OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Jatah?!


__ADS_3

"Masuk dulu kali Gram. Kamu gak mau ketemu kak Rafi?" Tanya Mona saat baru turun dari motor yang dikendarai Gram.


"Kak Rafi? Aduh, aku takut ganggu e. Lagian, kata ibu kak Rafi kerja di luar kota, kok ada di ruamh sekarang?" Tanya balik Gram.


"Ah ya, lagi cuti aja sih. Kan pindahan kesini juga butuh tenaga tambahan Gram. Ayolah masuk dulu, aku maksa nih." Ajak Mona dengan menarik, tidak, maksudnya menyeret paksa lengan Gram.


Alhasil, Gram pun mengikuti Mona.


"Gram ya? Weh udah makin gede aja kamu." Ucap seseorang dari dalam pintu, yang kebetulan terbuka.


"Eh kak Rafi, lama gak jumpa kak. Gimana kabar kakak?" Tanya balik Gram pada seseorang yang tiga tahun lebih tua di hadapannya itu.


"Semua yang berhubungan dengan Mona pastinya tidak baik-baik saja Gram haha." Jawab Rafi bercanda pada Gram. Ya, karena memang, semua orang yang berhubungan dengan Mona dulu, adalah korban penindasan Mona.


"Ih kakak, bahasanya gitu amat. Padahal aku udah paksa Gram kesini lho, masa sambutannya sambil menghinaku." Sahut Mona, membuat Gram dan Rafi tertawa kecil bersama.


-


Gram akhirnya memutuskan untuk mampir sebentar, karena permintaan dari Rafi juga, yang dulu lumayan dekat juga dengan Gram, Gram pikir tidak enak jika langsung pulang.


"Kok ada piano kak, milik kakak ya?" Tanya Gram, yang sorot matanya tertuju pada sebuah piano di sudut ruang tamu.


"Iya tuh, gaji pertama langsung gas beli piano yakan. Walaupun skillnya masih, ya... Amatiran lah." Jawab Rafi.


"Kamu bisa main piano Gram?" Sambung Rafi bertanya.


"Main doang ya bisa kak, tinggal tekan-tekan doang kan? Nah kalo ditanya jago apa enggak, ya aku bakal jawab enggak."


"Hahaha... Cara bercandamu masih sama kek dulu lho, kamu kurang pergaulan ya di SMP? Makanya gak banyak berubah gitu."


"Yah kak, dulu kan kita terakhir ketemu waktu aku baru masuk SMP, beda kali kak."


"Ya bener juga sih. Jadi, apa kamu ada perkembangan setelah gak ketemu sama Mona dan aku? Misal, kamu makin populer di sekolah gitu."


"Yang jelas aku masih suka baca buku kak. Oh ya ngomong-ngomong, kakak kan kerja di luar kota, trus kok beli piano, nganggur dong?"


"Kenapa? Kamu mau pake? Pake aja gapapa, tiap hari kesini juga gak papa, aku pulang seminggu sekali kok."


"Ngapain pulang kak, udah kerja tuh beli rumah sendiri sana, biar nanti aku yang dapet warisannya full." Ujar Mona, yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi tiga gelas teh.


Mona pun ikut duduk bersama Gram dan Rafi.


"Kamu ini ya. Bukannya seneng kakaknya pulang, malah kek diusir gitu." Balas Rafi.

__ADS_1


"Yah peduli amat." Jawab singkat Mona, lalu meneguk segelas teh yang ia bawa sebelumnya.


"Tapi aku seneng lho kak, Mona barusan janji udah gak akan ganggu aku lagi. Kalo dia ngelanggar janjinya itu sih, aku gak bakal lagi temenan sama dia." Sahut Gram, yang sudah menyimak obrolan kakak-beradik itu.


"Kalo mau gibahin orang, pastiin orangnya gak ada di depanmu dong. Kalo gini kan orangnya jadi merasa gak enak." Balas Mona, lalu menaruh segelas tehnya kembali ke atas meja.


"Udahlah. Kalian berdua gimana? Berangkat sekolah bareng kan?" Tanya Rafi.


"Tadi sih, ada yang sombong gitu kak. Motornya baru gitu, tapi males ngendarainnya, nyuruh aku yang jadi ojeknya." Jawab Gram, sambil menyindir Mona dan mengalihkan pandangannya ke langit-langit.


"Ih... Kamu nyebelin banget sih Gram."


"Udah-udah. Lagian, gak papa kali Gram. Kita dulu aja udah kek keluarga kan? Kemana-mana kita barengan dulu."


"Hehe iya kak."


-


Sejenak, muncul keheningan diantara ketiganya.


"Eh-eh... Gram, gimana-gimana? SMA kita menarik gak?" Tanya Mona memecah keheningan.


"Dibilang menarik sih, ya banget. Kamu tau kan aku lumayan daya ingatnya? Sekarang aku udah dijadiin kandidat pasti OSIS dong." Jawab Gram.


"Gimana? OSIS? Itu organisasi dari sekolahan gitu kan? Kok bisa kepilih kamu?" Tanya Mona, setelah Rafi keluar ruangan.


Gram pun menceritakan detailnya pada Mona, mulai dari persoalan ketua kelas, hingga panggilan dari ketua OSIS.


"Dion juga ya? Padahal dia kan orangnya cukup kepala batu. Takutnya, bukannya benar-benar jadi pawangmu, yang ada malah dia sendiri yang melancarkan ego-nya." Ujar Mona ketika setelah mendengar cerita dari Gram.


"Besok kamu lihat sendiri aja deh. Aku mau pulang dulu, udah malem juga." Gram segera pamit, pada keluarga Mona, tak terkecuali pada Rafi yang sedang asyik meroko di pelataran rumahnya.


-


Singkat cerita, hari esok pun tiba. Mona menjemput Gram dengan motornya.


"Itu kamu bisa kesini sendiri, kenapa gak langsung aja ke sekolah gilak?!" Tanya Gram membentak Mona.


Mona yang menunggu di pelataran rumah Gram pun turun dari motornya, dan mendekati Gram. Lalu memukul-mukul punggung Gram, "Ayolah... Bensin aman kok, gak usah khawatir gitu." Ucap Mona, sambil terus memukul-mukul punggung Gram, mengisyaratkan agar Gram segera mengemudikan motornya itu.


Gram pun segera mengendarai motor Mona, dengan membonceng Mona tentunya.


Sedikit-banyak obrolan terjadi saat mereka tengah dalam perjalanan ke sekolah.

__ADS_1


-


"Kamu nih jangan-jangan beneran punya cewek ya Gram?"


"Kenapa sih nanya itu lagi?"


"Gak. Gini Gram, aku rasa kamu duduk terlalu ujung, jok di belakangmu ini masih panjang lho. Sebegitu bencinya kah kamu sama aku?"


"Kurang nyaman aja kali Mon, lagian juga gak masalah kan?"


"Masalah lah, bodoh. Kalo kamu duduknya terlalu ujung gini, kesannya kita kek pasangan yang lagi berantem."


"O-oh gitu ya. Ya, ya oke-oke."


Gram pun membenarkan duduknya, dan ya Gram merasa agak enakan sih. Karena, sebelumnya ia duduk saking ujungnya, sampai-sampai pegal sendiri.


"Oh ya Gram."


"Hm?"


"Aku minta tolong ke kamu boleh gak?"


"Hm?"


"JAWAB SETAN!!!"


"Aku lagi fokus nyetir ini lho, gak liat apa kamu ini!"


"YA JAWAB AJA!!!"


"Ya apa!?"


"Hufft... Kalem lagi. Jadi gini, aku takut kejadian di SMP ku terulang kembali, aku minta tolong sama kamu, jagain aku biar gak salah pergaulan ya nanti di masa SMA ini."


"Terserah sih, aku cuek aja. Kamu katanya gak mau ganggu aku lagi, aku udah percaya lho sama janjimu itu."


"Beda cerita kali Gram. Kalo kamu mau..." Suara Mona terhenti, lalu dengan angin yang terus berhembus, Mona berbisik lagi, "Kalo kamu mau bantu, aku kasih jatah lho."


Gram yang mendengar bisikan Mona itu, sontak lalu menepis ke pinggir jalan.


"HA?!" Kaget Gram, ketika motornya sudah terhenti di samping jalan raya.


"Hahaha... Jatah permen kek dulu lho Gram, jangan mikir aneh-aneh ih."

__ADS_1


...•••...


__ADS_2