
Berbeda dari hari sebelumnya, Gram hari ini agak siang saat datang ke sekolah, jadi suasana tidak sepi seperti sebelumnya, hari ini sudah lumayan ramai.
Setelah turun dari angkot bersama Bara, Gram pun segera memasuki area sekolahnya. Saat baru melangkah masuk gerbang, Gram sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat.
Arima sedang bercanda ria bersama Ina, jauh di depan Gram.
"Bro? Ada apa?" Tanya Bara pada Gram yang tiba-tiba terhenti jalannya.
"Cewek emang cepet akrab ya." Jawab Gram, membuat Bara bertanya-tanya, kebingungan.
Di hadapan Arima dan Ina, tiba-tiba muncul seorang cewek menghadang mereka di tengah pintu masuk gedung sekolah.
"Itukan cewek yang diceritakan Arima kemarin, kalo gak salah namanya Adel ya? Kenapa dia menghadang Arima?" Pikir Gram bertanya-tanya, lalu mempercepat jalannya, agar segera mendekat ke posisi Arima.
"Bro!? Napa jadi kenceng banget jalanmu?" Tanya Bara berteriak, berusaha menyusul langkah Gram dengan lari kecil.
Gram tanpa menjelaskan pun terus mempercepat langkahnya, hingga ia sampai tepat berada di belakang Arima dan Ina.
Arima dan Ina yang menyadari kedatangan Gram pun, seolah menepis dan memberikan ruang untuk Adel, Gram pun dibuat bingung dengan perlakuan Arima dan Ina itu.
"Ada apa ini?" Tanya Bara.
"Aku juga gak tau Bar." Jawab Gram. "Tapi aku lihat tadi Arima dan Ina sedang berdiskusi sesuatu dengan Adel, kira-kira apa ya?" Lanjut Gram berpikir.
"Ilmuwan penemu telepon!! Aku menantangmu dalam pelajaran matematika, pada ulangan pertama. Yang kalah harus menuruti keinginan yang menang." Ucap Adel lantang, membuat siswa-siswi yang ada di sekitar langsung menyorot padanya. Lalu ia menyilangkan tangannya.
"Kenapa aku?" Tanya Gram.
"Karena aku mengakui kepintaranmu kemarin, aku iri akan hal itu." Jawab Adel, masih dengan suara yang lantang.
Gram pun mulai tak nyaman dengan sorotan mata siswa-siswi lainnya.
"Ada-ada saja kalian ini! Jangan berhenti di tengah jalan!" Teriak orang dari belakang Gram. Segera Gram dan yang lainnya pun menoleh ke arah orang itu.
"Entah kalian ini bodoh atau bagaimana, aku tidak peduli. Terutama kamu. Hei cewek yang nantang, kamu jadi cewek jangan suka blak-blakan begitu, kalian bukan lagi anak kecil." Sambungnya, saat semua mata sudah tersorot padanya.
"Huwa~ Ada cewek ganas bro, keknya kakak kelas deh. Tapi kok ucapannya ngelantur gitu ya?" Celetuk Bara dengan nada sedikit mengejek.
__ADS_1
Walaupun suaranya agak mengancam, tapi ucapan cewek itu emang agak ngelantur dan tidak mudah dimengerti oleh Gram dan yang lainnya.
"Hmmm... Cewek ini darimana datangnya? Dan apa maksud ucapannya itu? Aku sama sekali tidak memahaminya. Tapi, tunggu... Mungkinkah aku bisa memanfaatkan situasi ini?" Pikir Gram, terpikirkan hal sedikit licik.
"Bener tuh, kek anak kecil aja yang suka berantem. Lagian, kalo kamu merasa paling pintar, gapapa, aku ngalah aja." Ucap Gram dengan nada santai. Saat Gram menjawab begitu, Arima yang sudah lama kenal Gram pun tertawa kecil.
-
"Napa kamu?" Tanya Ina ke Arima.
"Eahaha gak ada... Aku hanya lagi keinget aja, Gram emang suka banget belajar, tapi dia itu sebenarnya pemalas haha." Jawab Arima sedikit cengengesan.
"Pemalas yang pintar ya? Haha ada-ada saja. Lagian, kita ngapain disini, ini kan urusan Adel dan Gram. Ayo kita ke kelas duluan aja." Ajak Ina ke Arima, dan Arima pun menyetujuinya.
Arima dan Ina pun akhirnya duluan pergi ke kelas, meninggalkan pertempuran Gram, Adel, dan cewek aneh tadi.
-
"Bar, kamu ingat kemarin kamu bilang kalo hari pertamaku menarik kan?" Tanya Gram berbisik pada Bara, Bara pun mengangguk, mengiyakan ucapan Gram.
"Ya apapun itu, aku tidak peduli juga sih. Orang aku gak bisa berpengaruh apapun kan." Balas Bara, seolah tidak mau dekat-dekat dengan repotnya Gram.
Setelah mendengar jawaban Bara, Gram pun langsung melihat Bara dengan penuh keheranan, "Dia lari, lari dari kemanusiaan. Dia tidak ingin terlibat denganku yang kerepotan." Pikir Gram.
"Jadi ini apa? Aku dikepung dari dua arah?" Tanya Gram, sambil bergantian melihat Adel dan cewek tadi.
"Aku hanya mau lewat." Jawab cewek itu.
Akhirnya, Gram, Bara dan Adel pun menepis, dan di saat yang bersamaan ketika cewek itu lewat sebelah Gram. Gram langsung kaget, karena baru sadar di dada kanan cewek itu ada lencana OSIS. Gram pun berakhir terpaku.
"Bro? Kenapa diam ngelamun gitu?" Tanya Bara pada Gram.
"Cewek barusan... Cewek barusan itu... Itu OSIS Bar." Jawab gugup Gram.
"Ya terus kenapa? Dan juga, kenapa baru sadar sekarang bro? Aku aja udah tau dari tadi, makanya aku bilang bisa jadi dia kakak kelas."
"Kalian mengabaikanku?" Tanya Adel.
__ADS_1
"Siapa sih?!" Tanya tegas Bara.
"Aku? Aku Adel. Aku gak mau kalah dari si ilmuwan ini. Brengseknya dia membuatku mual." Jawab Adel.
"Heee~ Ternyata dia ini juga cuma karakter tidak berguna kek cewek sebelumnya bro, mending kita bergegas ke kelas deh." Balas Gram.
"Karakter tidak berguna? Wah blak-blakan juga nih si Bara. Tapi kok aku merasa agak aneh ya? Kenapa saat Bara bicara dengan cewek-cewek sebelumnya dia sedikit terbata-bata gitu." Pikir Gram, lalu melihat gerak-gerik tubuh Bara.
"Lah? Kenapa tangannya gemetaran gitu?" Pikir Gram bertanya-tanya, saat melihat jemari Bara yang sedikit gemetar, sedangkan sorot matanya fokus ke Adel.
"Del. Kita lanjutin masalahmu itu nanti ya, sekarang sudah masuk jam pelajaran. Mending kita ke kelas, seperti yang dibilang Bara deh." Celetuk Gram, setelah banyak berpikir.
Adel lalu melihat jam tangannya, "Benar juga, kita lanjutkan nanti." Ucap adel setelahnya, lalu pergi meninggalkan Gram dan Bara.
"Haaaah~" Bara menghela nafas, membuat Gram terkejut dan sedikit nyengir, ketika sedikit mengerti apa yang sedang terjadi pada Bara.
"Bar ayo ke kelas." Ajak Gram.
-
Di lorong sekolah menuju kelas, Gram dan Bara sedikit mengobrol.
"Bar. Kamu sebelumnya SMP-nya khusus laki-laki ya?" Celetuk Gram bertanya memecah keheningan, di antaranya dan Bara, sambil terus melangkah.
"Iya bro, kamu tau darimana?" Tanya balik Bara, dengan menggenggam kuat tali tas punggungnya, meskipun menjawab Gram, tapi pandangannya tidak menghadap Gram, melainkan dia malah menatap ke arah luar gedung lewat celah jendela yang terbuka.
"Sebegitu takutnya kah kamu sama cewek Bar? Haha." Tanya Gram sambil terus-terusan tertawa.
"A, apa maksudmu bro? A, aku tidak takut dengan cewek kok."
"Hahaha... Iya-iya, toh juga kalo kamu gak cerita sih gapapa."
"Iye-iye... Ntar jam istirahat aku cerita bro, sekarang kita cepet ke kelas deh, udah jam pelajaran ini." Ucap Bara sambil melihat jam tangannya.
Gram dan Bara pun mempercepat langkahnya.
...•••...
__ADS_1