamu jelaskan padaku siapa yang duduk di meja belakangmu? Mengapa saat tadi aku ngobrol dengan Noir tentang MTK ia langsung menatap kejam ke arahku?" Tanya Gram pada Arima, setelah beberapa saat ada keheningan di antara keduannya.
"Gitu ya? Hmmp.. Kita lihat saja di tengah semester nanti, siapa yang paling MTK-wan haha." Ucap Gram sambil tertawa kecil.
"Aku udah hampir gak pernah lihat kamu tertawa lepas sebahagia ini Gram, terakhir kali kamu tertawa lepas tuh saat kamu belum berkonflik sama Dion lho." Puji Arima, sambil ia menatap Gram, dengan kepalanya yang ia sangga di atas meja dengan tangannya.
"Tentang itu, aku jadi ingat sebelum liburan ini, kamu masih sering menggodaku kan? Sekarang sepertinya kamu agak santai ya?" Tanya balik Gram.
"Ya~ Kurasa aku menyerah untuk mengejarmu. Tapi bukan berarti benar-benar menyerah ya, aku rasa meskipun kamu gak aku kejar pun kamu gak akan kemana-mana Gram." Jelas Arima.
"Kata siapa? Aku kemana-mana kok, kemarin aja aku ke kota sebelah. Trus awal-awal liburan juga aku ke kampung nenekku tuh." Balas Gram sambil senyum ramah.
"Tch... Ya bukan begitu dong maksudku. Kamu ini orangnya emang gak peka ya." Ucap Arima sambil menunjukkan muka sebal.
"Tapi ya, untungnya kamu orangnya gak baperan. Kamu tahu sendiri kan kalo aku orangnya kalo ngomong suka seenaknya, dan mungkin itu juga faktor aku hanya memiliki sedikit teman Ma."
__ADS_1
"Gak sih Gram, sebenarnya aku udah capek positif thinking ke kamu."
"Hah?! Lho he? Trus sekarang?"
"Sangking capeknya aku sampe bodoamat gitu sama omongan, bahkan sama sikapmu. Terlebih lagi, banyak hal bagus juga kok dari kamu Gram."
"Emangnya hal bagus apa yang bisa dilihat dari orang yang gak berguna sepertiku?"
"Jangan bilang begitulah, malahan orang gak berguna bagimu itu ada gunanya lho."
"Emang iya? Apa emangnya?"
"Ya gunanya untuk menjadi contoh manusia yang gak berguna hahaha..." Jawab Arima dengan tawa yang sepertinya cukup puas.
"Hmmm si mulut enteng banget tuh kalo ngomong ya, jelek gitu candanya." Balas Gram, lalu ia membuka novel yang ia bawa dan mulai mengabaikan Arima.
"Udahlah ya Gram, aku lapar. Aku ke kantin dulu. Bye-bye." Arima pun meninggalkan Gram.
-
"Arima berani banget ngungkapin perasaannya ya, tapi ya mau bagaimana pun juga, aku harus menghargai dan membalas perasaannya itu, dengan caraku sendiri. Yaitu menolak untuk berpacaran dengannya, singkatnya kalo aku mengajaknya pacaran, yang ada malah jadi kekangan untuknya, bahkan untukku. Dan kalo dipikir-pikir lagi, bukankah konsep pacaran ini sudah terlalu kuno?" Pikir panjang Gram selagi membaca novelnya.
Tak lama kemudian tiga kawannya tadi kembali masuk ke kelas, dan duduk di tempatnya masing-masing.
"Kamu gak lapar bro?" Tanya Bara pada Gram.
"Enggak sih, tadi pagi aku udah sarapan soalnya." Jawab Gram, sambil terus fokus pada novelnya.
"Aku lihatnya agak aneh ya bro, ada cowok yang suka membaca buku, terlebih lagi aku lihat kamu keknya serius dan sangat mencermati gitu."
"Bar? Bukankah hal ini, hal yang biasa aja?" Sahut Arif bertanya.
"Benar juga, hal ini wajar-wajar aja sih Bar, soalnya setiap orang punya hobi masing-masing. Lagian juga, Gram suka membaca buku kan gak ngerugiin kita." Disahut lagi oleh Sima, kali ini ucapannya lumayan nyambung dengan topiknya.
__ADS_1
...•••...